Showing posts with label nilamic tanjung. Show all posts
Showing posts with label nilamic tanjung. Show all posts

Tuesday, February 9, 2016

Pasang-Surut Islam di Indonesia


Oleh: Ahmad Nilam

Musim Semi Itu
Indonesia merupakan bangsa besar dengan penduduk. ± 125 juta jiwa, bangsa yang memiliki ratusan suku sebagai cagar budaya, bangsa dengan seribu kepulauan yang subur, bangsa yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia. Sampai hari ini 90% penduduk bangsa ini pemeluk agama Islam sejak terlepas dari kekuasaan agama Hindu dan Budha pada 7 abad yang silam. Dengan tertatih-tatih rakyat bangsa ini melepaskan diri dari kekafiran melalui bimbingan para sunan pulau Jawa—manusia yang mendapat ilham untuk berdakwah di pulau Jawa. Dengan kelemahlembutan, mereka membawa manusia dari millah jahiliyah menuju cahaya Islam yang mahligai. Berbagai episode perjuangan dan peperangan silih berganti mereka hadapi untuk mengakarkan millah Ibrahim ini.

Sejarah mencatat tentang perjuangan dan keberanian mereka memberangus penghambaan pada berhala-berhala setan, seperti Raden Patah, Sunan Giri dan mereka yang berprinsip Islam secara murni. Dan kelelahan, ketabahan serta kesabaran mereka ini pada akhirnya membentuk kebijaksanaan mereka dalam menjalani hidup di dunia sekaligus begitu berhati-hati supaya tidak lengah sehingga melupakan kehidupan kekal (akhirat) di episode selanjutnya.

Bisa dibilang, pada zaman itu Islam Nusantara seperti taman bunga memasuki musim semi—berjaya dan gemilang—di bumi nusantara, terlebih di pulau jawa.

Kemandulan Islam
Seperti halnya di Timur Tengah, Turki, Spanyol dan lain sebagainya, Islam di Nusantara juga mengalami kemunduran sejak imprialisme ketamakan Belanda menyelinap memasuki kedamain bangsa ini selama 3 abad lebih. Terlalu lama untuk disebut penjajahan. Terlalu sakit untuk dikenang.

Mereka yang barbaris, hedonis, tamak dan biadab telah menginvasi rakyat, mulai dari mental, kemerdekaan mereka sebagai manusia, politik, kekayaan alam serta kembali memupuk berhala-berhala yang telah lama mati. Bersama cukong-cukong yang berhati busuk dan bermental penakut, biadab dan seluruh tabiat bangsat di jiwa mereka—misalnya Danurejo IV—kolonial Belanda memeras keringat rakyat sampai tidak tersisa, kerja paksa serta kebiadaban lainnya telah memadamkan semangat keagamaan mereka dan menanamkan keputusasaan untuk berharap di hari esok. Krisis kepedulian sosial di berbagai elemen tumpah-ruah membanjiri semua kalangan, sehingga tercipta yang kaya akan semakin kaya dan simiskin kian tercekik oleh zaman penjajahan. Akibatnya kejahatan dan kebiadaban seperti perampokan, pencurian, pembunuhan dan pemerkosaan serta kebodohan tumbuh subur di zaman itu. Hanya segelintir dari mereka yang selamat dari kebiadaban zaman pada waktu itu meskipun mereka yang mempertahankan akidahnya harus memiliki kesabaran dan kekuatan seperti orang yang memegang bara api.

Jepang dengan kaisar bodohnya juga ingin memadamkan api tauhid Islam yang sudah kritis di bangsa ini, dengan cara membungkuk kepada kaisar sebagai penghormatan yang terkenal denga upacara Seikerei. Namun Tuhan masih tetap membela millah Ibrahim dan memberi pertolongan pada bangsa ini untuk mempertahankan eksistentensi ketuhanan yang absolut.
Tercatat, bangsa penyembah matahari ini menjajah bumi nusantara selama ± 3 tahun (1942-1945), namun tingkat kesadisan dan kebiadaban mereka sangat patut untuk dikatakan "kebiadaban manusia yang lahir dari rahim penyembah setan", yang lazimnya sikap penyembah setan itu tamak, angkuh, biadap dan bangsat.

Singkatnya, pada zaman itu Islam seperti bunga memasuki akhir musim semi, layu. Bahkan tak jarang, para kiai sebagai pemimpin spritual rakyat yang berupaya untuk bangkit atau paling tidak mempertahankan akidah diserang dan dihukum atau malah dibunuh dengan cara ditembak dengan biadab.

