Monday, November 30, 2015

Petuah Abah


Oleh: Muhammad Madarik

Sosok yang sudah terlihat garis-garis di wajahnya, pertanda usia tak lagi muda. Tetapi gerak dalam setiap kegiatannya tatap enerjik, seakan ketuaan tak menjadi penghalang baginya untuk terus bersemangat dalam hidup ini.

Abah, begitulah ia dipanggil oleh keluarga, tetangga dan masyarakat. Sebagai seorang yang ahli di dalam bidang supranatural, tamu yang datang ke rumah Abah memang nyaris tiada henti. Mulai dari pagi hari sampai larut malam. Tetapi jika Anda ingin bertamu ke Abah di rumahnya, maka sebaiknya waktu siang atau sore hari. Sebab, bila Anda datang di sekitar saat-saat matahari terbit, bersiaplah untuk menunggunya. Jam yang paling memuaskan ketika ingin bertemu dengannya adalah malam hari. Seberapapun Anda berbincang, Abah akan siap meladeni Anda sekalipun sampai suntuk.

Kebetulan saat saya bertamu, orang-orang yang berada di rumah Abah mulai memohon izin satu per satu. Hanya beberapa orang yang sudah saya kenal masih menemani Abah. "Gus, mari masuk!" Seru Abah setelah saya mengucapkan salam di luar daun pintu seperti biasa. Saya duduk di pinggir kiri sebelah Abah, setelah sebelumnya saya menyalami seluruhnya.

"Wah, lama enggak ke sini, Gus?" Tanya Abah. Sejak awal Abah memang memanggil saya dengan sebutan "Gus”.

"Ini Gus, Tamim tanya soal kenapa kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia, masih dibatasi dengan kematian." Cerita Abah tentang obrolan dengan para "murid-murid setia”-nya sejak sebelum saya datang. Setiap malam rumah Abah tidak pernah sepi, dan "murid-murid" ini yang selalu menghidupkan malam di rumah Abah, kendati Abah serta Umik sedang keluar.

"Nah, kematian yang dialami setiap makhluk, dan utamanya manusia, hanyalah merupakan 'tanda koma' dalam susunan kata-kata. Terdapat kehidupan hakiki di balik kematian. Jadi, jika diurut selain kehidupan ruh, hidup kita, secara garis besar cuma ada dua, yaitu alam dunia dan akhirat." Imbuh Abah memberi wejangan.

Bagi saya, topik yang dibicarakan Abah cukup menarik, meskipun saya harus mengerutkan dahi untuk mengejar pengertian dari kata-kata Abah.

"Sedalam apa alam akhirat? Di sinilah, maut berperan menjadi pintu menuju ke sana. Semacam lubang kecil bagi masing-masing pribadi, yang dipastikan semuanya memasukinya. Mau tidak mau, suka tidak suka. Kalau dalam Alquran digambarkan bahwa kalian akan menemui kematian di mana saja kalian berada, sekalipun kalian berada di kotak yang tertutup rapat. Nah, inilah pintu pertama menuju alam keabadian."

"Jiwa menerawang nun jauh sekali. Kondisinya sangat lapang tak terbatas, sehingga tak satupun pandangan mata yang mampu menjangkau batas akhirnya. Luas keadaannya tak terbayangkan sama sekali. Situasi itu masih ditambah gelap gulita tiada terukur."

Abah menghela nafas, sembari rokok diapit dua jemari tangan kanan dihisap begitu dalam terlihat di raut wajahnya rona kesedihan tak berkesudahan, seakan ia benar-benar tenggelam dalam bingkai ceritanya sendiri. Sungguh-sungguh menghayati apa yang diucapkan.

Saya paham, saya tidak sendiri. Saya lihat Tamim, Abdi, Shomad, Kang Makrus, Solikin, Sinal dan pak Marsam begitu serius mendengarkan ucapan Abah. Dari sekian orang di ruang tamu ini, hanya Sinal yang tidak menikmati hisapan kretek. Cara mereka, sama seperti saya, menyedot rokok benar-benar dalam, menunjukkan pencarian yang tersisa dalam pikiran mereka.

"Cuma ini bagi jiwa-jiwa yang gersang dari siraman syariat Nabi Muhammad SAW. Mereka terasing. Bahkan sangat terasing sekali!" Sambung Abah.

"Jiwa-jiwa yang seakan-akan tak temukan arah mau kemana. Ya Allah, nanti setelah itu akan menghadapi hal yang pasti terjadi. Sebuah alam, apa yang dikatakan para ulama di dalam kitab-kitab itu benar, memang sungguh benar. Bagi orang yang ketika ruh dicabut dari sekujur tubuh tanpa setitik iman, akan temukan keadaan yang tidak bisa dibayangkan kengeriannya kala di alam Barzakh. Keganasan para malaikat memang sangat nyata. Bengis dan kasar. Tidak ada kata ampun. Pecutnya panjang melilit, terlihat seperti terdiri dari bara api. Yah, bara api memerah berkali-kali lipat dari bara api di dapur kita. Itu apa, hanya titik sangat kecil dari si jago merah yang tengah membara. Nah, jika dipecutkan, maka seluruh yang menempel pada tulang akan mengelupas. Lecutan dari ayunan menghempas, mengakibatkan seperti pancaran butiran api yang semburat persis seperti kayu kering terbakar lalu dihempaskan ke kiri ke kanan, kemudian memuncratkan berpuluh-puluh titik-titik kecil bara." Kembali Abah terdiam seraya menghisap sedotan demi sedotan pada sebatang rokoknya begitu dalam.

"Tak seorangpun dapat membayangkan remuk-redam jasad. Hancur meleleh. Lebih mengenaskan lagi ialah suara jerit yang meraung-raung. Sangat tidak salah Nabi kita mengungkap suara rintih di balik tumpukan tanah kuburan terdengar oleh makhluk, kecuali manusia. Ya Allah, benar mengerikan, mengenaskan lolong mereka. Jeritnya sangat dahsyat. Dahsyat sekali. Menahan rasa sakit, dan perih yang parah. Begitu nestapa yang berkepanjangan. Kalau ada seseorang yang sedang marah memuncak pada seekor kucing gara-gara mencuri lauk yang dibuat persediaan makan nanti, lalu hewan itu disiksa dengan sangat keji. Ia dipukuli berkali-kali, ditendang, dibanting, diinjak-injak dan belum cukup itu, kucing itu disulut dengan api yang berkobar. Akibat penyiksaan itu, ia mengalami luka-luka  di sekujur badannya, patah tulang, dan darah bercucuran. Apa yang dilakukan hewan tersebut? Pasti ia bersuara 'meong-meong' sekeras-kerasnya menahan sakit tak terkira. Nah, siksa kubur itu lebih tak tara berjuta-juta kali lipat dari hanya sekedar siksaan yang dialami oleh seekor kucing itu.

"Bayangkan saja! Pada waktu larut malam, atau setidaknya saat maghrib tiba, Sampeyan datangi lokasi kuburan, duduklah di dekat salah satu nisan yang berjejer. Sampeyan masuk ke pemakaman tanpa teman, dan tak seorangpun di tengah-tengah pekuburan itu. Kondisinya benar-benar sepi dan senyap. Hanya angin sepoi-sepoi yang menjadikan dahan-dahan dan ranting-ranting pepohonan di sekitar kuburan tersebut bergerak-gerak dan melambai-lambai. Lalu Sampeyan hadirkan orang yang Sampeyan kenal: kerabat, tetangga, bahkan kalau sudah wafat ayah, ibu, saudara, kakek, nenek atau malah anak Sampeyan. Mayat yang terbujur dan terbungkus kain putih itu tidak lain adalah mereka. Tidak sulit raut wajah mereka disemat di pelupuk mata kita, karena mereka orang terdekat yang paling kita sayangi. Kemudian..." Abah menghentikan kata-katanya, seraya menghirup kretek setelah sebelumnya membasahi krongkongan dengan kopi hitam.

