Monday, May 30, 2016

Restorasi Pendidikan Indonesia, Kilas Balik Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

7:40 PM


Oleh: M Yasin Arief

Mendidik artinya memupuk pikiran murid, bukan menanamkan pikiran guru, jika sekolah tidak paham, maka sikap permisif pada kedunguan justru tumbuh dari sekolah. Seperti Ki Hadjar Dewantara, Guru seharusnya memberi ruang pada anak didiknya untuk mengembangkan ide dan pemikirannya sendiri.

Akal adalah anugerah terbesar yang dimiliki oleh manusia untuk memaknai entitasnya sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki kemauan dan kemerdekaan dalam hidup. Maka kegiatan manusia paling utama dalam hidupnya adalah memanfaatkan anugerah itu dengan melaksanakan kegiatan berfikir dalam rangka menelurkan ilmu-ilmu pengetahuan baru dalam arti seluas-luasnya dan mewariskannya pada generasi ke generasi selanjutnya. Untuk mencapai satu visi yang luhur itu, maka pendidikan menjadi instrumen paling asasi dan menjadi teramat naif untuk diabaikan dan tidak diperbincangkan.

Pendidikan dalam perjalanannya merupakan sesuatu yang telah menjadi nadi dan nafas dalam sejarah panjang kemajuan peradaban manusia. Pendidikan telah mengantarkan manusia dari gerbang ke gerbang yang lebih bersinar dan bermatabat, dari zaman ke zaman yang lebih maju dan beradab. Kendatipun pendidikan juga adalah pelaku kekejaman terbaik, saat institusi-institusi pendidikan menenggelamkan manusia pada lembah jiwa yang bukan jiwanya, menyeragamkan kodrat manusia yang bhineka hanya pada satu warna, dan membunuh potensi unik yang sangat berharga dalam tiap-tiap diri manusia.

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan unik secara kecerdasan, psikologi maupun fisik. Maka definisi pendidikan yang dewasa dan bijaksana adalah, satu instrumen yang bertujuan untuk membangun karakter manusia dari keunikan-keunikannya, memupuk gagasan dan pemikiran serta menumbuhkembangkan potensi yang sudah ada dalam tiap-tiap diri manusia.

Tidak ada satu peradaban maju di dunia yang tidak dibangun oleh keterlibatan pendidikan, kemapanan sistem pendidikan adalah kunci utama untuk mencapai cita-cita sebagai bangsa yang maju. Indonesia adalah satu-satunya dari sekian banyak bangsa di dunia yang memiliki keanekaragaman yang paling kompleks. Wajah geografis yang terdiri dari ribuan pulau terbentang luas dari semenanjung sumatra sampai papua sangat mempengaruhi pada unsur demografi-antropologi manusia-manusia Indonesia, realitanya tidak dapat terbantahkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa yang terbangun secara hukum alam dari antropologi manusianya yang bersuku-suku, faktor geografi, dan perjalanan sejarah panjang. Dengan kata lain, fakta menyatakan bahwa Indonesia adalah negara bangsa yang paling memiliki keanekaragaman karakter manusia diantara negara-negara lain di dunia.

"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri, pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu, sistem pendidikan dan pengajaran di Indonesia harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, nusa dan bangsa, kepentingan kebudayaan dan kemasyarakatan dalam arti seluas-luasnya."

Pernyataan itu pernah disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, salah satu tokoh penting penggagas, peletak fondasi sistem pendidikan di Indonesia. Memahami pemikiran Ki Hadjar dari pernyataannya sebetulnya tidak sulit, beliau sadar betul bahwa Bangsa Indonesia memiliki keunikan, keunikan tersebut terletak pada kompleksitas keragaman manusianya, dan keragaman akan hancur bila dipaksa untuk diseragamkan. Ada dua kesimpulan yang dapat diambil dari pernyataan Ki Hadjar di atas; Pertama, Ia menegaskan bahwa semua anak diciptakan dengan potensi diri yang berbeda, maka Ia menginginkan sistem pendidikan yang tidak merusak potensi-potensi unik itu, pendidikan justru seharusnya memupuk serta mengembangkan potensi asli yang ada pada anak didik. Kedua, Ia menginginkan sistem pendidikan Indonesia harus sadar pada asas kebutuhan dan kepentingan masyarakat dalam arti seluas-luasnya, sistem pendidikan harus lebih jeli melihat Republik Indonesia ini secara utuh, dari sudut geografis, keragaman ras, suku, agama dan budaya, sehingga terapan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak boleh digeneralisir, disamaratakan atau diseragamkan. Dari sisi geografi-demografi kondisi anak-anak yang ada dipusat kota Jakarta misalnya, tidak akan sama dengan kondisi anak-anak yang ada di wilayah-wilayah pedalaman. Dari sisi budaya kondisi tradisi anak-anak madura misalnya, tidak akan sama dengan kondisi tradisi anak-anak papua/sulawesi. Pada abad itu, Ki Hadjar Dewantara sudah memiliki gagasan cerdas, dengan tidak melihat kondisi bangsa Indonesia secara sepotong-potong. Ki Hajar melihat dengan amat jeli kondisi sosio-geografis Indonesia secara utuh dan menggagas sistem pendidikan yang paling sesuai dengan kondisi itu.

