Sunday, September 4, 2016

Ludruk Yang Tergantikan

7:48 PM

sonot_project_ludruk

Oleh: Muhammad Ilyas

Ludruk adalah suatu kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang digelar di sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan, dan sebagainya. Pertunjukan ini diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Ludruk merupakan kesenian yang bernuansa humor, jadi dalam pementasannya terdapat humor-humor pilihan rakyat kalangan bawah.

Asal muasal kesenian ini juga masih banyak perdebatan. Ada beberapa sumber yang mengatakan dari daerah Surabaya. Ada beberapa yang mengatakan dari Jombang. Kesenian ini dimulai sejak era 1800-an, yang pada awal mulanya ludruk merupakan sarana untuk mengamen ke rumah-rumah, dan dilakukan dengan berjalan kaki berpuluh-puluh kilo meter. Itulah sedikit informasi tentang ludruk.

Pada perjalanannya ludruk menjadi kesenian favorit yang digemari masyarakat. Pada era pra kemerdekaan digunakan sebagai alat propaganda untuk meraih kemerdekaan. Ludruk sebagai sarana untuk menyampaikan moral value kepada masyarakat. Ludruk juga digunakan sebagai kritik sosial. Bahkan sampai 1980-an kesenian ini masih diminati oleh masyarakat kalangan bawah. Ayah saya pernah bercerita tentang masa keemasan ludruk. Bahkan waktu itu di desa Sumberurip terdapat gedung teater yang disediakan untuk pertunjukan ludruk, yang dilaksanakan tiap minggu. Wah sebegitu massifnya kesenian ini hingga masuk ke plosok-plosok desa.

Tapi pada era pasca reformasi 1998 ludruk sudah tidak diminati oleh masyarakat, mereka sudah mempunyai TV untuk mengisi waktu luangnya. Tentunya dengan menonton dagelan Senayan dan sekitarnya. Kok bisa begitu, mungkin ada pembaca bertanya-tanya. Masyarakat sudah jenuh dengan pertunjukan ludruk, toh ada yang lebih lucu lagi ketimbang ludruk, yaitu dagelan-dagelan politik.

Yuk kita bandingkan kelucuan ludruk dan kelucuan elit politik kita. Pertama Gancke dan T. Rooda mendifinisakan ludruk sebagai grapper maker (badutan). Nah definisi ludruk juga sama dengan definisi yang ada di Senayan dan sekitarnya. Yah, mereka memang melucu, dan tampil di khalayak umum untuk ditertawakan bersama-sama. Untuk hiburan ketika lagi berpusing ria, dan sebagai pelampiasan saat galau. Tapi badut yang disenayan beraksi dengan fasilitas negara dan ditanggung rakyat, tentunya dengan gaji tinggi. Beda halnya dengan pemain ludruk.

Kedua, dialog atau monolog yang terdapat di ludruk mengundang gelak tawa. Ini sama dengan para politisi kita, misalnya Bang Anas Urbaningrum berkata “Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas!” Sontak para pemirsa di rumah terkekeh melihat monolog ini. Apalagi pasca tertangkapnya beliau sebagai terpidana kasus korupsi Hambalang. Dan sampai sekarang tidak ditemukan tali gantungan yang ada di tugu monas.

Kemudian ada pernyataan dari Haji Lulung, jika Ahok dapat mengumpulkan 1 juta KTP, ia akan mengiris kupingnya. Nah ketika 1 juta KTP terkumpul, telinga Haji Lulung masih tetap utuh, tak cacat sedikitpun. Dan ketika ada wacana Ahok mencalonkan diri melalui jalur partai, Haji Lulung berstatemen sama. Tetapi sampai hari ini kedua telinganya masih utuh. Rakyat tak perlulah menuntut Bang Anas untuk gantung di Monas atau melihat Haji Lulung memotong telinganya. Mengerikanlah, lawong ada telinga saja masih belum bisa mendengar jeritan rakyat, apa lagi tidak punya?,Mengerikan sekali.

Persamaan ketiga adalah penampilan pemain ludruk itu kocak dengan make up loreng-loreng yang mengundang tawa. Nah, begitu juga dengan para politisi kita. Mereka ber-make up tebal dan berias sedemikian rupa agar menjadi bahan tertawaan masyarakat kalangan bawah. Hal ini dibuktikan dengan inkonsisten dalam misi perjuangannya, apakah perjuangannya diabdikan untuk perusahaan, untuk golongan sendiri, untuk pribadi, atau untuk ketiganya. Kalau rakyat, bangsa dan negara diurutan misi perjuangan nomor berapa? Pembaca bisa menilai sendiri.

Persamaan keempat, ludruk menjadi tontonan favorit masyarakat untuk menghibur diri ketika lelah melanda. Nah hal ini juga terjadi dalam perpolitikan bangsa kita. Ketika masyarakat lelah dengan rutinitas sehari-hari, mereka akan menyalakan TV untuk melihat berita para politisi kita. Dan mereka pun asyik dengan melepaskan lelah sambil tertawa melihat berita tersebut. Tidak ada habis-habisnya melihat dagelan Senayan yang setiap hari berganti judul, dan bahkan bagaikan sinetron yang berepisode-episode.

Nah, keempat alasan di atas menjadi bukti bahwa ludruk sudah tergantikan dengan humor-humor segar Senayan dan sekitarnya. Keberadaan ludruk semakin hari semakin memprihatinkan, oleh karena itu mari kita bersama-sama untuk mendorong para pemain ludruk agar masuk dalam lingkaran Senayan dan sekitarnya, agar para pemain ludruk bisa eksis lagi, serta menambah khasanah humor yang ada di Senayan dan sekitarnya.[]

Sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top