Tuesday, July 28, 2015

Islam Nusantara

[photo credit: here]

Oleh: Muhammad Makruf

Pertama-tama, kalau kita memahami dua kata ini apa adanya pasti akan berselisih paham. Namun, yang dikehendaki bukanlah makna leterlijk, tetapi ada suku kata yang dibuang (hadzf al-mudlâf), bahkan bentuk seperti ini kita temukan di dalam Al-Quran, misalnya:

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا

Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ...". (Yusuf: 82)

Dari mana kalimat ‘penduduk’ dalam penafsiran tersebut? Sebab kalau tidak ada kalimat ‘penduduk’ justru semakin mempersulit makna. Apa mungkin sebuah ‘negeri’ akan ditanya? Maka maksudnya adalah penduduk negeri. Demikian halnya ‘Islam Nusantara’ memiliki kata yang hakikatnya tersimpan di dalamnya, yaitu ‘Islam Di Nusantara’. Boleh jadi tentang sejarah Islam di Nusantara, metode dakwah Islam di Nusantara, perkembangan Islam di Nusantara, dan sebagainya.

Kedua, Islam seluruh dunia, sejak masa Rasulullah hingga kiamat, semua tetap sama, Islam itu sendiri. Hanya saja geografisnya berbeda, sosio-kulturnya tidak sama, masa dulu dan sekarang mengalami perubahan.

Ambil contoh Makkah dan Madinah di Jazirah Arab. Rasulullah bersabda:

لَا يَجْتَمِعُ دِينَانِ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ

Tidak akan berkumpul 2 agama di Jazirah Arab” (HR Malik dalam Al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi. Al-Hâfidz Ibnu Hajar menyebut banyak jalur dalam At-Talkhîr al-Habîr)

Murid Imam Malik meriwayatkan:

قال محمد : إن مكة والمدينة وما حولهما من جزيرة العرب وقد بلغنا عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه لا يبقى دينان في جزيرة العرب . فأخرج عمر رضي الله تعالى عنه من لم يكن مسلما من جزيرة العرب لهذا الحديث

الموطأ - رواية محمد بن الحسن - (ج 3 / ص 333)

Muhammad bin al-Hasan berkata: “Sesungguhnya Makkah, Madinah dan sekitarnya adalah bagian dari Jazirah Arab. Telah sampai kepada kami bahwa Nabi bersabda: “Tidak akan ada 2 agama di Jazirah Arab”. Lalu Umar mengeluarkan Non Muslim dari Jazirah Arab, berdasarkan hadis ini.

Tentu saja negeri umat Islam di luar Arab memiliki perbedaan, sebab mereka bertetangga dengan non Muslim, berkerabat dengan orang kafir, bahkan ada yang berinteraksi dengan komunis sekalipun. Meski demikian mereka tetap Islam, tetap salat, puasa, zakat, haji dan kewajiban lainnya.

Kuatnya Islam yang ditanamkan oleh Rasulullah di Arab juga berbeda dengan Islam yang datang ke negeri lain, sebagaimana sabda Nabi:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Sungguh setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang salat di Jazirah Arab. Tetapi upaya setan adalah memfitnah (agar berperang) di antara mereka sendiri.” (HR Muslim)

Saya sendiri menyaksikan bagagiama indahnya salat di Makkah dan Madinah, setengah jam sebelum adzan Umat Islam melangkah menuju Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bahkan shaf terdepan telah penuh.

Ketiga, wajah Islam yang dibawa oleh penyebar Islam di tanah Jawa adalah Islam yang menjunjung tinggi akhlak, kesantunan, kelembutan dan sebagainya. Inilah yang tergambar dalam hadis berikut yang diteladani oleh para kiai dan ustaz dari sosok Rasulullah:


عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَاحِشًا وَلاَ لَعَّانًا وَلاَ سَبَّابًا