Kebangkitan Islam
Memasuki abad ke 19 M. Islam kembali menampakkan sinar keberaniannya, cahaya harapan yang sempat redup telah terbit di ufuk timur, banyak putra bangsa yang bangun dari tidur yang berkepanjangan, bangkit dan mempelajari Islam dari satu pintu ke pintu yang lain bahkan sampai ke Mekah untuk memperdalam dan menemukan ruh hakikat keberanian Islam yang bisa membuat mereka bersemangat dan memberi semangat untuk bangkit pada manusia lainnya. Misalnya Syaikhana Khalil, Kiai Shaleh Darat, Kiai Muhammad Dahlan dan Rais Akbar Kiai Hasyim As'ari. Kiai yang disebut terakhir adalah salah satu ujung tombak kemerdekaan bangsa dari penjajah serta pendiri organisasi keagamaan yang terkuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Dari segala kesederhanaan sikap kiai ini, lahir pejuang-pejuang bangsa yang gagah berani dan pasukan berani mati, setelah beliau menfatwakan wajib jihad membela agama Islam dan bangsa saat negara sekutu mencoba kembali menginjakkan kaki untuk menjajah pada tahun 1945, beberapa bulan setelah bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya pada tgl 17 Agustus 1945.

Dari sekian ribu pahlawan bangsa Indonesia yang lahir dari kewibawaan Islam, yang termashur adalah Bung Tomo. Pekikan "Allahu Akbar!"-nya memberi semangat yang meggelora dan harapan merdeka di hari esok atau kerinduan syahid di jihad fisabilillah. Catatan sejarah menjadikan tanggal 10 November Tahun 1945 itu sebagai Hari Pahlawan yang selalu dikenang oleh bangsa—merekalah kaum bersarung murni didikan Islam. Dan masih banyak lagi sejarah keberanian dan keperwiraan Islam yang gagah berani mengusir kebiadaban dan mempertahankan bangsa ini dari ketamakan, barbarisme kolonial Belanda dan Jepang, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, yang keduanya merupakan Presiden dan wakil President pertama di bumi Indonesia. Di zaman ini, cukup sulit menemukan kemampuan memimpin bangsa seperti yang beliau lakukan, dari sebab itu As-Sayyidi al-Habib Muhammad Luthfi mengajak bangsa Indonesia untuk menghormati beliau bahkan terhadap foto beliau yang ada di lembaran Rp 100.000—sekedar penghormatan.

Islam dan pemeluknya telah menyelamatkan bangsa ini dari pengafiran, ketamakan, kebiadaban dan kelicikan kolonial Belanda dan Jepang. Menyitir perkataan Muhammad Massad: "Bukanlah umat Islam yang telah membuat Islam itu besar; Islamlah yang telah membuat umat Islam itu menjadi besar."

Era Jahiliyah Di Abad Ini
Sayangnya, millah jahiliyah di abad milenium ini kembali mengepak sayap cacatnya, Banjir kebejatan moral telah melanda semua kalangan bangsa Indonesia. Pemuasan hawa nafsu menjadi patokan utama sebagai tujuan menjalani hidup, pemimpin beserta rakyatnya sama-sama berlomba dalam mewujudkan kesenangan diri, kemewahan dan keroyalan sampai pada tahap pantas untuk dituding sebagai sahabat setan—mubadzir.

Kita bisa melihat dan mendengar bahwa sebagian besar harga jam tangan anggota dewan cukup untuk memberi makan orang miskin sekampung, artis yang memamerkan keindahan fashion-nya dengan harga yang tidak memungkinkan kalau melihat kemiskinan yang membludak di bangsa ini. Mereka yang terbudak oleh hawa nafsu tampaknya sangat lihai menontonkan cara kesombongan ala setan—Fun, Fashion dan Food.

Paham hedonisme, telah mengakar kuat di bangsa ini, membusuk di semua sendi otak, meniru masyarakat Barat yang materialistis sehingga semua harus bersifat uang dan materi. Itulah sebabnya kebobrokan negeri ini semakin tak terbendung. Politik kotor semakin menjadi, dan puncaknya panggung orang-orang berdasi ini menjadi tempat favorit mangkalnya penyamum. Sudah tak terhitung berapa banyaknya rangkaian tayangan televisi yang menayangkan kasus maling negara ini seraya tersenyum dan berdada di depan kamera. Belum lagi persekongkolan mereka dengan masyarakat barat untuk menggerus kekayaan alam Bangsa Indonesia.

