Showing posts with label abdul rahman Wahid. Show all posts
Showing posts with label abdul rahman Wahid. Show all posts

Thursday, October 27, 2016

Tentang Rohim, Tentang Keabsurdannya

the ice chapel

Oleh: Abdurrahman Wahid

Setelah sekian purnama tak muncul, Rohim Warisi datang dengan sorotan mata yang tajam. Gelak tawanya yang penuh intrik menanggapi ucapan selamat datang. Ya, sosok lelaki absurd nan fiktif itu masih sama seperti perjumpaan seribu hari yang lalu.

Sehari sebelumnya, ia mengirim selarik pesan singkat pada saya. Tak ada tanda-tanda ia bercanda dalam pesannya. Melalui kata-kata itu ia menyampaikan hendak berkunjung ke Jogja. Namun, saat itu, saya tetap tidak langsung percaya dengan apa yang disampaikannya.

Mungkin tidak hanya saya, semua orang yang pernah mengenalnya juga akan berpikir selayaknya saya. Ya, lelaki pengagum penulis Cinta Tak Pernah Tepat Waktu itu memang sulit diterka ucapannya. Bahkan, kalau boleh jujur, ia adalah orang yang dalam berbicara sering tidak apa adanya.  Wajar, jika semua teman-temanya menganugerahkan dia sebagai sosok yang fiktif. Apa yang ia katakan hanyalah rangkaian yang dibuat seindah mungkin untuk membohongi orang sekitarnya.

Maaf, bukan tanpa alasan saya berkata demikian. Terlampau banyak sudah yang bisa saya sajikan. Tapi, biarlah, toh ndak penting membicarakan Rohim dengan serius. Ya, terlalu berharga waktu ini jika kita gunakan untuk membicarakan dia yang dalam kesehariannya dipenuhi dengan ketidakseriusan.

Saya sengaja menuliskan pertemuan ini. Rohim, jangan kepedean dulu ya, jangan berpikir bahwa dirimu adalah orang penting. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dirimu tidak banyak berubah. Dirimu masih seperti dulu. Semoga saja istirmu tidak seperti saya dalam memahamimu. Bagaimanapun, dia adalah orang yang ikhlas karena sudah mau menjadi makmum dari lelaki absurd macam kamu.

Tapi, harus saya akui juga, seabsurd apapun dirimu, sefiktif apapun ucapanmu, saya tetap menganggap dirimu sebagai teman yang baik sekaligus unik. Bahkan, dalam hal-hal tertentu, dirimu sudah saya anggap sebagai suhu. Ya, menurut saya, dirimu layak disebut sebagai pertapa yang memiliki pengikut tak terhitung jumlahnya.

Tentu kamu masih ingat, jamaah semut yang pernah kau pimpin. Atau segerombolan orang yang telah kau ajari bagaimana indahnya mem-bully orang lain, eh. Mungkin sekarang, dirimu sudah punya jamaah baru dalam duniamu. Kabarnya, dirimu sudah terlibat dalam pertempuran klan-klan. Sebagai teman, saya berharap dirimu menjadi energi positif di klan barumu itu.

Beberapa Obrolan Itu
Meski tidak lama, kunjungan Rohim ke Jogja telah membekas dan tentunya masih fiktif seperti dahulu kala. Oh iya, waktu rohim sampai, Jogja langsung diguyur hujan deras. Him, lihat Jogja bersedih karena kamu kunjungi lagi. Terlalu banyak sudah persolaan fiktif di kota ini, masih saja kau bebani dengan kefiktifan lama dengan bingkai baru.

Perbincangan awal, kita bernostalgia saat masih bersama-sama di Jogja. Mulai dari bahagia, hingga duka yang teramat sangat. Saya masih ingat betul, saat pertama kali ke Jogja dengan hanya berbekal bonek. Saat itu, melalui uang pinjaman dari temannya, Rohim berusaha menjadi bos kecil dari usaha bersama.

Dengan modal seadanya, akhirnya kita putuskan untuk menjual gorengan. Nanti, hasilnya dibagi dua. Dengan kegembiraan dan bayangan keuntungan yang luar biasa, saya beber lapak gorengan itu di depan fakultas. Lalu-lalang mahasiswa saya jadikan tempat strategis untuk menawarkan gorengan dari usaha kita. Lumayan, meski tak terjual habis, tapi cukup banyak yang terjual.

Tapi, satu hal yang perlu diketahui dari bisnis gorengan ini. Setelah pulang kuliah, kala sore hari, kita kumpul dan mencoba menghitung hasil dari penjualan gorengan. Terkejut, hasil yang didapat tidak sesuai dengan gorengan yang habis terjual. Sepertinya, teman-teman pada ramai mengambil namun lupa membayar. Karena saya yakin, mereka tak ada niat untuk mengambil gorengan yang saya jual.

Begitu seterusnya, entah berlanjut sampai berapa hari. Seingat saya, usaha itu tidak sampai satu minggu. Dan kami memutuskan untuk mengakhirinya. Ya, “usaha ini tidak cocok dengan kita,” ucapnya kala itu.

Akhirnya, setelah gagal berbisnis gorengan. Kami putuskan untuk menjadi marbot di masjid. Tidak banyak alasan penting kenapa harus berdiam di masjid, kecuali untuk mendapat fasilitas gubuk gratis dan seperengkat lainnya. Setidaknya, di Jogja kami tidak tidur di pinggir jalan. Begitulah kira-kira.

Permasalahan hidup di Jogja, sedikit telah teratasi. Meski harus menempuh jarak 53 menit jalan kaki untuk sampai ke kampus, setidaknya ada tempat tinggal untuk sekadar melepas setiap keletihan. Singkat cerita, kira-kira sekitar sembilan bulan, kami kemudian memutuskan keluar dan menghadapi kehidupan yang tak kalah getirnya.

Jika mengingat kejadian bersejarah ini, tentu saja Rohim adalah suhu. Sebagaimana saya sebut di atas, dalam hal-hal tertentu.

Selepas membincangkan kisah masa lalu, saya tawarkan dia untuk berbaring di gubuk sederhana. Dengan gayanya, dia menolak. "Saya itu sewa hotel, dan sudah saya bayar." Saya rasa, semua sudah tahu bagaimana mimik Rohim kala memgucapkan kalimat semacam itu. Duh, Him, kamu memang tidak banyak berubah.

Oh, iya, sepanjang perjalanan kita mencari tempat makan, Garnasih menjadi tema obrolan utama. Banyak hal yang ia ceritakan tentang sosok aktivis perempuan tersebut. Dan, saya rasa, tidak perlu disampaikan apa yang kami bicarakan. Tak elok, dan sungguh akan mengundang ketegangan sosial sekitar.

Em, apalagi yang ia bicarakan persoalan cerita yang ia buat sendiri. Sebuah kejadian, entah nyata atau tidak, tentang Garnasih dan rupa warna kehidupannya. Begitulah, ia bercerita. Bahkan cerita itu berlanjut sampai malam hari, saat kami memutuskan untuk bertemu di warung kopi.

Selebihnya, ia bicara tentang bisnis yang hari ini digeluti. Tidak tanggung-tanggung, layaknya para pakar, ia sudah berbicara jauh ke depan, tentang puluhan tahun yang akan datang. Dengan bisnis barunya itu, ia sudah membaca segala kemungkinan yang akan terjadi. Dan sejauh pengamatan singkat saya, ia akan menjadi penguasa di daerahnya. Khususnya, di usaha yang tengah dikelolanya. Selamat, Him. Semoga ini menjadi langkah awal kesuksesanmu di masa depan.

Dan terakhir, keabsurdan dan kefiktifan Rohim kembali muncul. Tanpa kabar, dia tiba-tiba pulang. Padahal, katanya, di Jogja dia masih beberapa hari lagi. Begitulah, bukan Rohim kalau tidak menghadirkan ketidakmungkinan dan keabsurdan dalam setiap perjumpannya. []

Sumber gambar: Marie and Allstair knock

Thursday, December 24, 2015

Menjadi Pembaca di(luar) Media


Oleh: Abdul Rahman Wahid

Perkembangan media informasi terlampau sangat produktif. Bahkan, produktifitas yang terjadi membuat kita dipaksa melangkah jauh. Padahal, kita baru saja belajar berjalan, mungkin saja masih merangkak dalam hal menikmati informasi yang datang.