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bukanlah orang yang berkepribadian buruk, bukan tukang laknat dan bukan tukang caci-maki.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Keempat, penyebaran Islam di tanah Jawa oleh para wali memiliki persamaan dengan pertama kali Rasulullah saw. menyebarkan Islam di tanah Arab, yaitu kondisi masyarakat yang telah beragama, berkeyakinan dan telah memiliki budaya dan tradisi setempat. Di Jawa khususnya, telah mengakar sebuah keyakinan dari agama Hindu dan Budha dalam banyak aspek, terlebih yang berkaitan dengan kematian, ritual-ritual selamatan dan sebagainya. Tidak berbeda jauh dengan kondisi di atas, Rasulullah saw. juga menghadapi sebuah kondisi masyarakat yang hampir sama dengan mewarisi beragam tradisi dan adat istiadat dari leluhur warga Arab, utamanya dengan keberadaan Kabah. Sebuah tradisi dan keyakinan yang menyangkut dengan tauhid dan masalah ketuhanan semua telah dihapus oleh Rasulullah saw. dengan membawa akidah sesuai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Namun ketika tradisi tersebut tidak merusak sendi-sendi akidah ketauhidan, ternyata Rasulullah memberi ruang toleransi menerima tradisi tersebut, dengan tujuan lebih besar yaitu agar mereka bisa menerima Islam. Hal ini sesuai dengan riwayat sahih berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْها زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ قَوْمَكِ لَمَّا بَنَوُا الْكَعْبَةَ اقْتَصَرُوْا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيْمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَرُدُّهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيْمَ قَالَ لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَفَعَلْتُ (أخرجه مالك فى الموطأ رقم 238 وأحمد رقم 26299 والبخاري رقم 1583 ومسلم رقم 3306 والنسائي رقم 2900 وابن خزيمة رقم 2726)

"Diriwayatkan dari Aisyah istri Nabi Saw bahwa Rasulullah Saw berkata kepadanya: Tidak tahukah kamu bahwa kaum-mu (Quraisy) ketika membangun Kabah tidak sesuai dengan pondasi Ibrahim? Saya berkata: Mengapa Engkau tidak mengembalikannya sesuai pondasi Ibrahim? Nabi menjawab: Kalau mereka tidak baru saja (masuk Islam) dengan kekafirannya, maka pasti Aku melakukannya." (HR Malik dalam Al-Muwaththa' No: 238, Ahmad No 26299, Al-Bukhari No 1583, Muslim No 3306, al-Nasai No 2900, dan Ibnu Khuzaimah No 2726).

Al-Qadli Iyadl dan Shalihi al-Syami berkata:

وَتَرْكُهُ بِنَاءَ الْكَعْبَةِ عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيْمَ مُرَاعَاةً لِقُلُوْبِ قُرَيْشٍ وَتَعْظِيْمِهِمْ لِتَغَيُّرِهَا وَحَذْرًا مِنْ نِفَارِ قُلُوْبِهِمْ لِذَلِكَ وَتَحْرِيْكِ مُتَقَدِّمِ عَدَاوَتِهِمْ لِلدِّيْنِ وَأَهْلِهِ فَقَالَ لِعَائِشَةَ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكَ بِالْكُفْرِ لَأَتْمَمْتُ الْبَيْتَ عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيْمَ (الشفا بتعريف حقوق المصطفى للقاضي عياض 2 / 200 وسبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد للصالحي الشامي 13 / 12)

"Rasulullah membiarkan Kabah dibangun tidak sesuai dengan pondasi Ibrahim, karena menjaga perasaan hati kaum Quraisy supaya tidak goyah dan menghindar supaya hati mereka tidak benci, juga agar tidak menyulut permusuhan dengan agama Islam dan pemeluknya. Kemudian beliau berkata pada Aisyah dalam hadis sahih: Kalau mereka tidak baru saja (masuk Islam) dengan kekafirannya, maka pasti Aku menyempurnakannya sesuai pondasi Ibrahim." (Asy-Syifâ’ II/200 dan Subul al-Hudâ wa ar-Rasyâd XI/12).

Sesuai dengan metode dakwah Rasulullah ini, Walisongo dan para penyebar Islam terdahulu tidak serta merta menghilangkan dan menghapus tradisi dari agama sebelum Islam. Mereka sangat toleran dengan tradisi lokal yang telah membudaya dalam masyarakat yang tidak bertentangan dengan akidah dan hukum Islam, serta mencoba meraih hati mereka agar masuk Islam dengan menyelipkan ajaran Islam dalam tradisi mereka. Meski demikian, ajaran yang dimasukkan dalam tradisi tersebut bukan hal yang terlarang dalam agama bahkan termasuk ibadah dan pendekatan diri pada Allah, semisal zikir, mendoakan orang mati dalam selametan, membaca surat Yâsîn dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal, sedekah atas nama orang meninggal dan sebagainya.