"Konsentrasikan pikiran, dan buanglah segala macam isi pikiran dan bayangan apa saja. Fokuslah! Cobalah, sekejap saja bayangkan wajah ayah, raut ibu Sampeyan, atau tubuh anak Sampeyan! Mereka ini, sosok yang Sampeyan kenal. Orang-orang yang selalu menghiasi hidup sehari-hari Sampeyan. Jadi sangat mudah membayangkan wajah-wajah mereka."

"Nah, sekarang bertanyalah pada diri Sampeyan, bagaimana keadaan mereka detik ini. Akankah mereka, orang-orang yang Sampeyan kenali, sedang dipecut oleh malaikat yang bengis? Benarkah jasad mereka tengah tercecer berserakan? Apakah sama sekali tidak tersisa sedikitpun kain penutup tubuhnya? Menjeritkah mereka? Meraungkah mereka? Melolongkah mereka? Renungkan pertanyaan-pertanyaan ini dengan sungguh-sungguh, betul-betul khusuk dan kerahkan seluruh perasaan agar tertuju pada soal-soal itu seraya menghadirkan wajah dan jasad mereka, selagi Sampeyan punya kesempatan berada disamping pusara mereka!"

Kini, keadaan di ruang tamu ini senyap. Kami semua terdiam seribu bahasa, hanya asap yang mengepul dari masing-masing kami yang perokok. Dirasa sudah cukup pencerahan malam ini, saya pun pamit mengundurkan diri untuk pulang dengan membawa selaksa perasaan yang berkecamuk.[]

sumber gambar: kompasiana.com

Thursday, November 26, 2015

Keharuan Di Balik ‘Tragedi’ Nasi Bungkus HMI


Oleh: Irham Thoriq

Apa kesamaan antara Muktamar Nahdlatul Ulama’ (NU) Agustus lalu dengan kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang membuat kita gaduh baru-baru ini. Sebelum  menjawab, saya ingin melontarkan pertanyaan susulan kepada diri saya sendiri; Lalu kenapa kita menyamakan keduanya..?. Bukankah keduanya tidak satu rumpun ideologis.

Membandingkan NU memang lebih tepat membandingkannya dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang merupakan kawan sekaligus lawan HMI di Kampus. Kita tahu, PMII ketika lahir 1960 silam berada dalam rahim NU. Baru sejak 1972, PMII mendeklrasikan dirinya Independen.

Sedangkan HMI dalam sejarahnya tidak pernah berkaitan dengan NU. Meskipun, banyak alumni HMI yang berkarir di NU seperti Mahfud MD, Jusuf Kalla, dan Wakil Gubenur Jawa Timur Syaifullah Yusuf. Singkatnya, HMI dan PMII sama-sama menjadi organisasi yang menyuplai tokoh NU.

Lalu ada apa dengan kongres HMI dan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Yang saya lihat dipermukaan adalah kegaduhannya. Pada muktamar NU, di handphone saya masih tersimpan rekaman pidato KH Mustofa Bisri yang sedih karena kongres NU gaduh. Terlebih, ada sebuah koran yang memberi judul beritanya di halaman depan seperti ini: Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh.

Saya yang membaca berita itu juga terenyuh. Kenapa mereka membandingkan dua organisasi yang berbeda itu dalam satu berita. Bukankah itu hanya menyulut api asmara, eh api pertikaian maksud saya.

Tetapi, di kongres HMI kegaduhannya tidak membuat kita terenyuh,  justru menjadi olok-olok di media sosial. Mungkin karena kegaduhannya berurusan dengan nasi bungkus yang tidak dibayar, memblokade jalan, membakar ban, sampai menggunakan APBD Provinsi Riau Rp.3 Miliar.

Jika dirunut kebelakang dari serangkaian pristiwa itu, kegaduhan dalam kongres HMI ini sebenarnya disebabkan satu hal yakni banyaknya rombongan liar atau romli dalam kongres tersebut. Kau tahu, dalam kongres atau muktamar organisasi massa, rombangan liar selalu saja datang. Dan celakanya, mereka lebih banyak menyusahkan panitia.

Melacak rombongan liar ini sangatlah mudah. Biasanya mereka bergerombol, tidak mempunyai hak memilih dan bicara dalam kongres. Mereka juga hanya bermodal nekat. Sederhananya, rombongan liar ini seperti para sekawanan pemuda jomblo yang memilih mengganggu temannya ketika sedang malam mingguan. Sekawanan itu, menggangu dengan pura-pura batuk ketika sepasang kekasih mulai berpegangan tangan, atau mengajak mengerjakan tugas kuliah ketika temannya sedang asyik-asyiknya pacaran. Tindakan seperti itu tentu tidak elok, bukan..?

Pada Muktamar Nahdlatul Ulama’ juga banyak rombongan liar. Jumlahnya mencapai puluhan ribu, satu diantaranya saya. Ketika itu, ditengah temaram lampu Alun-Alun Jombang, saya melihat pemilihan Ketua Umum NU dari layar berkuran jumbo. Seorang teman, juga bermodal nekat pergi ke Jombang. Dia mengandalkan makanan nasi bungkus yang disebar panitia saban hari.

Tapi, ‘perburuan’ teman saya itu tidak membuat gaduh. Sedangkan, tragedi nasi bungkus HMI membuat gaduh umat sejagat raya. Penyebabnya, karena 21 bus rombongan memakan kesebuah warung, lalu kabur. Pemilik warungpun mengeluh kepada wartawan.

Namun, ditengah kegaduhan kongres HMI itu, kita mendapatkan oase dari pernyataan Ketua Umum HMI Arief Rosyid Hasan. Dalam siaran pers-nya, dia meminta maaf kepada Pemerintah Riau, Masyarakat Indonesia dan umat muslim atas rentetan pristiwa yang mengecewakan itu. Tentu saja, ini pernyataan dari seorang pemimpin sejati yang mengakui kesalahan anak buahnya. Kita tahu, pemimpin yang bersikap seperti pecundang biasanya memilih cari aman dan cuci tangan.

Ketua Bidang Media Kongres Dhimam Tenrisau juga mengatakan kalau pembelokiran jalan dan pembakaran ban dilakukan oleh pengembira kongres. Dalam istilah saya, pengembira kongres adalah rombongan liar (romli). Menurut dia, rombongan pengembira ini datang dan tidak dijamu apapun oleh panitia.

Dari pernyataan inilah tentu kita patut haru. Para kader HMI itu rela jauh-jauh datang ke Pekanbaru, Riau hanya ingin menyaksikan kongres. Para romli itu akan sulit kita temukan pada kongres Partai Politik. Lantaran, pada partai politik, keanggotaannya lebih banyak lima tahunan.

Orang tiba-tiba berpartai politik ketika sudah mendapatkan uang pada detik-detik menjelang pemilu. Para politikus berprilaku seperti jomblo yang memuaskan nafsunya dengan membeli Pekerja Seks Komersial (PSK). Habis dipakai, mereka membayar, lalu ditingalkan. Ah, merana sekali nasib para pemilih partai politik itu. 

Dari tragedi nasi bungkus kawan-kawan HMI itulah seharusnya partai politik bercermin.  Bahwa, di dunia yang fana ini masih banyak ‘pejuang’ yang tidak takut mati tapi takut lapar.[]

sumber gambar: di sini.

Monday, November 23, 2015

Profesionalisme Organisasi



Oleh: Muhammad Firdausin Nuzul

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesionalisme (profésionalisme) mempunyai makna; mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau yang profesional. Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional. Menurut H. Sumitro Maskun (1997: 7) bahwa suatu profesionalisme adalah merupakan suatu bentuk atau bidang kegiatan yang dapat memberikan pelayanan dengan spesialisasi dan intelektualitas yang tinggi. Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran, spesialisasi atau kualiti dari seseorang yang profesional.

Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisis organisasi (organization analysis).

Kalau dalam cangkupan Kelompok atau pelajar di bedakan menjadi dua yaitu Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak". Dan Organisasi pelajar adalah organisasi yang beranggotakan pelajar untuk mewadahi bakat, minat dan potensi mahasiswa yang dilaksanakan di dalam kegiatan ko dan ekstra kurikuler.

