Showing posts with label muhammad hilal. Show all posts
Showing posts with label muhammad hilal. Show all posts

Monday, September 12, 2016

Catatan Perjalanan Ke Pantai Goa Cina


Oleh: Muhammad Hilal

Perjalanan ke Pantai Goa Cina bukan perkara sulit. Di antara empat orang peserta, salah satunya sudah pernah mendatanginya. Lalu tinggal merembukkan logistik.

Oleh karena berangkatnya jam 10 malam, maka rutenya ke Pasar Gadang dahulu untuk beli ikan. Pesan pak bakul ikan, bakar-bakar itu lebih enak ikan air laut. Nah, ini tip bagus bagi yang berencana mau bakar ikan. Tongkol sekilogram dan sekilogram lagi entah ikan apa kami borong malam itu.

Perihal peralatan bakar-bakar, seperti kayu, arang, bumbu, panci, kayu bakar, dan lain-lain, salah satu peserta sudah menyiapkannya. Tugas saya cuma membawa setermos kopi dan karpet. Bukan tugas berat, saya sudah siap sedia.

Teman lain bahkan sudah menyiapkan berbagai alat elektronik: kamera DSLR lengkap dengan tripodnya, senter, dan Power Bank. Ini rupanya sudah well prepared semua.

Dengan demikian, keberangkatan ke Pantai Goa Cina terasa enteng-enteng saja, sebab semua sudah siap sedia. Bahkan sebelum berangkatpun, saya sudah bisa menerka bahwa acara bakar ikan ini akan lancar saja.

Kami berangkat ke tujuan melalui jalur Bantur. Itu didasarkan pada anjuran Global Positioning system (GPS) otomatis dari gawai. Menurut suara yang berbicara di gawai, jalur Bantur adalah jalur yang tercepat, lebih cepat ketimbang jalur Gedangan atau jalur Sumbermanjing Wetan. Sungguh fasilitas GPS adalah kemudahan yang patut disyukuri, namun kini saya sadar akurasinya perlu ditinjau ulang.

Dan kami kena batunya juga. Akibat taklid buta kepada fasilitas GPS, perjalanan itu ternyata memakan waktu lebih lama. Di Bantur, sebelum kami mencapai jalan Lintas Selatan, suara di GPS menganjurkan kami mengambil jalur terabasan. Ketika memasuki jalan terabasan, suara itu berkata melenakan, "Anda memasuki jalur tercepat."

Awalnya kami tentu senang bahwa ternyata ada jalur tercepat ke jalan Lintas Selatan. Tapi, lama kelamaan, sinyal ponsel menipis, dan akurasi GPS jadi aneh. Jalan itu kecil dan sepi, berkelok-kelok naik-turun, kendati aspalnya halus. Suasana mulai agak horor. Mulai timbul waswas di benak masing-masing, apa betul ini adalah jalur terabasan ke jalan Lintas Selatan.

Suasana horor semakin menjadi-jadi ketika kami mencapai jalan yang aspalnya rusak, bahkan berbatu. Mobil yang kami tumpangi jadi tak bisa melaju cepat. Jika sebelumnya kami selalu tertawa dan melempar lelucon, kini semuanya jadi terasa tidak lucu. GPS durjana itu ternyata mengibuli. Ketakpastian semakin menghantui.

Suasana kikuk itu akhirnya berakhir setelah kami berhasil mencapai jalan Lintas Selatan yang lebar dan halus. Kami pun berhasil mengembalikan selera humor kami. Kami sudah bisa tertawa lebih lepas dan tanpa beban.

Fasilitas GPS juga masih tak terpakai, sebab sinyal ponsel masih tak tersedia. Namun apa guna mengharap bantuan GPS yang berlaku layaknya Kabil? Kami sudah tak keberatan fasilitas itu tidak terpakai. Kami mengandalkan papan penunjuk arah saja.

Di atas jalan Lintas Selatan, mobil kami melaju cepat dan tanpa hambatan. Sambil mengamati papan penunjuk arah yang rupanya belum tertata baik, kami terus ke arah timur. Hingga akhirnya, di bagian kanan jalan terdapat gapura bergaya tiongkok. Tak diragukan lagi, itulah jalan masuk ke Pantai Goa Cina.

Memasuki area pantai, susana sangat sepi. Toko-toko tutup, pos penjagaan hanya terisi dua-tiga orang. Lampu penerang pun sangat terbatas, bisa dipastikan di bibir pantai akan sangat gelap sekali. Mobil kami parkir di pinggir pagar, tepat di bawah lampu penerang.

