Thursday, September 11, 2014

Kenangan Yang Tertinggal

9:08 AM

[sumber]
Oleh: Muhammad Madarik

Sore cerah, angin yang bertiup sepoi-sepoi dari jendela kamar Khairul menyapu wajahnya saat ia masih tertegun dengan baju yang dikenakan. Di depan cermin, ia merasakan kesejukan yang menjalari seluruh tubuhnya setelah sebelumnya ia menyegarkan badannya di kamar mandi dengan air dingin. Sejenak, lelaki ini tertegun memandang dirinya di dalam kaca yang disediakan. Ia perhatikan wajah yang masih terlihat muda dan ganteng, meski satu persatu rambut putih mulai tumbuh di kepala yang ia mahkotakan. Kulitnya yang kuning menjadikan bias ketampanan kian bersinar. Rambutnya yang dipotong pendek semakin membuat ubannya terpinggirkan.

“Hem,” selanya sambil mengambil nafas panjang seakan pandangan mengagumi sosoknya tak terhenti. Dan, belum habis kebanggaannya atas dirinya, tiba-tiba seseorang memasuki ruang kamarnya dengan mengagetkan.

“Na ning, na ning. Jangan celewet ya, kacian Umi. Abi belangkat dulu ya,” celotehnya sambil mengendus pipi mungil yang masih kemerah-merahan bocah yang didekap ibunya itu seperti ingin menyatu.

Bunga-bunga bahagia di hati Khairul terasa lengkap, ketika menyaksikan ia dihantar sang istri sampai masuk dalam mobil taksi. Lambaian tangan dan secuil senyum yang menyelimuti raut wajah ranum ibu rumah tangga itu menjadi saksi terakhir tatkala kendaraan yang ditumpangi Khairul mulai dinahkodai sopir sambil beraksi.

Jam sudah menunjukkan pukul 08:45, tetapi bagi Khairul gerakan mobil ini terasa berat kendati jalanan agak lengang, padahal bandara masih jauh. Khairul mulai bergelagat kurang bijaksana.

“Bang, agak dipercepat ya! Jam 10:30 saya sudah harus boarding,” seru Khairul yang duduk di belakang. Sesaat kemudian sopir lebih menancapkan gasnya setelah tuas persneling dikokang.

Bersama derasnya mobil-mobil di jalan, arus pikiran Khairul pun melaju kemana-mana, melayang pada hal-hal yang akan ditemui, setumpuk pertanyaan dan jawaban beragam, segudang cerita dan pengalaman bervariasi, serius, humor, gelak-tawa, dan mungkin akan ada air mata. Terbayang di pelupuknya, bagaimana keadaan sahabat-sahabat sekarang di belahan desa dan kota? Seperti apa eksistensi mereka di tengah kehidupan individualistis masyarakat yang menggurita? Sebagian mereka masih berkomunikasi dan bahkan terkadang dapat berjumpa, tetapi rata-rata mereka sudah putus hubungan tanpa berita.  

***

Kibaran bendera dan lambaian umbul-umbul yang berderet di sepanjang kanan-kiri pinggir jalan seakan melambangkan sambutan hangat pada semua yang hadir. Lebih-lebih sederet kalimat yang terpampang di atas jalan “Selamat Datang Alumni Angkatan 1997 di Madrasah Nurul Irsyad Pasuruan” memperkuat terwujudnya acara langka bagi segenap sahabat yang sudah terpisah oleh takdir. Dalam waktu hampir-hampir berdekatan, para hadirin mulai berdatangan, baik sendiri maupun bersama-sama secara bergilir. Suasana pertemuan benar-benar diwarnai seribu rasa yang berkecamuk antara bahagia dan haru tanpa batas akhir. Ragam sikap dan ekspresi terlihat kentara pada gerak tubuh dan raut wajah mereka ketika satu sama yang saling bertatap muka lalu bergantian menyindir. Ada yang masih tercengang lalu saling memukul, terdapat pula yang berpelukan, bahkan sebagian yang lain menebak-nebak sebelum kemudian tertawa lepas atau hanya sekadar nyengir.