Aduhai, Indonesia sudah sekarat!

Moral bangsa dipertaruhkan, martabat bangsa tergadaikan, oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab dan karena mereka inilah banyak orang yang melacur, merampok, menipu dan seluruh bentuk keputusasaan yang lain karena terjepit kemelaratan yang tak kunjung usai.

Sementara umat Islam masih sibuk dengan mementingkan kubu-kubu mereka dan melakukan pembelaan yang berlebihan sehingga lalai pada tugas yang paling penting peranannya di dunia—khalifah.

Para cendekiawan Islam yang seharusnya memperhatikan sekaligus membenahi arus biadabnya jahiliyah yang semakin mencemaskan, lebih mementingkan pengkafiran pada saudaranya yang tidak sepaham, lebih suka memupuk dengki-dendam daripada berangkulan tangan demi maslahat umat.

Karena itulah kebejatan moral semakin menggerus pewaris tahta bangsa, belum lagi cahaya Islam yang meredup oleh karena banyaknya organisasi keislaman yang tak bertanggung jawab. Kebodohan mereka yang hendak membela Islam malah menghancurkan Islam, hendak memuliakan Islam malah menghina Islam, hendak menampakkan kewibawaan Islam malah memberi kesan bahwa Islam agama teroris yang biadab, kotor dan puritan. Ruh Islam yang rahmatan lil alamin tertutupi oleh kepentingan-kepentingan pribadi, bahkan tak jarang ketulusan Islam dijadikan sebagai tunggangan untuk mencapai tujuan nafsunya yang buas.
Singkatnya, di zaman ini bangsa Indonesia yang berpenduduk muslim terbanyak tak mampu menjadikan Islam sebagai acuan hukum dan sandaran bangsa.

Padahal, seperti yang dikatakan Muhammad Massad di depan, jika bangsa ini ingin besar, dihormati, berwibawa di hadapan kawan, ditakuti oleh lawan rakyatnya harus bermental Islam yang gagah berani.

Penghancur Peradaban Islam
Setelah mencoba merenungi alasan demi alasan peristiwa ini, penulis menemukan tiga golongan terpenting yang menyebabkan bangsa ini bobrok dengan teramat sangat memilukan.

1. Pemimpin. Sebagian besar pemimpin bangsa ini sudah tidak lagi beragama (ateis), dan lebih memilih aturan atau gaya hidup barat yang bejat, boros dan tamak. Bagaimana mungkin mereka kita bela mempunyai agama? Padahal sudah jelas sabda Rasulullah SAW bahwa "tidak beragama orang yang tidak menunaikan amanah". Kita bisa melihat dewasa ini, bagaimana sikap mereka terhadap amanah bangsa yang dibuang ketempat sampah dengan cara yang paling mengerikan. Mereka lebih mementingkan nafsu duniawi, keserakahan sampai pada tahap tidak tahu malu, dan kepuasan birahi hewani, daripada menulis sejarah yang baik untuk dirinya. Apabila mereka ditanya kapan bangsa ini akan bangkit, jawaban mereka "sabar, sabar dan tunggu" geram menggelutuk saat mendengar mereka memberi jawaban ini sambil nyengir.

2. Ulama. Sebagian besar dari golongan mereka sudah acuh dalam urusan amar makruf nahi mungkar. Mereka lebih suka berdebat dan mengafirkan satu sama lain demi membenarkan pendapatnya sendiri daripada fokus maslahat umat, mereka lebih suka memberikan lelucon daripada menceritakan sejarah keemasan Islam, mereka lebih suka dipuji daripada menahan rasa sakit demi amar makruf nahi mungkar, mereka lebih suka mempertontonkan hal-hal yang tidak sewajarnya daripada menjaga marwah, bahkan dari sebagian mereka, mau menjadi budak iklan produk murahan. Keengganan mereka untuk tulus mendidik bangsa persis kaum Yahudi sebagaimana yang didawuhkan KH. Maimun Zubair "Wong Yahudi iku biyen gelem mulang angger dibayar, tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar." (Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang).

Dan yang aneh, ancaman Allah swt. kepada orang yang berilmu namun tidak mengamalkan, menyuruh tapi tidak melakukan, memerintah tapi malah melakukan lebih dulu dengan ancaman yang lebih dahsyat daripada penyembah berhala, mereka anggap sebagai hal yang lumrah dan disikapi dengan senyum. Golongan yang kedua ini, apabila ditanya kemandulan Islam dibumi pertiwi hanya bisa menjawab dengan menuduh bangsa Yahudi dan Nasrani sebagai biang keladinya. Mereka tidak sadar, bahwa panglima pasukan kelompok musuh Islam itu adalah (kebodohan) mereka.

