Tuesday, November 8, 2016

Artificial Intelligence (AI)

12:14 AM

artificial

Oleh: Muhammad Ilyas

Pagi yang cerah itu saya dibangunkan oleh teman seperjuangan, yaitu Stuart Russel dan Peter Norving. Mereka pagi-pagi mengetok pintu dan menyapa “selamat pagi” (dengan logat Amerikanya). Saya tak menyangka mereka membangunkanku di saat aku masih lelah dengan rutinitas sehari-hari. Mereka masuk kamar, dan duduk di pojok ruanganku yang sempit. Tanpa dipersilakan mereka mengambil air galon isi ulang itu lalu meminumnya.

Tapi jangan salah persepsi dulu. Kedatangan mereka ke kos ini bukan membahas masalah geopolitik atau suksesi calon Presiden AS, apalagi propaganda tentang pil KB (maksud saya Pilkada). Atau malah timses Donald Trump. Sungguh bukan, bukan itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Apalagi kegiatan suksesi calon melalui perdebatan Ayat Al-quran. Atau mengangkat isu SARA, dan isu-isu yang sangat tak mendidik masyarakat itu.

Cak Stuart Russel dan Peter Norving, kedua sahabat ini mengajak saya ke salah satu tempat nongkrong asyik di Yogyakarta. Berbeda dengan mas-mas bule lain yang biasanya ngajak nongkrong di Starbuck, atau J. CO dan nama café asing lainnya, saya diajak ke pinggiran warung kopi di Parangtritis, tempat yang begitu elok dan indah untuk menyeruput secangkir kopi Arabica, nikmat dengan pemandangan laut dari ketinggian bukit yang memanjakan jiwa. Apalagi dibarengi dengan sun set yang dihalangi kabut tipis barat, sungguh luar biasa.

Cak Stuart Russel dan Peter Norving memulai perbincangan tentang Artificial Intelligence (AI). Wah, pembahasan yang cukup berat ini (gumanku dalam hati). Yah begitulah para ilmuwan dari negeri Paman Sam memberikan istilah yang sekiranya dianggap berat. Padahal istilah tersebut biasa-biasa saja, tak ada beratnya, mungkin masih berat isu SARA yang tak henti hentinya, apalagi masalah kepentingan politik menumpang di punggung isu agama, sungguh berat dan membuat kacau keadaan sosial. Belum lagi efek yang nantinya akan diderita masyarakat bawah. Duh, politikus atas angin yang jauh dari realitas dan tak punya niat untuk memberikan pendidikan politik (civil education).

Maaf, maaf, maksud tulisan ini bukan propaganda politik. Saya tegaskan lagi bukan propaganda politik, tetapi menyinggung tentang Psikologi yang disampaikan oleh Cak Stuart Russel dan Peter Norving. Dalam Artificial Intelligence (AI) terdapat empat prinsip yang harus dimiliki setiap insan agar bisa memilah dan memilih serta dasar bertindak dalam setiap apa yang ia lakukan. Pertama adalah acting humanly. Jadi sebagai manusia harus bertindak sebagaimana manusia bertindak. Manusia diberi alat indera yang lengkap, mulai dari mata, telinga, peraba, hidung dan lidah. Alat indera tersebut tidak akan berbohong pada diri manusia, misalnya garam akan ditangkap oleh lidah dengan rasa asin. Suara seruling akan ditangkap oleh indera kita sebagai suara seruling. Tidak terbayangkan jika indera berbohong pada kita, garam direspon sebagai rasa manis, sedangkan gula direspon sebagai rasa pahit, suara seruling direspon sebagai suara gendang. Pasti ada kekacauan yang terdapat dalam tubuh kita. Jangan seperti para politisi kita yang menjalankan sesuatu tidak pada jalurnya, sesuatu yang asin dibilang manis, dan yang manis dibilang pahit, merah dikatakan hijau, 2 Milyar dibilang 1 Milyar, cantik dibilang jelek dan jelek dibilang semerbak, serta serba membingungkan masyarakat.

Yang kedua adalah thinking humanly. Dengan the cognitive modelling approach manusia mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain di bumi ini, yaitu akal. Sebagai anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita seharusnya kita berpikir sebagaimana manusia berpikir. Manusia yang normal tidak hanya berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan perutnya saja, melainkan berpikir yang lebih dari sekadar itu. Jika hanya berpikir untuk kepentingnnya sendiri maka bisa dikatakan lebih rendah daripada hewan. Semut saja bergotong-royong untuk kepentingan bersama, masak kita enggak?

Tapi beda dengan koruptor kita yang tidak thinking humanly, kehidupannya dipenjara penuh dengan berbagai fasilitas. Negara kita memberikan ruang bergerak yang lebih bagi meraka yang tak berpikir sebagai manusia dan menyudutkan mereka yang betindak sebagai manusia.

Yang ketiga adalah thinking rationally. Berpikir saja tidak cukup tetapi harus rasional. Alur berpikir harus runtut dan sistematis, sehingga membentuk pola. Hal ini berbeda dengan para politisi kita, mereka terlalu rasional, sehingga sesuatu yang belum terjadi sudah diramalkan menurut kepentingannya. Dan saking rasionalnya membuat publik mengernyitkan dahi.

Yang keempat adalah acting rationally. Kalau Mas Pram pernah berkata, “Bersikap adillah sejak dalam pikiran,” maka Cak Stuart Russel dan Peter Norving berkata, “Thinking rationally saja belum cukup, harus ada acting rationally sebagai bentuk manifestasi dari apa yang dipikirkan.”

Tak terasa hari sudah larut malam. Cak Stuart Russel dan Peter Norving sudah mulai mengantuk di meja kopi. Muka mereka menunjukan lelah, dan ada bau pesimis mendalam terhadap empat ide yang digagas tersebut. Ia seakan tidak akan yakin hal ini bisa diterapkan di Negara Berkembang seperti Indonesia, karena terdapat dua alasan. Pertama, kita terlalu terbuka, sehingga semua masuk tanpa filter. Yang kedua, kita terlalu tertutup dan tidak mau unsur-unsur dari luar.[]

Sumber foto: artificial

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top