Dalam profesionalisme dan organisasi ada tingkah laku atau etika. Istilah etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “ethos” yang berarti watak atau kebiasaan. Dalam bahasa sehari-hari kita sering menyebutnya dengan etiket yang berarti cara bergaul atau berperilaku yang baik yang sering juga disebut sebagai sopan santun. Istilah etika banyak dikembangkan dalam organisasi sebagai norma-norma yang mengatur dan mengukur perilaku profesional seseorang.

Di era sekarang profesionalisme organisasi seakan-akan hanya dikesampingkan saja disebabkan pengajaran yang diberikan oleh organisasi sangat minim tak terkecuali organisasi terpelajar, pengajaran yang hanya bersifat pengetahuan dan pengajaran menjadi panitia acara tidak akan bisa membentuk karakter orang yang punya prefesionalisme organisasi dan tidak terlepas oleh pengurus organisasi itu. Apalagi organisasi pelajar dan Komunitas yang mencangkup antara organisasi tidak boleh mempropaganda organisasi lain dan memberi ruang organisasi yang sama, ini bisa mengakibatkan permusuhan di dalam Komunitas itu. Jadi jika ada organisasi atau komunitas yang tidak punya etika atau sopan santun dalam perbuatannya, apalagi mengharamkan organisasi lain sepatutnya di beri sangsi tegas biarpun itu senior atau alumni.

Profesionalisme sangat diperlukan dalam sebuah organisasi, di mana setiap orang dituntut untuk bekerja secara profesional. Jika dalam sebuah bidang organisasi tidak ditemuka profesionalisme, maka yang akan terjadi adalah timbulnya keresahan dalam organisasi tersebut dan mengakibatkan pekerjaan yang diharapkan dapat selesai menjadi terabaikan atau terbengkalai karena kurang adanya kepedulian terhadap pekerjaan tersebut. Profesionalisme sangat diperlukan dan penting, karena tanpa adanya hal tersebut maka akan muncul kecemburuan sosial dalam suatu bidang pekerjaan dan profesionalisme sendiri membutuhkan sebuah tanggungjawab kepada setiap orang untuk bertanggungjawab atas tugas atau pekerjaan yang telah diserahkan kepadanya dan harus menyelesaikan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

Dalam berorganisasi etika profesionalisme juga sangat diperlukan, antara lain tampilkan rasa percaya diri kamu, yakinlah terhadap kemampuan diri kamu bahwa kamu bisa, jangan minder dan usahakan selalu rendah hati, yakinlah setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, jadi kita tidak boleh bersombong diri atau merendahkan orang lain, usahakan mampu berkomunikasi dengan diri sendiri. Yang paling penting adalah menjaga kedisiplinan kita, seperti datang tepat waktu pada saat ada pengumpulan anggota organisasi, tidak meninggalkan tugas yang telah diberikan oleh ketua karena itu bukanlah sikap professional. Selain itu menggunakan waktu dengan sebaik mungkin sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Etika salam juga salah satu orang yang memilliki jiwa profesionalisme, contohnya pada saat bertemu teman kita hendaknya memberikan 3-S, yaitu senyum, salam, sapa. Itu akan membuat kita akan dipandang sebagai orang yang mempunyai jiwa profesional dan ramah.[]

sumber gambar: managementexperienced

Sunday, November 22, 2015

Atas Nama Kemanusiaan? Sebuah Catatan tentang Teror Bom Prancis dan Teror Asap Riau.


Oleh: Abdul Rahman Wahid

Terik matahari begitu menyengat. Hujan yang sempat turun beberapa hari lalu tak mampu membendung debu-debu untuk berterbangan. Musim hujan seakan hanya melintas memberi kabar, permintaan maaf langit pada bumi. Karena air matanya tak kunjung jatuh. Hanya murung yang langit tampilkan, itu pun sejenak saat senja perlahan mulai menghilang.

Masih sulit menentukan apakah ini musim hujan ataukah musim kemarau. Dibeberapa daerah, tangisan langit memenuhi sungai lalu meluap ke daratan. Kabar banjir pun terdengar memilukan. Rumah-rumah berantakan, semua perkakasnya dipaksa mengikuti arus air yang amat tajam. Para penghuni satu per satu diserang penyakit. Tangisan langit kini telah bercampur dengan tangisan manusia. Air mata dan air hujan jatuh bercucuran.

Di daerah lain, cuaca panas masih setia menemani serangkaian aktifitas manusia keseharian. Kini, kabar kekeringan perlahan mengemuka. Para petani terancam gagal panennya. Tanamannya kering kekurangan air. Lahan-lahan terlihat gersang nan tandus. Tenggorakan bumi benar-benar kering, ia begitu kehausan sekali. Bahkan, jika harus disiram, mungkin hanya beberapa jam debu itu basah dan tenang. Selebihnya, debu-debu itu akan terbang dengan riang. Tak heran, jika kabar kebakaran kian hari datang bergiliran. Begitu nikmat si jago merah melahap dedaunan hingga batang.

Banyak pengamat tampil memberikan pandangan, dari aktivis lingkungan, ahli musim, para pecinta alam dan lain sebagainya. Mereka bergantian memberi pandangan akan kejadian yang tentunya meresahkan ini. Bagaimana tidak, semua lini kehidupan terancam ketika sudah berhadapan dengan yang namanya kekeringan, kebanjiran dan kebakaran. Ya, sesuatu yang sering diminta dalam do'a itu membuat resah para manusia tatkala Tuhan mengabulkannya. Begitulah manusia beserta keinginannya.

Baiklah, entah kekeringan dan kebanjiran, keduanya adalah pemberian Tuhan. Keduanya harus disyukuri.

Ada hal menggelitik yang hendak saya sampaikan terkait kondisi cuaca hari ini. Dimana dunia hari ini sedang lantang berbicara kemananusiaan, termasuk Indonesia. Suara kemanusiaan itu muncul setelah terjadi teror di ibu kota Prancis, Paris, Jum'at (13/11/2015). Teror yang memakan korban hingga ratusan jiwa itu mampu membuat dunia berteriak lantang karena kemanusiaan. Jika alasannya kemanusiaan, semua orang akan sepakat. Bagaimanapun membunuh orang yang tak berdosa bukanlah tindakan halal, dan semua agama mengecam perbuatan tersebut.

Jujur, dilain sisi penulis bising mendengarkan suara lantang atas nama kemanusiaan. Suara lantang karena menunjukkan diri sebagai bentuk toleran. Bahkan, suara lantang sebagai bentuk keprihatinan. Ya, penulis merasa ada ketimpangan pada suara kemanusiaan yang diteriakkan. Meski tidak sampai pada suara bohong, suara itu terdengar timpang. Nilai-nilai kemanusian seakan diperjuangkan jika ada timbal balik yang didapatkan. Ya, itu yang saya rasakan saat mendengar suara lantang para intelektual, pejabat, tokoh agama bahkan mahasiswa sebagai gerbong perubahan.

Mari sejenak kembali kepada persoalan yang terjadi di negeri ini. Berbulan-bulan kabut asap menjadi ironi. Tapi suara lantang itu tak segencar teror yang menimpa Paris. Saya pun bertanya, apakah asap ini tak cukup untuk kita bersuara lantang atas nama kemanusiaan? Bukankah asap itu telah merenggut hak kemanusiaan. Hak manusia untuk bernafas. Hak manusia untuk melakukan aktifitasnya setiap hari. Hak manusia untuk menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Hak manusia untuk mencari penghasilan demi menghidupi keluarganya. Bahkan hak untuk menghirup udara segarpun mereka harus dihalangi oleh masker. Tidak cukupkah semua ini untuk kita bicara lantang atas nama kemanusiaan.

Yang membuat saya semakin geli, bahasa kebakaran lebih bangga digunakan. Padahal kita mafhum, lahan dan hutan itu sengaja dibakar. Hal itu dilakukan demi memuluskan keberlangsungan perusahaan. Itupun tak sedikit para intelektual dan pejabat yang mengatakan, kebakaran sulit dipadamkan karena cuaca panas yang berkelanjutan. Inilah bangsa kita, memaknai kemanusiaan saja berbalut kepentingan. Padahal itu dilakukan setiap tahun, bahkan nyawapun harus direnggut karena nafsu perusahaan tersebut.

