Thursday, June 23, 2016

Oh Shabrina

12:55 PM


Oleh: Muhammad Madarik

Anak kecil ini berlari memasuki halaman rumahnya, lalu bergegas melempar tas sekolah ke kasur di kamarnya. Sedetik kemudian ia masuk ke ruang neneknya yang bersebelahan dengan kamarnya. Sang nenek sedang terbaring sakit terbujur lemah. Gadis yang kini duduk kelas V SD ini menyentuh pipi orang tua itu dengan telapak tangannya.

"Uuh... masih panas," ungkap si cucu dalam hati.

"Kamu nak, sudah datang?" Suara parau terdengar sambil mata cekungnya terus terpejam. Terlihat perempuan tua itu hanya menggeliat serasa ingin membuang jauh-jauh kepenatan di sekujur tubuhnya.

Bocah kecil ini mengambil kain kompres yang sejak tadi pagi saat ditinggalkan ke sekolah masih tetap menempel di dahi neneknya. Alat yang dibuat membantu mendinginkan panas badan itu, ia celupkan dalam baskom berisi air di samping tempat tidur lalu memasang kembali di dekat mata ibunda ayahnya.

"Nek, makan lagi ya! Biar cepat sembuh."

Si nenek cuma menggeleng seraya sesungging senyum kecut menghias di bibirnya. Terkesan sekali senyum itu diumbar sebagai penawar lelah raga yang terus menerus digerogoti sakit sekaligus penghibur buat cucu tercintanya.

Ia memandang wajah keriput di depannya sesaat sebelum beranjak meninggalkan neneknya, berjalan keluar kamar. Shabrina merasa lega melihat neneknya terpejam kembali. Di ruang tengah, anak yang biasa dipanggil dengan sebutan Rina ini menuju kunci yang tergantung di sebelah almari kuno peninggalan kakeknya. Kemudian ia mengambil tumpukan beberapa kunci yang menggelantung dan keluar dari rumah dan bergegas membuka pintu toko yang berada di sebelah kanan depan rumah berkonstruksi adat Jawa itu. Sebuah bangunan toko sederhana hanya berukuran 2x3 m. yang mulai terlihat isinya banyak yang kosong. Seperti biasa seusai sekolah, ia menjaga toko setelah mengurus dan merawat neneknya telah kelar.

Rina duduk di kursi kayu setelah sebelumnya membersihkan seluruh sudut toko dari debu dan membuka pintu depan dan jendela di sebelah samping. Toko ini di bangun ayahnya sekian tahun yang lewat hingga sekarang grafik aset penjualan terus menurun, lebih-lebih sejak neneknya jatuh sakit sebab tidak ada lagi yang mengambil barang di toko agen.

Toko itu memang dibuat oleh ayah Shabrina sebagai solusi buat istrinya agar memiliki kerja sampingan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Tetapi karena letak rumah keluarga Shabrina berada jauh di pojok kampung, toko itu sepi pembeli. Apalagi rumah Shabrina berposisi di ujung dari rumah-rumah tetangga dengan jalan terusan ke persawahan, sehingga pelanggannya cuma petani yang akan pergi dan pulang dari sawah saja. Hanya saja, buat ibu Shabrina sudah lumayan untuk tambahan pemasukan belanja harian.

***

Shabrina merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia putri sendirian, sedang kedua adik lelaki semua, Nadzif dan Nabit. Adik pertama masih duduk di bangku kelas II SD, sementara kedua baru belajar berjalan.

Ayah mereka seorang pegawai negeri yang ditugaskan di kota kecamatan sebagai pengajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setiap kali bertugas, sang bapak mengendarai sepeda motor yang digunakan pulang-pergi antara rumah dan tempat dinas. Tidak jarang kedua adik Shabrina merengek saat ayahnya terlihat mengeluarkan kendaraannya.

Ketika adiknya merajut tak ingin ditinggalkan ayahnya, acapkali Shabrina harus menggantikan ibunya, membujuk adik yang sedang dalam lucu-lucunya itu.

"Rina! Adiknya tolong dihibur itu. Kasihan ibunya lagi repot," perintah nenek suatu waktu sambil duduk-duduk di kursi depan rumah.

Menjengkelkan, tetapi juga menyenangkan.

Rina menemukan tidak terhitung keadaan gembira bersama anggota keluarga. Kala habis maghrib merupakan waktu yang seringkali bertemu seisi rumah. Biasanya ayah sedang makan, setelah menjelang mata hari tenggelam berada di toko yang di bangunnya bersama sang istri. Senyampang ibu masih melayani ayah, Shabrinalah kakak tertua yang seringkali tampil merawat adik-adiknya. Di ruang tengah itu seluruh anggota berkumpul. Suasana begitu hangat terasa, ada gelak tawa sebab si kecil bertingkah lucu, tetapi saat selanjutnya ada suara tangis. Kadang terdapat saling bercerita antara nenek, ayah, ibu dan terkadang Shabrina. Dalam saat demikian itu, bagi Shabrina begitu menyejukkan karena ia bisa curhat tentang sekolah, mata pelajaran, kelakuan teman-temannya dan banyak hal tentang dirinya kepada ayah, ibu dan bahkan neneknya. Banyak petuah, arahan dan petunjuk yang di dapat dari mereka.

Suatu hari keluarga bahagia itu mengadakan acara berlibur ketika masa libur sudah tiba. Sang ayah menggunakan mobil sewaan sebagai alat transportasi mereka. Dengan mempertimbangkan irit dana, ayah Shabrina mengemudikan sendiri tanpa pendamping. Liburan mereka berjalan lancar dengan segala suasana gembira, sebab seluruh keluarga ikut semua kecuali nenek karena alasan menjaga rumah. Namun kebahagiaan yang reguk tidak lama, kecelakaan maut pun terjadi saat mereka pulang. Tabrak lari kendaraan truk mengakibatkan tewas segenap anggota keluarga yang menyisakan Shabrina sebagai satu-satunya korban yang selamat. Entah sebab apa ia hanya lecet dan memar di beberapa tubuhnya.

Keadaan ini menyebabkan Shabrina shock. Kenapa ia ditinggal sendirian? Tidak ada tempat mengadu, tidak keluarga yang diajak untuk curhat. Hilang sudah keceriaan, canda, dan tawa mereka. Lenyap sudah rengekan, kemanjaan, kelucuan dan suara tangis sang adik tersayang. Hidupku kini sendiri... Untunglah masih ada nenek yang menjadi pendamping hidup seorang gadis yatim piatu ini.

***

Tak terasa butiran air mata Shabrina mengalir di pipinya. Shabrina terjaga dari lamunan ke masa lalu yang kelam. Gadis kecil ini terperanjat mengingat sang nenek sudah waktunya makan siang dan minum obat. Shabrina berlari ke dalam rumah dan menengok nenek dengan hati-hati.

"Nek! Nenek!" Perlahan ia menyentuh wanita tua itu.

Betapa kagetnya Shabrina, ternyata sang nenek sudah tidak bergerak lagi. Shabrina menjerit histeris di samping tubuh neneknya, "Nenek! Jangan tinggalkan aku!"


Oh, Shabrina.[]

Sumber Gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top