Media interkatif (internet) membuat perubahan besar dalam arus informasi. Kedatangannya membuat prasangka-prasangka tanpa dasar. Sudah sangat sulit berbicara fakta pokok, realititas imaginer menjadi sajian yang harus ditelan setiap hari. Ibarat fakta seekor gajah, mungkin cukup gadingnya saja yang disampaikan.

Media kini menjadi arena beragam kepentingan. Dengan media siapapun bisa bermain untuk mengekspresikan kepentingannya. Jangan tanya, media itu bebas nilai atau tidak. Karena semua media mengandung bias. Hanya kadarnya saja yang berbeda. Louis Althusser dan Antonio Gramsci jauh-jauh sudah membicarakannya.

Dalam bukunya, Reading Capital (1971), Louis Althusser menyebutkan, dalam hubungannya dengan kekuasaan media menempati posisi strategis, terutama karena anggapan akan kemampuannya sebagai sarana legitimasi. Althusser membahasakanya "ideological states apparatus". Artinya, media bekerja secara ideologis dalam membangun kepatuhan publik atas kelompok yang sedang berkuasa. Media sudah setara dengan lembaga pendidikan, agama, seni dan budaya. Media menjadi bagian penting dari alat kekuasaan negara.

Sedang Antonio Gramsci (Prison Notebooks, 1971) menyebut media sebagai gelanggang pergulatan antar ideologi yang saling berkompetisi. Gramsci membahasakannya, the battle ground for competing ideologies. Mengacu pada pandangan Gramsci tentang media, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. (1) menjadi alat legitimasi kekuasaan sebagaimana pandangan Althusser, dan (2) media menjadi alat perlawanan (resistensi) terhadap kekuasaan.

Namun, keduanya (Louis Althusser dan Antonio Gramsci) berada dalam satu pandangan bahwa media bukan sesuatu yang bebas, independet. Media selalu memiliki keterkaitan dengan realitas sosial. Dari titik temu dua pemikir ini kita bisa melihat bahwa di dalam media terdapat jamak kepentingan. Artinya, bukan persoalan negara dan masyarakat semata. Ada beragam barisan kepetingan lain yang juga asyik bermain. Seasyik anak-anak bermain air saat musim hujan tiba.

Mengenal Bias Dalam Media
Seperti disampaikan di atas, semua media mengandung bias, hanya kadarnya saja yang berbeda. Dari sini kita akan bertanya, apakah media (massa) tidak penting untuk dijadikan ruang (sumber) informasi? Jawabannya tentu "tidak". Kanapa? Ya, kadar bias itulah yang membuat media masih layak untuk dijadikan sumber informasi. Namun bukan sebagai legitimasi kebenaran informasi.

Sepertinya media dalam menyajikan berita mampu memanfaatkan masyarakat yang cukup nyaman dengan budaya intrik dan isu. Hasilnya, apa yang disajikan media menjadi sesuatu kenyataan dan kebenaran tanpa penyaringan. Sesuatu yang sebenarnya imaginer dan fiksi, seketika melalui berita di media menjadi fakta yang mampu mengarahkan kesadaran masyarakat.

Setidaknya ada tiga bias dalam media, sehingga menempatkan media tidak bebas nilai. Pertama, symulacrum. Sebuah model realitas yang tampak nyata, namun sebenarnya palsu. Realitas (sengaja) disembunyikan dibalik citra realitas, image of reality. Penyajian realitas imaginer membuat kita sulit membedakan antara realitas dan citra realitas. Pun, model dan kenyataan tak dapat dibedakan lagi. Inilah bias media dalam mencipta realitas dan data imajiner menjadi sebuah berita. Contoh sederhana, dalam dunia hari ini pola semacam ini sering kita kenal dengan berita hoax. Ada lagi beberapa kalangan menyebutnya dengan istilah "jurnalisme kuning." Namun istilah ini lebih sering digunakan sebagai berita dalam memanfaatkan obyek atau responden, bahasa sederhananya adalah eksploitasi responden.

Kedua, distorsi. Bias kedua ini sering bertentangan dengan berita pokok. Distorsi cenderung menguntungkan pihak penguasa. Artinya, setiap gerakan kritis masyarakat selalu disajikan dengan informasi negatif. Pun sebaliknya, dalam hal menampilkan penguasa (pemerintah) selalu berada dalam porsi positif. Semisal, kasus penggusuran rumah warga atau pembersihan pedagang kaki lima sering disajikan dengan bahasa berita "penertiban". Sedangkan penolakan masyarakat selalu tampil dalam berita yang berujung "anarki". Media tak pernah mau tahu kenapa penolakan tersebut dilakukan oleh masyarakat. Namun penting dicatat, bias distorsi ini tetap berpijak pada data dan fakta yang valid. Hanya saja pengambilannya berada dalam kontrol kepentingan.

Ketiga, reduktif. Kompleks fakta yang mengemuka, hanya diambil salah satu saja. Reduktif ini sering kali disebut bias media dalam bentuk focusing. Bias ini kerap kali kita jumpai dalam peliputan aksi demonstrasi. Bias ini juga menafikan keterkaitan dalam realitas sosial. Media tidak sampai (tidak mau) mengambil data kenapa kejadian itu terjadi. Padahal, sesuatu yang melatarbelakangi kejadian itu terjadi merupakan kondisi obyketif. Sehingga, berita yang disajikan kehilangan makna yang sesungguhnya. Lihat saja, bagaiamana media memberitakan kasus 'Papa Minta Saham' yang harus diselesaikan di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Lalu bandingkan dengan suara masyarakat terhadap kasus yang melibatkan ketua DPR tersebut. Terlihat jelas, bagaiamana masyarakat disajikan kebohongan, dagelan itu nampak sekali di Senayan.

Dari tiga bias media tersebut, kita bisa membedakan kadar bias yang melekat pada media. Artinya, media yang biasnya rendah cenderung obyektif dalam menyajikan berita. Pun sebaliknya, kadar bias yang tinggi membuat berita yang disampaikan berbeda jauh dengan fakta pokoknya. Bahkan, besar kemungkinan keluar dari realitas sebenarnya.

Membaca Kepentingan Dalam Media
Media hari ini sangat sulit tanpa terselubung kepentingan. Hampir bisa dipastikan, eksisnya suatu media karena sokongan kepentingan yang bermain di dalamnya. Bahkan, media yang benar-benar indepentent umurnya bisa dipastikan pendek. Contoh sederhana, silahkan pahami keberadaan portal viva. Bahkan pemilik media yang juga penulis buku tentang teori Hegemoni Gramsci itu tak mampu mempertahankan diri, bertahan agar media yang dikelolanya tetap bebas nilai, independent.

Kepentingan yang bermain di media sangat beragam. Namun dalam konteks Indonesia, bisa kita ambil setidaknya empat arus yang hari ini dominan menguasai dunia informasi. (a) media dalam kontrol kekuasaan (negara) dengan berbagai skupnya, (b) media dalam kontrol oposisi akibat kekalahan dalam kompetisi politiknya, (c) media dalam kontrol pemilik modal sebagai kepanjangan tangan kapitalisme dalam bentuk yang lebih instan, dan (d) media dalam kontrol ideologi untuk menyebarkan paham kelompok masing-masing.

Baiklah, kita menengok ke belakang sejenak tentang perjalanan media di Indonesia. Seperti kita mafhum, 32 Tahun (1966-1998) di bawah rezim otoriter Orde Baru (Orba), Soeharto menjadi pengendali tunggal negara Indonesia. Kekuasaannya mampu menggiring opini publik dengan sajian cintra baik atas dirinya. Rapi tanpa celah, semua media menyampaikan informasi sesuai hasrat yang diinginkannya. Saat itu, media menjadi legitimasi publik untuk mengukuhkan kekuasannya yang lalim.

Menggantikan Soeharto, seorang insinyur aeronautika yang melaksanakan studinya di Jerman, Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan orang pertama yang meletakkan fondasi Indonesia menjadi negara demokratis. Dengan mengesahkan UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang media, BJ Habibie telah melakukan sebuah liberalisasi dalam media. Artinya, bangsa Indonesia dipaksa tidak lagi menganggap negara sebagai pemangku kepentingan utama industri media dan memonopoli informasi di dalam negeri.

UU media memandang pemerintah semata-mata sebagai fasilitator dan pengatur untuk memastikan informasi dan komunikasi yang sehat, juga penyebaran pendidikan publik. Tentunya, ini sebuah kemenangan politis  yang sangat luar biasa. Namun, dibalik kemenangan politis ini, perasaan berjaya para aktivis demokrasi dan para profesional media telah membawa pada permasalahan yang kian kompleks. Sebagai akibat efek samping atas perubahan mendadak ini, beberapa kalangan menyebutnya "kebablasan" bukan "kebebasan."