Terang sudah bagaimana perselingkuhan perusahan dengan pejabat negara. Hukumpun buta, bak lambang yang disematkannya. Keadilan yang seharusnya diperjuangkan hilang ketika berurusan dengan perusahaan. Musibah selalu menjadi alasan untuk menghindar. Tak banyak yang berteriak lantang. Bahkan suara mahasiswapun redup menyerupai asap. Hari ini asap sudah hilang dari pembicaraan. Suara kemanusiaan tertuju pada aksi teror di Paris dengan alasan toleran.

Kejadian terbaru semakin membuat geli. Bagaimana tidak, dana bansos yang dikucurkan Plt Pemerintah Riau kepada sebuah organsisasi mahasiswa Islam yang hendak melangsungkan kongres. Dilaksanakan di Pekanbaru, kongres mahasiswa itu mendapat kucuran dana hingga 3 M. Bukan angka yang sedikit. Di tengah rakyat membutuhkan, uang itu diberikan dan sangat tidak beralasan. Bahkan, dana untuk penanggulan asap jumlahnya jomplang. Tentu kejadian ini sangat menyedihkan.

Apapun alasan yang digunakan, kamanusiaan yang terdengar lantang tidak berangkat dari kesadaran. Ditambah lagi sisa dari dana disumbangkan oleh perusahaan. Wajar, jika publik menaruh kecurigaan. Bahwa intelektual diam karena sudah ada deal dengan perusahaan, juga pemerintahan. Ini bisa kita lihat dari suara protes atas kejadian yang menimpa Riau. Suara itu tak segarang ketika pemerintah menaikkan BBM.

Tentunya dari kejadian ini, pemerintah harus bertindak tegas kepada perusahaan yang sengaja membakar lahan dan hutan. Selanjutnya, bansos itu juga penting diusut. Pemerintah harus tegas menyikapi ini. Transparansi penting dalam dalam hal ini. Karena teriakan kemanusiaan sebagai bentuk keprihatinan terhadap Prancis adalah kebohongan. Teriakan itu sengaja dilantangkan demi menutupi sekian kesepakatan yang telah dirundingkan. Dalam persoalan teror Paris, sudah sepatutnya kita bertanya tatkala seluruh penjuru dunia bersuara. Ya, di balik kejadian Paris, siapa sebenarnya yang diuntungkan? Wallahu'alam. []

sumber gambar: di sini.

Saturday, November 21, 2015

Memaknai Netralitas PPRU I


Oleh: Muhammad Madarik

Tamhîd
Pondok pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang berfungsi sebagai wadah kaderisasi Muslim, pengembangan pengetahuan keagamaan, penguatan syariat ala ahl as-sunnah wa al-jamaah dan penyebaran misi Islam. Hingga saat ini, fungsi yang sudah tercermin dari sejak berdirinya pesantren tersebut dengan gigih tetap diperteguh oleh para pengasuh dengan segala dinamika perkembangannya. Beberapa pilar eksistensi pesantren yang telah dicanangkan sejak masa pendiri terus dipertahankan mulai generasi kedua, duet KH Khozin Yahya dan KH Mursyid Alifi, hingga dekade generasi ketiga sekarang ini, KH Mukhlis Yahya beserta Dewan Pengasuh.

Konsistensi pengasuh terhadap fungsi lembaga ini begitu kokoh hingga zaman kini, meskipun dalam setiap perjalanan sejarahnya, pesantren RU I menghadapi berbagai pergumulan politik praktis. Sebagaimana diketahui bahwa dinamika politik dalam sejarah bangsa berproses terus-menerus dengan segala ragam konstelasi yang terkadang panas menyengat. Gesekan antar kelompok partai dengan segudang kepentingan masing-masing seringkali membuat keadaan gemuruh; pengerahan massa, saling memojokkan, tuding-menuding (black campaign) dan banyak lagi variasi langkah saling serang menjatuhkan lawan. Saat suasana hiruk-pikuk politik di luar pagar pesantren bergejolak, Raudlatul Ulum I secara kelembagaan sama sekali tidak terusik. Keteguhan prinsip di tengah hempasan arus politik inilah tema yang akan diangkat dalam tulisan ringkas ini.

Menimbang Risiko
Menganalisis konsekuensi sebuah sikap yang diambil tentu tidak seperti layaknya menghitung angka-angka matematis yang jelas-jelas bersifat pasti, hitam di atas putih. Ada banyak faktor, kecenderungan dan indikasi-indikasi yang harus dijadikan obyek pembacaan. Oleh karenanya, tentu kurang bijak jika penilaian ini menjurus pada sebuah langkah penghakiman (judgement) benar-salah.

Sebagaimana kita tahu, sejak 1998 yang lalu PPRU I sudah bertekad mengambil posisi netral secara kelembagaan yang ditandai dengan terbitnya Surat Pernyataan dan Himbauan. Detail surat tersebut adalah:

"Dengan berbagai pertimbangan untuk serta dalam perjuangan menegakkan demokrasi, kami keluarga Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang menyatakan mendukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sementara pondok pesantren Raudlatul Ulum I sebagai sebuah lembaga pendidikan, kami nyatakan netral dan tidak terikat dengan partai politik apapun.

Selain itu, kami menghimbau kepada keluarga besar, santri pondok pesantren Raudlatul Ulum I pada khusunya dan masyarakat luas pada umumnya, supaya tetap rukun, bersatu dan senantiasa menjaga
ukhuwah islamiyah, meskipun partai politik yang dipilih tidak sama. Adalah hak asasi setiap orang untuk memilih partai politik yang disukainya, tanpa boleh dipaksa-paksa ataupun dihalang-halangi. Tetapi perbedaan partai politik tidak boleh menyebabkan kita saling benci, saling bermusuhan apalagi saling mengafirkan. Kegiatan politik jangan sampai membuat urusan perjuangan agama dan pendidikan menjadi terbengkalai. Apapun alasannya, al-akhlâq al-karîmah harus senantiasa dijunjung tinggi."

Menilik dari surat di atas sebetulnya ada dua pernyataan yang dapat disimpulkan. Pertama, sikap politik keluarga yang bernaung di bawah partai bikinan Gus Dur itu. Kedua, posisi PPRU I yang dinyatakan netral secara kelembagaan. Sedangkan di bagian lain, keluarga pengasuh menghimbau agar menjunjung kerukunan dan persatuan di atas segala macam kepentingan apapun.

Tetapi sejalan dengan dinamika perkembangan politik yang kian menjemukan sebagian masyarakat akibat "dagelan" politisi badut, maka poin pertama dari sikap politik keluarga dalam beberapa momen pesta demokrasi tidak lagi seragam sebagaimana dalam surat pernyataan itu. Ambil contoh dalam pilkada Malang 2015 ini, ada kiai dan gus dilingkungan PPRU I yang lebih memilih untuk tidak memilih, ada gus yang diam-diam menjatuhkan kecenderungannya pada salah satu calon, ada pula nyai yang bersikap memilih rivalnya, tetapi ada juga gus yang secara konfontatif menetapkan akan mencoblos lawan pilihan nyai tersebut.

Ragam pilihan yang ditunjukkan oleh sebagian anggota keluarga pengasuh itu jelas merupakan aspirasi individu yang tidak mewakili lembaga apapun. Kendati secara eksplisit, sisi lain dari konten pernyataan tersebut memuat sebuah dukungan kepada salah satu kontestan pemilu, tetapi tidak serta merta bisa dimaknai mengerangkeng seseorang untuk mengembara di atas altar politik, apalagi mengebiri hak azasinya di dalam satu lubang politik praktis. Sebab, putusan pilihan personal pasti berdasar pengamatan, ikhtiar dan pertimbangan atas situasi dan kondisi dunia politik yang terus beproses. Hanya saja, gejala-gejala perilaku oknum politisi di dalam perkembangan berikutnya memengaruhi pandangan setiap orang, termasuk masing-masing anggota keluarga pengasuh. Oleh karenanya, penulis menganggap absah saja keragaman pilihan masing-masing beliau. Tema penting dari pernyataan itu, yang harus dipegang teguh ialah sisi kebersamaan dan persatuan. Ternyata pada aspek ini, tembok persatuan segenap unsur keluarga pengasuh tak secuilpun terbelah.