Oleh karena itu Ibnu Muflih al-Maqdisi al-Hanbali berkata:

وَقَالَ ابْنُ عَقِيْلٍ فِي الْفُنُوْنِ لاَ يَنْبَغِي الْخُرُوْجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاسِ إلاَّ فِي الْحَرَامِ فَإِنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَكَ الْكَعْبَةَ وَقَالَ لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ الْجَاهِلِيَّةَ  (الآداب الشرعية لابن مفلح المقدسي الحنبلي 2 / 114 وكذا في مطالب أولي النهى لمصطفى بن سعد السيوطي الرحيبانى 2 / 367)


"Ibnu Aqil berkata: Tidak dianjurkan untuk keluar dari tradisi masyarakat kecuali dalam hal yang haram. Sebab Rasulullah Saw membiarkan Kabah (tidak sesuai pondasi Nabi Ibrahim), dan beliau bersabda: Kalau mereka tidak baru saja (masuk Islam) dengan agama jahiliyahnya." (Al-Adab asy-Syar'iyah II/114. Begitu pula dalam kitab Mathâlib Ulî an-Nuhâ II/367).

Di satu sisi Rasulullah saw. menghargai tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat, di sisi lain ketika Rasulullah saw. dihadapkan dengan tradisi yang menyimpang maka Rasulullah tidak menghapusnya, namun menggantinya dengan hal-hal yang sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contohnya adalah hadis berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فَقَالَ قَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اْلأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ (أخرجه أحمد رقم 12025 وأبو داود رقم 1134 والنسائى فى الكبرى رقم 1755 وأبو يعلى رقم 3820 والحاكم رقم 1091 وقال  صحيح على شرط مسلم)

"Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: ketika Rasulullah Saw tiba di Madinah, penduduknya telah memiliki dua hari (Nairuz dan Mahrajan) yang dijadikan sebagai hari bersenang-senang mereka. Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu bagi kalian dengan yang lebih baik, yaitu Hari Adlha dan Fitri." (HR Ahmad No: 12025; Abu Dawud No: 1134; Al-Nasai dalam Sunan al-Kubrâ No: 1755; Abu Ya'la No 3820; Al-Hakim No: 1091 dan ia berkata hadis ini sahih sesuai kriteria Muslim).

Ahli Hadis Ibnu Hajar berkata:

أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ (بلوغ المرام من أدلة الأحكام للحافظ ابن حجر 1 / 179)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Nasai dengan sanad yang sahih." (Bulugh al-Maram I/179)

Dalam hadis tersebut dijelaskan tentang latar belakangnya bahwa di Madinah (sebelum Rasulullah hijrah bernama Yatsrib) para penduduknya telah memiliki 2 nama hari yang dijadikan sebagai hari perayaan dengan bersenang-senang, persembahan pada patung dan sebagainya. Maka, kedatangan Islam tidak menghapus tradisi berhari raya, namun dengan mengubah rangkaian ritual yang ada di dalamnya dengan salat dan sedekah dalam Idulfitri, juga salat dan ibadah haji atau kurban dalam iduladha (HR Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Îmân No 3710).[]

 [Tulisan ini pernah dimuat di blog pribadi penulis hujjahnu.blogspot.com
dengan judul yang sama dalam dua seri.]

Wednesday, July 22, 2015

Wisata Kuliner Saat Lebaran

[photo credit: here]

Oleh:  Irham Thoriq

Saya yakin momen lebaran adalah waktu paling tepat untuk berwisata kuliner. Kita bisa mendapatkan apa saja yang kita suka dengan begitu mudahnya dan juga dengan begitu murahnya. Atau kalau anda sedang beruntung, Anda bisa makan makanan kesukaan dengan gratis. 

Itulah yang baru saja kita laksanakan. Perayaan kuliner saat lebaran tidak kalah hebohnya dengan hal lain seperti menyambangi keluarga, pergi ke kuburan dan adu keras suara petasan. Dan wisata kuliner menurut saya merupakan salah satu paling penting yang harus ada setiap lebaran tiba. 

Dengan adanya perayaan kuliner, kita seolah sedang bercakap-cakap dengan masa lalu kita. Kau tahu, lidah sebagaimana pikiran, juga mempunyai ‘kenangan’ yang kerinduannya harus dibayar tuntas. Saya sebut kenangan karena lidah kita sejak kecil selalu makan masakan orang tua. Di situlah, kenangan terhadap cita rasa masakan orang tua membekas di setiap lidah anak manusia, terlebih bagi mereka yang merantau.

Dan dengan adanya momen mudik, kerinduan terhadap masakan orang tua bisa kita lakukan. Dengan memakan opor ayam saat lebaran, lidah kita seolah bernostalgia dengan apa yang pernah kita makan saat kanak-kanak.

