Sunday, July 3, 2016

Mengaktulisasikan Sosok KH. Qosim Bukhori

11:12 PM


Oleh: Muhammad Madarik

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pada tahun inipun Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 Putukrejo memasuki tahun ajaran baru seperti pesantren-pesantren lain. Hanya saja penanganan dan penataan tata laksana manajemen lebih diintensifkan lebih dari pada periode sebelumnya. Tahun pelajaran 2016/2017 ini diwarnai dengan keterlibatan hampir-hampir semua pihak, mulai dari Dewan Pengasuh, santri senior dan beberapa kalangan yang selama ini lebih aktif di sekolah formal. Kondisi sedemikian menandakan sebuah kekompakan dan kebersamaan yang diperlihatkan oleh semua unsur. Tentu ini merupakan langkah-langkah strategis yang diancang mampu mereaktulisasi proses pendidikan di lingkungan PPRU 2 dalam segala aspek.

Meneguhkan Komitmen
Semua tahu bahwa PPRU 2 (terutama putra) ke depan perlu berbenah dengan usaha lebih kuat.  Pengelolaan dan penanganan dengan mengerahkan segenap kemampuan memang mendesak untuk disegerakan pelaksanaannya. Sebab, menyongsong masa depan yang lebih baik dengan berbagai macam tantangan internal dan eksternal merupakan hal yang harus benar-benar diwujudkan di lingkungan pesantren ini.

Berkaitan dengan konteks pengembangan PPRU 2 ini, maka komitmen segenap unsur, baik Dewan Pengasuh, santri, alumni maupun semua stakeholder, seyogianya diutamakan dan dikokohkan kembali. Tentu komitmen itu diejawantahkan dalam bentuk dukungan dari masing-masing sesuai jenjang dan proporsinya. Oleh sebab itu, semua kalangan harus mempunyai tekad bulat terhadap kesuksesan setiap rencana kegiatan yang dicanangkan. 

Dewan Pengasuh sebagai pihak yang memiliki kuasa dan tanggungjawab penuh terhadap keberadaan pesantren dapat menampakkan dukungannya lewat arahan atau instruksi yang berbasis kebijaksanaan. Di dalam lingkungan PPRU 2, model kepemimpinan sebetulnya sudah dicontohkan oleh pendiri pesantren ini, KH Qosim Bukhori. Sebagaimana banyak diceritakan oleh para alumni yang rata-rata tahu betul corak beliau dalam mengawal para santri, merupakan sosok moderat dan demokratis. Moderat artinya cenderung menyesuaikan perkembangan situasi yang muncul. Demokratis dimaknai sebagai sikap beliau yang seringkali  memposisikan dirinya menjadi orang yang berperilaku; Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani. Artinya, dalam banyak hal beliau tampil sebagai figur yang mampu menjadi suri tauladan serta bisa menggugah semangat dan dorongan moral. Sebab itulah, beliau dirasakan oleh para santri bukan saja sebagai guru tetapi juga dianggap seperti sahabat dalam makna yang luas. Faktanya, pada satu sisi beliau disegani karena kepribadiannya, namun pada sisi yang lain sosok beliau dijadikan tempat mengadu (baca: curhat) karena caranya berinteraksi yang acap kali mengakrabi.

Sedangkan komitmen bagi santri diandaikan sebagai sikap memompa diri untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui program-program pesantren. Sehingga semua kewajiban yang dipikulkan kepada mereka tidak dinilai sebagai beban, tetapi justeru dianggap kebutuhan buat mengembangkan jati dirinya. Oleh karenanya, motivasi awal para santri menuntut ilmu perlu di tata ulang. Jika mengadopsi teori sebagian ulama berkaitan dengan niat, maka yang harus ditanamkan dalam lubuk mereka tidak lain hanya mencari ridla Tuhan dan menghilangkan kebodohan. Dorongan inilah yang diyakini bakal mampu mendongkrak semangat dan mengikis segala macam rasa malas.

Dalam konteks ini, peran kiai Qosim lebih banyak terlihat ketika menanamkan nilai-nilai dan norma kepada para santri dalam banyak kesempatan, baik secara formal di berbagai proses pembelajaran maupun di kala interaksi secara tidak formal. Seperti seringkali diingat sejumlah alumni bagaimana Yai memberikan dorongan dan motivasi belajar dengan beragam bentuk. Satu waktu, terkadang beliau menganjurkan santri untuk meningkatkan belajar, namun lain kali beliau menyarankan santri memperluas wawasan dengan membiarkan terlibat di organisasi, atau menugaskannya mengikuti sebuah kegiatan. Nasihat-nasihat dan saran beliau begitu sangat terkesan bagi kalangan santri sebagai sebuah pembuka ruang belajar. Hal yang cukup menarik dari apa yang dilakukan beliau seringkali pesan kepada salah satu santri berbeda ucapan beliau kepada santri yang lain. Hal ini seakan peristiwa jawaban Nabi Muhammad SAW yang berbeda antara satu sahabat dengan sahabat yang lain meskipun pertanyaan sama, terulang dalam kasus Yai Qosim kepada santri-santrinya ketika memberikan saran yang tidak sama antara satu santri dengan yang lain.

