Sunday, November 22, 2015

Atas Nama Kemanusiaan? Sebuah Catatan tentang Teror Bom Prancis dan Teror Asap Riau.

8:43 PM


Oleh: Abdul Rahman Wahid

Terik matahari begitu menyengat. Hujan yang sempat turun beberapa hari lalu tak mampu membendung debu-debu untuk berterbangan. Musim hujan seakan hanya melintas memberi kabar, permintaan maaf langit pada bumi. Karena air matanya tak kunjung jatuh. Hanya murung yang langit tampilkan, itu pun sejenak saat senja perlahan mulai menghilang.

Masih sulit menentukan apakah ini musim hujan ataukah musim kemarau. Dibeberapa daerah, tangisan langit memenuhi sungai lalu meluap ke daratan. Kabar banjir pun terdengar memilukan. Rumah-rumah berantakan, semua perkakasnya dipaksa mengikuti arus air yang amat tajam. Para penghuni satu per satu diserang penyakit. Tangisan langit kini telah bercampur dengan tangisan manusia. Air mata dan air hujan jatuh bercucuran.

Di daerah lain, cuaca panas masih setia menemani serangkaian aktifitas manusia keseharian. Kini, kabar kekeringan perlahan mengemuka. Para petani terancam gagal panennya. Tanamannya kering kekurangan air. Lahan-lahan terlihat gersang nan tandus. Tenggorakan bumi benar-benar kering, ia begitu kehausan sekali. Bahkan, jika harus disiram, mungkin hanya beberapa jam debu itu basah dan tenang. Selebihnya, debu-debu itu akan terbang dengan riang. Tak heran, jika kabar kebakaran kian hari datang bergiliran. Begitu nikmat si jago merah melahap dedaunan hingga batang.

Banyak pengamat tampil memberikan pandangan, dari aktivis lingkungan, ahli musim, para pecinta alam dan lain sebagainya. Mereka bergantian memberi pandangan akan kejadian yang tentunya meresahkan ini. Bagaimana tidak, semua lini kehidupan terancam ketika sudah berhadapan dengan yang namanya kekeringan, kebanjiran dan kebakaran. Ya, sesuatu yang sering diminta dalam do'a itu membuat resah para manusia tatkala Tuhan mengabulkannya. Begitulah manusia beserta keinginannya.

Baiklah, entah kekeringan dan kebanjiran, keduanya adalah pemberian Tuhan. Keduanya harus disyukuri.

Ada hal menggelitik yang hendak saya sampaikan terkait kondisi cuaca hari ini. Dimana dunia hari ini sedang lantang berbicara kemananusiaan, termasuk Indonesia. Suara kemanusiaan itu muncul setelah terjadi teror di ibu kota Prancis, Paris, Jum'at (13/11/2015). Teror yang memakan korban hingga ratusan jiwa itu mampu membuat dunia berteriak lantang karena kemanusiaan. Jika alasannya kemanusiaan, semua orang akan sepakat. Bagaimanapun membunuh orang yang tak berdosa bukanlah tindakan halal, dan semua agama mengecam perbuatan tersebut.

Jujur, dilain sisi penulis bising mendengarkan suara lantang atas nama kemanusiaan. Suara lantang karena menunjukkan diri sebagai bentuk toleran. Bahkan, suara lantang sebagai bentuk keprihatinan. Ya, penulis merasa ada ketimpangan pada suara kemanusiaan yang diteriakkan. Meski tidak sampai pada suara bohong, suara itu terdengar timpang. Nilai-nilai kemanusian seakan diperjuangkan jika ada timbal balik yang didapatkan. Ya, itu yang saya rasakan saat mendengar suara lantang para intelektual, pejabat, tokoh agama bahkan mahasiswa sebagai gerbong perubahan.

Mari sejenak kembali kepada persoalan yang terjadi di negeri ini. Berbulan-bulan kabut asap menjadi ironi. Tapi suara lantang itu tak segencar teror yang menimpa Paris. Saya pun bertanya, apakah asap ini tak cukup untuk kita bersuara lantang atas nama kemanusiaan? Bukankah asap itu telah merenggut hak kemanusiaan. Hak manusia untuk bernafas. Hak manusia untuk melakukan aktifitasnya setiap hari. Hak manusia untuk menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Hak manusia untuk mencari penghasilan demi menghidupi keluarganya. Bahkan hak untuk menghirup udara segarpun mereka harus dihalangi oleh masker. Tidak cukupkah semua ini untuk kita bicara lantang atas nama kemanusiaan.

Yang membuat saya semakin geli, bahasa kebakaran lebih bangga digunakan. Padahal kita mafhum, lahan dan hutan itu sengaja dibakar. Hal itu dilakukan demi memuluskan keberlangsungan perusahaan. Itupun tak sedikit para intelektual dan pejabat yang mengatakan, kebakaran sulit dipadamkan karena cuaca panas yang berkelanjutan. Inilah bangsa kita, memaknai kemanusiaan saja berbalut kepentingan. Padahal itu dilakukan setiap tahun, bahkan nyawapun harus direnggut karena nafsu perusahaan tersebut.

Terang sudah bagaimana perselingkuhan perusahan dengan pejabat negara. Hukumpun buta, bak lambang yang disematkannya. Keadilan yang seharusnya diperjuangkan hilang ketika berurusan dengan perusahaan. Musibah selalu menjadi alasan untuk menghindar. Tak banyak yang berteriak lantang. Bahkan suara mahasiswapun redup menyerupai asap. Hari ini asap sudah hilang dari pembicaraan. Suara kemanusiaan tertuju pada aksi teror di Paris dengan alasan toleran.

Kejadian terbaru semakin membuat geli. Bagaimana tidak, dana bansos yang dikucurkan Plt Pemerintah Riau kepada sebuah organsisasi mahasiswa Islam yang hendak melangsungkan kongres. Dilaksanakan di Pekanbaru, kongres mahasiswa itu mendapat kucuran dana hingga 3 M. Bukan angka yang sedikit. Di tengah rakyat membutuhkan, uang itu diberikan dan sangat tidak beralasan. Bahkan, dana untuk penanggulan asap jumlahnya jomplang. Tentu kejadian ini sangat menyedihkan.

Apapun alasan yang digunakan, kamanusiaan yang terdengar lantang tidak berangkat dari kesadaran. Ditambah lagi sisa dari dana disumbangkan oleh perusahaan. Wajar, jika publik menaruh kecurigaan. Bahwa intelektual diam karena sudah ada deal dengan perusahaan, juga pemerintahan. Ini bisa kita lihat dari suara protes atas kejadian yang menimpa Riau. Suara itu tak segarang ketika pemerintah menaikkan BBM.

Tentunya dari kejadian ini, pemerintah harus bertindak tegas kepada perusahaan yang sengaja membakar lahan dan hutan. Selanjutnya, bansos itu juga penting diusut. Pemerintah harus tegas menyikapi ini. Transparansi penting dalam dalam hal ini. Karena teriakan kemanusiaan sebagai bentuk keprihatinan terhadap Prancis adalah kebohongan. Teriakan itu sengaja dilantangkan demi menutupi sekian kesepakatan yang telah dirundingkan. Dalam persoalan teror Paris, sudah sepatutnya kita bertanya tatkala seluruh penjuru dunia bersuara. Ya, di balik kejadian Paris, siapa sebenarnya yang diuntungkan? Wallahu'alam. []

sumber gambar: di sini.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top