Monday, July 6, 2015

NU: yang Lurus Siapa, yang Belok Siapa?

2:28 AM

[photo credit: here]

Oleh: Abdul Rahman Wahid*

Puasa tak menyurutkan suasana perdebatan di kalangan para tokoh keagamaan. Tanpa mengkonsumsi makanan dan minuman pendapatnya kian terdengar begitu lantang. Lapar dan haus menjadi energi tersendiri untuk meluapkan setiap gagasan. Ada yang secara toleran dalam menyampaikan, ada pula yang sembarangan mengklaim pendapat lawan. Bahkan ada yang mengaku toleran tapi pendapat yang disampaikan jauh dari nilai sopan. Begitu beragam perdebatan di bulan Ramadan. Itulah hari-hari ini yang kami saksikan di tengah umat muslim menjalankan kewajiban dalam bingkai bulan pilihan.

Berawal dari obrolan santai di warung kopi, terlontar sebuah pertanyaan ringan dari salah satu seorang teman. "Agenda Muktamar NU itu apa sih? Kok sepertinya jabatan menjadi isu sentral sekarang?" Itulah pertanyaan awal dari obrolan kami yang muncul dari Kang Akdhom. Sebagai bagian dari Nahdliyin yang masih belum begitu paham seluk beluk NU, pertanyaan itu suatu kewajaran. Ya, kami adalah sekelompok anak muda Nahdliyin yang tidak di struktur NU, bahkan Kartanu saja kami tak ada.

Dalam perbincangan itu, kami yang awam berkesimpulan bahwa Muktamar NU adalah ajang evaluasi akbar. Ajang untuk memperbaiki kinerja dan tugas NU sebagai organisasi sosial keagamaan. Apa yang belum maksimal dilakukan, diharapkan terlaksana di waktu yang akan datang. Dan yang sudah mapan tetap dipertahankan. Bagi kami NU adalah rumah untuk menyatukan misi demi kemaslahatan, bukan saling serang apalagi persoalannya sangat pragmatis, tentang jabatan.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah opini beredar bagaimana mekanisme pemilihan ketua. Isinya menolak konsep AHWA karena dinilai menghapus hak-hak suara di tingkat PWNU. Bagi kami itu tidak persoalan, semua pendapat harus didiskusikan. Yang menjadi persoalan adalah, ketika menolak AHWA namun di belakangnya berbaris rapi kepentingan. Bagaimanapun juga, one man one vote lebih rentan dengan transaksi money politic. Meskipun konsep AHWA inipun tidak menutup kemungkinan yang sama. Untuk itu, perlu pemahaman dan komoitmen bersama demi masa depan NU. 

Kami masih dalam pemahaman sederhana bahwa peran NU lebih penting dirumuskan daripada persoalan mekanisme pemilihan kursi jabatan. Perdebatan itu suatu keniscayan asalkan dengan cara yang sopan. Disampaikan dengan sekian alasan yang berlandasan. Serta tidak mengklaim yang tak sepaham harus disingkirikan bahkan dituduh sesat pemahaman. Apakah perdebatan semacam ini benar pernah dilakukan oleh Hadratus Syeikh Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai lainnya?

Di tengah perbincangan muncul pertanyaan ringan dari teman yang lainnya. "Kok NU sekarang banyak macamnya ya? Anehnya, perbedaan itu dimunculkan kepermukaan demi sebuah kursi kekuasaan." Dengan mimik gelisah Kang Masykur mengatakan setelah membaca salah satu media online yang menjelekkan Kiai lainnya, bahkan dengan tuduhan sesat. Yang membuat kami gelisah, tuduhan itu dibuat hanya persoalan siapa yang layak memimpin NU. "Eh, jadi inget Pilpres dengan sekian perangkat kampanyenya, sudah tidak sehat caranya." Celetuk Kang Ihin sambil utak-atik ponselnya.

Kami rasa tidak berlebihan celetukan Kang Masykur dan Kang Ihin di atas. Sederhana saja, jika kita yakin Aswaja adalah paham yang toleran dan seimbang maka celetukan itu suatu yang niscaya. Bagaimana tidak, mengatasnamakan diri melanjutkan perjuangan Kiai salah satu tulisan tersebut dengan sangat enteng menuduh sesat yang lainnya. Si A dianggap suruhan Partai Ikan. Si B katanya pengurus partai Kolak. Si C merupakan suksesor dari partai Takjil. Si D adalah produk Islam liberal dan membawa misi kelompok luar. Si E sudah memberi suntikan dana besar untuk memuluskan kepentingan di belakang Muktamar. Semua calon sudah mempersiapkan uang di kantong masing-masing demi menduduki jabatan.

Yang membuat telinga geli mendengarnya adalah pernyataan bahwa NU menurut pemahamnya adalah NU sebagaimana yang dinginkan Hadratus Syeikh Mbah Hasyim Asy'ari. Bagaimana tidak geli, nama Mbah Hasyim dijadikan legitimasi untuk membenarkan klaim pribadinya. Dengan PD bilang kalau calon ketua NU yang diusungnya tidak bermain uang dan tidak ada kepentingan untuk ikut terlibat dipencalonan. Bahkan munculnya calon darinya karena dukungan dan permintaan masyarakat. Masyarakat yang mana? Bukankah cara itu lebih tepat dikatakan pencitraan dan sebentuk kampanye hitam? Menuduh yang lain sesat dengan sekian data jelek yang disajikan. Sedangkan dirinya baik dengan menampilkan segala kebaikan yang pernah dilakukan. Menganggap dirinya lurus dan yang lain telah belok. Benarkah ini yang Mbah Hasyim ajarkan?

