Saturday, September 20, 2014

Penulis dan Pekerja Seni

8:09 PM

[sumber]
Oleh: Irham Thoriq

Zaman sudah berubah. Saat ini, memamerkan tulisan kepada khalayak bukanlah perkara sulit. Cukup miliki blog pribadi, akun di media online penyedia jurnalisme publik, atau yang paling simpel di catatan media sosial. Tak perlu foto copy dan membagi-bagikannya di jalan-jalan, sebagaimana zaman internet masih jadi barang langka.

Buntutnya, aneka macam tulisan bertebaran tanpa ada seleksi. Jika kita pantengin media online penyedia jurnalisme publik, hampir setiap menit atau bahkan detik selalu muncul tulisan baru, dengan aneka macam persoalan, tanpa ada seleksi dan saringan. Entah ini berkah atau musibah dalam dunia kepenulisan kita.

Disebut berkah karena orang yang baru belajar menulis bisa memamerkan karyanya dengan mudah, cara ini bisa jadi motivasi untuk mengeluarkan tulisan selanjutnya. Celakanya, kita menjadi kesulitan menyaring mana tulisan yang layak dikonsumsi atau tidak. Kita sulit membedakan mana yang penulis benaran atau orang yang hanya iseng-iseng menulis.

Meskipun dalam dunia kepenulisan tidak ada standar mana orang yang layak disebut penulis atau sedang belajar menulis. AS Laksana, seorang penulis kenamaan pernah menyatakan kegelisahannya tentang hal ini. Menurutnya, banyak orang ingin menjadi penulis atau bahkan mengaku penulis, tapi amat jarang yang mau membaca. Menurutnya, membaca adalah syarat utama yang harus dimiliki penulis.

Dari pernyataan AS Laksana ini dapat ditafsiri kalau menulis merupakan kerja militan. Harus banyak membaca lalu menulis, memperbaiki, menulis lagi begitu seterusnya sebelum orang  layak disebut penulis. Menulis dalam hal ini tidak ubahnya sebagai kerja kesenian. Butuh waktu panjang sekaligus ketekunan.

Menjadikan menulis sebagai proses kerja kesenian bisa menjadi pembeda bagi para penulis serius dengan yang hanya iseng-iseng menulis. Jika diibaratkan menulis dengan melukis, maka harus ada pembeda lukisan yang akan dijual di Pasar loak dengan lukisan yang hendak dipamerkan di Museum.

Lukisan Monalisa, karya Seniman Prancis Leonardo Da Vinci yang disebut-sebut sebagai lukisan paling dahsyat dalam sejarah, dibuat dengan kerja yang tidak mudah. Hanya untuk melukis perempuan setengah badan yang sedang tersenyum, Leonardo membutuhkan waktu tiga tahun serta permenungan yang panjang. Itulah yang disebut kerja militan.

Begitu juga dengan menulis, dalam sejarah kepenulisan dan perbukuan, belum ada penulis yang diakui karyanya sebelum dia melakukan kerja yang militan. Buku yang laris manis selalu dibarengi dengan pengerjaan yang tidak ecek-ecek dan ala kadarnya.

Kita tahu, Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya penulis Indonesia yang berulangkali menjadi kandidat peraih Nobel sastra merupakan contoh nyata kalau menulis bukan perkara mudah. Dari dalam penjara, dia menyelesaikan banyak novel, termasuk karya monumentalnya Tetrologi Buru yang menggetarkan itu.

Kita bisa membayangkan bagaimana sulitnya waktu itu Pram dalam menulis. Tanpa ada laptop, mesin ketik dan refrensi bahan bacaan. Tidak seperti zaman digital, yang hanya dengan mengetikkan kata, Google atau Wikipedia dengan cepat bisa menjawabnya. Hasil dari kerja militan itu, saat saya belanja buku di pertokoan buku tidak asli di Malang, hampir semua penjual mengenal nama Pram, namanya tersohor hingga saat ini. 

Contoh lain yang bisa dijadikan teladan adalah peraih nobel asal Mexico Gabriel Garcia Marques atau yang akrab disebut Gabo. Pria yang pertengahan April lalu meninggal dunia ini terkenal karena novel monumentalnya berjudul Seratus Tahun Kesunyian. Untuk merampungkan novelnya, Gabo menyepi tanpa keluar rumah selama 18 bulan lamanya. Novel inilah yang lantas menyelamatkan Gabo setelah dia hampir putus asa karena kegagalan karya-karya sebelumnya.

Dari berbagai penulis hebat dunia itu, kita layak bercermin bahwa sejatinya penulis itu tidak ubahnya sebagai pekerja seni. Selain butuh kerja militan, penulis sebagaimana seniman harus menjadikan kerja tersebut tidak hanya semata-mata karena urusan perut. Lebih dari itu, kepuasan batin yang menjadi tujuan.

Sebagaimana pekerja seni, menjadi penulis harus siap-siap hidup dengan tidak terlalu bergelimang harta. Di Indoensia, kita semua tahu kalau pengakuan terhadap seniman dan penulis masih sangat memprihatinkan. Kebanyakan, seniman dan penulis hidup dengan tidak terlalu banyak tumpukan harta.

Tapi, itulah pilihan hidup. Bagi banyak seniman, urusan perut merupakan perkara nomor dua. Melihat karyanya dipamerkan dan diakui oleh banyak orang merupakan suatu kebanggan yang tidak bisa diukur oleh materi. Jika penulis juga berprinsip seperti itu, saya yakin, dunia literasi kita bakal lebih maju dan tersaring. Kita tidak lagi sulit mencari tulisan yang jernih dan menghibur, sebuah hal yang langka kita temukan di zaman serba digital ini.[]

Pernah dimuat di Harian Radar Malang

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top