Saturday, June 11, 2016

Aku Tak Mau Mati Kafir Lagi

4:10 PM


Oleh: Muhammad Madarik

Aku jengah hidup dengan dia. Mochamad kembali melayang jauh di pembaringan beralaskan karpet lusuh. Huuh,,, ia melenguh memendam kebosanan dalam bingkai hidup yang mulai retak. Kebersamaannya untuk bahagia, tetapi bagi Mochamad hanya dapat dimaknai sebagai pelepas hasrat belaka.

Anak ini dipanggil Mas oleh karibnya, menghisap dalam-dalam batang rokok yang hanya tinggal beberapa kali hisapan. Lamunan yang kian jauh menghinggap di antara sekian misteri hidupnya. Tak tahu akan bagaimana, benar-benar sesak terasa bagi dirinya kendati begitu lapang hidup ini bagi mereka. Senyum bahagia selalu menghias bibir mereka, tanpa keluh jalani takdirnya. Sementara baginya, ruang hidup ini sebegitu sempit seakan Tuhan sengaja menjerat dengan tali kehendak-Nya di leher pemuda ini.

"Mochamad... Mochamad..." Sebutnya dalam-dalam di antara angan pikiran yang terus saja melayang. Perjaka ini beranjak kian menua, sekeriput air muka yang tampak tak mampu lagi menahan usia. Bantal usang ia apit di selangkangan dan sejurus kemudian terguling ke kiri dan ke kanan. Hembusan nafasnya yang keras dimaksudkan menyumbat rasa galau yang tak lagi bisa diukur. Huuh....

***

Medsos-lah yang telah menghantar namamu di lubuk ini. Walaupun sosok diriku hanya diperlakukan tirani sebuah pengkhianatan tak berhingga sakitnya. Heeh... Kembali Mochamad menahan dan menghembuskan nafas panjang. Namamu selembut salju, menyejukkan dan membuat hampir semua tersenyum. Bayangkan, kau dipanggil Citra. Khayal sang pemuda mengingat sebuah nama yang hadir di pelupuk mata, saat alam fikirannya melayang. Begitu memikat. Citra oh Citra. Indah nian nama itu. Nyaman nan tenteram bagi tiap pendengarnya.

Tetapi selaksa pesona nama itu hanyalah tertinggal di pucuk duri bunga melati yang tajam. Melukai dan menyisakan perih yang sulit untuk diobati. Bagi Mochamad, kenangan indah bersamanya cuma jejak-jejak berdarah yang tercecer. Dalam bingkai hidupnya, hanya lukisan bunga Kamboja di tengah-tengah pekuburan tua. Di sampingnya, menyemai siksa batin seakan butiran pelor yang menancap di tubuh ini dan akhirnya menyesakkan dada saja.

Citra, oh Citra... Di dekatmu tak lagi ada ruang untuk bernafas. Rangkaian cinta selalu saja kau anyam dengan benang basah yang lapuk. Susunan kerangka sejuta rasa semudah rapuhnya bangunan yang dirancangnya sendiri. Citra, begitu goyah kehidupan berdekatan denganmu, sehingga angin sepoi-sepoi tak mampu dihalangi. Dalam sekian waktu di pusaran hidupmu membuat aku tak pernah paham apa arti kata komitmen. Uuh... Kini dada Mochamad terasa penuh beban. Sesak.

Aku benar-benar telah tewas. Sang Mochamad bergumul dalam angannya. Bau darah di sekujur tubuh ini menyebarkan anyir kematian yang terasa dekat. Degup jantung perlahan melambat detik demi detik. Citra, aku tak pernah takuti nyawa tercabut sekalipun oleh pedang musuh. Tetapi maut pasti kuanggap monster bila disusuri dengan kepala yang berpaling dari-Nya. Kaulah yang menjadikan jiwa ini terperosok di jurang kedurhakaan. Sungguh, bagiku kini firman Tuhan dan sabda rasul-Nya merupakan simbol agama yang terasa kering mutiara. Aku tampil sebagai lelaki berandal di mana ruhani tak pernah lagi tersirami. Panggilan Tuhan nyaris tak terdengar oleh hingar-bingar duniawi, angin surgapun hampir-hampir tidak menyapu diri ini akibat gilasan nafsu dan syahwat. 

Nyata benar keberadaanmu membutakan wujud Sang Esa di mata batinku. Kehadiranmu betul-betul mengaburkan makna persaksian antara Tuhan dan aku sebagai hamba-Nya. Akal sehat kian bertambah picik tatkala kau mewarnai sejarah hidupku. Kaulah biangnya! Sekarang, dalam satu hembusan separuh nafaspun aku tak bersedih dengan perpisahan, namun aku menangis sepanjang hayat sebuah pertemuan.