Perbedaan sikap politik di lingkungan PPRU I yang tidak mampu mengoyak jaring ukhuwah antar keluarga seperti ini dibandingkan dengan sebuah lembaga lain yang terang-terangan mendeklarasikan pada satu pilihan nyata lebih menguntungkan. Netralitas model PPRU I dipandang memiliki beban risiko agak ringan, secara psikologis dan politis, ketimbang sikap yang lain. Memang pada tataran kepentingan, sikap seperti ini tidak banyak menghasilkan poin. Tetapi bukan berarti peluang untuk melakukan lobi-lobi kepada pemegang kekuasaan melemah. Keanekaragaman ikhtiar politis masing-masing unsur keluarga masih merupakan potensi daya tawar dengan pintu-pintu kekuasaan. Tinggal sejauh mana tingkat kepiawaian lobi, keterampilan strategi dan kecerdasan insting masing-masing anggota pengasuh mengetuk daun pintu instansi. Hebatnya, hal ini sama sekali tidak akan menggoyahkan komitmen netralitas pesantren PPRU I yang telah dibangun. 

Hanya saja, kesempatan langkah pendekatan kepada penguasa tidak begitu menganga selebar lembaga-lembaga yang semenjak pertama sudah memproklamirkan sikap politiknya pada satu pilihan. Cuma di balik itu, sebagaimana kita maklum bahwa semakin tinggi pohon, maka terpaan anginnya juga kian membesar. Sikap politis merupakan kaidah matematis; jika menang, maka menuai banyak pundi-pundi. Tetapi apabila kalah, maka tak ubahnya bagai orang jatuh tertimpa tangga pula.

Dari situasi dunia politik yang penuh dengan intrik, prediksi, permainan kotor, slogan “tidak ada persahabatan abadi kecuali kepentingan”, maka eksistensi PPRU I sebagai lembaga pendidikan dan dakwah lebih aman. Sebagai pesantren yang telah berumur, PPRU I sudah mengorbitkan banyak tokoh masyarakat dengan segala macam peran dan ragam pengaruhnya. Dalam persoalan keikutsertaan masing-masing alumni di dalam kancah perpolitikan tidak luput dari pengaruh kearifan lokal, dinamika wacana dan perkembangan situasional. Oleh karena itulah, seringkali bendera politik yang dikibarkan tidak satu warna antar masing-masing mereka. Tetapi berkat sikap netral PPRU I yang sudah dikukuhkan, komunikasi antar pengasuh, alumni dan stakeholder tetap terjaga dengan baik, dan interaksi tiga lingkar ini tak pernah porak-poranda oleh fanatisme partai dan sentimen rivalitas.[]

sumber gambar: di sini.

Monday, November 16, 2015

Benar atau Salah?


Oleh: Najmah Muniroh

Menurut kamu kenapa waktu sekolah bu guru sering banget ngasih soal pilihan ganda? Hayo, kenapa coba? Ternyata eh ternyata itu buat ngelatih kita biar pinter ngambil keputusan pas dewasa nanti. Karena sebelum memilih satu jawaban, kamu harus bener-bener yakin dengan sepenuh jiwa dan raga.  Ndak nyangka kan, makna soal pilihan ganda ternyata sedalam itu? Sama.Ya, meskipun saya kadang ngerjainnya asal-asalan aja sih. Asal coret yang penting beres, selesai, kumpulin, terus pulang. Menariknya, dari soal pilihan ganda jaman dahulu kala itu, saya jadi belajar bahwa memilih antara benar dan salah ternyata gak segampang ngitung kancing baju.

Ngomong-ngomong soal benar dan salah, beberapa waktu lalu saya dibikin bête sama dua orang mahasiswi di sebuah acara seminar nasional. Jadi ceritanya,di akhir sesi seminar nasional ada seorang mahasiswi dari kampus lain, sebut saja Siti mempresentasikan hasil risetnya. Risetnya itu berupa media pembelajaran yang berbentuk monopoli sebagai media edukatif untuk mencegah kekerasan seksual pada anak. Hebatnya, mahasiswi cerdas ini baru semester enam tapi udah diajakin kerja sama ama Polres untuk sosialisasi game edukatifnya ini pada masyarakat. Wuzz, sangar toh si Siti ini. Tapi apa yang terjadi?.Alih-alih dapet apresiasi dan tepukan tangan meriah,si Siti malah dapat cibiran kasar dari dua gadis rese.  Ckckckck…. Sungguh ter-la-lu.

Tidak seperti lazimnya peserta seminar yang dengerin seminar baek-baek, dua cewek nyebelin ini malah sibuk mengoreksi beberapa pronounciation bahasa Inggris yang salah dari Siti. Belum juga puas, giliran bajunya si Siti yang dikomentarin, dibilang kampunglah, ndak stylishlah, ndak kekinianlah. Duh. Saya bukannya ndak tau kalau dua gadis ini kuliah di kampus para fashionista di mana pepatah Ajining Rogo Soko Busono dijunjung tinggi. For your information, saya juga kuliah di tempat yang sama dengan dua gadis tersebut koq. Tapi saya ndak gitu-gitu amat tuh. Lagian saya rasa bukan soal selama Siti memakai pakaian yang sopan dan sesuai acara. Urusan stylish mah urutan empat puluh sembilan kalee. Selain itu, pronounciation kepleset khan hal manusiawi. Yang penting kontennya dapet, dan audience pada paham. Beres toh. Saking keselnya sama kelakuan jahiliyah mereka, saya langsung menoleh ke arah belakang sambil pasang muka serem macem manusia harimau kesurupan jin botol sambil berkata “Shut up your mouth. Respect others!

Rasa gemes saya memuncak karena ketemu dua gadis songong yang ngerasa jadi polisi benar dan salah. Ini orang maunya apa?. Dikasih ilmu baru ndak mau, dikasih saran malah nyerang yang ada di di depan. Kenapa? Karena dua gadis itu kuliah di tempat lebih bonafit lantas mereka berhak mencibir Siti? Iya? Gitu?! Atau karena pronounciation mereka berdua lebih bagus lantas mendengarkan pelajaran dari Siti yang level bahasa Inggris-nya di bawah mereka adalah buang-buang waktu?.Aishh, sungguh pemikiran yang KAM-PU-NGAN (-_-*). Eh Mbak, coba Ajining rogo soko busono diimbangi dengan pepatah lain deh. Unzhur ma qoola wala tanzhur man qoola (red:Lihat apa yang dibicarakan, jangan liat siapa yang bicara) misalnya. Lagian rempong banget dunia lu kalo mau dengerin orang musti liat posisi, baju dan akreditasi kampus si pembicara dulu. Iya khan?

As you know, fenomena tutup telinga pada kebenaran yang berasal dari orang lain hanya karena orang lain itu posisinya lebih rendah mah udah biasa di masyarakat kita, udah mendarah daging malah. Itu karena kebanyakan orang membagi dunia jadi dua bagian. Hitam dan putih, salah & benar. Kalo istilah Prof. Warsono (Rektor Unesa) ini namanya “paradigma berfikir diagonalistik”. Jadi, kalo beda pendapat, masing-masing berusaha membenarkan pendapat sendiri. Karena kalo pendapat orang lain ndak disalahin, orang-orang bakal nganggep pendapat kita salah dong. Kesimpulannya, untuk terlihat benar saya harus nyalah-nyalahin orang.  Padahal, konsep ini ndak sepenuhnya bener juga. Konsep macem ini bikin orang jadi otoriter, suka maksain pendapat, gak mau dengerin saran dan kritik dari orang lain. And we can see clearly bahwa paradigma berfikir diagonalistik ini ndak sesuai ama etika akademis yang mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran tunggal dan mutlak di muka bumi. Ahzeg~

Lah trus solusinya gimana biar kita ndak terjebak di pemikiran sempit dan ribut mengkotak-kotakan dunia jadi hitam dan putih, salah dan benar? Lha wong nyatanya emang begitu koq. Kalo kamu ndak salah, berarti kamu berada pihak yang benar toh. Ya gampang aja brow, jangan dipikir susah. Coba aja paradigma berfikir diagonalistiknya diganti jadi pola pikir alternatif.

