Monday, June 6, 2016

Kehidupan Di Antara Pagar Pesantren

2:31 PM


Oleh: Muhammad Madarik

Kita tahu banyak anak remaja di kampung kita, persis seperti yang kita pahami tak terhitung gadis-gadis di tempat kita berasal. Pola kehidupan perempuan muda secara garis besar hanya terbagi menjadi dua gaya: Pertama, berperilaku cenderung lugu. Kedua, bertingkah modis bergaya hidup glamor.

Pada diri mereka yang bertipe kedua, tampilannya sungguh menjadikan kita terheran-heran. Kenapa bisa tingkah polah mereka bak kacang lupa kulitnya? Dari mana sebetulnya diri mereka? Hanya gadis-gadis desa yang jauh dari gemerlap kehidupan kota.

Cobalah sedikit bayangkan dalam alam pikiran Anda! Semenjak kecil mereka hidup di pelosok, sekian kilo dari sebuah keramaian kecamatan. Bocah cilik yang bermain di sekitar lingkungan gubuknya dengan alat-alat permainan sederhana. Pecahan genteng, belahan batu bata, dedaunan, gelang karet dan macam-macam mainan alami. Tak ada jarak anak laki-laki dan perempuan dan bahkan tidak dipisah oleh sekat-sekat kekhawatiran orang tua dari sisi norma-norma, sebab cara bermain merekapun tanpa tersentuh oleh cengkraman syahwat-birahi. Ketika azan Magrib mulai dikumandangkan bocah-bocah itu telah bergegas menuju surau untuk belajar mengeja huruf-huruf Alquran kepada kiai langgar atau guru ngaji. Di dalam perjalanan antara rumah dan surau, anak-anak itu nyaris saja memenuhi badan jalan karena gurauan yang tak kenal tempat dan waktu. Tawa bahagia menyelimuti wajah-wajah polos mereka, terkadang saling tarik pakaian bagi sesama lelaki, atau kejar-lari dengan perempuan yang diwarnai gelak-tawa dan jerit kegembiraan. Kadang-kadang teguran, atau nasihat dengan suara lantang orang-orang tua menghentikan guyonan mereka. Tetapi dasar anak "bandel" seusia itu, suara-suara tawa dan jerit yang melengking seringkali memekikkan telinga para orang tua.

Belum lagi saat di depan guru dalam surau. Ada saja tingkah polah yang diperbuat salah satu di antara mereka sebagai bahan gurauan. Kadangkala anak putri dicubit, dicibir atau dicemooh secara bersama-sama hingga menangis. Ada pula saling ejek sesama anak pria sampai terjadi perkelahian, tidak saling menyapa atau mengadu kepada gurunya.

Kisah masa kanak-kanak di desa itu kemudian terbelah oleh zaman. Pengalaman waktu-waktu belum balig hanyalah kenangan yang tertinggal. Sekarang, putaran jarum jam yang terus berdetak tanpa henti tak menyisakan jejak-jejak mereka kecuali cuilan khayalan masa lalu yang terpendam di benak orang-orang kampung. Sebagian mereka belajar di sekolah umum dengan muatan pengetahuan-pengetahuan non agama. Sedangkan sebagian yang lain masuk ke dunia pendidikan pesantren.
Nah, ternyata tipologi dan kecenderungan yang beragam tampak akibat pilihan masing-masing mereka ini. Sebagian mereka benar-benar tampil modis lengkap dengan segala aksesoris yang melekat di badannya. Rok pendek sebagaimana seragam sekolah umum menjadi style harian yang tak lagi terasa risih. Tas ransel, dan telepon genggam menambah gaya hidup mereka bak perempuan metropolitan selalu punya rasa percaya diri untuk tampil beda.

Meski tidak selalu orisinal karena banyak mengadopsi gaya selebritis populer yang mereka lihat di majalah dan televisi, tetapi "keakuan dan keangkuhan" ingin tampil dicap "modern" sanggup mengubah tatanan hidup dan budaya yang sudah mapan di tengah masyarakat.

Salah satu yang bisa diangkat sebagai contoh antara lain terjadinya gelombang Korea sudah menyebar keseluruh dunia, terutama di kalangan anak muda. Berawal dari kesuksesan film dan band-nya, gaya Korea akhirnya menjadi trend di berbagai negara di Asia termasuk di Indonesia. Dengan semakin populernya keberadaan artis Korea tersebut, membuat banyak perubahan dalam gaya hidup anak-anak muda, khususnya para penggemar musik dan juga drama yang berasal dari Korea Selatan tersebut.

Dalam hal pergaulan, mereka cenderung merdeka dari tata nilai yang sudah diyakini oleh masyarakat. Andaikan bukan karena setitik rasa malu terhadap lingkungan yang masih bersemayam di lubuk kecilnya, tentu pergaulan bebas hampir-hampir saja jadi mazhab dalam interaksi dengan teman-temannya. Walaupun dalam banyak ihwal pergumulan persahabatan, pagar-pagar norma dan nilai kesopanan tak lagi kokoh. Boleh dibilang, pergaulan antar lawan jenis nyaris tanpa batas, seakan cara bergaul antar mereka dilakukan sekehendak hati mereka. Kecuali sebab-sebab pertimbangan "publik" sajalah, mereka berupaya menyembunyikan diri dari masyarakat.

Begitu jauhnya kita menyaksikan tingkat ketimpangan antara mereka yang menyelami sebuah pendidikan non pesantren dan tarbiyah di lembaga Islam tertua di tanah air itu. Kita lihat bagaimana pola hidup anak-anak pesantren. Sejak awal masuk ke dalam lingkungan pesantren sudah ada pemasrahan yang betul-betul melalui keterwakilan berdasarkan kesadaran mendalam antara pihak wali dan pihak pesantren. Kendatipun proses administrasi kerapkali diselenggarakan oleh pesantren karena tuntutan zaman sekarang, namun pemasrahan totalitas kepada pengasuh pesantren menjadi bagian dari tahapan pendaftaran untuk masuk pesantren. Praktik sowan kiai merupakan agenda yang dianggap sangat sakral sehingga meninggalkan kegiatan satu ini dianggap langkah yang tidak etis.

Berikutnya soal cara hidup di dunia pesantren yang dapat digambarkan seperti gadis terpingit. Interaksi dengan alam di luar pagar pesantren dibatasi oleh tata aturan yang sangat ketat, sehingga memungkinkan tingkah kehidupan mereka begitu higienis dan tak mudah terlumuri pengaruh pergaulan bebas nilai-nilai.

Tentu kehidupan santri putri dalam pandangan sebagian orang luar dianggap "kolot dan terbelakang". Betapa tidak, menurut mereka, tanpa pakaian yang tergolong trendi ala sosialita dengan satu juta ke atas, para santri menutup tubuhnya hanya kisaran tujuh puluhan ribu belaka harga baju yang mampu dibeli.

Memang ya. Dalam ukuran materi, mode pakaian yang melekat di tubuh para santri tak semewah perempuan di luar tembok pesantren. Tetapi saat pakaian dinilai dari sisi agama dan kesopanan orang-orang timur, baju anak santri lebih mencerminkan keteguhan pada keyakinan yang dipercayainya dan lebih menggambarkan etika masyarakatnya. Berpulang pada fakta ini, sebenarnya hampir-hampir kebanyakan para santri jauh lebih mempunyai komitmen terhadap agama dan negaranya ketimbang kelompok pelajar lainnya yang acap kali menggadaikan kepercayaan terhadap ajaran dan patriotisme pada bangsa.[]

Sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top