Saturday, June 18, 2016

Aula

1:41 PM


Oleh: Halimah Garnasih

“Katakan padaku tentang kesia-siaan,” pintasantri putri itu kepada seorang perempuan setengah baya tanpa kerudung yang sudah sebulan ini selalu muncul tiba-tiba dan menghabiskan malam di depan aula. Aula putri yang didominasi warna putih dan coklat. Aula putri yang tampak gagah sekaligus anggun, adem terkadang juga pengap aneh sekaligus mistis.

Perempuan itu terkekeh-kekeh memandang aula putra. Sementara pondok putri telah gelap. Semua khos sudah sepi menyisakan hening yang mengambang.

“Ceritakan kepadaku,” pinta santri putri itu lagi. Sarung coklatnya yang ngelinting di bagian bawah menyentuh latar aula yang abu-abu. Baju panjangdan kerudungnya yang sama-sama berwarna putih telah pudar menjadi kuning mangkak.

Perempuan itu berpindah menatap mata santri di sampingnya. Satu-satunya santri yang nekat mendekat dan berbicara dengannya. Sementara dada santri putri itu sedikit berdesir saat mata perempuan misterius yang dianggap aneh oleh seluruh santri itu mendarat di kedua matanya. Tepat pada kedua pupilnya yang berwarna hitam kecoklat-coklatan.Santri putri itu juga tak tahu mengapa dirinya seberani ini. Entahlah, bermalam-malam dirinya tak bisa tidur. Dan beberapa hari ini dia merasakan perempuan misterius itu menatapnya terus setiap kali dirinya turun dari musholla, melewati ndalem Nyai Maftuhah, melewati khos B. Lalu berjalan lurus ke utara melewati kamar A4 dan masuk ke kamarnya di A1, kamar Al-Bayti.

Apakah dia mengetahui kegelisahanku ini? terka santri putri itu sambil membawa sepiring nasi kost yang baru diambilnya dari ndalem Nyai Ruqoyyah. Santri putri itu memandangi perempuan misterius yang sore hari terkadang tiba-tiba muncul dan duduk-duduk di depan musholla. Musholla putri yang hijau dan teduh sekali.

Perempuan itu terkekeh-kekeh di depan muka santri putri yang rupanya sedang gelisah itu.

“Konon,” suara perempuan misterius itu renyah dan teduh. Santri putri itu terperanjat. Baru kali ini dia mendengar suara dari perempuan yang disangkakan bisu dan gila ini. Terlebih, alangkah tak disangka suara itu begitu mendamaikan jiwanya.

Lalu, mendengarlah santri putri itu sebuah cerita:

Konon, tersebutlah seorang santri yang tenar dengan kepandaian khitobahnya. Santri baru yang namanya langsung mercusuar karena kepandaiannya itu. Yang namanya kerap mampir di bibir-bibir santri yang sedang istirah di kamar, di antara dua santri yang sama-sama tengah menciduk air dari kolam lalu mengguyurkan ke tubuhnya, di antara gerombolan santri yang sengaja ngendon di bawah jemuran sambil petan-petan dengan hanya mengenakan telesan, di WC yang berjajar tujuh dan baunya ngau’dzubillah menyengat hidung tapi terkesan biasa karena sudah kadung biasa, juga di antara para khoddam ndalem yang tengah mengiris bawang di dapur. Dan tentu saja, juga kerap mampir di ruang dengar beberapa cak santri yang yang memiliki akses mudah keluar-masuk gerbang pondok putri.

“Dari kecil, bahkan sebelum masuk SD, dia sudah dilatih oleh kakeknya,” aku Habibah, santri yang sekampung dengan santri tenar itu. Sementara gerombolan santri  lain yang mengitarinya mengangguk-ngangguk, beberapa hanya melongo.

Untuk pertama kalinya Habibah merasa bangga menjadi tetangga santri tenar itu. Ia semakin berbusa-busa menceritakannya. Menjawab semua pertanyaan dari para santri lainnya. Bahkan, tentang suatu hal yang sesungguhnya tidak diketahuinya, Habibah mengarang bebas demi ingin tampak begitu dekat dengan santri tenar itu.

“Ya, semuanya dilatih detil oleh kakeknya. Yang penting itu bukan materi khitobahnya, karena itu bisa kita pelajari dari buku-buku kumpulan khitobah bukan?”

Habibah sengaja diam sebentar, menunggu para santri bertanya serempak kepadanya. Dan betul seperti perkiraannya. Lalu Habibah menjawab dengan senang hati dan tampak meyakinkan, “yang penting adalah tekhnik memegang microvon atau memegang talinya, tekhnik memindahkannya dari tangan kanan ke tangan kirinya, tekhnik menggoyang tubuh, menganggukkan kepala, mengedipkan mata, juga….”sengaja lagi Habibah mengulur kalimatnya.

