Monday, September 12, 2016
Catatan Perjalanan Ke Pantai Goa Cina
Sunday, December 27, 2015
Novel Ayah dan Realisme-Magis yang Tak Tuntas
Saturday, July 18, 2015
Mercon VS Meriam Bambu
![]() |
| [photo credit: here] |
Sudah hari keberapa setelah lebaran, suara mercon masih bertalu-talu. Yang satu berlomba paling nyaring melebihi yang lain. Luar biasa industri polusi suara ini.
Namanya saja perayaan, tentu suasananya tidak boleh senyap-senyapan. Setidaknya begitu gaya berpikir kita di Nusantara. Kita sudah kadung terbiasa mengelola hari raya seperti suatu pesta, menonjolkan bebunyian di dalamnya. Dan di hari lebaran, cara itu berlangsung secara sangat massif. Ragam bebunyian kita temui di mana-mana.
Baiklah, tidak semua orang suka merayakan lebaran dengan cara pesta seperti itu. Termasuk saya. Dan berkat ajang sosialisasi dan silaturahim di hari ini, saya juga bisa mendengar komentar orang yang juga tidak suka dengan cara pamer bebunyian keras di hari raya lebaran. Di kesempatan bertamu dan dikunjungi tamu, tema mercon dan musik keras menjadi salah satu tema hangat dalam obrolan.
Dari beberapa obrolan dan sudut pandang, yang menarik perhatian saya adalah cerita orang-orang tua. Pembaca tentu bisa menduga isi obrolan orang-orang tua itu. Ya, mereka bercerita pengalaman mereka di masa lalu.
Rupanya, cara merayakan lebaran dengan bunyi-bunyian kencang adalah warisan para tetua juga. Mereka di masa mudanya juga melakukannya. Hanya saja, teknologinya berbeda.
Orang-orang dahulu menciptakan suara meledak-ledak bukan melalui petasan. Mereka membuat alat dari pohon bambu dan karbit (CaC2). Alat ini dikenal dengan sebutan Meriam Bambu.
Meriam Bambu bisa dibikin dengan mudah, tapi efek ledakannya luar biasa. Kita hanya perlu membuat lobang kecil di sisi lingkaran bambu, mengisinya dengan air dan sebongkah kecil karbit ke dalamnya. Saat lobang itu berinteraksi dengan api, terciptalah suara ledakan kencang bak suara meriam betulan.
Kenapa muncul ledakan yang sangat kuat dari alat ini? Baiklah, kita main-main dengan ilmu Kimia dan Fisika sedikit. Saat karbit dan air dicampur, terjadi reaksi kimia yang melahirkan gas Asetilena (C2H2). Gas ini sangat sensitif terhadap api. Saat terbakar, gas ini bisa menghasilkan ledakan. Oleh sebab gas itu menggumpal dan terjebak di dalam liang bambu yang dilobangi tadi, saat berinteraksi dengan api, terjadi ledakan yang sangat kuat.
Karbit—juga disebut Kalsium Karbida—mudah ditemui di sekitar kita. Benda ini kadang kita gunakan untuk mematangkan buah mentah. Kadang kita temui bengkel yang memanfaatkan karbit untuk bahan mengelas. Di jagad industri, gas Asetilena yang dihasilkan dari karbit digunakan untuk memotong baja. Manfaat karbit sebetulnya masih banyak lagi. Tapi kita kembali ke cerita awal tadi saja.
Yang membuat cerita bapak tua itu makin menarik, kesan kenangan yang dikandungnya sangat padat. Bapak tua itu bercerita, bahwa pelaku ledakan Meriam Bambu adalah anak-anak nakal—seolah bapak itu ingin menyusupkan kesan bahwa dulu ia tergolong anak nakal juga. Para orang tua akan melarang anak-anaknya bermain Meriam Bambu, sebab mainan ini membawa risiko tidak ringan. Tapi anak nakal mana yang serba patuh orang tua dan tidak mau ambil risiko?
Setelah Meriam diledakkan melalui pembakaran gas Asetilena, api yang di dalam bambu masih tersisa. Agar bisa berfungsi lagi, api itu harus dipadamkan dengan cara ditiup kencang-kencang. Karena produksi gas Asetilena masih berlangsung di dalam bambu, terkadang muncul semburan api melalui lobang itu. Nah, anak yang kurang hati-hati akan kehilangan kedua alis dalam proses itu.
Itu masih tergolong risiko ringan. Bahaya lebih besar lagi adalah saat ledakan yang dihasilkan tidak mampu dibendung oleh bambu. Tidak hanya menimbulkan bunyi semata, bambu itu malah benar-benar meledak. Pada saat seperti itu, cedera bakar bisa diderita oleh pengguna Meriam Bambu.
