Monday, January 26, 2015

Teriris

10:22 AM

[sumber]


Oleh: Muhammad Madarik

Sakina tersenyum sumringah, saat melihat kedua buah hatinya bermain di halaman depan rumahnya dengan riang gembira. Rafika Rahma kini telah berumur 9,7 tahun, dan adiknya Agung Pratama masih berusia 3,5 tahun. Karena putra pasangan Sahlan dan Sakina hanya dua, akhirnya mereka berdua itu seringkali bermain bersama meski umurnya terpaut agak jauh. Sakina kian merasa tenteram menyaksikan sang kakak begitu menyayangi adiknya. Tidak seperti kebanyakan anak tertua yang acapkali menggoda hingga membuat si kecil menangis dan merengek kepada ibunya, Rafika justru lebih banyak merawat dan memelihara Agung dalam berbagai hal, terutama kebutuhan harian si adik.

Rafika yang biasa dipanggil Fika itu tidak segan-segan memandikan, memakaikan baju, merapikan rambut dengan suri, memoles minyak angin di sekujur tubuh dan bedak di wajah sehingga menyuapi Agung sampai kenyang. Bukan cuma terbatas pada kegiatan itu, Fika juga tidak malas merapikan tempat tidur setiap pagi atau seusai istirahat siang. Jika sedang diperintah ayah atau ibunya, anak yang tengah duduk di kelas empat SD itu hampir-hampir tak pernah menampik, kendati ia sendiri masih mengerjakan tugas-tugas sekolahnya sampai-sampai kedua orang tuanya merasa iba sendiri untuk mentang-mentang memberikan instuksi. Kini, kakak-adik itu sedang bermain abu, dedaunan, permainan bekas dengan sangat asyik. Sedangkan Sakina menyaksikan keduanya sambil merapikan pakaian-pakaian yang baru saja dientas dari tempat jemuran sebelah rumahnya.

Dari sisi perangai, keduanya memang agak berbeda. Fika menjelma sebagai anak penyabar, lebih mandiri, pendiam, seringkali mengalah, dan merangkul dengan penuh kasih sayang kepada sesama lebih-lebih pada anak-anak yang dibawah usianya. Sementara Agung memiliki sifat lebih keras, enggan mengalah, banyak berbicara, dan manja. Tetapi ketimpangan tabiat inilah yang menjadikan hubungan kedua bersaudara itu lebih harmonis dan terjaga hingga kini. Kalaupun Agung menangis lebih banyak disebabkan oleh kemanjaannya, bukan karena Rafika yang menjadi gara-gara. Di luar itu semua, Sahlan, Sakina dan Rafika tidak jarang dibuat tertawa oleh sikap serta kelucuan dan kelakuan yang dibuat anak kecil itu. Sikap lucu itulah yang membuat rasa geram seisi rumah yang terkadang muncul akibat gelagat manja berlebihan si Agung.

Sakina sendiri memang seorang ibu rumah tangga yang terbilang cekatan. Urusan-urusan yang terkait dengan rumah seisinya ia selesaikan secara mandiri. Mulai dari memasak, menyiapkan makanan, mencuci pakaian sehingga pada hal-hal kecil seperti menata atau memangkas bunga-bunga yang dirawat di sekitar kediamannya. Sejak awal berumah tangga, Sakina tidak sekali-kali diperingan oleh pembantu rumah tangga, meskipun pada tahun-tahun pertama kawin dengan Sahlan masih bersama mertua dalam satu rumah. Senyampang tidak betul-betul membutuhkan bantuan orang lain, termasuk mertua sendiri, Sakina enggan merepotkan siapapun untuk menjadikan segala urusan isi rumah tangga bisa dirampungkan. Sikap mandiri ini terus ia lakukan dan dipertahankan sampai keluarga ini dikaruniai dua buah hati.

Hati Sakina merasa bangga dengan keberadaannya sebagai ibu rumah tangga yang tampil begitu kuat sebagai wanita tanpa harus membuat susah pihak lain. Bagi kebanyakan kaum hawa, hal demikian ini tentu dipandang biasa saja. Tidak sedikit perempuan yang tengah mengarungi mahligai rumah tangga dijalani tanpa uluran tangan pembantu. Hanya saja dalam kaca mata Sakina, hal yang membuat dada Sakina kian patut dibusungkan karena ia tidak saja sebagai ibu rumah tangga, tetapi di tengah kesibukan sebagai perempuan yang dinobatkan menjadi ustazah setelah ibu mertuanya uzur masih mampu mengurus keperluan kediamannya tanpa peran orang lain.