***

Lagi-lagi medsos yang sudah melubangi lorong ta'aruf antara aku dengannya. Wajahmu tak dipenuhi kecantikan, namun parasmu mencerminkan pantulan keteduhan. Kembali lamunan sang Mochamad mengangkasa, hanya hamparan sajadah yang baru saja ia tinggalkan masih basah oleh tetesan air mata. Ditemani secangkir kopi panas buatan sendiri dan sebungkus kretek, raut wajah pemuda ganteng ini begitu berseri. Seutas senyum kecil yang tersungging dalam oval mukanya menambah tampilan anak ini betul-betul tampan.

Jika bukan karena engkau, ooh.. Alfionita, mungkin aku akan tetap terjerembab dalam lubang kemaksiatan. Di sana, harga diri kulacurkan sebegitu rendah tanpa tawar hanya semata-mata demi kesenangan belaka. Ooh... Aku sebetulnya tak ingin membuka lembar kelam itu lagi, sebab dalam pandanganku potret masa-masa lalu merupakan gambar buram yang tak pantas diungkit kembali.
Alfionita... Oh, Alfionita. Kau hadir di tengah lubuk hati ini telah kukosongkan. Aku sadar, kedatangamu di sisiku ini bukanlah sebuah garis hidup yang ditorehkan tangan kita, tetapi aku meyakini inilah coretan takdir yang digoreskan Tuhan dalam lingkar hidup kita. Pertemuan ini hanyalah tatapan dua insan di persimpangan jalan setelah sekian kurun antara kita terpisahkan. Masa demi masa bergulir tanpa terasa, perjumpaan waktu silam kini bersemi lebih dari sekedar persahabatan. Alfionita... Oh, Alfionita.

Bibir Mochamad kembali merekah, saat merenungi sepotong wajah keibuan yang melintas di alam pikirannya. Tangan kekarnya merogoh sebatang rokok sesudah membasahi tenggorokan dengan kopi di sampingnya. Lagi-lagi putra Borneo ini terbang bersama khayalannya.

Alfionita... Oh, Alfionita. Saat dulu perasaanku disiksa oleh pergumulan di dalam dunia gelap, kendati gadis cantik itu tak berjarak dariku. Dan, dekapan gadis itulah yang menyebabkan aku tersungkur di kubangan gelimang syetan. Alfionita... Percayalah ! Tubuhku, ketika itu, berlumuran dosa. Tetapi kini sesaat setelah namamu terlukis di relung nurani ini, jasadku serasa dibasuh oleh mata air keinsyafan. Yah, kaulah seseorang yang datang menginspirasi sejatiku, sehingga aku sanggup menginsyafi hakikat kehidupan ini. Sekarang aku mulai memahami siapa diri ini, hingga setapak demi setapak aku mengerti siapa Tuhanku.

Sangat terasa setiap nafas tak kan pernah terbeli, setiap gerak tak kan pernah tergantikan, setiap detik tak kan pernah kembali, dan setiap apa saja walau senoktah dalam gulir hidupku tak pernah mampu untuk ditukar, sekalipun dengan sekumpulan alam semesta. Alfionita... Oh, Alfionita. Di mataku, eksismu bagai telaga kautsar-nya Nabi Ahmad yang suci.

Alfionita... Oh, Alfionita. Mataku yang mulai terbelalak pada kebesaran Sang Khalik, kupastikan berkat tunas-tunas kesadaran di ujung fitriku yang kau sirami dengan embun kesabaranmu. Diri ini yang beranjak ke pintu tobat, kupercaya sebab mutiara hikmah yang kau susun dalam rangkaian petuah yang terus saja menyejukkan.

Alfionita... Hanya namamu yang terpatri di hatiku, waktu tangan ini tengadah ke langit. Cuma panggilanmu yang kusebut, disaat ku bermunajat di tengah kesunyian malam. Aku ingin kau menjadi sapu tangan, saat aku butuh sesuatu untuk mengusap butiran yang mengalir di pipi ini. Aku berharap kau tampil sebagai lentera, tatkala aku dalam belantara kebimbangan. Aku mengimpikan kau menjelma seperti pundak, ketika ragaku goyah dan tak lagi kukuh.

Aku memang tidak akan memperkosa keperkasaan Tuhan, tetapi aku kan tetap mengemis di depan pintu kemurahan-Nya semoga kita dilahirkan seakan Adam dan Hawa. Aku memang tak kan menuntut kewenangan-Nya, namun aku bakal terus meratap di bawah kaki kearifan-Nya mudah-mudahan kita diciptakan seperti Romeo dan Juliet.

Kini Mochamad bergegas dari lamunannya. Ia berdiri dengan tegak keluar dari ruangannya seraya tersenyum ceria menatap alam yang cerah. Namun di tengah angin sepoi-sepoi, khayalan sang Mochamad masih tersisa.

Alfionita... Oh, Alfionita. Jagalah aku, agar aku tak mati kafir untuk yang kedua kali.[]

sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top