“Juga apa?” Penasaran gerombolan santri bersamaan. Habibah tersenyum dan melanjutkan pelan, sangat pelan, “melempar senyum…” Gerombolan santri ramai. Saling berargumen ini-itu. Ada pula yang hanya bergumam-gumam. Juga yang diam-diam mencatat betul. Tak sedikit yang nyinyir meledek.

Lalu, malam senin adalah malam yang sangat ditunggu-tunggu para santri putri. Untuk pertama kalinya, mereka akan menyaksikan langsung santri tenar itu menunjukkan performance khitobahnya. Betapa divisi bakat dan seni telah didorong-dorong oleh ratusan santri untuk mengundang santri tenar itu.

Aula putri hening. Para santri yang malam itu tidak mendapat giliran tampil dan hanya menjadi audiance, seperti menahan nafas sebentar saat nama santri tenar itu disebutkan oleh Pembawa Acara. Gila! batin Pembawa Acara menemukan dirinya berdebar-debar bahkan hanya menyebut nama santri tenar itu. Pembawa Acara surut ke belakang. Aula tetap hening. Semua sorot mata dari ratusan santri putri yang mengenakan kerudung putih jatuh ke pintu aula yang wibawa. Tiga detik, lima detik, akhirnya sepasang kaki muncul dari luar. Dengan busana panjang perpaduan warna biru dan merah jambu, seorang perempuan belasan tahun masuk dengan aura yang kuat membias di wajahnya. Membias di tubuhnya. Membias di bibirnya yang penuh pesona. Lalu, aula putri penuh sihir!

Paginya, kamar mandi ramai. Membicarakan kedahsyatan semalam.

“Begitu kenes!” seorang santri menirukan santri tenar saat menggoyangkan wajahnya.

“Ho’oh, suaranya lo… berubah-rubah. Kadang wibawa, kadang manja, kadang tegas, kadang kemendel!” kata yang lain sambil mengguyurkan air ke baju seragamnya yang berwarna krem. Baju seragam Madrasah Diniyahnya.

“Tapi… cantikkan.. suaranya itu lo… apalagi pas diselipin membaca qiro’ah dan nyanyi India. Hem….khitobahnya jadi asyik kan. Gak kaku…” Sahut satunya sambil memainkan kakinya yang dicemplungkan ke dalam kolam.

“Ah, tetap saja. Orangnya gak ramah. Dasar sombong!” Yang lainnya nyinyir. Beberapa santri di ujung sana mengiyakan sambil mengenakan baju, dan memeras telesan.

Benar-benar mercusuar. Penampilannya selalu menyihir. Di muhadloroh khos, muhadloroh orda, muhadloroh haflah akhirissanah, apalagi undangan di luar pesantren. Dan namanya semakin tinggi saja seakan tak terjangkau.

Perempuan misterius itu terkekeh-kekeh.

“Apa yang terjadi selanjutnya? Katakanlah,” santri putri itu semakin tidak mengantuk. Sementara dini hari begitu menggigit.

Sampai datanglah seorang ahli khitobah yang lainnya. Kita kasih nama Atun ya.

Lalu ngekek. Sementara santri putri itu sedang penasaran.

Santri tenar itu merasa terusik. Puncak kepopulerannya merasa tersaingi. Bukan karena lebih bagus, tapi dia merasa kehilangan para fans. Fansnya yang lebih memilih orang yang ahli namun tetap ramah dan rendah hati dengan sesamanya. Teman-temannya semakin menyenanginya.

Perempuan itu terkekeh-kekeh.

Pukulan telak baginya, saat dirinya merasa makhluk alam lain pun lebih menyukai saingannya daripada dirinya. Atun jarang tersadar. Banyak jin yang berebut masuk ke wadagnya. Dari jin bayi, batita, remaja, sampai jin nenek peyot. Tapi ada satu jin yang lebih sering ngendon dan lama keluarnya. Jin itu mengaku bernama Cika.

Para santri sudak kenal baik dengan Cika. Jin yang baik kata mereka. Para santri pun mudah mendeteksi Cika bila sedang masuk ke wadag Atun dari ketawanya yang khas. Khas jin yang kemendel.

Cika pernah membuat olah. Tiga hati tiga malam dia tak mau keluar dari wadag Atun. Saat ditanya kenapa tak mau keluar, “Gak mau. Ada jin jahat jahat, besar, dan hitam yang mau masuk. Cika kasihan sama Atun,” jawabnya manja. Padahal, satu hari lagi, Atun harus tampil khitobah di muhadloroh. Jadilah divisi bakat dan seni melatih Cika berkhitobah. Menggemblengnya habis-habisan. Dan berhasil! Cika tampil mempesona. Suaranya melengking tinggi. Wajahnya lebih bersinar daripada biasanya. Tekhnik-tekhnik khitobah yang dikeluarkannya membuat terkejut para pelatih. “Itu tekhnik adaptasi sendiri, kami tidak pernah mengajarkannya. Itu keren. Dia melebihi dari apa yang kita latih,” jawab sang pelatih pada wartawan pers pondok putri.