Sebenernya, di dalam Islam mah sebenernya kita udah dikenalin pola pikir alternatif dari ratusan tahun lalu ama Nabi. Cuma kitanya aja yang ga nyadar. Istilahnya adalah,“perbedaan itu rahmat”. Yang bermakna hormati pemikiran dan pendapat orang lain, jadikan sebagai alternatif. Dengerin saran orang lain dan jangan cuma sibuk membela diri dengan nyalahin balik yang ngasih kritik.

Yang kritik juga begitu, sampaikan dengan bahasa yang baik, yang halus.Kalo bisa sampaikan  secara personal, jadi antardua pribadi gitu. Jangan malah ngatain di belakang atau mempermalukan di depan umum. Lagian dengan ngebongkar kejelekan temen di mata orang banyak nggak bakal bikin kamu keliatan hebat koq, yang ada orang-orang malah makin ndak simpati sama kamu.I barat ngelempar kotoran pakai tangan kosong, ya tangan kamu pasti ikutan bau. Dan lagi, kalo kita bisa sharing ilmu, saling menghargai pendapat, dapet kritik yang membangun tanpa harus saling bongkar aib, jagat raya pasti bakal terasa lebih indah. Dan lagi kenapa plat mobil Malang itu N dan plat mobil Surabaya L itu aja kamu gak tahu kan? Gitu ngerasa paling tau segala. Ngerasa jadi manusia paling bener. Lah? Khan lucu.

As you see, di dunia emang ga ada kebenaran mutlak, gaess. Kenapa? Karena kebenaran mutlak HANYA milik Gusti Allah semata. Wallahu a’lam bish-showab.[]

sumber gambar: here.

Wednesday, November 11, 2015

Sejarah Ponpes Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang


Profil KH Yahya Syabrawi 

KH Yahya Syabrawi lahir pada tahun 1907 di desa Tattat Sampang Madura. Ibu beliau Nyai Latifah putri KH Isma’il (Ombul Sampang Madura), ayahnya bernama KH Syabrawi (Sampang). Pengalaman pendidikan beliau dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu: 

1) Yahya kecil mulai menempa ilmu dasar-dasar agama dengan belajar kepada orang tuanya sendiri, KH Syabrawi. 

2) Kemudian menginjak dewasa, beliau nyantri kepada kiai Makki Sampang selama delapan tahun. Di pondok pesantren ini, Yahya muda diperintahkan oleh kiainya untuk membantu mengajar, karena dipandang punya prestasi lebih dibanding santri yang lainnya. 

3) Kemudian, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya (perjalanan keilmuan) ke pondok pesantren Panji Sidoarjo Surabaya yang disuh oleh KH Khozin. 

Pada tahun 1937, beliau mengikuti pamannya yang berada di desa Ganjaran. Sewaktu berada di tempat ini, akhirnya beliau dikawinkan oleh KH Bukhori Isma’il dengan putrinya yang tidak lain adalah saudara sepupu sendiri. Tetapi, meski sudah menempuh hidup baru keinginan untuk terus memburu ilmu masih tetap membara dalam hatinya.  Hal ini terbukti, beliau masih sering mengikuti pengajian kilatan di bulan puasa kepada gurunya di Sidoarjo. “Itulah kesemangatan kiai Yahya dalam hal ilmu. Ya begitu, beliau membawa kopi, gula dan segala macam keperluan sehari-hari di pondok,” demikian cerita H Ali Rohmat, salah satu menantu KH Zainulloh Bukhori dari Karang Ploso Batu.

Keluarga yang dibina kiai Yahya boleh dianggap sebagai keluarga besar, karena sebagaimana lazimnya orang dahulu, kiai Yahya memiliki putra-putri lebih dari sepuluh orang. Daftar nama di bawah ini menggambarkan putra beliau:
PUTRA-PUTRI KH YAHYA SYABRAWI

NO
Nama
Hari
Tahun
Keterangan
01
Khozin
Kamis
1939
Lahir
1999
Wafat
02
Rosyidah


Wafat pada umur 9 tahun
03
Asyiyah
Ahad
1943
Lahir

Wafat
04
Munighoh
Kamis
1946
Lahir

Wafat tanpa keterangan
05
Ahmad Hariri
Kamis
1948
Lahir
06
Hamimah
Kamis
1953
Lahir
07
M. Sa’id


Kembar, satunya wafat keguguran
08
M. Syakur
Sabtu
1955
Lahir

Wafat tanpa keterangan
09
Mahmudah
Rabu
1958
Lahir

Wafat tanpa keterangan
10
Qosidah
Senin
1959
Lahir
1965
Wafat
11
Ghoniyah
Ahad
1960
Lahir
12
Khosyi’ah
Rabu
1963
Lahir
13
Jazilah
Ahad
1963
Lahir

Wafat pada waktu kecil
14
Mukhlis
Kamis
1966
Lahir
15
M. Madarik
Senin
1972
Lahir
Setelah kurang lebih sepuluh tahun beliau mukim di desa Ganjaran, beliau mulai merintis madrasah Miftahusyibyan yang kelak kemudian hari bernama Raudlatul Ulum. “Perubahan nama itu atas istikharah KH Khozin. Ya putra kiai Yahya sendiri,” kata kiai Romli dari Madura. Lembaga sekolah yang dibuka oleh kiai Yahya itu atas perintah kiai Bukhori Ismail dengan bantuan para tokoh masyarakat kala itu, diantaranya KH As’ad (pendiri pesantren Miftahul Ulum), KH Qoffal Muhammad (mertua KH Qoffal Syabrawi), Hafidz Abdurrozak (seorang alumni Gontor), Bapak Dumyati dari Jombang.

Pada awalnya pelaksanaan kegiatan pendidikan diadakan di rumah penduduk dan rumah ibadah. Diantara lokasi yang dijadikan tempat proses pembelajaran itu adalah rumah Nyai Zakariya dan musholla KH Ahmad Hambali. Tetapi berkat kegigihan para kiai tersebut dalam memperjuangkan munculnya sebuah pendidikan di desa yang dikenal sebagai salah satu tempat penghasil tebu terbaik itu, akhirnya Kepala Desa H Abdurrahman ketika itu turun tangan mengupayakan tanah waqof untuk lahan gedung madrasah.

Pada masa awal, pendidikan di madrasah ini menggunakan metode ala salaf. Bahkan kebiasaan siswa dalam belajar juga masih berperilaku santri kuno seperti, sarung dan bakiak. Tetapi karena perkembangan zaman, kiai Yahya dengan dibantu oleh beberapa tokoh lainnya, antara lain Drs KH Mursyid Alifi (menantunya), kemudian berinisiatif mengembangkan pengetahuan dalam madrasah dengan memasukkan kurikulum dari pemerintah. Semenjak itulah madrasah Raudlatul Ulum semakin pesat perkembangannya dan diminati masyarakat, karena dinilai masyarakat RU merupakan lembaga pendidikan yang mampu menempatkan diri di ruang dan waktu sesuai tuntutan perkembangan zaman. Selanjutnya, pada tahun 1985 kiai Yahya bersama KH Utsman Mansoer, salah satu pendiri Unisma Malang, membuka Fakultas Syari’ah Unisma di desa Putat Lor. Fakultas yang kini menjadi STAI Al-Qolam itu dimaksudkan untuk menjadi jenjang lanjutan bagi aliyah rintisannya dan madrsah aliyah yang lain.

Di samping merintis sebuah sekolah, pada tahun 1949 kiai yang wafat di RSI Gondanglegi itu juga mendirikan pondok pesantren Raudlatul Ulum. Kemudian KH Yahya Syabrawi bersama istri, Ny Hj Mamnunah pindah dari rumah mertuanya, KH Bukhori Ismail, untuk mendirikan pondok pesantren. Di tempat  tinggal barunya yang terletak sebelah selatan dari rumah mertuanya itu, KH Yahya menampung para santri yang belajar di madrasah untuk diberikan pendalaman ilmu-ilmu yang sudah didapat di madrasah secara lebih intensif lagi. Akhirnya KH Yahya Syabrawi dengan dibantu masyarakat sekitar mendirikan sebuah asrama atau pemukiman para santri, yang kemudian hari lebih dikenal dengan nama Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I, atau disingkat dengan sebutan PPRU I.

