Wednesday, August 24, 2016

Hikayat Para Pencuri Buku

1:09 PM


Oleh: Irham Thoriq*

Seorang pustakawan militan dari Malang berulang kali menentang. Dia tidak setuju dengan anggapan banyak orang, yang belakangan mungkin sudah dianggap sebagai kebenaran. Anggapan itu memang pahit. Terlampau pahit.

Anggapan itu adalah bangsa kita dicap sebagai bangsa yang minat bacanya rendah. Lalu, anggapan itu diperkuat hasil survey yang menyatakan kalau minat baca kita peringkat kedua terbawah dari total 61 negara yang diteliti. Sudah 71 tahun merdeka, tapi kita secara tak sadar  mengamini hal itu.

Pustakawan ini mengatakan kalau anggapan ini salah. Masyarakat kita sebenarnya tidak malas membaca, tapi bacaan yang tidak ada. Mau beli buku tidak punya uang, mau pinjam ke perpustakaan kota, terlampau jauh. Karena inilah, pustakawan ini memimpikan suatu saat bisa membangun seribu perpustakaan di desa-desa. Agar buku tak lagi jauh dari orang-orang kampung.

Jika buku dekat dengan masyarakat, mau tidak mau masyarakat akan membaca. Minimal membaca buku resep masakan, minimal membaca kiat sukses membeli rumah tanpa uang muka, minimal membaca buku kiat sukses menjadi pembawa acara, minimal lagi membaca judul buku.

Saya kira, kesalahan pembuat kebijakan di negeri ini adalah kurangnya upaya mendekatkan buku kepada masyarakat. Lalu, masyarakat tidak mencintai buku. Kau tahu, buku pelajaran saat kita kecil terlalu banyak hafalan. Orang disuruh menghafal tokoh-tokoh, rumus-rumus, sejarah dan lain-lain.

Pelajar tidak diajari bagaimana mencintai dan menikmati buku serta pengetahuan. Mungkin karena ini, setelah lepas dari sekolah atau kuliah, orang menjadi jauh dari buku. Meninggalkan buku, meninggalkan pengetahuan. Atas semua itu, jawababannya hanya satu: karena kita tidak pernah diajari bagaimana cara mencintai buku dan mencintai pengetahuan.

Hal inilah mungkin yang tidak dialami sastrawan Chairil Anwar, sastrawan angkatan 45 yang hanya berusia 26 tahun tapi saja-sajaknya masih hidup hingga kini. Meski tidak pernah sekolah tinggi, tapi Chairil sangat mencintai buku dan pengetahuan.”Kata mama saya, ayah mending besok tidak makan daripada besok tidak beli buku,” kata Evawani Alissa, anak satu-satunya Chairil Anwar dalam sebuah diskusi yang diadakan Tempo baru-baru ini yang tayangannya saya lihat melalui Youtube.

Sejak itu, saya baru tahu kalau Chairil Anwar memang maniak buku. Bahkan, ada cerita tersohor tentang Chairil Anwar dan sastrawan Asrul Sani. Suatu hari, Chairil dan Asrul mengunjungi toko buku yang cukup terkenal di Jakarta waktu itu, namanya Van Dorp.

Di toko buku ini Chairil dibuat ngiler dengan buku berjudul Also sparch Zarahustra karya filsuf  Fredrich Nietzsche. Mereka lantas mencuri buku ini. Chairil mempunyai pembenaran kenapa dia menucuri buku di toko buku milik belanda tersebut.”Bangsa mereka juga merampok kekayaan negeri ini,” kata Chairil.

Tapi menurut saya apa yang dinyatakan Chairil ini hanya pembenaran saja. Dari cerita teman-temannya, Chairil yang hidup susah di Jakarta memang sering mencuri. Bahkan teman-temannya pernah iuran menebus Chairil, setelah ‘si binatang jalang’ ditangkap polisi karena ketahuan mencuri seprai.