Malam itu, tentu saja para santri berbondong-bondong datang ingin menyaksikan penampilan seorang jin. Eh, kok seorang. Seejin yang akan berkhitobah. Malam itu pujian dilayangkan kepada Atun tiada habis-habis. Esoknya, berita itu menjadi Had News buletin pondok putridan tak habis-habis dibincangkan selama dua pekan. Dan tentu saja, si santri yang merasa dulu tenar, panas pada dadanya. Membara pada hatinya.

Perempuan misteriusitu terkekeh-kekeh agak lama.

Dia sungguh marah dan tidak bisa menerimanya. Semua jalan ditempuhnya untuk merebut kembali hati para fansnya, termasuk berpura-pura kejinan. Tapi tak lama, karena modus kepura-puraannya akhirnya ketahuan. Waktu dia pura-pura pingsan dan para santri berama-ramai menggotongnya, seorang Neng berumur empat tahun yang sedang bermain di taman pondok tiba-tiba menggelitik kakinya. Dan dia tertawa.

Perempuan misterius itu terkekeh-kekeh lagi. Semakin ngekek.

Puncaknya adalah peristiwa sore itu. Sore yang surub jelang maghrib. Pondok putri gempar. Atun, berteriak kencang. Memang, sudah tidak heran Atun berteriak-teriak. Para santri sudah mafhum, keadaan seperti itu adalah keadaan disaat jin akan masuk. Entah lewat jempol kaki atau ujung-ujung jari tangan. Tapi teriakan atun yang ini lain. Teriakanny panjang dan menyayat hati yang mendengarkannya.

Sulifah, seorang santri senior tiba-tiba menunjuk ke kamar pojok. Gemrudukpara santri ke sana. Mereka melihat si santri yang dulu tenar, sedang duduk bersila, tangannya menyatu di depan dada, mulutnya ndemimil, dan tubuhnya gemetar. Kholifah, keluar dari kamarnya menyadari banyak santri sudah bergerombol di luar kamarnya. “Anu, katanya keris yang dari Sunan Ampel untuk Lila hilang,” Kholifah menjelaskan keadaan yang menimpa santri yang dulu tenar. “Dan sekarang dia sedang berusaha merebutnya,” tambah Kholifah lagi cemas dan hanya bisa melihat semacam semedi yang dilakukan Lila. Sementara sore itu pondok putri memang kacau. Semakin banyak santri yang tiba-tiba pingsan lalu berteriak-teriak.

“Merebut kembali? Keris Sunan Ampel?” Tanya Khuzaimah, santri senior di kamar Atun kepada Kholifah.

Kholifah mengangguk meyakinkan dengan wajah taku-takut.

“Lila mengaku mendapat keris dari Sunan Ampel sebagai restu dia berkhitobah. Berdakwah kepada manusia,” tiba-tiba Habibah menyeruak di antara gerombolan santri. Keluar dari kamarnya dimana Lila masih terus melakukan semacam semedi. Para santri hanya semakin bingung, ada yang tidak percaya, ada juga yang diam-diam menikmati peristiwa ini. Karena aneh dan unik.

“Siapa yang mengambil keris Lila?” tanya Khuzaimah cepat.

Kholifah dan Habibah saling pandang. Lalu pelan keluar satu nama dari mulut mereka berdua, “Atun.”

Di kamar ujung yang lain, Atun berteriak-teriak semakin tinggi dan ganjil. Khuzaimah merasa tak enak. Banyak santri yang tak percaya. Surub di pondok putri semakin mencekam. Bahkan, sampai azan Cak Ibe (panggilan akrab Ibrahim oleh santri putri) berkumandang, Lila masih saja bergetar dalam semedinya, dan teriakan atun semakin panjang. Dan semakin terdengar ganjil…

“Lalu apa yang terjadi?” sergah santri putri itu dibawa buncah penasaran. “Apakah benar Lila mendapatkan keris dari Sunan Ampel? Dan Atun yang mengambilnya?” santri putri itu begitu teramat penasaran.

Sementara perempuan misterius terkekeh-kekeh meninggalkan santri putri itu sendiri di pelataran aula putri. Sampai di depan khos B, pada jeda kekehannya, santri itu mendengar perempuan misterius itu berkata: ITU TIDAK PENTING. Lalu terkekeh lagi.[] 

# Malam Jum’at yang ganjil
                                                                        Pada Kereta Tawangalun Menuju Banyuwangi
06/06/2016. 06.00
 # Sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top