Pada awal berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I hanya memiliki sepuluh orang santri yang menempati asrama sederhana yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap daun tebu. Kesepuluh orang itu antara lain adalah Ahmad Hambali, Ismail (H Mahmudi), Sukri (H Jumaidi) dan Kurdi. Namun sejalan dengan perputaran masa, grafik santri terus menanjak, hingga pada tahun 1969-1970 jumlah santri mencapai 240 orang.

Di lingkungan pondok pesantren ini kiai Yahya membina para santrinya dengan berbagai pengajian kitab kuning. Sebagaimana pesantren salaf lain, salah satu kiai yang ikut memprakarsai berdirinya RSI Gondanglegi itu menjadikan kitab tafsir Jalalain, kitab hadits Riyadhussholihin dan kitab nahwu-shorof Ibnu Aqiel sebagai kitab bacaan rutin yang terus diulang tatkala sudah khatam. Ketiga kitab klasik ini dibaca usai sholat Maghrib hingga menjelang Isya’. Sehabis sholat Dhuhur, beliau membaca al-Iqna’ dan ditambah kitab kecil lainnya dengan metode sorogan.

Perhatian beliau terhadap kegiatan belajar para santri sangat besar sekali, terutama masalah sekolah ke madrasah. Hal ini tampak pada “kloning besi” yang berada di samping kamar beliau selalu ditabuh tatkala jarum jam menunjukkan pukul 07:00 wib. Setelah itu, beliau mengontrol keberangkatan para santri, hingga kadang ke kamar-kamar mereka. “Waduh, kalau beliau sudah mengontrol ke kamar-kamar teman-teman morat-marit berhamburan. Bahkan, ada yang melompat dari lantai atas, padahal ia sedang sakit. Saking takutnya,” ungkap kiai Mastuki, salah satu santri asal Pagedangan Sumber Manjing.

Satu hal lain yang menjadi perhatian serius dari kiai Yahya ialah masalah sopan santun santri terutama begaimana sikap mereka kepada kedua orang tuanya. Hal pertama menyangkut kesopanan kepada kedua orang tua yang selalu ditekankan oleh beliau adalah persoalan cara bicara kepada mereka, hingga sampai beliau pernah berkata :”Tenimbeng tang santreh tak abesah ke oreng tuanah, ango’ tak abesah ke sengko’ (ketimbang santri saya tidak berbahasa halus kepada orang tuanya, lebih baik tidak usah berbahasa halus kepada saya).”

Ulama yang dikaruniai 15 putra itu dikenal oleh santri-santrinya sebagai sosok kiai yang sangat istiqomah dalam menjaga sholat berjamaah. Menurut riwayat dari salah satu alumni, beliau akan mengajak sholat anak kecil sekalipun, bila ketinggalan berjemaah. Kedisiplinan beliau ini tidak saja pada persoalan sholat berjemaah, tetapi hingga pada bangun malam beliau selalu menjaga waktu. Sudah menjadi kebiasaan, beliau bangun pada jam 1 malam untuk mengambil wudlu’. Menurut ibu Nyai Mamnunah, pada awalnya beliau bangun jam 3 malam, tapi menginjak semakin sepuh, beliau bangun sekitar jam satu. Tidak itu saja, ke-istiqomah-an beliau tampak pada hampir semua doa harian sebagaimana tuntunan dalam kitab. Mulai dari doa mau tidur, bangun tidur, masuk kamar kecil, doa setelah wudlu’, hingga doa naik kendaraan beliau baca. Bahkan jika turun hujan pertama dari musim kemarau, beliau mandi berhujan-hujan sebagaimana disunnahkan.

Oleh karena istiqomah inilah, maka tidak heran dalam pandangan para alumni, kiai yang memanggil istrinya dengan sebutan “Kho” ini kadang memiliki penglihatan basyiroh (mata hati). Pernah suatu hari, menurut cerita Ustadz Isma’il Fathulloh dari Boro, Ustadz berperawakan kurus ini berniat membeli tv untuk keluarganya. Sesampainya di gerbang timur pesantren, kiai Yahya memanggil dan memegang pundaknya sambil berkata; ”Kalau mau jadi anakku, jangan beli tv!” Padahal ia belum mengucapkan sepatah katapun.

Lain lagi cerita kiai Romli dari Madura. Ia pernah disuruh oleh kiai Yahya meminta uang kepada Kepala Desa. Sambil berjalan menuju gerbang pesantren sebelah selatan, santri gemuk ini bergumam dalam hati, “katanya uang negara haram. Tapi saya disuruh minta.” Spontan kiai Yahya memanggilnya, ”Heh, itu bukan uang negara. Itu uang tebuku yang ada di bapak Kepala Desa !” hardik beliau dengan keras.

Beliau wafat hari Jumat 27 November 1987, jam 18: 30 WIB. Semoga ilmu dan istiqomahnya tetap mengalir pada santri-santrinya. Amin. 

Sumber: Diolah dari berbagai sumber 

Profil Ponpes Raudlatul Ulum I. 
Lembaga pendidikan ini bernama Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I, selanjutnya disingkat PPRU I, merupakan pesantren yang didirikan di desa Ganjaran Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang pada tahun 1949 M/1368 H., oleh KH. Yahya Syabrawi. Pondok Pesantren ini berkedudukan di Jalan Sumber Ilmu nomor 127 Desa Ganjaran kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang.

Pondok Pesantren ini beraqidah Islamiyah ‘ala Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan berazaskan al-Quran, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas serta bersifat kekeluargaan, kemasyarakatan dan keagamaan.

Pondok pesantren ini berfungsi:
1. Sebagai wadah menuntut ilmu pengetahuan untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan agama, bangsa dan negara.

2. Sebagai tempat kaderisasi putra dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk kelangsungan syari’at Islam dimuka bumi.

3. Sebagai wadah penghimpun putra Islam dalam upaya memperkokoh ukhuwah basyariyah, ukhwah islamiyah dan ukhwah wathoniyah.

Pondok Pesantren ini bertujuan:
1. Membentuk pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT., berilmu, berakhlaqul karimah, berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham “aswaja” dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD. 1945.

2. Menciptakan keseimbangan dan kesempurnaan pendidikan jasmani dan rohani, mental dan kepribadian yang luhur.

3. Menanamkan panca jiwa santri yang luhur yaitu: (aKeikhlasan dan kesadaran.(b) Kesederhanaan.(c) Kemandirian. (d) Persatuan dan kesatuan. (e) Penegakan amar ma’ruf nahi mungkar.



Untuk mencapai tujuannya Pondok Pesantren ini berusaha:

1.  Membina dan meningkatkan kedisiplinan serta kesadaran Santri dalam melaksanakan segala hak dan tanggung jawab sebagai pribadi dan anggota santri dalam rangka pengembangan pengamalan syari’at Islam ahlussunnah wal jama’ah.



2.  Mengembangkan sumberdaya santri melalui pendekatan keagamaan, keilmuan serta keterampilan sebagai wujud partisipasi dalam menunjang program pesantren.



3.  Mengupayakan tercapainya tujuan Pondok Pesantren dengan menyusun landasan program perjuangan relevansi dengan perkembanagn masyarakat.



4.  Mengupayakan jalinan komunikasi dengan pihak luar selama hal tersebut tidak merugikan dan tidak bertentangan AD/ART.



Lambang Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I:
Makna lambang adalah:

1.      Lambang Pondok Pesantren “Raudlatul Ulum” I berbentuk segi lima yang berarti rukun Islam dan dasar Negara Pancasila



2.      Warna dasar hijau, dan dua garis berwarna hitam pada bagian luar menggambarkan nurani yang sejuk mendamaikan di dalam bingkai rukun iman, Islam dan nilai-nilai Pancasila.