Datangnya internet menjadi kekuatan baru dalam demokratisasi informasi. Semua komunikasi di saentaro dunia bisa diakses seketika dengan mudah dan biaya murah. Dampak ini sangat terasa dalam proses demokrasi di Indonesia serta tujuan awal media untuk memberi pendidikan informasi terhadap publik. Akhirnya, bersama agenda liberalisasi media yang didengung-dengungkan, kekuatan korporasi nampak kepermukaan. Masyarakat yang sudah terbiasa dan mulai nyaman dengan budaya konsumeristik dan nihilistik menjadi lahan pemasaran sensasionalisme media demi meraup sebuah keuntungan. Wajar saja, skandal yang menimpa artis selalu menjadi berita menarik untuk ditampilkan. Prostitusi mampu menutupi kejahatan korupsi yang terjadi. Padahal, korupsi lebih menjijikkan dari prostitusi, korupsi jauh lebih jahat dari kejahatan prostitusi yang kini diamini.

Sudah kesekian kali negeri ini berganti nahkoda. Namun, kebebasan media semakin mengarah kepada kepentingan semata. Kuatnya pihak korporasi mampu menjadi pengendali media demi keuntungan yang luar biasa. Selanjutnya, perselingkuhan korporasi dengan para pelaku politik membuat media semakin gamang dan kehilangan esensinya. Demokrasi Indonesia berada di bawah bayang-bayang media yang cenderung kebablasan. Ironis memang, informasi yang disajikan bukan untuk memberikan pendidikan tapi sensasionalisme yang disajikan.

Timbul pertanyaan besar di luar media sebagai penyampai informasi, benarkah media menjadi bagian dari pilar demokrasi? Sedangkan keberadaanya sudah pasti berada dalam kontrol birokrasi. Hal tersebut diperparah dengan perselingkuhannya dengan para politisi. Lantas, apa yang harus dilakukan hari ini, tatkala melihat kondisi bangsa yang sudah tercerabut dari makna demokrasi sebenarnya. Tatkala sebuah kebebasan bermetamorfosis menjadi kebablasan. Akhirnya, mengantarkan segelintir orang meraih kekuasaan, di sisi lain segelintir orang meraup keuntungan. Realita inilah yang telah membawa bangsa ini pada ketimpangan dalam kehidupan.

Menyikapi Bias Media
Terus, apa yang perlu dilakukan agar mampu keluar dari lingkaran bias yang ada di media. Oke, sekelumit berbagi pengalaman, karena kalau dibilang saran terkesan menggurui. Hal pertama yang penting dilakukan memperbanyak sumber bacaan. Artinya, konsumsi media kita tidak tunggal. Semakin banyak media (massa) yang kita baca, semakin terasa oerbedaan sajian berita yang dihidangkan. Dengan sendirinya kemampuan kita akan terasah dalam membaca (berita) di media.

Selanjutnya, cari tau dapur redaksi. Ya, semua yang berkaitan dengan media penting kita ketahui. Mulai dari siapa pemodalnya, masuk kelompok penerbitan apa, hingga orang-orang yang duduk di bangku redaksi. Karena setiap isu yang ada, bisa saja muncul dengan sudut pandang yang berbeda. Dapur rekaksi yang akan mengolah rempah-rempah (data) sehingga menjadi hidangan (berita) yang akan sajikan (publish) kepada khalayak.

Membekali diri dengan segala bentuk pengetahuan tentang jurnalisme, hal ini bisa didapat dari buku-buku yang mengulasnya. Ini menjadi penting, sehingga kita memahami secara komprehensif bagaimana berita diproses. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang kode etik jurnalistik dan beberapa tulisan tentang analisis framing.

Menangkap dengan jelas sudut pandang berita yang diambil oleh wartawan. Saya rasa ini juga penting untuk menilai seberapa jauh sudut pandang wartawan dalam menulis berita. Artinya, dalam menangkap satu isu kita tidak tergiring oleh sudut pandang yang serupa seperti tersaji dalam berita. Dengan demikian, ada sudut pandang lain (dari kita) untuk membaca kadar obyektif berita yang ada.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan berempati terhadap wartawan. Kenapa wartawan (harus) menulis berita seperti itu di media tempatnya bekerja. Harapannya, kita akan lebih bersikap rasional terhdap sebuah berita di media yang ditulis oleh wartawan. Dengan kita berempati, maka dengan sendirinya kita akan sensitif terhadap stereotip yang ada dalam berita. Karena stereotip dalam berita tidak tampil secara telanjang, stereotip hadir karena kerja bawah sadar dan sering tidak disadari.

Terakhir, mungkin dari pembaca ada semacam tips di luar yang saya sebut. Karena semua orang punya cara sendiri dalam menangkap, membaca, dan memahami berita dengan baik. Langkah yang menarik dan sangat mungkin bisa kita lakukan adalah, menuliskannya sendiri. Selamat mencoba, karena meciptakan fakta di media bukan dengan cara anti terhadap media. Nikamti saja dunia media, jangan lupa memilih dan memilahnya. Agar kita tak terjebak pada kebenaran buta alias palsu adanya.[]


sumber gambar: corola.org

Sunday, November 22, 2015

Atas Nama Kemanusiaan? Sebuah Catatan tentang Teror Bom Prancis dan Teror Asap Riau.


Oleh: Abdul Rahman Wahid

Terik matahari begitu menyengat. Hujan yang sempat turun beberapa hari lalu tak mampu membendung debu-debu untuk berterbangan. Musim hujan seakan hanya melintas memberi kabar, permintaan maaf langit pada bumi. Karena air matanya tak kunjung jatuh. Hanya murung yang langit tampilkan, itu pun sejenak saat senja perlahan mulai menghilang.

Masih sulit menentukan apakah ini musim hujan ataukah musim kemarau. Dibeberapa daerah, tangisan langit memenuhi sungai lalu meluap ke daratan. Kabar banjir pun terdengar memilukan. Rumah-rumah berantakan, semua perkakasnya dipaksa mengikuti arus air yang amat tajam. Para penghuni satu per satu diserang penyakit. Tangisan langit kini telah bercampur dengan tangisan manusia. Air mata dan air hujan jatuh bercucuran.

Di daerah lain, cuaca panas masih setia menemani serangkaian aktifitas manusia keseharian. Kini, kabar kekeringan perlahan mengemuka. Para petani terancam gagal panennya. Tanamannya kering kekurangan air. Lahan-lahan terlihat gersang nan tandus. Tenggorakan bumi benar-benar kering, ia begitu kehausan sekali. Bahkan, jika harus disiram, mungkin hanya beberapa jam debu itu basah dan tenang. Selebihnya, debu-debu itu akan terbang dengan riang. Tak heran, jika kabar kebakaran kian hari datang bergiliran. Begitu nikmat si jago merah melahap dedaunan hingga batang.

Banyak pengamat tampil memberikan pandangan, dari aktivis lingkungan, ahli musim, para pecinta alam dan lain sebagainya. Mereka bergantian memberi pandangan akan kejadian yang tentunya meresahkan ini. Bagaimana tidak, semua lini kehidupan terancam ketika sudah berhadapan dengan yang namanya kekeringan, kebanjiran dan kebakaran. Ya, sesuatu yang sering diminta dalam do'a itu membuat resah para manusia tatkala Tuhan mengabulkannya. Begitulah manusia beserta keinginannya.

Baiklah, entah kekeringan dan kebanjiran, keduanya adalah pemberian Tuhan. Keduanya harus disyukuri.

Ada hal menggelitik yang hendak saya sampaikan terkait kondisi cuaca hari ini. Dimana dunia hari ini sedang lantang berbicara kemananusiaan, termasuk Indonesia. Suara kemanusiaan itu muncul setelah terjadi teror di ibu kota Prancis, Paris, Jum'at (13/11/2015). Teror yang memakan korban hingga ratusan jiwa itu mampu membuat dunia berteriak lantang karena kemanusiaan. Jika alasannya kemanusiaan, semua orang akan sepakat. Bagaimanapun membunuh orang yang tak berdosa bukanlah tindakan halal, dan semua agama mengecam perbuatan tersebut.