Menurut saya, itulah sejatinya wisata kuliner dalam artian yang luas. Wisata kuliner bukanlah ketika kita datang ke warung, memasan makanan, lalu menyantap makanan dengan lahapnya. Terlalu sempit dan terlalu mudah jika itu arti dari wisata kuliner. 

Tapi ketika lebaran, kenangan terhadap masakan orang tua seolah membawa kita pada masa lalu. Mulai dari ketika masih anak-anak yang memakan opor ayam sambil bermain petasan, atau momen di mana kita masih menyempatkan memakan opor ayam sebelum berangkat ke masjid pagi-pagi untuk salat idulfitri. 

Dan kenangan itulah yang hendak kita rawat saat lebaran. Bagaimanapun, lidah setiap manusia mempunyai sejarah yang berbeda-beda. Termasuk, kenapa banyak di antara kita lebih banyak menyukai masakan orang tua dibanding masakan orang lain. 

Hal ini sama dengan cerita klasik kalau orang jawa lebih suka makan-makanan manis, lalu orang Madura lebih suka makan-makanan asin, dan orang padang yang memfavoritkan makanan bersantan. Semua itu menurut saya bukanlah kebetulan, ada budaya dan sejarah yang membuat hal itu terjadi.

Soal wisata kuliner ketika lebaran, saya mungkin termasuk orang yang beruntung. Ini karena saya selalu merayakan lebaran di kampung halaman dan selalu tiba di rumah beberapa hari sebelum hari raya.

Tapi, untuk lebaran kali ini karena suatu alasan, saya baru bisa pulang kampung satu hari setelah lebaran. Di situlah, saya merasakan kalau kuliner saat lebaran jauh lebih penting dari apapun. Saat malam lebaran, yang saya ingat hanyalah opor ayam masakan orang tua. 

Dan malam lebaran itu saya menelpon orang tua, tentu saja untuk minta maaf. Setelah meminta maaf, ibu saya langsung makan apa saat buka puasa, saya hanya menjawab banyak makanan yang saya makan ketika itu. Setelah itu, telpon saya kasihkan kepada istri, di situlah suara orang tua saya tercekat dan seolah mau meneteskan air mata setelah bertanya kepada istri memasak apa hari itu. 

Semenjak itulah, saya berkesimpulan kalau kebahagiaan bagi mereka yang mempunyai orang tua yang baik hati, dan yang kedua mempunyai orang tua yang pandai memasak opor ayam. 

Apa yang saya rasakan tentang opor ayam tampaknya juga dirasakan seorang teman asal Jember. Dua hari setelah lebaran, dia harus kembali ke Jakarta karena jatah cuti sudah habis. Lalu dia berkeluh kesah di media sosial. ”Sudah tidak bisa merasakan rujak cingur lagi,” kata dia ketika sudah tiba di bandara Juanda. 

Bagi dia, libur lebaran yang singkat dan harus merogoh kocek dalam-dalam tidak hanya untuk bertemu keluarga di kampung, lebih jauh dari itu melainkan adalah bernostalgia dengan rujak cingur atau mungkin dengan kicauan burung kesukaannya. Nah, saat ini sudahkah anda makan opor ayam atau rujak cingur...?[]

Saturday, July 18, 2015

Mercon VS Meriam Bambu

[photo credit: here]
Oleh: Muhammad Hilal

Sudah hari keberapa setelah lebaran, suara mercon masih bertalu-talu. Yang satu berlomba paling nyaring melebihi yang lain. Luar biasa industri polusi suara ini.

Namanya saja perayaan, tentu suasananya tidak boleh senyap-senyapan. Setidaknya begitu gaya berpikir kita di Nusantara. Kita sudah kadung terbiasa mengelola hari raya seperti suatu pesta, menonjolkan bebunyian di dalamnya. Dan di hari lebaran, cara itu berlangsung secara sangat massif. Ragam bebunyian kita temui di mana-mana.

Baiklah, tidak semua orang suka merayakan lebaran dengan cara pesta seperti itu. Termasuk saya. Dan berkat ajang sosialisasi dan silaturahim di hari ini, saya juga bisa mendengar komentar orang yang juga tidak suka dengan cara pamer bebunyian keras di hari raya lebaran. Di kesempatan bertamu dan dikunjungi tamu, tema mercon dan musik keras menjadi salah satu tema hangat dalam obrolan.

Dari beberapa obrolan dan sudut pandang, yang menarik perhatian saya adalah cerita orang-orang tua. Pembaca tentu bisa menduga isi obrolan orang-orang tua itu. Ya, mereka bercerita pengalaman mereka di masa lalu.