Jika menelik sejarah yang ada, sependek yang kami ketahui, kepemimpinan dalam NU itu ibarat imam salat. Semua saling mempersilahkan, tidak ada yang menawarkan diri untuk menjadi imam. Nah ini beda, imam yang ada dianggap sesat dan dirinya layak menjadi imam. Astagfirullah, cara pandang yang digunakan Aswaja tapi kok gak seimbang.

Ada yang menggelitik lagi, seoarang Kiai yang biasa bersyair dianggap pujangga pelontar kata mutiara. Sebuah pesantren yang sedikit maju dianggap sarang liberal. Lantas, jika kami tanya balik, orang yang dengan mudah menyesatkan orang lain itu apa? Tak perlu dijawab, cukup diresapi saja. Ini bulan puasa, tahan nafsunya. Termasuk nafsu untuk berkuasa dan menganggap benar dari yang lainnya.

Sekali lagi, kami adalah pemuda Nahdliyin yang Kartanu saja tidak punya. Jujur kami gelisah dan resah, bahkan kadang jengkel menyaksikan semua ini. Menyaksikan keegoan pribadi, apalagi mengatasnamakan Kiai. Jika merasa NU adalah milik kita, mari kita membicarakan masa depan NU bersama-sama. Jangan-jangan karena saling klaim sok benar, NU sudah tidak punya lagi masa depan. Menyampaikan kebenaran tak perlu memaparkan kejelekan orang lain. Dengan begitu, orang akan berkesimpulan bahwa kau sama saja. Masih ingatkan pesan Gus Dur, "Membesarkan diri sendiri tak perlu mengecilkan orang lain."

Pernahkah kita mempertanyakan, kenapa masyarakat Nahdliyin masih jauh dari kesejahteraan? Bukankah itu tugas NU sebagai organisasi sosial keagamaan? Tugas NU yang lahir dari penyatuan Tasywirul Afkar, Nahdlatul Wathon dan Nahdlatut Tujjar. Kalau mendiang Mbah Sahal Mahfudz dawuh, "Menutup aurat saja butuh biaya." Penulis rasa itulah alasan kenapa Nahdlatut Tujjar didirikan oleh Kiai-Kiai pendahulu. Bahwa ibadah seseorang tidak akan sempurna jika syarat dan rukunnya tak terpenuhi. Nah itulah aurat yang dimaksudkan Mbah Sahal.

Tetapi, akhir-akhir ini kita masih sibuk mengurusi persoalan yang sebenarnya sudah selesai. Persoalan yang hanya memeras keringat dan hasilnya hanyalah perdebatan siapa yang lurus, siapa yang belok. Seharusnya kita sudah berpikir bersama bagaimana masyarakat Nahdliyin yang sebagian besar hidup di pedalaman dan pesisir ini tidak lagi kelaparan. Yang nantinya dengan mudah diinfiltrasi oleh Islam garis keras. Persoalan dasarnya karena mereka butuh makan, sedangkan elit NU berdebat soal kekuasaan. Setelah mengetahui mereka pindah aliran, dengan mudah para elit mengatakan, "Masyarakat awam sangat mudah menukar keyakinan dengan beras 2 kg." Ah, dengan mudah mereka berkata demikian.  Yang dia butuhkan adalah makanan bukan ceramah keagamaan. Perutnya sudah tiga hari tak terisi nasi, masih saja mereka suapi dengan argumentasi. Bukankah yang seperti ini jauh lebih penting untuk dirumuskan, meskipun yang lain juga penting.

Terakhir, kami hanyalah masyarakat Nahdliyin yang Kartanu saja tidak punya. Tulisan ini hanyalah bentuk kegelisan kami yang masih dalam perjalanan memahami NU secara utuh dari berbagai sumber. Kami juga tak pernah menisbatkan diri bagian dari kelompok lurus ataupun kelompok belok atau bahkan yang lainnya. Yang kami tahu adalah NU dengan Aswaja Nahdliyahnya. Yang kami tahu NU yang dulu dirumuskan demi kesejahteraan bersama. Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita tawassulan pada pendiri NU. Semoga NU yang sekarang masih sama dengan harapan para pendahulu. Saya yakin beliau-beliau menaruh harapan besar pada kita. Saya juga yakin bahwa NU masih punya masa depan, asalakan kita mau bergandengan tangan.

NU masih satu, tidak ada yang lurus, tidak ada yang belok, tidak ada yang lucu, tidak ada yang liberal, tidak ada yang radikal. Semua satu, jika ada embel-embelnya berarti bukan NU yang sebenarnya. NU itu Aswaja dan sangat toleran terhadap setiap perbedaan. Jika menyatakan perbedaan orang NU lebih sopan dalam menyampaikan. Jika arogan maka NU-nya patut kita pertanyakan. Wallahu a'lam.[]

*Seorang Nahdliyin yang Kartanu pun tak punya.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

3 komentar:

  1. Dan saya adalah orang luar (bukan anggota NU) yang masih suka heran bahwa ada organisasi yang relatif terus melahirkan kader-kader yang mempunyai keseimbangan yang sehat dalam nilai-nilai spiritual, personal, sosial dan universal—yang tidak melupakan kesantunan dan bisa memelihara ruang untuk koreksi diri serta tidak terjebak dalam pengutamaan penampilan ataupun mabuk pembenaran. Semoga amanah.

    ReplyDelete
  2. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top