Segala macam perasaan kian bertumpuk saat mobil taksi yang mengantarkan Khairul telah sampai di depan gedung sekolahnya. Seusai menyelesaikan transaksi sopir mobil jasa itu, Khairul mengeluarkan sebungkus alat hisap bernikotin dan sedetik kemudian ia telah menikmatinya. Sejenak ia tertegun sesudah menatap wajah tak asing pada zamannya, namun kini mulai tersamarkan oleh gilasan bulan dan tahun lamanya.

“Rul!”

“Ipul!”

Jabat erat, saling berangkulan dan percakapan mereka berdua yang menenggelamkan alam pikiran pada dunia masa silam, menjadikan sekelilingnya terlupakan. Sapa dan teguran dari kawan lain yang terus bermunculan tak membuyarkan keasyikan mereka berdua, sehingga percakapan itu harus disudahi karena perlu mengisi absen kehadiran di pintu gerbang masuk halaman sekolah yang dijaga siswa-siswi yang elegan.

Dekorasi tata panggung yang begitu bergaya 97-an, serta aksesoris yang digunakan merupakan warna-warni tatkala acara-acara masa sekolah dahulu menandakan peserta reuni akan diusung kembali mengarungi sejarah usang dengan menembus lorong waktu reinkarnasi psikologis. Terlebih, lagu-lagu yang diperdengarkan melalui sound system telah benar-benar mewakili nyanyian kala itu dengan ragam bait, mulai dari yang sadis sampai yang melankolis. Bagi sebagian alumni laki-laki kolaborasi Setiawan Djodi, Iwan Fals dan Sawong Jabo membuat semangat “perlawanan terhadap kemapanan dan status quo” seperti kala muda dulu seakan bangkit kembali, meski zaman itu nada-nada “bongkar” menjadikan jengah kebanyakan kalangan gadis.

Memasuki ruang acara, Khairul menghentikan langkahnya seraya terkesima memandang seseorang yang berjilbab hitam. Bodi kurus dan wajah agak menua, memaksa Khairul harus membuka lembar-lembar nostalgia sembari memutar ingatan siapa gerangan yang terkesan terjerembab dalam nasib kelam. Tidak dapat dipungkiri sisa-sisa kecantikannya masih membekas diwajahnya, meskipun garis keriput telah menutupi paras ayu yang bersemayam. Kelihatan sekali kurus kering yang menimpa tubuhnya akibat sakit yang dideritanya begitu mendalam.

“Ee … Pul, siapa itu?” Khairul menunjuk perempuan di dekat jejeran kursi depan dengan menjauh dari teman putri yang sedang berkumpul.

“Rul, Rul! Weleh, dadi jutawan, mantan dilupakan…! Zainiyah, arek Suroboyo kidul.
Bagai disambar petir, Khairul tersentak mendengar jawaban teman dekatnya itu dengan ekspresi termangu. Diam-diam Khairul memisahkan diri dari Saipul setelah sahabat asal kota Tahu itu bercengkrama dengan teman-teman lainnya seakan tak terganggu. Khairul sengaja mencari ketenangan dengan mencari tempat duduk menepi di deretan pinggir kiri, agar diary yang sudah tercecer di antara perjalanan waktu dapat dihimpun kembali tanpa belenggu.

***

Semenjak duduk di kelas X Khairul sebetulnya sudah menaruh hati pada Zainiyah, tetapi karena pihak madrasah dan asrama begitu ketat melakukan pengawasan terhadap pergaulan putra-putri menjadikan kata kalbunya harus dikubur. Keberanian Khairul untuk mendekati cewek yang memang banyak diburu banyak cowok itu tidak sebanding dengan ketakutan dan ketaatan yang melebur. Khairul hanya bisa menikmati parasnya saat ada kegiatan bersama untuk kemudian ia tanam dalam alam khayalannya dengan sangat subur. Bayang-bayang wajahnya yang selalu mengiang di pelupuk mata Khairul membuatnya semakin terjerumus dalam kubang lamunan panjang yang tak pernah kabur.

Selama ini sebagai teman curhat, cuma Saipul yang mampu menyediakan pundak untuk menyangga segala macam keluhan Khairul dengan terbuka dan semangat yang tak tergoyah apalagi kendur.   