Jujur, dilain sisi penulis bising mendengarkan suara lantang atas nama kemanusiaan. Suara lantang karena menunjukkan diri sebagai bentuk toleran. Bahkan, suara lantang sebagai bentuk keprihatinan. Ya, penulis merasa ada ketimpangan pada suara kemanusiaan yang diteriakkan. Meski tidak sampai pada suara bohong, suara itu terdengar timpang. Nilai-nilai kemanusian seakan diperjuangkan jika ada timbal balik yang didapatkan. Ya, itu yang saya rasakan saat mendengar suara lantang para intelektual, pejabat, tokoh agama bahkan mahasiswa sebagai gerbong perubahan.

Mari sejenak kembali kepada persoalan yang terjadi di negeri ini. Berbulan-bulan kabut asap menjadi ironi. Tapi suara lantang itu tak segencar teror yang menimpa Paris. Saya pun bertanya, apakah asap ini tak cukup untuk kita bersuara lantang atas nama kemanusiaan? Bukankah asap itu telah merenggut hak kemanusiaan. Hak manusia untuk bernafas. Hak manusia untuk melakukan aktifitasnya setiap hari. Hak manusia untuk menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Hak manusia untuk mencari penghasilan demi menghidupi keluarganya. Bahkan hak untuk menghirup udara segarpun mereka harus dihalangi oleh masker. Tidak cukupkah semua ini untuk kita bicara lantang atas nama kemanusiaan.

Yang membuat saya semakin geli, bahasa kebakaran lebih bangga digunakan. Padahal kita mafhum, lahan dan hutan itu sengaja dibakar. Hal itu dilakukan demi memuluskan keberlangsungan perusahaan. Itupun tak sedikit para intelektual dan pejabat yang mengatakan, kebakaran sulit dipadamkan karena cuaca panas yang berkelanjutan. Inilah bangsa kita, memaknai kemanusiaan saja berbalut kepentingan. Padahal itu dilakukan setiap tahun, bahkan nyawapun harus direnggut karena nafsu perusahaan tersebut.

Terang sudah bagaimana perselingkuhan perusahan dengan pejabat negara. Hukumpun buta, bak lambang yang disematkannya. Keadilan yang seharusnya diperjuangkan hilang ketika berurusan dengan perusahaan. Musibah selalu menjadi alasan untuk menghindar. Tak banyak yang berteriak lantang. Bahkan suara mahasiswapun redup menyerupai asap. Hari ini asap sudah hilang dari pembicaraan. Suara kemanusiaan tertuju pada aksi teror di Paris dengan alasan toleran.

Kejadian terbaru semakin membuat geli. Bagaimana tidak, dana bansos yang dikucurkan Plt Pemerintah Riau kepada sebuah organsisasi mahasiswa Islam yang hendak melangsungkan kongres. Dilaksanakan di Pekanbaru, kongres mahasiswa itu mendapat kucuran dana hingga 3 M. Bukan angka yang sedikit. Di tengah rakyat membutuhkan, uang itu diberikan dan sangat tidak beralasan. Bahkan, dana untuk penanggulan asap jumlahnya jomplang. Tentu kejadian ini sangat menyedihkan.

Apapun alasan yang digunakan, kamanusiaan yang terdengar lantang tidak berangkat dari kesadaran. Ditambah lagi sisa dari dana disumbangkan oleh perusahaan. Wajar, jika publik menaruh kecurigaan. Bahwa intelektual diam karena sudah ada deal dengan perusahaan, juga pemerintahan. Ini bisa kita lihat dari suara protes atas kejadian yang menimpa Riau. Suara itu tak segarang ketika pemerintah menaikkan BBM.

Tentunya dari kejadian ini, pemerintah harus bertindak tegas kepada perusahaan yang sengaja membakar lahan dan hutan. Selanjutnya, bansos itu juga penting diusut. Pemerintah harus tegas menyikapi ini. Transparansi penting dalam dalam hal ini. Karena teriakan kemanusiaan sebagai bentuk keprihatinan terhadap Prancis adalah kebohongan. Teriakan itu sengaja dilantangkan demi menutupi sekian kesepakatan yang telah dirundingkan. Dalam persoalan teror Paris, sudah sepatutnya kita bertanya tatkala seluruh penjuru dunia bersuara. Ya, di balik kejadian Paris, siapa sebenarnya yang diuntungkan? Wallahu'alam. []

sumber gambar: di sini.

Wednesday, October 21, 2015

Memaknai Hari Santri

[sumber gambar]
Oleh Abdul Rahman Wahid*

Di tengah pro-kontra yang mengiringi, akhirnya Presiden Joko Widodo secara resmi menandatangani Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 dan menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penandatanganan yang dilakukan pada Kamis, 15 Oktober 2015 tersebut merupakan tindak lanjut Presiden Jokowi saat melakakukan kampanye Pilpres di Pondok Pesantren Babussalam, Malang. Janji yang kemudian dikuatkan dengan rekomendasi Rakernas PDIP 2014, awalnya tanggal 1 Muharom yang hendak dijadikan Hari Santri Nasional. Melalui beberapa pertimbangan yang disampaikan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akhirnya 22 Oktober dinilai lebih tepat dijadikan Hari Santri Nasional.

Meskipun demikian, banyak yang keberatan dan menganggap bahwa Hari Santri Nasional hanya akan menyebabkan perpecahan dalam umat Islam di Indonesia. Keberatan tersebut disampaikan lantaran Hari Santri Nasional hanya melibatkan pihak pemerintah dan kelompok Islam tertentu. Tampak terang, kelompok Islam yang dimaksud adalah Nahdlatul Ulama. Bagaimanapun juga, 22 Oktober merupakan tanggal di mana fatwa perang “Resolusi Jihad” dikeluarkan oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari.

Penulis rasa, tuduhan akan memecah belah umat sangat berlebihan dan cenderung bermuatan kepentingan. Perlu dipahami secara arif, bahwa Hari Santri Nasional adalah bentuk apresiasi pemerintah terhadap peran santri dalam mengawal kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Disadari atau tidak, santri punya sumbangsih besar dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menilik sejarah yang ada, 70 tahun yang lalu, tepatnya 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari memimpin langsung pertemuan wakil-wakil Cabang NU se-Jawa dan Madura. Berkumpul di Surabaya, Rois Akbar NU tersebut mendeklarasikan bahwa perang kemerdekaan adalah perang suci alias jihad. Perang suci itu akhirnya populer dengan sebutan “Resolusi Jihad”. Setelah fatwa perang tersebut dicetuskan, ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah bergerak menuju Surabaya.

Resolusi Jihad tersebut memuat lima poin penting, seperti ditulis Lathiful Khuluq dalam bukunya, Fajar Kebangunan Ulama (LKiS, 2009). (a) Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus wajib dipertahankan; (b) Republik Indonesia, sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, harus dijaga dan ditolong; (c) Musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan Sekutu (Inggris) pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia; (d) Umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali; (e) Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu secara material terhadap mereka yang berjuang. 

Pemenang Perang Dunia II, Inggris mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Dua minggu berselang, tepatnya 10 November 1945, terjadilah pertempuran dahsyat antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi berani mati. Pertempuran yang berlangsung selama tiga minggu itu tidak lepas dari peran para santri. Dengan semangat perjuangan yang dikobarkan para santri itulah akhirnya Inggris kalah.

Dari fatwa perang suci itulah akhirnya KH. Wahab Chasbullah memimpin para kiai sepuh di barisan Mujahidin. Di samping itu, Pasukan Hisbullah yang merupakan barisan para santri dan pemuda dipimpin langsung oleh H. Zainul Arifin. Sedangkan KH. Maskur dengan gagah menjadi komandan barisan non regular sabilillah yang terdiri dari para kiai dan pendekar tua. Tiga barisan ini adalah bukti sejarah bahwa santri berkontribusi besar dalam kemerdekaan Negara ini. Pertempuran besar sepanjang sejarah Nusantara tersebut kemudian kita peringati sebagai “Hari Pahlawan” setiap tanggal 10 November. Tanpa adanya Resolusi Jihad, 10 November tidak mungkin terjadi.