Semenjak ibu mertua Sakina sering sakit-sakitan, wanita lulusan lembaga pendidikan agama itu diminta untuk menggantikan perempuan tua yang semakin melemah akibat berbagai penyakit mengisi pengajian kaum ibu di berbagai majlis taklim tingkat kampung. Istilah “Muslimatan,” “Fatayatan,” “kumpulan ibu-ibu” merupakan label yang sudah begitu melekat dengan Sakina. Masyarakat telah mendudukkan wanita keibuan tersebut sebagai tokoh perempuan yang patut dicontoh dengan segala kesabaran dan konsistensi terhadap kegiatan yang selama ini ia pimpin. Bagi Sakina, tugas ini tidak begitu mengagetkan sebab di pesantren ia telah terlatih mengikuti kegiatan-kegiatan kepesantrenan dan begitu akrab dengan materi yang ia sampaikan pada perkumpulan ibu-ibu itu. Justru yang membuat lelah fisik Sakina karena harus berjibaku antara mengatur waktu buat urusan-urusan kerumah-tanggaan dan membagi jam-jam pengajian yang tersebar di beberapa kampung.

Hati Sakina semakin berbunga-bunga tatkala Sahlan mampu membangun rumah sendiri yang kini telah ditempatinya. Hanya tinggal bagian dapur saja yang belum seluruhnya selesai, sementara ruangan yang lain termasuk teras depan sudah terbilang rampung.  Perasaan lega menyirami ketenteraman kalbu wanita berjilbab itu karena kediaman barunya ini tidak terlalu jauh dari rumah mertuanya, sehingga dalam beberapa kesempatan ia sendiri atau terkadang bersama anak-anaknya bisa menjenguk dan merawat ibu dari suaminya itu.

Sakina begitu bangga dengan sang suami. Sahlan hanyalah seorang guru sebuah sekolah negeri di kota pinggiran. Namun berkat ketelatenan menabung dan mengembangkan hasil tanah warisan ayahandanya, PNS itu tidak saja mampu membuatkan tempat teduh bagi keluarganya, tetapi juga dapat menyumbangkan penghasilan untuk ibu dan adik-adiknya yang masih dalam proses studi. Sebagai pegawai negeri yang terikat oleh tugas, Sahlan tidak begitu memiliki waktu luas untuk berkumpul dengan anak-istri. Ditambah statusnya sebagai putra tokoh di desanya, menjadikan anak pertama anak kiai kampung itu kian terpisah dengan anak-anaknya oleh kesibukan memenuhi beragam undangan masyarakat sebagaimana dilakukan ayahnya dulu. Selama ini di mata Sakina, Sahlan merupakan sosok pria yang penuh kasih terhadap putra-putrinya. Di kala senggang, ia menyempatkan diri mengajak anak-istri keluar rumah untuk me-refresh diri ke pantai, kolam renang, tempat-tempat rekreasi atau sekadar menyantap menu di warung makan. Saat di rumah pun, ia juga luangkan semaksimal mungkin untuk bersenda gurau dan menyelam di dalam dunia anak-anak dengan buah hatinya.

***

Sudah satu tahun setengah keluarga Sahlan pindah ke rumah barunya. Selama waktu-waktu itu dijalani, keluarga kecil ini diselimuti dengan ketenteraman yang membuat Sakina semakin merasakan kedamaian di tengah-tengah keluarganya. Tetapi tiga bulan terakhir ini ia mulai menemukan rasa gundah di lubuk hatinya. Entah perasaan apa gerangan?

Sakina semakin tidak nyaman tatkala memperhatikan raut wajah dan gelagat kaum ibu di majlis-majlis taklim yang ia pimpin dirasakan begitu asing bagi dirinya. Tak seperti biasanya, mereka seakan menyembunyikan sesuatu di balik untaian kata, seutas senyum dan simpuh mereka. Bisik dinantara mereka semakin membuat Sakina terjerembab di dalam jurang gelap yang membutakan. Tetapi keluh bibirnya terus menahan beribu tanya terpendam di dalam hatinya.

Di kamar ini, Sakina hanya mampu menangis. Pilu yang membebani pundaknya kian membuat air bening mengalir deras dari kelopak mata indah itu. Tak disangka terjadi yang tidak pernah terbesit dalam bayangannya sekalipun bahwa sang suami telah menikah lagi. Kabar “duka” bagi Sakina ini diterima dari cerita salah satu peserta jemaah perkumpulan yang ia bimbing. Terbukalah tabir kenapa selama ini para ibu-ibu seakan menyimpan rahasia di balik gerak dan perilaku yang mereka pertontonkan di hadapannya. Geram berkecamuk di dalam diri Sakina saat melihat sikap anggota pengajian itu, meskipun Sakina menyadari bahwa hal tersebut dilakukan oleh mereka semata-mata karena didorong rasa belas kasih kepadanya. Rasa marah yang terhimpit oleh ketidakpercayaan dan ketidakmampuan kian bergemuruh ketika wanita yang dikawininya merupakan sebagian anggota jamaah pengajian milik Sakina. Pantas saja belakangan ini sang suami jarang pulang. Ragam alasan dilontarkan Sahlan ketika ditanya oleh Sakina; tugas-tugas kantor, rapat-rapat kedinasan, jadwal pengajian atau apa saja yang menunjukkan betapa waktu begitu sempit untuk keluarga. Sakina memaklumi kondisinya sebagaimana ucapannya tanpa disadari bahwa hal itu hanyalah kedok menyembunyikan syahwat birahi belaka.