Oleh karena itu wajar kalau para orang tua dahulu melarang anak-anaknya bermain alat ini. Risikonya mengkhawatirkan, sama mengkhawatirkannya seperti petasan sekarang.
Namun yang terbayang dibenak saya, sejauh sebagai penghasil polusi suara, Meriam Bambu jauh lebih baik ketimbang petasan. Ia lebih baik sebab untuk menikmatinya, kita dituntut untuk membuatnya sendiri. Jadi tidak instan dan tidak konsumtif.
Berbeda dengan mercon. Benda ini sudah terlalu dalam terjun ke dunia industri, sehingga cukup dengan membelinya kita sudah bisa menikmati. Mudah sekali, tak ada tuntutan kerja keras di situ.
Meriam Bambu tergolong mainan hand-made, hasil kerajinan. Dengan begitu, cita rasa kesenian juga masuk di situ. Bagaimana tidak? Untuk menghasilkan suara ledakan yang keras, kita juga kudu mempertimbangkan presisi dan keseimbangan komposisi. Air yang dimasukkan ke dalam bambu harus pas, tidak boleh kurang atau lebih. Karbit yang dipakai pun juga kudu pas, tergantung volume air yang pakai. Sekali kita gagal menyeimbangkan komposisi ini, suara yang dihasilkan tidak akan lebih kencang ketimbang kentut.
Selain itu, bahan yang digunakan juga alami: bambu dan air. Karbit pun sebetulnya alami. Benda ini cuma berbahaya kalau dikonsumsi, selebihnya masih bisa ditoleransi.
Menurut penuturan si bapak tua, meriam bikinan seperti itu juga bisa dibikin dari lobang di tanah yang digali. Dan cara ini katanya menghasilkan ledakan lebih dahsyat lagi. Entah seperti apa cara membuatnya, bapak itu tidak menjelaskannya lebih jauh. Namun nampaknya prinsip teknisnya tidak akan berbeda dari Meriam Bambu.
Singkat kata, bahan untuk membuat Meriam Bambu adalah bahan yang sehari-hari. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya.
Dengan demikian pula, Meriam Bambu juga bisa menjadi media pembelajaran di sekolah. Kita bisa mengenalkan secuil teori Fisika dan Kimia sederhana dengan Meriam Bambu sebagai alat peraganya. Sekolah kita jarang yang punya alat peraga, tapi tampaknya benda-benda alami di sekitar kita bisa kita manfaatkan juga, ketimbang harus beli dan mahal pula.
Dan, terakhir, Meriam Bambu adalah kita. Ia sungguh-sungguh bagian dari kebudayaan kita. Selain Meriam Bambu, di tanah Melayu alat ini disebut Meriam Suluh dan di daerah berbahasa Tagalog ia disebut Kanyong Kayawan.
Ini berarti Meriam Bambu betul-betul kebudayaan Asia Tenggara. Di tanah Melayu dan Jawa, Meriam Bambu diledakkan saat perayaan Idulfitri dan Iduladha. Sedang di Filipina yang mayoritas menganut agama Nasrani, Meriam Bambu digunakan saat perayaan Natal. Di negara ini bahkan ada Festival Meriam Bambu.
Barangkali di tiap negara yang tanahnya ditumbuhi bambu, Meriam Bambu adalah bagian dari mainan mereka. Bisa jadi.[]
Thursday, June 11, 2015
Laporan Akhir Periode Amanah Online
![]() |
| [sumber] |
Sejauh amatan saya, para kontributor blog ini tak bisa direduksi hanya pada blog ini saja tingkat kreativitasnya. Saya tahu, mereka bergiat dan berkreasi di banyak sekali media. Jangan dihitung di Facebook dan di Twitter. Tulisan mereka di media sosial sudah melebihi buku super tebal dan multi disipliner pula tulisannya.
Friday, February 6, 2015
Himura Kenshin dan Proyeksi Manusia
![]() |
| [sumber] |
Oleh: Muhammad Hilal
Untuk bisa menikmati film Rurouni Kenshin seri the movie (3 sekuel) ini, penonton perlu tahu barang sedikit sejarah jepang pra kekaisaran Meiji. Saya merasa beruntung sudah membaca novelnya Eiji Yoshikawa, Taiko, beberapa tahun lalu. Meski Taiko bercerita soal peristiwa sejarah jauh sebelum Restorasi Meiji, yakni ketika Jepang dikuasai oleh para samurai, namun dari novel itu saya tahu bahwa masa keemasana samurai berakhir pada masa Kaisar Meiji beberapa abad kemudian.