Rupanya, cara merayakan lebaran dengan bunyi-bunyian kencang adalah warisan para tetua juga. Mereka di masa mudanya juga melakukannya. Hanya saja, teknologinya berbeda.

Orang-orang dahulu menciptakan suara meledak-ledak bukan melalui petasan. Mereka membuat alat dari pohon bambu dan karbit (CaC2). Alat ini dikenal dengan sebutan Meriam Bambu.


Meriam Bambu bisa dibikin dengan mudah, tapi efek ledakannya luar biasa. Kita hanya perlu membuat lobang kecil di sisi lingkaran bambu, mengisinya dengan air dan sebongkah kecil karbit ke dalamnya. Saat lobang itu berinteraksi dengan api, terciptalah suara ledakan kencang bak suara meriam betulan.

Kenapa muncul ledakan yang sangat kuat dari alat ini? Baiklah, kita main-main dengan ilmu Kimia dan Fisika sedikit. Saat karbit dan air dicampur, terjadi reaksi kimia yang melahirkan gas Asetilena (C2H2). Gas ini sangat sensitif terhadap api. Saat terbakar, gas ini bisa menghasilkan ledakan. Oleh sebab gas itu menggumpal dan terjebak di dalam liang bambu yang dilobangi tadi, saat berinteraksi dengan api, terjadi ledakan yang sangat kuat.

Karbit—juga disebut Kalsium Karbida—mudah ditemui di sekitar kita. Benda ini kadang kita gunakan untuk mematangkan buah mentah. Kadang kita temui bengkel yang memanfaatkan karbit untuk bahan mengelas. Di jagad industri, gas Asetilena yang dihasilkan dari karbit digunakan untuk memotong baja. Manfaat karbit sebetulnya masih banyak lagi. Tapi kita kembali ke cerita awal tadi saja.

Yang membuat cerita bapak tua itu makin menarik, kesan kenangan yang dikandungnya sangat padat. Bapak tua itu bercerita, bahwa pelaku ledakan Meriam Bambu adalah anak-anak nakal—seolah bapak itu ingin menyusupkan kesan bahwa dulu ia tergolong anak nakal juga. Para orang tua akan melarang anak-anaknya bermain Meriam Bambu, sebab mainan ini membawa risiko tidak ringan. Tapi anak nakal mana yang serba patuh orang tua dan tidak mau ambil risiko?

Setelah Meriam diledakkan melalui pembakaran gas Asetilena, api yang di dalam bambu masih tersisa. Agar bisa berfungsi lagi, api itu harus dipadamkan dengan cara ditiup kencang-kencang. Karena produksi gas Asetilena masih berlangsung di dalam bambu, terkadang muncul semburan api melalui lobang itu. Nah, anak yang kurang hati-hati akan kehilangan kedua alis dalam proses itu.


Itu masih tergolong risiko ringan. Bahaya lebih besar lagi adalah saat ledakan yang dihasilkan tidak mampu dibendung oleh bambu. Tidak hanya menimbulkan bunyi semata, bambu itu malah benar-benar meledak. Pada saat seperti itu, cedera bakar bisa diderita oleh pengguna Meriam Bambu.

Oleh karena itu wajar kalau para orang tua dahulu melarang anak-anaknya bermain alat ini. Risikonya mengkhawatirkan, sama mengkhawatirkannya seperti petasan sekarang.

Namun yang terbayang dibenak saya, sejauh sebagai penghasil polusi suara, Meriam Bambu jauh lebih baik ketimbang petasan. Ia lebih baik sebab untuk menikmatinya, kita dituntut untuk membuatnya sendiri. Jadi tidak instan dan tidak konsumtif.

Berbeda dengan mercon. Benda ini sudah terlalu dalam terjun ke dunia industri, sehingga cukup dengan membelinya kita sudah bisa menikmati. Mudah sekali, tak ada tuntutan kerja keras di situ.

Meriam Bambu tergolong mainan hand-made, hasil kerajinan. Dengan begitu, cita rasa kesenian juga masuk di situ. Bagaimana tidak? Untuk menghasilkan suara ledakan yang keras, kita juga kudu mempertimbangkan presisi dan keseimbangan komposisi. Air yang dimasukkan ke dalam bambu harus pas, tidak boleh kurang atau lebih. Karbit yang dipakai pun juga kudu pas, tergantung volume air yang pakai. Sekali kita gagal menyeimbangkan komposisi ini, suara yang dihasilkan tidak akan lebih kencang ketimbang kentut.