Waktu berjalan zaman terus berubah dengan sangat cepat, menuntut apa saja yang ada di sekitarnya untuk ikut berkembang. Ironisnya, zaman terus maju tetapi sistem pendidikan di Indonesia makin kesini makin kehilangan arah, gagasan pemikiran Ki Hadjar dewantara kala itu justru tidak serius dikembangkan. Sistem pengajaran dan kurikulum pendidikan pasca itu menjadi kian rapuh, tergerus arus dan menjadi alat pelbagai pergolakan politik dan kepentingan kapital. Kebebasan bependapat dan berpikir dalam dunia pendidikan mulai terpasung, lalu penyeragaman karakter potensi dan pemikiran dilakukan sekolah kepada anak didik melalui sistem kurikulum pengajaran menjadi hal yang lumrah, bahkan sebagian pelajaran direkayasa dan sengaja diatur sedemikian rupa demi kepentingan yang tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat. Eksesnya, beberapa puluh tahun kemudian sangat dirasakan dampaknya oleh kita, masyarakat Indonesia seakan kehilangan pijakan dalam memahami siapa dirinya, para mahasiswa dan sarjana yang dianggap kaum terpelajar menjadi seolah dungu layaknya gerombolan ternak yang mau digiring kemana saja oleh si tuan asal mendapat jatah makan.

Keadaan rakyat Indonesia saat ini tragis dan sakit kronis, dalam keadaan sekarat namun rakyat tak paham jenis penyakit apa yang di deritanya, nalar berfikir anak muda yang tidak kritis terhadap lingkungan sekitarnya, tidak pernah bertanya "kenapa" pada sebuah teori, "pasrah bongko'an" dan manut nurut pada siapapun, kreatifitas mereka yang mati, budaya mereka latah dan menggandrungi budaya bangsa lain, dan semangat belajar mereka yang semu. Ini semua tentu terjadi bukan semata-mata kebetulan saja, ini terjadi setidaknya karena sekian lama negara pernah memasung kebebasan berpendapat dan berpikir.

Kemiskinan bangsa Indonesia terletak pada miskinnya Sumber Daya Manusianya, sehingga semelimpah apapun potensi alam Indonesia pada akhirnya juga hanya menjadi fosil-fosil yang begelimpangan yang tiada guna bila Sumber Daya Manusia Indonesia tidak segera dibangun. Ribuan hektar tanah yang dikeruk dan lautan yang ditelanjangi tidak akan menuai kemakmuran dan kesejahteraan bagi Rakyat Indonesia bila Sumber Daya Manusianya tidak dibenahi. Pembangunan Sumber Daya Manusia adalah keniscayaan bila semuanya menginginkan perubahan, pembangunan Sumber Daya Manusia itu dapat berjalan dengan baik bila sistem pendidikan di negeri ini baik, karena pendidikan adalah gerbang utama menuju pembangunan manusia yang utuh.

Kesadaran dan keinsafan kolektif harus tumbuh dari hati semua kalangan, terutama para pegiat pendidikan di negeri ini, dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sampai pada guru madrasah di pelosok negeri harus ikut berbenah. Pendidikan Indonesia harus dipugar, direstorasi pada keadaan yang pernah baik sebelumnya, menengok kembali pada sejarah pendidikan nusantara yang bersahaja, meminjam kembali gagasan Ki Hadjar Dewantara dan para pakar pendidikan Indonesia lainnya, dan harus menelurkan gagasan serta inovasi baru yang lebih baik. Pendidikan Indonesia harus lebih bijaksana memandang kearifan lokal, menghargai kebhinekaan dalam multiperspektif, memupuk serta mengembangkan karakter manusia, dan harus menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Secara ideal dapat dikatakan pendidikan Indonesia harus bisa membangun manusia yang lebih berdaya, berbudaya, cerdas-bijaksana, produktif, dan kreatif-inovatif dalam rangka membangun Indonesia yang lebih bermartabat.

2 Mei 2016.
Sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top