Chairil mencuri buku mungkin karena kehausannya terhadap ilmu pengetahuan. Sebagai penyair, Chairil juga butuh bahan untuk mengarang puisi yang bertenaga. Dia tidak mungkin membuat puisi hanya berbekal imajinasi dan angan-angan kosong.

Perihal mencuri buku, saya kira setiap zaman selalu mempunyai pencuri bukunya masing-masing. Di Perpustakaan Kota Malang sebagaimana diberitakan Jawa Pos Radar Malang,ada 4.725 buku buku hilang atau bahasa halusnya belum kembali selama bertahun-tahun. Dan ironisnya, yang banyak buku hilang adalah buku bertema kedokteran.

Mungkin mahasiswa kedokteran yang pinjam dan tidak dikembalikan itu kepalanya sedang pening. Dia bingung karena dituntut segera menyelesaikan kuliah oleh orang tua, buku di kampus tidak tersedia, mengurus kartu perpustakaan Kota Malang sulit bagi orang luar kota, maka lahirlah ide mencuri. Dalam hati mungkin mereka bergumam: nanti kalau saya sudah jadi dokter akan saya kembalikan bukunya.

Atau mungkin mahasiswa tersebut tidak niat mencuri. Tapi buku yang mereka pinjam di perpustakaan dicuri teman. Lalu, mahasiswa ini takut mau melaporkan karena sudah terlanjur lama buku menghilang. Ini jugalah yang dirasakan seorang teman ketika menghilangkan buku di perpustakaan kampus. Karena buku hilang dan denda di sistem peminjaman berjalan terus, teman saya ini disuruh bayar hampir sejuta. Untung, dia dapat diskon dengan membayar Rp.300 ribu di penghujung kuliah. Jika tidak membayar, tidak bisa ikut yudisium yang itu sama saja artinya tidak bisa lulus.

Seorang ilmuan barat David J Leiberman juga pernah menulis tentang cerita pencurian buku. Menurut dia, sebodoh-bodohnya orang itu adalah orang yang meminjam buku tapi buku tersebut dikembalikan.

Lalu, berdosakah orang yang mencuri buku? Saya kira tulisan ini tidak hendak membahas halal dan haram, karena sudah ada lembaga yang memiliki kewenangan memberi fatwa. Maka saya turunkan lagi pertanyaannya, boleh tidak mencuri buku?

Atas pertanyaan itu saya kira jawabannya boleh. Kita perlu mencuri buku dari seorang kutu buku yang setelah dibaca buku tersebut diendapkan saja di bawah kolong kamar tidur. Kita juga perlu mencuri buku dari orang-orang yang hanya senang membeli buku tapi tidak pernah berhasil menuntaskan membaca buku yang mereka beli. Lalu, Anda masuk kriteria yang mana ya?

Buku hasil curian itu bisa kita buat perpustakaan gratis. Hitung-hitung, dengan mencuri buku dan membuat perpustakaan gratis, kita sudah menyebarkan ilmu Tuhan. Bukankah itu pahala, bukan malah berdosa.

Seorang pustakawan yang ceritanya saya sebut di atas juga pernah memberi tip dan trik cara mencuri buku di perpustakaan. Caranya, sobek sampul depan dan belakang. Jika di dalam buku masih ada penanda yang dikhawatirkan pintu perpustakaan berbunyi ketika kita keluar, maka lembaran itu jangan lupa disobek.

Karena kita hanya akan jadi bahan tertawaan semut ketika kita mencuri buku, lalu pintu berbunyi dan kita masuk penjara karena buku yang tak seberapa harganya. Padahal niat kita mulia, yakni demi literasi. Jangan lupa, kita mencuri buku karena alasan keadilan sosial juga yakni agar buku-buku tidak hanya dinikmati orang kuliahan dan orang gedongan saja.

Lalu bagaimana kalau kita tertangkap beneran? Semoga saja para penggiat literasi bisa bersatu dan berdemontrasi di depan kantor polisi sambil menenteng poster bertuliskan: Hentikan Kriminalisasi kepada Pejuang Literasi.[]

Penulis tinggal di www.irhamthoriq.com
- Sumber gambar: Admirable sentiment

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top