Terlepas pro-kontra yang ada, penulis sepakat dengan adanya Hari Santri Nasional dan 22 Oktober adalah tanggal yang tepat sebagaimana fakta sejarah yang ada. Seperti ditulis Gugun El-Guyani, “Sejarah negeri ini ternyata tidak pernah berkata jujur tentang peran laskar santri yang terhimpun dalam Hizbullah, maupun laskar kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam berperang melawan penjajah. Sejarah yang diajarkan kepada anak-anak sekolah, juga tidak mengenalkan peran “Resolusi Jihad” yang dikomandoi KH. Hasyim Asy’ari, yang mengeluarkan fatwa “wajib” bagi setiap muslim untuk mempertahankan kemerdekaan.” (Resolusi Jihad Paling Syar’i, Pustaka Pesantren, 2010)

Menurut penulis sendiri, ada dua hal penting kenapa Hari Santri Nasional perlu diperingati. Pertama, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, sebagaimana disampaikan Bung Karno. Artinya, Hari Santri Nasional sama sekali tidak berupaya mendiskriminasi dan memecah belah kelompok Islam yang ada. Justru dengan adanya Hari Santri Nasional, bangsa ini telah menghormati jasa para pahlawan yang selama ini dilupakan. Para pahlawan yang dengan gigih berani melawan penjajah hingga tetes darah penghabisan. Kebenaran sejarah tersebut sudah sepantasnya diakui oleh bangsa ini. Penetapan Hari Santri Nasional merupakan upaya pemerintah untuk jujur terhadap sejarah yang sebenarnya.

Kedua, Hari Santri Nasional sebenarnya harus mampu menjadi ruang konsolidasi bagi seluruh umat Islam Indonesia dalam berkomitmen mengawal keutuhan NKRI. Seperti disampaikan ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj bahwa santri adalah masyarakat Indonesia yang beragama Islam, bukan sekadar muslim yang kebetulan berada di Indonesia. Harus diakui, hari ini beberapa kelompok muslim di Indonesia masih dipertanyakan komitmen keindonesiaannya. Untuk itu, Hari Santri Nasional sudah selayaknya diterima bukan malah dipertentangkan.

Dengan demikian, keberatan bahkan penolakan akan Hari Santri Nasional sama halnya dengan tidak menghormati kebenaran sejarah bagsa ini, tidak menghargai para pahlawan yang sudah berdarah-darah mempertahankan kemerdekaan, dan tidak mengakui keberadaan Islam yang berkomitmen menjaga keutuhan NKRI. Oleh karenanya, meyambut ria Hari Santri Nasioanal sama halnya dengan menghargai serta menghormati perjuangan para pahlawan bangsa. Serta mengakui, bahwa muslim Indonesia wajib menjaga keutuhan NKRI. []

*) Santri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Yayasan KH. Yahya Syabrowi, Ganjaran Gondanglegi Malang.

Monday, July 6, 2015

NU: yang Lurus Siapa, yang Belok Siapa?

[photo credit: here]

Oleh: Abdul Rahman Wahid*

Puasa tak menyurutkan suasana perdebatan di kalangan para tokoh keagamaan. Tanpa mengkonsumsi makanan dan minuman pendapatnya kian terdengar begitu lantang. Lapar dan haus menjadi energi tersendiri untuk meluapkan setiap gagasan. Ada yang secara toleran dalam menyampaikan, ada pula yang sembarangan mengklaim pendapat lawan. Bahkan ada yang mengaku toleran tapi pendapat yang disampaikan jauh dari nilai sopan. Begitu beragam perdebatan di bulan Ramadan. Itulah hari-hari ini yang kami saksikan di tengah umat muslim menjalankan kewajiban dalam bingkai bulan pilihan.

Berawal dari obrolan santai di warung kopi, terlontar sebuah pertanyaan ringan dari salah satu seorang teman. "Agenda Muktamar NU itu apa sih? Kok sepertinya jabatan menjadi isu sentral sekarang?" Itulah pertanyaan awal dari obrolan kami yang muncul dari Kang Akdhom. Sebagai bagian dari Nahdliyin yang masih belum begitu paham seluk beluk NU, pertanyaan itu suatu kewajaran. Ya, kami adalah sekelompok anak muda Nahdliyin yang tidak di struktur NU, bahkan Kartanu saja kami tak ada.

Dalam perbincangan itu, kami yang awam berkesimpulan bahwa Muktamar NU adalah ajang evaluasi akbar. Ajang untuk memperbaiki kinerja dan tugas NU sebagai organisasi sosial keagamaan. Apa yang belum maksimal dilakukan, diharapkan terlaksana di waktu yang akan datang. Dan yang sudah mapan tetap dipertahankan. Bagi kami NU adalah rumah untuk menyatukan misi demi kemaslahatan, bukan saling serang apalagi persoalannya sangat pragmatis, tentang jabatan.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah opini beredar bagaimana mekanisme pemilihan ketua. Isinya menolak konsep AHWA karena dinilai menghapus hak-hak suara di tingkat PWNU. Bagi kami itu tidak persoalan, semua pendapat harus didiskusikan. Yang menjadi persoalan adalah, ketika menolak AHWA namun di belakangnya berbaris rapi kepentingan. Bagaimanapun juga, one man one vote lebih rentan dengan transaksi money politic. Meskipun konsep AHWA inipun tidak menutup kemungkinan yang sama. Untuk itu, perlu pemahaman dan komoitmen bersama demi masa depan NU. 

Kami masih dalam pemahaman sederhana bahwa peran NU lebih penting dirumuskan daripada persoalan mekanisme pemilihan kursi jabatan. Perdebatan itu suatu keniscayan asalkan dengan cara yang sopan. Disampaikan dengan sekian alasan yang berlandasan. Serta tidak mengklaim yang tak sepaham harus disingkirikan bahkan dituduh sesat pemahaman. Apakah perdebatan semacam ini benar pernah dilakukan oleh Hadratus Syeikh Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai lainnya?

Di tengah perbincangan muncul pertanyaan ringan dari teman yang lainnya. "Kok NU sekarang banyak macamnya ya? Anehnya, perbedaan itu dimunculkan kepermukaan demi sebuah kursi kekuasaan." Dengan mimik gelisah Kang Masykur mengatakan setelah membaca salah satu media online yang menjelekkan Kiai lainnya, bahkan dengan tuduhan sesat. Yang membuat kami gelisah, tuduhan itu dibuat hanya persoalan siapa yang layak memimpin NU. "Eh, jadi inget Pilpres dengan sekian perangkat kampanyenya, sudah tidak sehat caranya." Celetuk Kang Ihin sambil utak-atik ponselnya.

Kami rasa tidak berlebihan celetukan Kang Masykur dan Kang Ihin di atas. Sederhana saja, jika kita yakin Aswaja adalah paham yang toleran dan seimbang maka celetukan itu suatu yang niscaya. Bagaimana tidak, mengatasnamakan diri melanjutkan perjuangan Kiai salah satu tulisan tersebut dengan sangat enteng menuduh sesat yang lainnya. Si A dianggap suruhan Partai Ikan. Si B katanya pengurus partai Kolak. Si C merupakan suksesor dari partai Takjil. Si D adalah produk Islam liberal dan membawa misi kelompok luar. Si E sudah memberi suntikan dana besar untuk memuluskan kepentingan di belakang Muktamar. Semua calon sudah mempersiapkan uang di kantong masing-masing demi menduduki jabatan.

Yang membuat telinga geli mendengarnya adalah pernyataan bahwa NU menurut pemahamnya adalah NU sebagaimana yang dinginkan Hadratus Syeikh Mbah Hasyim Asy'ari. Bagaimana tidak geli, nama Mbah Hasyim dijadikan legitimasi untuk membenarkan klaim pribadinya. Dengan PD bilang kalau calon ketua NU yang diusungnya tidak bermain uang dan tidak ada kepentingan untuk ikut terlibat dipencalonan. Bahkan munculnya calon darinya karena dukungan dan permintaan masyarakat. Masyarakat yang mana? Bukankah cara itu lebih tepat dikatakan pencitraan dan sebentuk kampanye hitam? Menuduh yang lain sesat dengan sekian data jelek yang disajikan. Sedangkan dirinya baik dengan menampilkan segala kebaikan yang pernah dilakukan. Menganggap dirinya lurus dan yang lain telah belok. Benarkah ini yang Mbah Hasyim ajarkan?

Jika menelik sejarah yang ada, sependek yang kami ketahui, kepemimpinan dalam NU itu ibarat imam salat. Semua saling mempersilahkan, tidak ada yang menawarkan diri untuk menjadi imam. Nah ini beda, imam yang ada dianggap sesat dan dirinya layak menjadi imam. Astagfirullah, cara pandang yang digunakan Aswaja tapi kok gak seimbang.