Komitmen bagi para alumni tak jauh berbeda dengan santri, hanya saja ranah mereka sudah berada di lingkaran masyarakat. Bentuk dukungan yang bisa dilakukan antara lain memposisikan diri mereka sebagai corong yang menyuarakan keberadaan pesantren di tengah-tengah lingkungannya. Keikutsertaan mereka menyebarkan nama pesantren tentu bervariasi sesuai kemampuan dan posisi masing-masing. Hal yang paling mendasar dalam peran alumni adalah menunjukkan jati diri dengan bangga sebagai orang yang pernah menyerap pendidikan di lembaga agama. Alumni yang demikian ini saja sudah dapat dipastikan menjadi promosi tersendiri bagi almamaternya, apalagi kemudian mereka rela menjadi agen informasi dan rekrutmen, maka hasilnya akan lebih membahana.

Yai Qosim sekalipun tidak pernah menuntut para alumninya harus menjadi apa dengan posisi bagaimana. Beliau lebih memasrahkan pengembangan diri para alumni di tengah-tengah masyarakat berproses secara alami sesuai dengan kearifan lokal masing-masing individu. Dari sekian banyak pesan-pesan beliau terhadap para alumni, yang terpokok hanyalah konsistensi terhadap ajaran agama, seperti menjaga shalat dan berakhlak karimah.

Terlebih jika peran serta para alumni diwujudkan dengan kegiatan yang diselenggarakan secara kolektif, pasti hasil yang diharapkan jauh lebih melegakan. Sebetulnya wadah untuk para alumni di lingkungan PPRU 2 sudah terbentuk semenjak Yai Qosim masih hidup. Bahkan serikat itu terbilang mengalami perkembangan memuaskan, baik dalam hal gerakan maupun dalam segi organisatoris. Perkumpulan alumni yang dinamai "Yasru [Yayasan Alumni dan Santri Raudlatul Ulum]" ini telah mampu mengakomodir keuangan alumni dalam pelbagai program dan sudah menata manajemen organisasinya secara rapi. Sayangnya, wahana alumni ini "mati suri" seusai mengalami berbagai benturan dan konflik internal.

Tidak dimaknai sebagai pemakai dan pengguna jasa, stakeholder yang dimaksud disini ialah segenap orang tua santri yang memberikan kepercayaan pesantren. Komitmen bagi mereka dapat digambarkan seluruh keikutsertaan para wali santri di dalam proses pendidikan putra-putranya yang berupa dukungan moral dan finansial.

Dukungan moral bisa diwujudkan dengan selalu menjaga terlenggaranya segala program dan tata aturan yang berlaku di pesantren. Kasus yang seringkali mencuat ialah pengawasan terhadap kegiatan putranya saat di rumah yang dirasa begitu minim. Contoh yang bisa diangkat adalah fenomena santri yang enggan melestarikan pembiasaan-pembiasaan di pesantren disinyalir karena faktor pengawasan orang tua yang melemah. Malah terkadang sikap para wali bertabrakan dengan kebijakan-kebijakan pesantren. Tamsil yang bisa dibuat gambaran antara lain kehendak memamitkan putranya yang cenderung "didesakkan", membuat tata aturan pesantren tercerai-berai.

Tetapi menggeneralisir kasus kepada semua orang tua santri, tentu bukan sikap yang bijak sebab tindakan demikian hanya bersifat personal. Apapun faktnya, ketimpangan ini lebih banyak disebabkan relasi pesantren dan stakeholder yang kurang harmonis. Makanya, kesinambungan komunikasi kedua belah pihak perlu diupayakan semaksimal mungkin agar tidak terjadi persimpangan yang kian menjauhkan keduanya. Melirik kegiatan Yai Qosim yang seringkali melawat ke berbagai daerah dengan misi pokok beliau mendakwahkan dzikir Naqsyabandiyah merupakan salah satu sarana yang produktif mengkomunikasikan kepentingan pesantren kepada stakeholder. Jejak Yai Qosim ini masih sangat relevan untuk dilestarikan guna merekatkan kembali hubungan antara wali santri dan pihak pesantren.

Di atas semua itu, komitmen setiap unsur harus didasari oleh rasa "memiliki" yang benar-benar melekat. Bermodal inilah diharapkan pengembangan pendidikan di lingkungan PPRU 2 yang mampu mengantarkan santri sebagai "insan berpikir dan berzikir" seperti pribadi KH Qosim Bukhori betul-betul menjadi kenyataan.[]

Sumber Gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top