3. Rakyat. Kebodohan mereka terlampau teramat sangat. Mereka tidak mengidahkan sabda Rasulullah SAW yang melarang memberikan (memilih) kepemimpinan kepada orang yang memintanya atau yang berusaha memperolehnya. Alih-alih mereka ikut, malah mereka membuat semboyan "ada uang, ada suara" yang menunjukkan betapa bodoh dan primitifnya otak mereka, terbelakang dan telah menjadi kaum matrealistis. Mereka ibarat anak domba yang memilih ikut serigala daripada ikut induknya.

Golongon terbodoh ini akan melakukan demo besar-besaran dan mengamuk dengan membabi buta seraya berselogan "kami rakyat negara yang bebas berdemokrasi".

Dan ketiga golongan diatas satu sama lain sudah tidak mau lagi menjaga aib sesama, yang satu membuka aib yang lain dan seterusnya. Padahal As-Sayyid al-Habib Muhammad luthfi telah mengingatkan dengan dawuhnya "Begitu juga dalam kehidupan berbangsa. Kalau kita menutupi aib saudara kita sebangsa, atau pejabat kita, atau Negara kita, maka bangsa lain pun tidak berani memojokkan bangsa kita. Bangsa lain memojokkan bangsa kita, tidak menghormati bangsa kita karena kita sendiri yang membuka aib bangsa kita".

Ketiga-tiganya di atas disebabkan keengganan dan kemalasan mereka untuk mempelajari dan memasuki (mengamalkan) Islam secara kaffah.[]

04-01-16, Bengkulu.

sumber gambar: The Heart of Bukhara, by Sergei Golyshey

Saturday, October 24, 2015

Pagiku, Tungku

Pagiku, apa kabar kawan?
Bagaimana negerimu, apa sudah bangkit?

Aku dengar negerimu sudah merdeka sejak puluhan tahun yang lalu
Saat negerimu punya pemimpin Bung Karno

Sekarang, Aku tak percaya lagi kawan
Cobalah kau buka jendela dan tengok

penjajahan gedung-gedung asing masih mencakar di langit biru
Jual beli pulau, masih menjadi tradisi di negerimu

Negerimu masih dijajah oleh tambang-tambang ketamakan
Negerimu masih butuh uang dengan menjual gadis-gadis rupawan

Negerimu masih menjadi buruh pengedar dan lumbung narkoba
Negerimu, yang kau sembah menyembah pada penjajah dan mafia.

Teriak keras negerimu di 17 Agustus "Merdeka"
Hanya untuk menutupi keputusasaan mereka

Pagiku, sudahkah kau baca surat kabar?
Di koran tertulis, negeri tersubur dan aman adalah negerimu

Tapi kudengar, berbagai agama memberontak atas nama negerimu
Berbagai kepentingan sudah mengadu domba tetanggamu

Teriak kafir, menjadi nyanyian baru para jelata dan cendekiawan
Merenggut sejahtera yang sempat lestari di berbagai belahan
Kawan, bertindaklah, cegah mereka, dan katakan "kita, satu tuhan"

Pagiku, kau selalu bernyanyi "negeriku negeri yang elok"

Berbagai Suku berbaris dalam kesatuan bahasa
Ragam budaya mewarnai setiap pelosok bangsa
Adat istiadat menjadi pembeda antar suku bangsa

Pagiku, kau kesiangan kawan

Suku yang kau banggakan, telah habis terkikis oleh penebang hutan
Budayamu pun telah hilang di keramaian bule-bule telanjang
Dan adat bangsamu berubah wujud menjadi binatang jalang

Tapi bukan salahmu kawan, kau hanya pagi yang lugu

Seumpama penanak nasi kau hanya tungku
Pemimpin kitalah yang menjadi kayu

Tapi sayang, Api nasionalisme mati dalam kayu semangat juang mereka
Hanya asap yang keluar, mengaburkan kekayaan mereka

Mereka enggan berbicara angka kemiskinan
Mereka hanya mengandalkan TKI sebagai jawaban

Mereka tak perduli bagaimana rakyat bekerja
Mereka pura-pura tak melihat rakyat yang sengsara

Bahkan bagi mereka, kau sebagai tungku hanya sebuah masalah berat
"Kau," bentak mereka, "buat apa memikul beban rakyat?!"