Selain itu, bahan yang digunakan juga alami: bambu dan air. Karbit pun sebetulnya alami. Benda ini cuma berbahaya kalau dikonsumsi, selebihnya masih bisa ditoleransi.

Menurut penuturan si bapak tua, meriam bikinan seperti itu juga bisa dibikin dari lobang di tanah yang digali. Dan cara ini katanya menghasilkan ledakan lebih dahsyat lagi. Entah seperti apa cara membuatnya, bapak itu tidak menjelaskannya lebih jauh. Namun nampaknya prinsip teknisnya tidak akan berbeda dari Meriam Bambu.

Singkat kata, bahan untuk membuat Meriam Bambu adalah bahan yang sehari-hari. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya.


Dengan demikian pula, Meriam Bambu juga bisa menjadi media pembelajaran di sekolah. Kita bisa mengenalkan secuil teori Fisika dan Kimia sederhana dengan Meriam Bambu sebagai alat peraganya. Sekolah kita jarang yang punya alat peraga, tapi tampaknya benda-benda alami di sekitar kita bisa kita manfaatkan juga, ketimbang harus beli dan mahal pula.

Dan, terakhir, Meriam Bambu adalah kita. Ia sungguh-sungguh bagian dari kebudayaan kita. Selain Meriam Bambu, di tanah Melayu alat ini disebut Meriam Suluh dan di daerah berbahasa Tagalog ia disebut Kanyong Kayawan.

Ini berarti Meriam Bambu betul-betul kebudayaan Asia Tenggara. Di tanah Melayu dan Jawa, Meriam Bambu diledakkan saat perayaan Idulfitri dan Iduladha. Sedang di Filipina yang mayoritas menganut agama Nasrani, Meriam Bambu digunakan saat perayaan Natal. Di negara ini bahkan ada Festival Meriam Bambu.

Barangkali di tiap negara yang tanahnya ditumbuhi bambu, Meriam Bambu adalah bagian dari mainan mereka. Bisa jadi.[]

Monday, July 6, 2015

NU: yang Lurus Siapa, yang Belok Siapa?

[photo credit: here]

Oleh: Abdul Rahman Wahid*

Puasa tak menyurutkan suasana perdebatan di kalangan para tokoh keagamaan. Tanpa mengkonsumsi makanan dan minuman pendapatnya kian terdengar begitu lantang. Lapar dan haus menjadi energi tersendiri untuk meluapkan setiap gagasan. Ada yang secara toleran dalam menyampaikan, ada pula yang sembarangan mengklaim pendapat lawan. Bahkan ada yang mengaku toleran tapi pendapat yang disampaikan jauh dari nilai sopan. Begitu beragam perdebatan di bulan Ramadan. Itulah hari-hari ini yang kami saksikan di tengah umat muslim menjalankan kewajiban dalam bingkai bulan pilihan.

Berawal dari obrolan santai di warung kopi, terlontar sebuah pertanyaan ringan dari salah satu seorang teman. "Agenda Muktamar NU itu apa sih? Kok sepertinya jabatan menjadi isu sentral sekarang?" Itulah pertanyaan awal dari obrolan kami yang muncul dari Kang Akdhom. Sebagai bagian dari Nahdliyin yang masih belum begitu paham seluk beluk NU, pertanyaan itu suatu kewajaran. Ya, kami adalah sekelompok anak muda Nahdliyin yang tidak di struktur NU, bahkan Kartanu saja kami tak ada.

Dalam perbincangan itu, kami yang awam berkesimpulan bahwa Muktamar NU adalah ajang evaluasi akbar. Ajang untuk memperbaiki kinerja dan tugas NU sebagai organisasi sosial keagamaan. Apa yang belum maksimal dilakukan, diharapkan terlaksana di waktu yang akan datang. Dan yang sudah mapan tetap dipertahankan. Bagi kami NU adalah rumah untuk menyatukan misi demi kemaslahatan, bukan saling serang apalagi persoalannya sangat pragmatis, tentang jabatan.

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah opini beredar bagaimana mekanisme pemilihan ketua. Isinya menolak konsep AHWA karena dinilai menghapus hak-hak suara di tingkat PWNU. Bagi kami itu tidak persoalan, semua pendapat harus didiskusikan. Yang menjadi persoalan adalah, ketika menolak AHWA namun di belakangnya berbaris rapi kepentingan. Bagaimanapun juga, one man one vote lebih rentan dengan transaksi money politic. Meskipun konsep AHWA inipun tidak menutup kemungkinan yang sama. Untuk itu, perlu pemahaman dan komoitmen bersama demi masa depan NU. 