Jika saja tidak teringat dosa, ingin rasanya Sakina menyobek kitab materi pengajiannya yang tengah bersandar di deretan kitab-kitab rak tempat buku. Sakina merasa isi kitab-kitab tersebut yang telah berkontribusi terhadap status legalitas poligami sehingga membius cara pandang kaum adam tentang kedigdayaan maskulinitas menindih feminimitas. Kalbu Sakina begitu sangat membara saat teringat banyak laki-laki tampil menepuk dada dengan bangganya berlatarbelakang firman Allah: “maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat”. Hal yang membuat hati Sakina hancur kenapa harus dipenggal, padahal ayat itu memiliki sambungan: “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

Sakina menghempaskan wajahnya ke bantal yang sejak tadi ia peluk. Derai bulatan air bening terus mengalir membasahi bantal. Kalaulah beristri lagi didorong oleh niatan menolong janda yang dihimpit kondisi teraniaya atau memikul beban anak yatim yang dinistakan atau dikarenakan ia tidak dapat melahirkan buah hati buat sang kepala keluarga, sebisanya nurani Sakina akan mengiyakan. Tetapi menikahi perawan dengan paras ayu dan dalam keadaan ekonomi di atas rata-rata, membuat hatinya ingin menjerit sekuat tenaga seraya menyuarakan satu tanya kepada seluruh manusia, adilkah ini? Bagi wanita muslimah satu ini, dalam jarak jauh dan tanpa saling mengenal saja praktik poligami masih menumbuhkan rasa keengganan, apalagi perempuan pilihan suaminya merupakan sosok yang nyaris-nyaris bukan sebagai orang asing.

Mata Sakina kian membengkak disebabkan tangisannya yang tak kunjung berhenti. Untaian kata-kata pitutur tentang posisi kemuliaan lelaki pada relasi suami-istri dalam pandangan agama yang acapkali ia sampaikan kepada para jemaah dalam setiap kesempatan pengajian seakan hilang begitu saja dari ingatannya. Petuah yang berkaitan dengan kegigihan, perjuangan, ketabahan tatkala menghadapi ujian dan cobaan kini tak lagi bermakna bagi diri Sakina kendati berulang ia ucapkan pada mereka. Sikap tegar dan tegas saat mengungkapkan nasihat-nasihat kebaikan atau kisah-kisah kebajikan kini luntur berbalik berganti menjadi pribadi rapuh dan layu.

Sakina hanya mampu memandang kedua anaknya yang sedang pulas dengan mimpi-mimpi indahnya. Ia mengusap kening si Agung dan menciumnya dengan lembut, seketika anak lucu itu sedikit menggeliat meskipun matanya terpejam. Sakina kemudian menutupi tubuh Agung dengan selimut tipis yang mulai terhempas oleh gerakan-gerakan bocah tersebut. Kedua anak ini ternyata sedikit mengobati hati Sakina yang mulai tercabik-cabik. Melihat jam menunjukkan pukul 02:35 WIB, Sakina merebahkan diri di samping kedua anaknya itu sembari tanpa henti tangan kecil Agung Pratama diciumi dengan perasaan yang begitu berkecamuk. Sesekali air matanya kembali menetes, hingga akhirnya suara pujian-pujian kepada Allah Yang Esa dan salawat pada Nabi Muhammad sebelum kumandang azan dari musalla terdengar sayup-sayup. Sakina menghela nafas panjang, begitu berat terasa kepalanya menahan kantuk tetapi matanya tak mau dipejamkan karena pergolakan batin yang memanaskan dadanya. Perlahan ia renggut jemari anak terkecilnya itu untuk kemudian diciumi lagi dan sedetik berikutnya air matanya terjatuh. Saat suara azan mulai dikumandangkan, Sakina beranjak menuju kamar kecil untuk berwudu dengan langkah gontai dan lesu.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

3 komentar:

  1. Saya suka artikelnya. Saya sempat men-copy untuk di-tag di facebook, pada halaman kronologi komunitas saya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Saya suka artikelnya. Saya sempat men-copy untuk di-tag di facebook, pada halaman kronologi komunitas saya. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas Eto Kwuta. Silakan berbagi isi web ini, asal disertakan linknya :)

      Delete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top