Berbekal sedikit pengetahuan tersebut, saya menonton film ini dengan sedikit gambaran yang cukup gamblang tentang latar ceritanya. Biar bagaimana, Era Meiji adalah sejarah yang menentukan dalam sejarah Jepang. Membikin cerita kepahlawanan Samurai di Era Meiji adalah gagasan cerdas, sebab masa samurai berakhir justru di masa kekaisaran Meiji ini. Sebuah kontradiksi yang sangat memukau!
Selain latar cerita yang menarik, film ini juga mengangkat tokoh-tokoh yang digambarkan punya peran dan terlibat langsung dalam proses sejarah penting itu. Era Meiji adalah transisi menuju Era Baru—begitu mereka menyebutnya. Sebuah fase sejarah yang menghantarkan negara itu menjadi seperti sekarang ini, diperhitungkan di mana-mana, dalam hampir segala aspeknya.
Namun sejarah selalu memakan korban. Perubahan selalu memerlukan tumbal agar ia bisa melunasi tujuannya. Tak terkecuali perubahan yang dicita-citakan oleh Kaisar Meiji ini. Nah, para tokoh utama dalam film ini adalah mereka yang merasakan pahitnya perjuangan menuju perubahan itu.
Himura Kenshin dulu adalah seorang samurai pro perubahan. Perannya adalah memburu para samurai yang menentang kebijakan Kaisar Meiji tersebut. Saking banyaknya dia membunuh para samurai, dia merasa sangat kesepian, terkucil dan sendirian. Setiap kali dia melihat korbannya ditangisi oleh keluarganya, perasaan-perasaan itu menggerogotinya. Akhirnya dia memutuskan uzlah, menghilang dari keramaian, dan berhenti membunuh untuk selamanya.
Shishio Makoto juga pemburu. Dia menggantikan peran Himura Kenshin setelah orang itu menghilang. Sepak terjangnya tak kalah ganas ketimbang pendahulunya. Namun, peran pentingnya sebagai pendukung Era Baru tak dianggap. Dia malah hendak dibunuh dan dibakar. Beruntung, dia berhasil bertahan hidup meski sekujur tubuhnya menderita luka bakar berkepanjangan. Di kemudian hari, dia berencana menghancurkan pemerintah yang dulu dia bela dan menjadi lawan Himura Kenshin.
Saito Hajime, polisi yang selalu menghisap sigaret itu, adalah aparat yang dulunya adalah anggota Shinsengumi, sebuah kesatuan polisi yang bertugas menjaga penguasa Shogun. Dalam beberapa kesempatan dia berduel dengan Himura Kenshin. Belakangan, peran asli Saito ketahuan. Dia adalah agen mata-mata yang mengabdi kepada pemerintahan Meiji. Sejak itu, dia kerap membantu Himura Kenshin dalam aksi-aksinya.
Kamiya Kaoru, perempuan yang kelak menikah dengan Himura Kenshin, adalah juga korban dari sejarah masanya. Ayahnya, yang memimpin sebuah sanggar Hojo, meninggal terbunuh oleh seseorang yang mengaku sebagai Hitokiri Battosai, julukan lawas Himura Kenshin.
Sagara Sanosuke, sahabat Himura Kenshin, dulu adalah anggota Tentara Sekiho. Kelompok tentara ini dihancurkan oleh pemerintah Meiji. Akibatnya, dia putus asa dan kemudian menjadi petarung jalanan untuk mendapatkan uang. Sejak bersahabat dengan Himura Kenshin, dia mulai mendapatkan semangat hidupnya dan bertarung untuk membela orang-orang kecil.
Nah, begitulah keterkaian tokoh-tokoh di film ini dengan jaman di mana mereka hidup. Bisa dibilang, mereka adalah para korban dari peristiwa besar Restorasi itu. Mereka menjalani sebuah lakon hidup sembari menanggung beban masa lalu yang tidak ringan.
Hanya saja, yang membuat film ini semakin menarik ditonton: pertarungan yang terjadi di antara para jagoan samurai adalah orang-orang yang memilih jalan hidup yang berbeda. Jalan hidup itu harus mereka pilih terkait masa lalu mereka di masa transisi menuju Jepang modern.
Di satu sisi, terdapat beberapa korban yang telah mengalami transformasi diri semacam Himura Kenshin yang tetap mempertahankan Era Baru sembari yang mengupayakan pencegahan korban lebih banyak lagi. Orang-orang ini memilih bertahan dalam duka dan nestapanya di gempur Era Baru. Vitalitas dan Kehendak Hidupnya tetap mereka jaga agar upaya meminimalisir korban bisa dilakukan.