Ketamakan mereka ditutupi dengan kebijakan-kebijakan usang
Sabar, sabar dan tunggu terlalu sering mereka dendangkan

Gila tahta, hobi korupsi telah membutakan hati mereka
Atas Kesabaranmu, keuletanmu, kedermawananmu dan keberaniamu yang perkasa

Kepada siapa kau akan mengadu kawan?

Satrio piningit yang kau tunggu, telah
diadopsi
Berdoalah, semoga kemerdekaan yang sesungguhnya tak sekadar opini.

Ahmad Nilam
23 Oktober, berkawan dengan pagi.

Sumber Gambar:

Thursday, July 2, 2015

Sufi Bingung

[photo credit: here]




Oleh: Nilamic Tanjung

Tertegun oleh air mata
Menetes hanya karena harapan tamasya ke alam malakut

Senyum mengembang oleh Amal, laksana panen telah tiba
Padahal ketika tergelincir dia hilang harapan

Wirid terlantun dari hati yang tertawan
Warid datang sebagai imbalan tanpa kemurnian

Keinginan jadi wali menjadi racun dalam pembuluh darah
Karamah menjadi dewa tujuan
Demi sebuah puji, sebagai manusia di pelataran Makrifat

Baju kusut menggambar kesufian
Tertunduk dalam pengakuan manusia paling Tawadu
Lebih bingung lagi, dia marah kalau tidak diagungkan

Meminjam cerita Makrifat Dzauqiyah
Menambah daftar kedunguan, dan kegilaan

Membungkus nafsu dengan jubah dan surban
Seakan sufi, dia berhujjah dalam kebingungan.[]

Tuesday, January 6, 2015

Tuhan Pun Berpolitik

[photo by Wawan]
Oleh: Nilamic Tanjung
 

Kecamuk murka bani Adam
Muksa, demi nafsu yang tak pernah padam
Tahta bergelimang dusta
Dusta bergelimang kuasa
Tertindas tirani kerakusan
Membalik cerita Indonesi tanah surga
 
Soekarno sang proklamator "katanya"
Soeharto bapak pembangunan "katanya"
BJ Habibie bapak teknologi "katanya"
Abdurrahman Wahid bapak pluralisme "katanya
Megawati Ibu wong cilik "katanya"
Susilo Bambang Yudhoyono bapak wacana "katanya"
Rakyat tetap berjibaku melawan ketidakadilan
Aparat terus bermain demi kepuasan
Pemimpin beradu hujjah demi kekuasaan
 
Tuhan ada yang mengatasnamakan diriMU, semakin merajalela
Apakah ini politikMU?
Ada yang mengatasnamakan agamaMU, melanggar HAM
Apakah ini caraMU?
Sebagian mengatakan "Engkau adalah segalanya"
Sebagian mengatakan "Engkau adalah dalang semuanya"
Hingga akau berkesimpulan "Tuhan pun berpolitik"

Thursday, August 29, 2013

Belum Ada Judul


Semenanjung Ganjaran terlukis begitu sahdu
Semilir angin berhembus begitu merdu

Sederet santri berjejer menuntut Ilmu
Sejuta cita merajut kehadiratMu

Semesta Alam mendoakan mereka
Seribu kalimat "Amin" mengangkasa

Tuhan, adakah mereka menjadi tumpuan?
Ataukah hanya sebuah amaniah belaka?

Tuhan, demi petromax yang setia temani Malam mereka
Anugerahkan laduni dan cinta.



oleh
Nilamic Tanjung
Santri PP Raudlatul Ulum 1 Ganjaran
saat ini sedang tugas mengajar di Madura

Thursday, August 22, 2013

Aku Cemburu Padamu


Hening tak berdawai dalam kerinduan
 

Kobaran api cinta membakar segala kekhilafan 
 

Sebesar pasak bumi itulah cintaku
 

Bertasbih dalam keanggunanmu.
 

Aku ingin terbang bebas seperti burung Dara, 
 

Namun garis sang pencipta cinta
 

Menakdirkanku untuk berjuang tanpa sayap
 

Aku sadar, Aku hanya seorang dengan tingkah sederhana.
 

Iri hatiku kepada mereka yang mengangkasa 
 

Tuhan, aku cemburu padam.

Oleh
Nilamic Tanjung
Santri PPRU 1 Ganjaran
saat ini sedang tugas mengajar di Madura. 
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top