Ada yang menggelitik lagi, seoarang Kiai yang biasa bersyair dianggap pujangga pelontar kata mutiara. Sebuah pesantren yang sedikit maju dianggap sarang liberal. Lantas, jika kami tanya balik, orang yang dengan mudah menyesatkan orang lain itu apa? Tak perlu dijawab, cukup diresapi saja. Ini bulan puasa, tahan nafsunya. Termasuk nafsu untuk berkuasa dan menganggap benar dari yang lainnya.

Sekali lagi, kami adalah pemuda Nahdliyin yang Kartanu saja tidak punya. Jujur kami gelisah dan resah, bahkan kadang jengkel menyaksikan semua ini. Menyaksikan keegoan pribadi, apalagi mengatasnamakan Kiai. Jika merasa NU adalah milik kita, mari kita membicarakan masa depan NU bersama-sama. Jangan-jangan karena saling klaim sok benar, NU sudah tidak punya lagi masa depan. Menyampaikan kebenaran tak perlu memaparkan kejelekan orang lain. Dengan begitu, orang akan berkesimpulan bahwa kau sama saja. Masih ingatkan pesan Gus Dur, "Membesarkan diri sendiri tak perlu mengecilkan orang lain."

Pernahkah kita mempertanyakan, kenapa masyarakat Nahdliyin masih jauh dari kesejahteraan? Bukankah itu tugas NU sebagai organisasi sosial keagamaan? Tugas NU yang lahir dari penyatuan Tasywirul Afkar, Nahdlatul Wathon dan Nahdlatut Tujjar. Kalau mendiang Mbah Sahal Mahfudz dawuh, "Menutup aurat saja butuh biaya." Penulis rasa itulah alasan kenapa Nahdlatut Tujjar didirikan oleh Kiai-Kiai pendahulu. Bahwa ibadah seseorang tidak akan sempurna jika syarat dan rukunnya tak terpenuhi. Nah itulah aurat yang dimaksudkan Mbah Sahal.

Tetapi, akhir-akhir ini kita masih sibuk mengurusi persoalan yang sebenarnya sudah selesai. Persoalan yang hanya memeras keringat dan hasilnya hanyalah perdebatan siapa yang lurus, siapa yang belok. Seharusnya kita sudah berpikir bersama bagaimana masyarakat Nahdliyin yang sebagian besar hidup di pedalaman dan pesisir ini tidak lagi kelaparan. Yang nantinya dengan mudah diinfiltrasi oleh Islam garis keras. Persoalan dasarnya karena mereka butuh makan, sedangkan elit NU berdebat soal kekuasaan. Setelah mengetahui mereka pindah aliran, dengan mudah para elit mengatakan, "Masyarakat awam sangat mudah menukar keyakinan dengan beras 2 kg." Ah, dengan mudah mereka berkata demikian.  Yang dia butuhkan adalah makanan bukan ceramah keagamaan. Perutnya sudah tiga hari tak terisi nasi, masih saja mereka suapi dengan argumentasi. Bukankah yang seperti ini jauh lebih penting untuk dirumuskan, meskipun yang lain juga penting.

Terakhir, kami hanyalah masyarakat Nahdliyin yang Kartanu saja tidak punya. Tulisan ini hanyalah bentuk kegelisan kami yang masih dalam perjalanan memahami NU secara utuh dari berbagai sumber. Kami juga tak pernah menisbatkan diri bagian dari kelompok lurus ataupun kelompok belok atau bahkan yang lainnya. Yang kami tahu adalah NU dengan Aswaja Nahdliyahnya. Yang kami tahu NU yang dulu dirumuskan demi kesejahteraan bersama. Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita tawassulan pada pendiri NU. Semoga NU yang sekarang masih sama dengan harapan para pendahulu. Saya yakin beliau-beliau menaruh harapan besar pada kita. Saya juga yakin bahwa NU masih punya masa depan, asalakan kita mau bergandengan tangan.

NU masih satu, tidak ada yang lurus, tidak ada yang belok, tidak ada yang lucu, tidak ada yang liberal, tidak ada yang radikal. Semua satu, jika ada embel-embelnya berarti bukan NU yang sebenarnya. NU itu Aswaja dan sangat toleran terhadap setiap perbedaan. Jika menyatakan perbedaan orang NU lebih sopan dalam menyampaikan. Jika arogan maka NU-nya patut kita pertanyakan. Wallahu a'lam.[]

*Seorang Nahdliyin yang Kartanu pun tak punya.

Wednesday, June 24, 2015

Aku Mencintaimu, Itu Saja

[photo credit: here]

Oleh: Abdul Rahman Wahid

Menisbatkan diri sebagai manusia, merasakan segala hiruk pikuk dunia beserta tetek bengeknya. Pada saat itu juga, manusia tidak bisa menghindar dari cinta. Begitulah ungkapan pujangga yang tengah di dera asmara. Kata-kata yang terucap selalu menggambarkan keagungan cinta. Cinta itu sama dengan kehidupan/kalau kita tidak bisa menghentikan hidup/kenapa kita harus menghentikan cinta. Kata indah dari Raj Arya saat menggambarkan rasa cinta terhadap kekasihnya yang tak lagi di dunia. Ya, film roman India “Mohabbatain” tersebut menggambarkan bagaimana cinta itu hidup dan harus diperjuangkan, sekalipun sudah tiada.

Cinta adalah kata yang sulit didefinisikan. Setiap generasi, kaum, negara bahkan agama mempunyai cara masing-masing dalam mendefinisikannya. Kita tak pernah tau makna cinta yang baku. Makna cinta yang semua orang mempercayai kebenarannya. Semuanya masih misteri, penuh teka-teki. Bahkan yang merasakan cinta itupun terkadang tak mengerti, kenapa cinta itu harus dia alami. Sungguh, cinta menjadi sebuah kata yang penuh dengan makna. Meski terkadang makna itu tak pernah didapatinya.

Bumi Eropa memiliki sebuah roman yang selalu menjadi cerita generasi muda. Sepasang kekasih Romeo dan Juliet telah memberikan arti bahwa cinta itu bagaikan api, membara dan mampu membakar semua yang disandingnya. Pengorbanan keduanya memberi keputusan untuk memilih dan rela mati bersama. Karena pengorbanan cintanya, karena cinta buta mereka berdua. Romeo dan Juliet dijadikan sebagai romantisme dan tragedi cinta suci di dunia Barat hingga saat ini.

Dalam romantisme Timur kita dikenalkan dengan kisah cinta gila Qays dan Layla.  Romantisme ala padang pasir dari keduanya diyakini sebagai penggugah akal dan penggerak spiritual. Di semenanjung Arabia, Qays dan Layla mampu menyatukan hati dalam bingkai cinta suci nan abadi. Konflik, persoalan orang tua dan suku tak menyurutkan Qays tetap merawat dan menjaga kesucian cintanya kepada Layla. Bersama butir-butir debu padang pasir, deru angin yang menggoyang tenda kabilah, panasnya terik matahari menyengat kulit, gemuruh oase dan rombongan suara unta membuat kekuatan cintanya semakin meraja rela.  Ridunya semakin tak terbendung,  seperti api yang telah membara. Demi cinta sucinya, tanpa restu orang tua Layla, Qays memilih gila. Semua itu Qays lakukan hanya untuk menjaga cintanya pada Layla agar tak ternoda. Sungguh luar biasa kisah cinta keduanya. Hingga gila menjadi satu-satunya cara mempertahankan cinta sucinya.

Karena cinta, seseorang telah memiliki prasangka dan curiga yang membabi buta. Itulah kira-kira kisah cinta yang terjadi pada negeri Ramayana. Dewi Shinta, puteri cantik nan jelita terpaksa menikah dengan Rahwana yang menculiknya. Mendapati kabar itu, Rama meminta bukti bahwa Shinta benar-benar dara dan belum pernah dipersunting oleh Rahwana. Demi mendapat bukti kesucian Shinta, Rama memintanya untuk membakar diri. Kesucian dan kebenaran cinta yang menjawabnya. Shinta selamat dari lahapan api yang membara. Kesuciaan cinta Shinta mampu memadamkan kobaran api yang begitu dahsyatnya. Ya, cinta seakan seperti embun pagi, sejuk dan meneduhkan.

