Thursday, September 17, 2015

Selubung Tangis Fika

11:02 AM

[sumber]

Oleh: Muhammad Madarik


"Fika!" Teriak mamaknya. Dengan tergopoh-gopoh Fika menghampirinya sambil menundukkan kepala tanpa punya sedikit nyalipun untuk memandang sang ibu.

"Kamu itu, tuli apa.... Dipanggil mamak enggak segera datang!" Lagi-lagi anak kedua dari tiga bersaudara ini mendapat damprat. Fika hanya mampu menghela nafas panjang tidak bisa memberikan sepatah katapun.

"Mamak," teriring desahnya yang berat, ia menyebut mamaknya di relung hati terdalam. Padahal, hanya dalam hitungan menit mamaknya memikulkan titah untuk mengambil baju-baju adiknya dan melipatkan untuk selanjutnya ditata dalam lemari si bungsu.

Buk, buk, buk! Pukulan sang ibu mendarat di bokong Fika di lain hari. Tak sanggup keluar dari 
"hukuman", anak itu bisa meneteskan air bening yang mengalir di pipinya. Ia hanya dapat meringkuk di pojok ruang tamu tanpa ada pembelaan dari siapapun. Tercengang meratapi nasib tirani yang seakan tak berkesudahan. Celoteh tak kunjung selesai dari mulut mamaknya. Makian dan hinaan terus saja mengucur tiada henti. Padahal sebab musababnya tak sebanding dengan sanksi yang diterima. Fika cuma merasa membuat adik kecilnya menangis sehingga menjerit sejadi-jadinya. Seandainya sang mamak meneliti dengan seksama, pastilah Fika mendapatkan pemihakan dan perlindungan yang seharusnya ia dapatkan. Entah kenapa, anak malang ini selalu saja menjadi pesakitan setiap kali adiknya menangis atau sekadar memanggil mamaknya seakan-akan mengadu. Faktanya, si adik selalu mencari gara-gara disertai sikap manjanya.

Isi hunian ini pun bagai tak pernah memihak Fika. Sang kakak seringkali melaporkan hal sepele atau bahkan acapkali mengada-ada.

"Mak, Fika menjatuhkan piring tuh, sampai pecah," kilah kakak pada ratu rumah tangga.

Buk, buk, buk! Kembali tangan mamak menyambar tubuh Fika.

"Bukan aku, Mak. Bukan aku..." Adu Fika mendayu di sela tangisan menahan sakit bekas gebukan. Tetapi sejuta suara parau Fika seperti meong kucing dari kejauhan di gendang telinga sang ibu.

Bapak, sebagai gambaran kepala rumah tangga yang diharapkan dapat menaungi seisi rumah tangga dari panas dan hujan, nyatanya tidak mampu berbuat banyak di depan istrinya.

Sang suami hanya bisa tertegun menyaksikan kenyataan di hadapannya. Ia tahu banyak hal dibalik kelakuan istrinya, namun tangannya tak sampai untuk menjamah lengan sang mantan pacar. Nada bicaranya pasti berada di bawah suara istrinya dan kepalanya terus saja menunduk tatkala bertatapan dengan mata garang sang istrinya. Apalagi mencegahnya, sang suami mengambil sikap menegurnya saja bak seorang hamba yang sedang berhadapan dengan diraja penguasa. Sebagai seorang ayah yang melihat setiap kejadian dalam rumah tangga dengan nurani, dalam hati sang suami selalu mengeluh atas peristiwa yang menimpa anak dan tindakan semena yang dilakukan si istri.

"Heeh…." sang bapak menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepala, seakan sebuah ekspresi dari tumpukan sekian perasaan yang terhimpit di cadas ketidakmampuan.

Begitu sang suami menegor dengan sikap dan kalimat yang paling halus sekalipun, si istri langsung menyergap dengan kata-kata yang tanpa henti bercampur ucapan yang seringkali cenderung kasar.

Anak yang duduk di kelas V SD ini memang merasakan nestapa yang begitu sangat perih. Hampir tiada hari tanpa amarah sang ibu. Teriakan dan bentakan yang memekik di telinga merupakan goresan kanfas yang mewarnai bingkai kehidupan bocah ini.

***

Mak, hari ini kembali aku mendapat pertanyaan yang sama dari Ibu Nyai: “Nak, kenapa kamu ini? Apa sedang sakit? Apa yang kamu pikirkan?”

Pertanyaan tak berbeda juga dilontarkan ibu wali kelas XII IPA. Bahkan seminggu yang lalu, aku dipanggil Bapak Kepala Sekolah yang mencercaku dengan pertanyaan serupa.

Mak, aku harus menjawab apa? Aku sudah berusaha untuk mengikuti semua kegiatan sore dan malam di kompleks pesantren. Aku telah berkejaran dengan waktu agar tidak ketinggalan saat jam masuk sekolah. Aku juga berupaya sekuat tenaga membaca ulang mata pelajaran yang didapat di kelas.

Tapi apa daya. Memang harus aku akui, selalu saja terasa berat mata ini untuk dibuka. Rasa kantuk datang tanpa kompromi. Belum lagi otak ini serasa memang tak mampu menyerap pelajaran dari guru atau ustazah. Padahal aku sudah membaca. Dalam belajar kelompok, aku jarang absen.

Aku bingung, Mak. Teman-temanku di kelas sering mengejek karena nilai harianku tak pernah tuntas.
Mak, inilah keluh kesah pengisi lembar diaryku hari ini. Salam sejahtera buat Ayah dan Mamak dari perantaun. Doaku buat ayah dan mamak."

"Rafika Syahru"
Kota Apel. 090915.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top