Kami masih dalam pemahaman sederhana bahwa peran NU lebih penting dirumuskan daripada persoalan mekanisme pemilihan kursi jabatan. Perdebatan itu suatu keniscayan asalkan dengan cara yang sopan. Disampaikan dengan sekian alasan yang berlandasan. Serta tidak mengklaim yang tak sepaham harus disingkirikan bahkan dituduh sesat pemahaman. Apakah perdebatan semacam ini benar pernah dilakukan oleh Hadratus Syeikh Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai lainnya?

Di tengah perbincangan muncul pertanyaan ringan dari teman yang lainnya. "Kok NU sekarang banyak macamnya ya? Anehnya, perbedaan itu dimunculkan kepermukaan demi sebuah kursi kekuasaan." Dengan mimik gelisah Kang Masykur mengatakan setelah membaca salah satu media online yang menjelekkan Kiai lainnya, bahkan dengan tuduhan sesat. Yang membuat kami gelisah, tuduhan itu dibuat hanya persoalan siapa yang layak memimpin NU. "Eh, jadi inget Pilpres dengan sekian perangkat kampanyenya, sudah tidak sehat caranya." Celetuk Kang Ihin sambil utak-atik ponselnya.

Kami rasa tidak berlebihan celetukan Kang Masykur dan Kang Ihin di atas. Sederhana saja, jika kita yakin Aswaja adalah paham yang toleran dan seimbang maka celetukan itu suatu yang niscaya. Bagaimana tidak, mengatasnamakan diri melanjutkan perjuangan Kiai salah satu tulisan tersebut dengan sangat enteng menuduh sesat yang lainnya. Si A dianggap suruhan Partai Ikan. Si B katanya pengurus partai Kolak. Si C merupakan suksesor dari partai Takjil. Si D adalah produk Islam liberal dan membawa misi kelompok luar. Si E sudah memberi suntikan dana besar untuk memuluskan kepentingan di belakang Muktamar. Semua calon sudah mempersiapkan uang di kantong masing-masing demi menduduki jabatan.

Yang membuat telinga geli mendengarnya adalah pernyataan bahwa NU menurut pemahamnya adalah NU sebagaimana yang dinginkan Hadratus Syeikh Mbah Hasyim Asy'ari. Bagaimana tidak geli, nama Mbah Hasyim dijadikan legitimasi untuk membenarkan klaim pribadinya. Dengan PD bilang kalau calon ketua NU yang diusungnya tidak bermain uang dan tidak ada kepentingan untuk ikut terlibat dipencalonan. Bahkan munculnya calon darinya karena dukungan dan permintaan masyarakat. Masyarakat yang mana? Bukankah cara itu lebih tepat dikatakan pencitraan dan sebentuk kampanye hitam? Menuduh yang lain sesat dengan sekian data jelek yang disajikan. Sedangkan dirinya baik dengan menampilkan segala kebaikan yang pernah dilakukan. Menganggap dirinya lurus dan yang lain telah belok. Benarkah ini yang Mbah Hasyim ajarkan?

Jika menelik sejarah yang ada, sependek yang kami ketahui, kepemimpinan dalam NU itu ibarat imam salat. Semua saling mempersilahkan, tidak ada yang menawarkan diri untuk menjadi imam. Nah ini beda, imam yang ada dianggap sesat dan dirinya layak menjadi imam. Astagfirullah, cara pandang yang digunakan Aswaja tapi kok gak seimbang.

Ada yang menggelitik lagi, seoarang Kiai yang biasa bersyair dianggap pujangga pelontar kata mutiara. Sebuah pesantren yang sedikit maju dianggap sarang liberal. Lantas, jika kami tanya balik, orang yang dengan mudah menyesatkan orang lain itu apa? Tak perlu dijawab, cukup diresapi saja. Ini bulan puasa, tahan nafsunya. Termasuk nafsu untuk berkuasa dan menganggap benar dari yang lainnya.

Sekali lagi, kami adalah pemuda Nahdliyin yang Kartanu saja tidak punya. Jujur kami gelisah dan resah, bahkan kadang jengkel menyaksikan semua ini. Menyaksikan keegoan pribadi, apalagi mengatasnamakan Kiai. Jika merasa NU adalah milik kita, mari kita membicarakan masa depan NU bersama-sama. Jangan-jangan karena saling klaim sok benar, NU sudah tidak punya lagi masa depan. Menyampaikan kebenaran tak perlu memaparkan kejelekan orang lain. Dengan begitu, orang akan berkesimpulan bahwa kau sama saja. Masih ingatkan pesan Gus Dur, "Membesarkan diri sendiri tak perlu mengecilkan orang lain."

