Showing posts with label ahmad biyadi. Show all posts
Showing posts with label ahmad biyadi. Show all posts

Wednesday, January 30, 2013

At-Tauhîd Sebagai Poros Akidah Islam


Oleh: Ahmad Biyadi*

Keyakinan sangatlah besar peranannya dalam mengatur perilaku seseorang. Bila dia meyakini A adalah baik, maka banyak perilakunya akan dia arahkan untuk A itu. Bila dia meyakini B adalah kejahatan, maka dia akan berupaya untuk mengubah B dengan segenap usahanya. Dan begitu seterusnya.

Di dunia barat, banyak sekali orang berkeyakinan ‘aneh’ tentang Tuhan. Sehingga sering kali Tuhan digambarkan sebagai sosok yang kuat, perkasa, punya kekuatan luar biasa, berkelamin pria, dan jadilah seorang Zeus yang kadang nongol di film-film Hollywood sebagai gambaran Tuhan. Mereka juga meyakini bahwa Tuhan (Sang Penjaga semesta) tidaklah satu, tapi merupakan suatu kelompok lengkap dengan pembagian tugas dan kekuatan istimewanya sendiri. Selain itu mereka juga meyakini bahwa Tuhan tidak terlalu banyak ‘ikut campur’ dalam kehidupan manusia. Para Dewa hanya bertugas sebagai pencipta dan penjaga, bukan pengatur, apalagi pemberi hukuman di akhirat. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Kaum Yahudi berkeyakinan bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan dan para kekasih-Nya. Sehingga mereka berkeyakinan pula bahwa bangsa lain adalah hina. Dan akibatnya, ketika Nabi terakhir yang dijanjikan datang—dan ternyata bukan dari bangsa yahudi—mereka mengingkarinya. Begitu pula banyak kejahatan lain yang telah mereka lakukan karena bagian dari kesombongan mereka ini.[1]

Tuesday, January 15, 2013

Pulang Kampung


Oleh: Ahmad Biyadi

“Nggak...!” Aku menoleh lantang, menolak sesendok nasi suapan ibu itu. “Pokoknya nggak!” Ibu itu masih merengek memaksa, dua hari kamu belum makan, katanya. Telunjukku mengacung tajam. Dia paham, jangan paksa aku. Ibu itu menunduk menggeleng kecil, lalu pergi. Pasrah.
***
Aaaaaahhhhhh... Tiba-tiba aku berteriak kencang. Urat leherku tegang. Marah bukan main. Orang-orang di sekitar kaget. Ada yang lari takut. Ada yang cuma menoleh, seperti melihat hal yang sudah biasa. Sama sekali aku tak peduli, padahal ramai. Hampir sama tak pedulinya mereka terhadapku. Aku menunduk. Nafas tersengal. Bukan malu, tapi itu letusan marahku.
***
“Opo’o kowe, Naaak?” Ibu itu merengek. Tak tahan mungkin. Setelah dua jam lebih merayuku untuk minum obat. Haha! Akhirnya meletus juga tangisnya. Tetesan itu hangat meleleh di pipinya yang mulai keriput. Kasihan sekali dia, mengapa bertemu dengan makhluk seperti aku. Orang sebaik dia memang melas. Bukankah jadi orang baik memang menderita? Tapi penderitaan itulah yang membuatnya jadi baik. Haha! Aku melamun. Ibu itu tetap kubiarkan saja. Lama, lalu dia pergi, masih tetap menangis.

Saturday, July 28, 2012

Akidah Islam; Sejarah, Perbedaan Dan Alur Mayoritas

Oleh: Ahmad Biyadi*


Faktor Munculnya Perbedaan
Seperti dalam ramalan bahwa Islam akan terpecah dalam begitu banyak aliran, perbedaan keyakinan terjadi tidak lama setelah ramalan diucapkan. Pada abad pertama, di masa pemerintahan ‘Alî ibn Abî Thâlib mulai muncul benih golongan pemberontak yang kemudian dikenal dengan Khawârij.[1]

Faktor politik menjadi alasan utama mereka memberontak. Tapi itu berujung pada perdebatan pemikiran, utamanya tentang status pelaku dosa besar, apakah masih dianggap muslim ataukah kafir. Seiring waktu, golongan ini menyinggung ranah teologi tentang bagaimana status pelaku dosa besar. Apakah mereka muslim ataukah telah kafir. Perdebatan pun muncul. Khawârij yang mengkafirkan pelaku dosa besar diimbangi oleh golongan Murji’ah yang ‘kebablasan’ dengan berpendapat perbuatan dosa sama sekali tak berpengaruh pada status kafir atau muslim.[2]

Perdebatan itu merembet pada tema-tema tentang takdir, kekuatan manusia, dan sifat Tuhan, yang membawa para tokoh pada akhir abad pertama hijriah dalam perbedaan pendapat. Sejak saat itu, banyak di antara mereka memunculkan pemikiran-pemikiran baru tentang tema-tema tersebut. Hingga muncullah pendapat-pendapat yang kerap kali ada kemiripan dengan keyakinan di luar Islam. Misalnya di Persia, ada keyakinan bahwa manusia adalah penguasa terhadap dirinya dan Tuhan sama sekali tidak berhak menentukan perbuatan manusia. Keyakinan ini menyusup dan berbuah menjadi paham Qadariyah. Kemudian lawan dari paham ini muncul dan dikenal dengan paham Jabariyah atau Jahmiyah.[3] 
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top