Cinta memang buta, cinta mampu merubah semuanya. Karena cinta, seorang Raja rela menjadi hamba sahaya. Karena cinta, tahta, harta hingga keluarga rela dikorbankannya.  Kedua panglima perang Romawi, Julio Caesar dan Mark Anthony telah melakukannya. Keduanya mengorbankan semuanya lantaran rasa cinta yang begitu luar biasa kepada ratu Mesir, Cleopatra. Karena kecantikan dan kecerdasannya, bunga mawar dari sungai Nil ini mampu melenakan kedua panglima perang yang sebenarnya diutus untuk menguasi negeri subur, Mesir.

Demi melindungi bangsa dan menyelamatkan bangsanya, Cleopatra  mendekati Julio Caesar. Siapa yang tak terpikat melihat ratu cantik ini, ratu yang kecantikannya bak rembulan. Julio Caesarpun cinta mati dibuatnya. Hanya karena cinta dan Cleopatra, Caesar menjadi buta. Merampas dan menaklukkan Mesir, tugas itu sirna karena cinta buta yang melandanya. Hal yang sama terjadi pada panglima perang setelahnya, Mark Anthony.  Semua itu terjadi karena ratu cantik padang pasir, Cleopatra.   

Akal takkan mampu menjelaskan cinta. Tintapun juga takkan mampu menggambarkannya. Cinta adalah air. Tanpa air takkan ada kehidupan. Begitupun juga, tidak ada kehidupan tanpa cinta. Keduanya sama, begitulah Rumi menggambarkan cinta itu sebagai keindahan wajah Tuhan. Sungguh ketinggian cinta yang digambarkan Rumi telah mengalahkan semuanya. Cinta adalah kekuatan yang tak terbatas. Cinta adalah Ilahiah. Jika kebangkitan merupakan batas kematian. Maka, bagi Rumi cinta lebih besar daripada sejuta kebangkitan. Karena cinta takkan penah mati, cinta akan selalu abadi. Di sinilah, Rumi mewakili cinta dari kalangan Sufi.

Sekali lagi, cinta itu memang gila. Cinta itu pun buta. Hanya karena mimpinya,  Zhulaika menikahi Menteri ekonomi Mesir, seorang duda yang sudah tua umurnya. Perjalanan keluarganya tak sempurna lantaran hubungannya tak dianugrahi seorang putra. Akhirnya, keputusan untuk mengangkat anak menjadi pilihan utamanya. Lagi-lagi cinta itu gila, cinta itu buta. Rasa cinta Zhulaika terhadap putra angkatnya tak bisa disangka. Setelah suaminya berpulang ke alam baka, Zhulaika memaksa Yusuf untuk melayani cintanya. Inilah kisah seorang Ibu yang menikahi anak angkatnya. Kegilaan cintanya pada Yusuf itu tidak hanya menimpa Zhulaika. Saat mengadakan pesta di Istana, semua ibu-ibu yang ada terpana oleh ketampanan Yusuf, putra angkat Zhulaika yang akhirnya dinikahinya. Menyaksikan seorang lelaki tampan nan rupawan. Tanpa sadar ibu-ibu di Istana menyayat jarinya sendiri dengan pisau yang digenggamnya. Sungguh gila, cinta memang mampu merubah semuanya. Merubah yang pahit menjadi manis. Yang buruk menjadi indah. Raja menjadi hamba sahaya. Semua bisa terjadi karena cinta.
Ω
Di Indonesia, cinta mampu diutarakan dengan sekian bahasa. Jika di Arab kita mendengar, Ya, habibi, ana syauqi syadiidan. I love you dalam bahasa Inggris atau dalam bahasa China, Wo aini. Indonesia dengan kekayaan bahasa mampu menyajikan cinta yang beragam, Aku cinta kamu. Orang Jawa akan bilang, Aku tresno karo sliramu. Gua demen ama lo, begitu orang Betawi menyatakan cinta pada kekasihnya. Orang pulau garam dalam mengungkapkan rasa cintanya akan berkata, Abdinah tresnah de’ dika. Begitu dan seterusnya. Cinta menjadi tema yang tak pernah abis untuk dijadikan cerita. Karena cinta itu indah adanya.

Kisah cinta yang digambarkan orang Indonesia juga tak kalah menariknya. Semisal, bagaiamana Pramoediya menggambarkan sosok Annelis, gadis dara Hindia-Belanda yang membuat Minke tergila-gila. Annelis begitu sempurna, seperti ditulis Pramoediya. Bahkan penyebutan tentang Annelis terkadang tak mampu dijangkau oleh akal manusia. Beruntunglah kau masih bisa merasakan cinta. Jikapun nanti kau sakit hati karena cinta, jangan sedih. Karena sakit hati itu, berarti kau masih punya hati.

Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakanmu. Begitu cerpenis kita, Sapardi Joko Damono menuliskan dalam karyanya. Masih banyak lagi, bagaimana cinta itu dijelaskan. Gus Mus, WS Rendra, D Zawawi Imron dan tokoh lainnya. Mereka telah menggambarkan cinta sesuai dengan caranya. Dari situlah, cinta itu memang misterius, sulit diprediksi. Semua orang akan memiliki definisi sendiri.

Semua orang dengan sendirinya akan mengungkapkan kata layaknya pujangga. Semua itu terjadi saat cinta telah melandanya. Kata-kata itu muncul dengan tiba-tiba. Kata itu datang tanpa ada tanda-tanda.

Tak heran jika cinta itu seperti api, cinta terkadang membara dan menggelora. Cinta itu seperti embun pagi, cinta itu sejuk dan meneduhkan. Cinta itu seperti air, tanpa cinta takkan ada kehidupan. Cinta itu seperti arah mata angin, cinta mampu memberi jalan. Ya, cinta bisa seperti apa saja. Karena cinta bisa bahagia, karena cinta bisa tersiksa, karena cinta bisa menderita, karena cinta bisa gila, karena cinta bisa buta, karena cinta mendapatkan semuanya, karena cinta kehilangan semuanya. Semuanya bisa karena ada cinta.

Cinta butuh pengorbanan, meskipun tak sedikit orang yang sakit karena menjadi korban cinta. Cinta butuh kesetiaan, meskipun tak sedikit orang yang kesetiaannya dikhianati. Cinta butuh kepercayaan, meskipun tak sedikit orang yang kepercayaannya ditelanjangi. Cinta adalah segalanya, meskipun tak sedikit karena cinta orang kehilangan segalanya. Memang sulit mendefinisikan cinta. Definisi itu akan lahir sesuai kisah yang dialami. Cinta adalah hak, karenanya semua orang berhak mencintai dan dicintai. Semua orang berhak memaknai cintanya sendiri. Pencinta punya hakikatnya sendiri.

Begitupun diriku, saat kautanyakan tentang cinta yang kupersembahkan untukmu. Aku kaku, bagaimana aku menjawab pertanyaanmu. Aku masih belum mampu membahasakan cintaku padamu. Cintaku tidak seperti cinta yang sudah menjadi kisah abadi romantisme.  Karena cinta itu masih terbahasakan, sedangkan cintaku tidak. Cintaku adalah cintaku. Aku tak pernah mencantumkan syarat dalam mencintaimu. Untuk itu, tak ada alasan aku berhenti mencintaimu. Meski kau sudah tiada atau kau bersama cinta yang lain. Cintaku tetap seperti sediakala. Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk selalu mencintaimu.

Cinta adalah kehidupan, tak semuanya mudah dan berakhir dengan kebahagian. Pun, tak semuanya susah dan berakhir dengan kesengsaraan. Cintaku padamu tidak bisa diartikan, meskipun aku selalu merasakan. Cintaku padamu telah mampu memberi energi kehidupan.

Cintaku memang gila, cintaku memang buta. Tapi cintaku bukan rekayasa. Meskipun aku tak bisa mejelaskan apa itu cinta. Cintaku benar-benar ada untukmu semata, tidak ada yang lainnya. Itu saja.

Senin, 15 Juni 2015
Yang mempertemukan kita: Yogyakarta 
Dariku untukmu.

Saturday, June 13, 2015

Bayang-bayang Negeri Belanda

[sumber]


Oleh: Abdul Rahman Wahid

–Bersamaan dengan senja yang memerah. Terdengar suara laki-laki mengucapkan salam. Segera kutaruh piring, dan kuletakkan di meja makan. Ya, saat itu aku hendak makan. Setelah lupa melakukan sarapan dan makan siang. Semua itu terjadi karena bayang-bayang masa depan.