Pernahkah kita mempertanyakan, kenapa masyarakat Nahdliyin masih jauh dari kesejahteraan? Bukankah itu tugas NU sebagai organisasi sosial keagamaan? Tugas NU yang lahir dari penyatuan Tasywirul Afkar, Nahdlatul Wathon dan Nahdlatut Tujjar. Kalau mendiang Mbah Sahal Mahfudz dawuh, "Menutup aurat saja butuh biaya." Penulis rasa itulah alasan kenapa Nahdlatut Tujjar didirikan oleh Kiai-Kiai pendahulu. Bahwa ibadah seseorang tidak akan sempurna jika syarat dan rukunnya tak terpenuhi. Nah itulah aurat yang dimaksudkan Mbah Sahal.

Tetapi, akhir-akhir ini kita masih sibuk mengurusi persoalan yang sebenarnya sudah selesai. Persoalan yang hanya memeras keringat dan hasilnya hanyalah perdebatan siapa yang lurus, siapa yang belok. Seharusnya kita sudah berpikir bersama bagaimana masyarakat Nahdliyin yang sebagian besar hidup di pedalaman dan pesisir ini tidak lagi kelaparan. Yang nantinya dengan mudah diinfiltrasi oleh Islam garis keras. Persoalan dasarnya karena mereka butuh makan, sedangkan elit NU berdebat soal kekuasaan. Setelah mengetahui mereka pindah aliran, dengan mudah para elit mengatakan, "Masyarakat awam sangat mudah menukar keyakinan dengan beras 2 kg." Ah, dengan mudah mereka berkata demikian.  Yang dia butuhkan adalah makanan bukan ceramah keagamaan. Perutnya sudah tiga hari tak terisi nasi, masih saja mereka suapi dengan argumentasi. Bukankah yang seperti ini jauh lebih penting untuk dirumuskan, meskipun yang lain juga penting.

Terakhir, kami hanyalah masyarakat Nahdliyin yang Kartanu saja tidak punya. Tulisan ini hanyalah bentuk kegelisan kami yang masih dalam perjalanan memahami NU secara utuh dari berbagai sumber. Kami juga tak pernah menisbatkan diri bagian dari kelompok lurus ataupun kelompok belok atau bahkan yang lainnya. Yang kami tahu adalah NU dengan Aswaja Nahdliyahnya. Yang kami tahu NU yang dulu dirumuskan demi kesejahteraan bersama. Sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita tawassulan pada pendiri NU. Semoga NU yang sekarang masih sama dengan harapan para pendahulu. Saya yakin beliau-beliau menaruh harapan besar pada kita. Saya juga yakin bahwa NU masih punya masa depan, asalakan kita mau bergandengan tangan.

NU masih satu, tidak ada yang lurus, tidak ada yang belok, tidak ada yang lucu, tidak ada yang liberal, tidak ada yang radikal. Semua satu, jika ada embel-embelnya berarti bukan NU yang sebenarnya. NU itu Aswaja dan sangat toleran terhadap setiap perbedaan. Jika menyatakan perbedaan orang NU lebih sopan dalam menyampaikan. Jika arogan maka NU-nya patut kita pertanyakan. Wallahu a'lam.[]

*Seorang Nahdliyin yang Kartanu pun tak punya.

Thursday, July 2, 2015

Sufi Bingung

[photo credit: here]




Oleh: Nilamic Tanjung

Tertegun oleh air mata
Menetes hanya karena harapan tamasya ke alam malakut

Senyum mengembang oleh Amal, laksana panen telah tiba
Padahal ketika tergelincir dia hilang harapan

Wirid terlantun dari hati yang tertawan
Warid datang sebagai imbalan tanpa kemurnian

Keinginan jadi wali menjadi racun dalam pembuluh darah
Karamah menjadi dewa tujuan
Demi sebuah puji, sebagai manusia di pelataran Makrifat

Baju kusut menggambar kesufian
Tertunduk dalam pengakuan manusia paling Tawadu
Lebih bingung lagi, dia marah kalau tidak diagungkan

Meminjam cerita Makrifat Dzauqiyah
Menambah daftar kedunguan, dan kegilaan

Membungkus nafsu dengan jubah dan surban
Seakan sufi, dia berhujjah dalam kebingungan.[]
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top