“Rul!” Suatu saat suara Saipul menghentak telinga Khairul sehingga lamunan tentang seorang Zainiyah dalam hening menjadi buyar. Segera saja Khairul menyambar dari tangannya secarik kertas yang anyar.

Kepada Mas Khairul di asrama agung. Mas Irul semoga dalam rahmat-Nya yang menggunung. Nia sudah mendengar cerita Mas Ipul tentang Mas Irul begitu lengkap dan tidak tanggung-tanggung. Kala Mas Ipul mengungkapkan bahwa Mas Irul menyimpan sebuah perasaan, Nia merasa disanjung. Bak gayung bersambut, Nia pun merasakan apa yang Mas rasakan, walaupun awalnya bingung. Aku, Zainiyah tersanjung.

Khairul menghela nafas panjang, terdapat sinar cerah di raut wajahnya pertanda tumbuh berjuta-juta noktah kebahagiaan. Sebab, selama ini perasaan itu terhimpit oleh kehampaan dan ketidakmampuan.

***

Kembali Khairul meradang setelah surat yang kesekian kali lama tak terbalaskan. Memang selama ini saling berkirim surat selalu lancar, meskipun terkadang agak tersendat beberapa pekan. Sebagai kurir dari hubungan keduanya, banyak alasan Saipul kepadanya yang dikedepankan. Di antaranya, karena Nia sedang sakit, terdapat Divisi Keamanan di jalan gang asrama putra-putri, sebab padat kegiatan, atau malah terkadang tulisan itu disimpan di loker Saipul yang terlupakan. Hanya saja, keterlambatan yang terjadi tidak sampai membuat Khairul resah yang menyesakkan.

Tetapi kali ini, sesuatu yang ditunggu-tunggu semakin tak terlacak, sementara kegelisahan kian memuncak. Di tengah rasa jenuh dan putus asa akibat penantian yang menyiksa, seringkali terlintas di benak Khairul apakah Nia sudah mengkhianati “kesetiaan” yang diciptakan Yang Kuasa?

Ternyata benar jargon banyak orang bahwa menunggu merupakan pekerjaan membosankan. Tergeletak di kasur lusuh tak terelakkan. Buku dan refrensi hanya berupa tumpukan. Kalori dan protein belum bisa menyehatkan. Khairul hanya melangkah di altar kehampaan, kendati kepatuhan pada peraturan tetap dijalankan. Kalau bukan karena restu orang tua yang selalu dijadikan jimat hidup, tentu depresi mengangkang sulit dihindarkan.

***

Gunung es yang membatu serasa telah mencair dan gairah hidup menghinggap ke sekujur tubuh begitu deras mengalir, saat surat yang sudah sekian lama didamba telah hadir.

Mas Irul. Keterlambatan penyambung lidah ini bukan disengaja, sebab sabda Tuhan memang tak mampu dieja. Tetapi, terhadap segala keterkungkungan yang melingkupi Nia, Mas Irul pastilah pribadi yang bersahaja. Kini, yang perlu Mas maklumi, Nia bagai telur di atas tanduk setelah ayah memerintahkan Nia untuk tunduk pada petuah saja. Beliau telah memilih seseorang yang statusnya sudah mapan di balik meja, ketimbang Mas Irul yang dinilai sebagai perjaka lemah yang tak bisa bekerja. Nia, pada saat ini, hanya menangisi bunga-bunga cinta akan layu sebelum semerbak, padahal Nia mengimpikan ia berkembang terus hingga masa beranjak senja. Mas Irul! Nia meminta supaya bongkahan tirani yang memisahkan kita dapat dibongkar, meski kita tahu hal itu perkasa sekuat baja. Nia ingin mengetuk nurani semua orang; kenapa bayang Siti Nurbaya harus hidup kembali seiring doktrin bahwa menolak titah tidak dipuja? Aku, Zainiyah yang ingin dimanja.

***

Ucap salam MC menjadikan lamunan Khairul terhenti dan seketika ia tersenyum mengingat kenangan tertinggal yang belum sepenuhnya mati.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top