Di sisi yang berlawanan, terdapat orang-orang semacam Shishio yang mampu bertahan dari gempuran Era Baru, namun memilih jalan hidup menentangnya habis-habisan. Bahkan dia berupaya menghentikan jalan Era Baru dengan berencana mengambil alih pemerintahan Kaisar. Jalan ini harus dia ambil karena masa depan yang dijanjikan oleh rezim pemerintahan tak bisa dia harapkan akan terwujud. Bagaimana mungkin dia bisa berharap pada pemerintahan yang telah mencampakkannya padahal dulu dia membelanya habis-habisan?
Pergulatan antara tokoh yang menyambut perubahan meski menanggung beban masa lalu dengan para tokoh penentang rezim pengusung Era Baru menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Kita tak bisa membayangkan bahwa tokoh semacam Himura Kenshin, Shishio, atau lain-lainnya pernah ada dalam sejarah. Namun, pada saat yang sama, kita tak bisa mengelak dari kenyataan sejarah bahwa peristiwa Restorasi Meiji adalah nyata. Itulah menariknya cerita film ini, fiksi dan fakta bergumul menjadi cerita yang sangat menarik.
Kita juga disajikan cerita di mana para tokohnya orang-orang yang mengalami sendiri pedihnya sebuah perubahan besar. Seolah-olah, kita dikasih sebuah kenyataan bahwa Bangsa Jepang di Era Restorasi itu sedang mengalami keterbelahan batin. Beban psikologis yang harus ditanggung Bangsa Jepang tidaklah ringan. Building the New Era is much harder work than destroying the old one, demikian dikutip dalam film itu.
Saya percaya, sebuah film tidak sekadar sajian realitas imajitif terhadap penonton semata, namun lebih dari itu merupakan proyeksi terhadap realitas yang dibayangkan akan terwujud. Secara lamat-lamat saya juga menangkap hal ini dalam film ini. Himura Kenshin adalah manusia imajinatif yang diharapkan menjadi manusia Jepang masa depan. Dia memiliki segalanya. Dia hanya tidak beruntung berhadapan dengan sebuah jaman yang memporak-porandakan masyarakatnya.
Namun yang membedakan Himura Kenshin dari lainnya adalah semangatnya untuk bertahan hidup. Sesakit apapun luka batin yang diderita, sedalam berat apapun beban psikologis yang harus dipikul, kehendak untuk tetap hidup harus tetap dijaga. Sebab hanya dengan semangat itulah masa depan bisa diraih. Itulah yang dilakukan Himura Kenshin.
Kebalikan dari Himura Kenshin berarti adalah mereka yang diproyeksikan tidak mewujud. Masa depan tidak mungkin diserahkan kepada mereka yang pandangan dan sikap hidupnya seperti Shishio. Sosok-sosok seperti itu adalah—meminjam istilahnya Metallica—unforgiven.[]
Saturday, January 17, 2015
Antara Filsafat dan Sastra: Sebuah Pertanggungan Jawab
![]() |
| [sumber: sini] |
Monday, December 1, 2014
Romansa Ujung Senja
Oleh: Muhammad Hilal
Abah Nyut sedang jatuh cinta, untuk ketiga kalinya, di usianya jelang kepala lima.
Cinta memang tak pernah tepat waktu, kata Puthut EA dalam Novelnya. Nampaknya, Puthut berkata benar kalau kita melihat tingkah polah Abah Nyut.[]
Saturday, October 11, 2014
Membaca Analitis
Oleh: Muhammad Hilal
Sekelompok orang itu terdiri dari 13 orang. Satu di antaranya adalah pembimbingnya. Masing-masing membawa Fath al-Qârib karangannya Syaikh Abî Syujâ' di tangannya, menekuni tulisan di dalamnya. Jelas sekali, mereka semua sedang belajar Ilmu Fikih melalui kitab itu.
Pada awalnya, salah satu orang di antara mereka membuka acara. Hingga sekumpulan orang ini bubar, si pembawa acara berfungsi menjadi moderator. Tugasnya adalah mengatur keberlangsungan diskusi mereka.
Kali ini, moderator meminta salah satu peserta membaca kitab itu, berikut arti dan pengertiannya. Arti (tarjamah) dan pengertian (murâd) harus dibedakan, sebab arti dilakukan dalam bahasa Jawa, sedangkan pengertian disampaikan dalam bahasa Indonesia.