3.      Dibagian atas tercantum tulisan Pondok Pesantren “Raudlatul Ulum” pada helai pita berwarna putih menunjukkan seluruh dimensi kehidupan selalu dipayungi oleh berkah guru dan mencerminkan keberlangsungan hubungan kekeluargaan sepanjang masa.



4.      Dibawahnya terdapat bintang sembilan setengah melingkar sejajar yang paling atas lebih besar dari yang lain, dan semuanya berwarna kuning memperlihatkan arti Nabi Muhammad, para khulafa’urrosyidin dan empat madzhab fiqh, atau bermakna pengakuan dan penghormatan kepada wali songo di bumi nusantara.



5.      Lurus dibawah bintang paling kanan terdapat menara masjid berwarna putih berarti kehidupan harus berpusat pada semangat eksistensi masjid.



6.      Disebelah kiri menara masjid terdapat gambar ka’bah berwarna hitam bermakna seluruh aspek kehidupan menyatu dalam kiblat iman, islam dan ihsan sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.



7.      Seperempat bumi diatas sayap burung dengan warna dasar biru dan garis bumi berwarna hitam menunjukkan orientasi nilai-nilai ajaran guru diaplikasikan secara membumi.



8.      Burung dara (merpati) sedang mengepakkan sayapnya berwarna putih dan moncong yang sedang menghadap kepada wadah tinta yang berwarna hitam berarti semangat belajar tanpa henti dan terus menerus menyebarkan misi dakwah dan keilmuan.



9.      Di bawah sayap bagian kanan terdapat lambang buku terbuka, dan pada bagian kiri terdapat gambar tumpukan buku, yang semuanya berwarna hitam bermakna Al-Qur’an dan hadits sebagai dasar keilmuan dan sikap yang dikembangkan atau berarti semua cara berfikir, dan berperilaku dilandaskan kepada validitas referensial yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.



10.  Dibawah tinta terdapat hurup “PPRU I” dengan titik diataranya berwarna hitam menegaskan singkatan nama dan urutan dari sekian Pondok Pesantren Raudlatul Ulum.



11.  Pada bagian paling bawah tercantum tulisan “GANJARAN GONDANGLEGI MALANG” menandaskan lokasi PPRU I secara geografis.



TATA TERTIB/UNDANG-UNDANG

PONDOK PESANTREN “RAUDLATUL ULUM I”

GANJARAN GONDANGLEGI MALANG

Bab I

Kewajiban Umum

Pasal 1

1.      Semua santri wajib menjaga nama baik Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I.

2.      Semua santri wajib taat dan disiplin terhadap Undang-undang Pondok.

3.      Semua santri wajib menjalin persatuan dan kesatuan Pondok.

4.      Semua santri wajib berakhlak karimah.

5.      Semua santri wajib menjaga kebersihan dan keamanan Pondok.



Bab II

Kewajiban Khusus

Pasal 2

1.      Semua santri wajib sholat berjamaah dengan wiridan sampai selesai.

2.      Semua santri wajib mengikuti musyawarah pada jam yang telah ditentukan.

3.      Semua santri wajib mengaji dan bersekolah.

4.      Semua santri wajib melaksanakan piket malam sesuai dengan ketentuan.

5.      Semua santri wajib ikut serta kerja bakti untuk memelihara kebersihan.

6.      Semua santri wajib bersopan santun, terutama kepada tamu.



Pasal 3

1.      Semua santri wajib memiliki kartu anggota dan lencana Pondok.

2.      Semua santri wajib memenuhi administrasi Pondok.

3.      Semua santri diperkenankan pulang atau bepergian, apabila mendapat surat izin resmi.

4.      Semua santri setiap keluar kompleks pesantren harus memakai lencana Pondok.  



Bab III

Larangan

Pasal 4

1.      Semua santri dilarang pergi ke pasar selain hari Jumat.

2.      Semua santri dilarang keluar kompleks Pondok sesudah jam 22:00 WIB untuk santri putra dan jam 17:00 WIB untuk santri putri sekalipun menghadiri pengajian umum terkecuali mendapat izin.

3.      Semua santri dilarang nonton TV.

4.      Semua santri dilarang berolah raga di luar waktu yang telah ditentukan.

5.      Semua santri dilarang makan di warung sekalipun indekos.

6.      Bagi santri putri dilarang menerima kiriman di luar kompleks Pondok Raudlatul Ulum I.



Pasal 5

1.      Semua santri dilarang keras berbuat mungkarot seperti ghosab, mencuri atau melihat tontonan.

2.      Semua santri dilarang keras mengadakan hubungan putra-putri yang bukan mahram.



Bab IV

Sanksi

Pasal 6

1.      Setiap pelanggaran Tata Tertib dikenai sanksi selaras dengan pelanggarannya, berupa peringatan, hukuman, skorsing, pemecatan dan pengusiran.



Bab V

Lain-lain

Pasal 7

1.      Hal-hal yang belum diatur dalam Tata Tertib atau Undang-undang ini akan ditetapkan melalui peraturan khusus.



Demikian Undang-undang PPRU I, harap ditaati dan diperhatikan.



Pengasuh PPRU I,                                                      Pengurus PPRU I,

KH Yahya Syabrawi                                                   Drs. H.A. Mursyid Alifi





Keanggotaan Pondok Pesantren ini meliputi:

Setiap orang yang beragama Islam yang menetap dan/atau belajar di Pondok Pesantren ini, keberadaannya direstui oleh pengasuh dan menyetujui terhadap AD/ART Pondok Pesantren dan/atau peraturan dapat diterima menjadi anggota sah



Struktur organisasi secara hirarkis yang ada dilingkungan Pondok Pesantren ini terdiri dari:

1.  Pembina

2.  Pengasuh Utama

3.  Dewan Pengasuh

4.  Pengurus Yayasan Kiai Haji Yahya Syabrawi

5.  Pengurus Pesantren

Kelengkapan struktur kepengurusan pesantren dan tata tertib diatur di dalam AD/ART dan/atau instruksi Pengasuh/Dewan Pengasuh, kesepakatan, atau peraturan Pengurus.



Sikap Politik 
Sebagai bagian dari masyarakat, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I tidak akan lepas dari kehidupan kemasyarakatan, termasuk masalah politik. Sikap yang diambil oleh  pengasuh PPRUI berkaitan dengan persoalan politik beragam dari masa ke masa. Keragaman ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan kondisi yang memunculkan untung-rugi (mashlah wa mafsadah) terhadap kelembagaan, keagamaan dan keorganisasian. Organisasi yang dimaksud adalah organisasi kemasyarakatan, NU, yang menjadi kumpulan induk hampir semua pesantren, termasuk  PPRU I.

Oleh karena itulah, pada zaman KH Yahya Syabrawi, PPRUI dengan tegas  mendukung PPP yang kala itu menjadi representasi partai politik bagi umat Islam, terutama warga NU. Tetapi ketika kran politik bangsa mulai terbuka ditandai dengan era reformasi pada tahun 1998, pada awalnya KH Khozin Yahya mengarahkan dukungannya kepada PKB, karena partai ini dinilai dibidani oleh para tokoh NU. Setelah keberpihakan kepada politik dianggap kurang menguntungkan terhadap eksistensi pendidikan PPRU I, dan harmonisasi hubungan keluarga, dan alumni, serta atas pertimbangan beberapa anggota keluarga PPRU I, maka sosok pengganti kiai Yahya itu bersama Dewan Pengasuh lainnya memilih posisi netral dengan mengeluarkan Surat Pernyataan yang ditanda-tangani oleh Pengasuh Utama dan Dewan Pengasuh. Tetapi netralitas yang dipilih itu dilakukan secara kelembagaan, oleh karena itulah keputusan tersebut bukan berarti memberangus hak berpolitik seseorang. Berdasarkan nalar ini, kegiatan-kegiatan yang bernuansa politis menjadi tetap absah jika dilakukan salah satu Dewan Pengasuh mengatasnamakan pribadi. 

Sumber: Diolah dari berbagai sumber.

Dihimpun dan ditulis ulang oleh Muhammad Madarik pada 11 November 2015.

sumber gambar: di sini
Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top