Lalu kubuka pintu rumah. "Hallo kawan," suara itu terdengar bersama terbukanya daun pintu rumah bagian depan, ternyata tamu yang mengagetkan itu adalah Krisna. Teman yang beberapa hari sebelumnya berbagi cerita denganku.

"Kamu to, silahkan masuk," aku mempersilahkannya sambil menujuk ke kursi warna coklat, memberi isyarat agar dia langsung mengambil tempat duduk.

Seperti biasa, hanya secangkir kopi hitam dan rokok yang bisa aku hidangkan untuk seorang teman. Terkadang kalau pas lagi ada uang, aku sempatkan ke warung untuk membeli camilan. Kalau lagi ada orang di rumah, bermacam hidangan sederhana bisalah disajikan. Karena orang rumah pada keluar dan aku tidak memegang uang. Praktis, hanya rokok dan kopi hitam yang menjadi hidangan.

Sambil tersenyum agak menyindir, tangan kanan Krisna mengangkat bungkus rokok yang kusajikan. Kulihat dengan jelas, hanya ada sebatang rokok yang berdiri tegap di dalam bungkus yang masih mapan tersebut. Akupun tersenyum memberikan jawaban. Bagi kami ini hal yang biasa, dengan refleks tanganku merogoh saku celana tapi tak ada selembar kertaspun yang melekat saat tangan kuangkat. Melihat itu, kami berdua tertawa terbahak-bahak. Lalu, dengan sisa-sisa tawanya Krisna mengambil selembar uang disaku baju bagian depannya dan menyodorkannya kepadaku. Seketika langsung aku beranjak ke warung sebelah rumah.

Membeli sebungkus rokok dengan uang yang disodorkan Krisna. Tanpa waktu yang lama, aku sudah sampai di rumah kembali. Kemudian, obrolan tentang masa depan itu kami mulai lagi.

"Oh, ya kawan. Saya diterima di Perguruan Tinggi di Belanda," dengan ekspresi gembiranya Krisna menyampaikan kabar baik yang didapatinya. Seketika aku terkaget mendengarnya. Bagaimana tidak, teman karibku itu sebentar lagi akan meninggalkanku. Melanjutkan studi di Kincir Angin. Negeri yang selalu kuimpikan itu.

"Oh ya, selamat ya," dengan menyembunyikan nada sedih, aku ucapkan selamat atas kebahagiaan temanku itu.

"Kamu gak pengen ke Belanda juga ta?" Tawaran bernada pertanyaan Krisna itu memberi harapan, bahwa aku juga berkesempatan ke Belanda menimpa ilmu bersama-sama.

"Bagaimana bisa?" Tampang pesimis kulontarkan sebagai bentuk jawaban atas pertanyaannya.

"Kalau kamu mau, tinggal daftar aja. Masih ada kesempatan kok. Siapa tahu diterima," Krisna menegaskan kembali, Bahwa aku dan dia masih bisa berkesempatan belajar bersama di Belanda. Bersama detak jantungku yang tak beraturan, aku menaruh harapan bahwa aku bisa sampai ke Belanda. Pada saat itu pikiranku dihantui oleh dua pilihan. Ke Belanda belajar bersama Krisna atau di rumah saja membantu orang tua. Sedangkan kesempatan itu hanya tingga dua hari saja.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar," terdengar gemuruh suara adzan dari corong musala kecil berwarna lumut (karena sudah lama tidak dicat). Krisna berpamitan untuk pulang. Seperti biasa kami berdua berjabat tangan sambil menitipkan salam kepada keluarga masing-masing. 

~00o00~

Karena sudah berwudu sedari Ashar, aku hanya pergi ke kamar mengambil songkok warna hitam lalu bertandang ke musala yang tak jauh dari rumah. Sepanjang salat yang kutunaikan, aku masih dibayang-bayangi akan impianku belajar ke negeri pencetak pemain sepak bola dunia. Saat yang lain khusyu' berzikir, aku membayangkan bahwa diriku saat itu sedang berjabat tangan dengan Ratu Wilhelmina. Sungguh bayangan masa depan itu mengusik sampai pada hubunganku dengan Tuhan. Dalam perjalan dari Musala ke rumah, hal serupa masih terbayang.

"Sungguh kasihan pemuda dengan sejuta cita-cita itu." Gumanku merasa iba pada diriku sendiri.

Sesampainya di rumah, aku langsung menyantap hidangan makan malam bersama keluarga sambil menyaksikan tayangan televisi di ruang depan. Di televisi itu diberitakan seorang Pejabat Negara mengunjungi Belanda, tempat dia belajar dulu. Menyaksikan berita itu, aku semakin tak menentu, makan pun aku sudah tak bernafsu. Ya, bayangan masa depan itu muncul kembali dan menyiksa pikiranku.

Tanpa berpikir panjang, kusudahi makan malam lalu kutaruh piring di meja makan. Kuciduk air untuk mencuci tangan. Kulangkahkan kaki menuju ruang peristirahatan. Sambil berharap, dengan kubawa tidur bayang-bayang masa depan itu akan hilang. Bayang-bayang itu akan menjadi kunang-kunang yang berkeliaran menerangi malam. Ketika semua orang terbangun, kunang-kunang itu sudah hilang membawa bayang-bayang masa depan. Pikirku saat itu ingin sejenak melupakan bayangan negeri Belanda dengan segenap janji masa depannya.

Tapi apa, aku hanya bisa memejamkan mata namun tidak dengan raga. Meskipun mataku terpejam, alam pikiranku masih sibuk memikirkan bayang-bayang masa depan itu. Bukan karena suara detak jarum jam yang berputar atau suara cicak yang melahap nyamuk di dinding dan atap kamar. Tapi bayangan negeri Belanda itu yang tak bisa menidurkan aku. Semakin memaksakan mata untuk terpejam, bayangan Belanda semakin menampakannya padaku. Malam itu, aku benar-benar tersiksa.

Dengan segala upaya aku mencoba menenangkan diriku. Hingga akhirnya, akupun tak tahu jam berapa aku tertidur dan sejenak bisa lari dari bayangan masa depan itu. Malam itu pun begitu hening, jarum jam bergerak begitu hati-hati. Cicakpun tak ada yang berani mengeluarkan suara. Semuanya seakan menjadi penjaga di sebuah istana. Menjaga Sang Baginda Raja agar tidak terganggu istirahatnya. 

~00o00~

Saat mataku terbuka, aku mulai menyadarinya. Kalau pertemuanku dengan Krisna tidaklah nyata. Semua itu terjadi di alam mimpi. Aku terbangun dan aku masih di Indonesia, bukan Belanda. Ah, tak apalah saat ini itu mimpi. Mungkin suatu saat akan nyata. Aku akan merasakan betapa indahnya belajar di negeri Kincir Angin tersebut. Negeri yang dulu pernah merampas semua hak bangsaku ini. Suatu saat, kelak kalau aku sudah di sana. Akan aku rampas semua pengetahuannya. Lalu kubawa pulang ke negeriku tercinta, Indonesia. Kupersembahkan pada dua pahlawanku, orang tua. Kupersembahkan pada seseorang yang telah menjadi supporter dalam perjalananku, dia.

"Mimpi itu adalah bagian dari apa yang kita pikirkan." Begitu temanku pernah berkata kepadaku. Teringat perkataan temanku itu, aku menyadarinya. Sehari sebelum mimpi itu terjadi, aku menelepon orang tua dan akan pulang kampung sebelum bulan puasa tiba. Sepertinya rasa rindu ini tidak bisa berdusta. Karena ada beberapa agenda, rindu itupun tertunda. Mungkin lebaran bisa kuluapkan. Ibu, aku harus menunda merasakan hangat tanganmu.

Beberapa hari ini aku juga selalu menyebut dia. Entah berapa kali dalam sehari, aku tak mampu mengingatnya dalam hitungan. Hingga dia hadir dengan sosok yang begitu istimewa. Ya, dia datang sebagai Ratu Wilhelmina. Ratu Belanda yang tak bisa dilupakan dalam sejarah Indonesia karena politik balas budinya.

Ah, sudahlah. Biarkan mimpi itu tetap menjadi mimpi. Tak perlu kurisaukan keberadaannya. Kalaupun nyata, anggap saja itu cita-cita yang selalu kusebut dalam doa. Karena usaha lalu Tuhan menunjukkan jalan-Nya. Dan kalaupun suatu suatu saat mimpi itu tidak nyata, aku tak perlu kecewa.

Catatan mimpiku semalam. (12-06-2015)
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top