Peserta yang bertugas membaca memulai tugasnya. Dia membaca bab 'Peradilan dan Persaksian' dari kitab itu. Dia baca kitab itu dengan hati-hati, sebab tulisannya tidak berharakat. Dia harus membaca tulisan bahasa Arab itu dengan benar, menentukan status kata per kata dengan teliti, apakah sebagai mubtadâ' atau khabar, fâ'il atau maf'ul, 'athf atau na't, atau lain-lain.
Setelah dibaca dan diartikan, peserta ini pun menjelaskan pengertian dan maksud dari apa dibacanya barusan. Adapun peserta lain musti menyimak dan mendengarkan, atau membuat catatan kecil dalam kitabnya. Begitulah proses diskusi itu berawal.
Setelah proses itu selesai, moderator mempersilakan semua peserta lain mengajukan pertanyaan. Pertanyaan berkisar pada pengertian yang lebih mendalam terkait bacaan tadi. Bisa pula mengajukan persoalan lain yang dianggap pelik dari penjelasan yang sudah dipaparkan tadi. Peserta yang membaca tadi ditugaskan menjawab mula-mula pertanyaan-pertanyaan tadi. Setelahnya, baru peserta lain dipersilakan menjawab pula agar perspektifnya makin luas.
Saling mengajukan jawaban dan perspektif ini bisa berlangsung seru. Satu jawaban bisa berbeda dengan jawaban temannya. Jika sudah begini, debat dan adu argumen tidak terelakkan. Moderator pun tak jarang akan kewalahan menghadapi perdebatan sengit begini.
Bila belum ada jawaban yang memuaskan, pembimbing diminta memberikan jawaban terakhir dengan perspektif yang lebih matang. Pembimbing adalah orang yang dianggap lebih paham isi dan kandungan kitab yang sedang dipelajari.
Begitulah diskusi itu berlangsung dengan sederhana. Tak ada gegap gempita, tak ada hiruk-pikuk publikasi. Meski begitu, jarang dari peserta itu yang mempertanyakan 'kenapa' cara mereka belajar harus seperti itu. Padahal, mereka sedang bersama-sama melakukan 'pembacaan analitis' terhadap suatu teks.
Cara ini sudah berabad-abad dipraktekkan oleh para cendekiawan. Di Indonesia, cara ini bertahan dan marak dilakukan di pesantren. Jadi, memang tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren berdiri di barisan terdepan melestarikan dan menjaga tradisi.
***
Ada tiga cara membaca buku, kata Mortimer Adler dalam bukunya How To Read A Book. (1) Membaca Analitis, (2) Membaca Sintetis, dan (3) Membaca Kritis.
Membaca nomor 1 adalah merunut arti kata per kata. Tuntutan membaca ini adalah memahami isi buku secara rinci, dalam setiap seginya. Jika ada majaz, dijelaskan artinya. Bila ada kata asing, dilacak artinya. Pembacaan model ini menuntut ketekunan ekstra, sebab lamanya tergantung tebalnya buku. Makin tebal bukunya, makin lama waktu yang harus ditekuni.
Membaca model 2 berarti menangkap inti dari isi buku yang sedang dibaca. Pembaca berusaha menangkap alur penalaran penulis, meringkasnya menjadi premis-premis inti, hingga ia menyimpulkan sendiri sebagaimana pengarangnya berusaha menyimpulkan. Pembacaan ini menuntut kemampuan logika yang memadai, sebab yang harus ditangkap pembaca adalah alur logika penulis secara global. Mereka yang terbiasa meresensi buku dengan sendirinya akan terlatih kemampuan Membaca Sintetisnya.
Lain lagi dengan pembacaan ke-3. Membaca Kritis berarti sudah melewati dua tahap pembacaan di atas. Pembacaan Kritis adalah memberikan komentar terhadap buku yang dia baca, mengoreksi sesat pikir penulis jika memang ada, membandingkan dengan buku lain, dan memperbaiki kemungkinan-kemungkinan perbaikan yang mungkin dilakukan. Pembaca boleh tidak setuju dengan kesimpulan penulis bila terasa ada premis-premis yang dianggap tak layak diterima dengan berbagai pertimbangan yang pembaca miliki.
Hanya saja, perlu ditekankan lagi di sini, kritik layak dialamatkan kepada penulis jika dan hanya jika pembaca sudah tuntas membaca bukunya secara Analitis dan Sintetis. Kritikus yang buruk adalah pengkritik yang belum membaca bukunya. Pengkritik buku semacam ini tak layak diindahkan kecerebohannya.