Jam menunjukkan pukul 12 lebih. Luar biasa, perjalanan itu ditempuh selama dua jam lebih. Terlalu lama, akibat jalur terabasan "tercepat" dan fasilitas GPS tak akurat.

***

Mencari lokasi bakar-bakar di sekitar pantai tidaklah sulit amat. Selain karena di tempat itu sangat sepi pengunjung, hamparan pasirnya pun cukup luas. Di atas pasir, banyak sekali semak-semak lebat.
Oleh sebab hembusan angin cukup kuat, kami memilih tempat di lokasi yang dikelilingi semak lebat. Barang-barang keperluan kami angkut dari mobil ke lokasi itu.

Tempat itu pun kami tata. Kami mengumpulkan batu untuk dibuat tungku, pasir kami gali sedikit agar ada ruang lebih besar untuk kayu bakar dan arang.

Penerang dari senter dan lampu ponsel cukup membantu kegiatan itu. Hanya di tempat yang disorot peneranglah yang bisa kami lihat, sisanya gelap gulita. Hanya desir angin pesisir dan suara debur ombak yang terasa jelas di indera kami.

Ikan yang kami bawa dibersihkan isi perutnya dengan air galon. Tidak mungkin kami mencucinya dengan air laut, sebab bibir pantai betul-betul gelap. Jangankan mendatanginya, melihatnya saja kami sudah keder. Imajinasi kami melarang kami terlalu dekat ke bibir pantai.

Termasuk pula beras, kami pun mencucinya dengan air galon. Irit menjadi nilai yang sangat berharga saat itu, sebab air itu juga sangat dibutuhkan untuk minum.

Setelah nasi sudah matang, kami mulai mengolah rempah-rempah untuk membumbui ikan. Dengan tungku batu itu, kami menggoreng bumbu yang bahan-bahannya tidak saya tahu apa. Salah seorang peserta kami pasrahkan melakukannya, sebab dia memang paling pengalaman memasak.

Bumbu itu dioleskan ke ikan sebelum dibakar. Dan bumbu itu cukup berhasil, aroma ikan ketika dibakar sangat menggoda iman dan lidah. Harum sekali. Entah dapat resep dari mana teman satu itu, padahal dia hanya alumnus pesantren Ploso dan Lirboyo, jelas kualifikasinya bukan di bidang tataboga. Dalam hal masak-memasak, dia memanglah tipikal learner by doing, orang yang mahir karena suka melakukan berulang-ulang.

Saat ikan bakar pertama sudah matang, kami mencicipi hasil kerja kami. Rasanya luar biasa sekali. Daging ikan bercampur dengan bumbu, diiringi kecap manis, rasanya benar-benar nendang di lidah.
Aroma ikan bakar, hembusan angin pesisir dan debur ombak di kegelapan sana adalah citarasa Pantai Goa Cina saat itu. Terutama suara ombak, saat berbenturan dengan batu, kadang terdengar seperti benturan benda padat, tak ubahnya seperti suara tabrakan mobil. Kesan magis mengenai adidayanya kekuatan alam sangat kentara saat itu.

Saat ikan tersisa dua ekor untuk dibakar, kami sudah tidak sabar. Ingin rasanya lekas-lekas menyantapnya dengan nasi dan sambal kecap. Kipasan kami mulai tidak teratur, terganggu oleh godaan ikan bakar matang di sebelah. Konsentrasi agak buyar.

***

Kini, tibalah waktu untuk menyantap makanan: nasi, 2 kilogram ikan bakar, dan sambal kecap. Porsi nasi dan ikan bakar tidak seimbang, ikannya jauh lebih banyak. Umpama tidak ada nasipun, 2 kilogram ikan bakar rasanya sudah bisa bikin kenyang.

Nikmat makanan itu rupanya makin terasa kalau kita membuatnya sendiri. Berjam-jam berjibaku mematangkannya, menyantap hasilnya mampu memunculkan rasa puas tersendiri, seolah ada hutang yang tertunaikan. Ikan bakar itu terasa maknyus sekali di lidah.

Momen itu, momen kudus menyantap hasil kerja tangan sendiri, memang berlangsung singkat. Hampir rampung ikan 2 kilogram itu dituntaskan, gerimis pertanda hujan mengguyur. Singkat, namun cacing-cacing di perut sudah terpuaskan, padahal masih ada 2 ekor ikan utuh belum tersantap.

Kami berlarian ke tempat berteduh, menyelamatkan alat elektronik dari hujan. Semua alat masak ditinggal di atas pasir. Saat itu benar-benar sepi pengunjung, alat masak rasanya tidak persoalan dibiarkan di situ. Yang penting, kamera dan ponsel berhasil terselamatkan dari hujan.

Kami berteduh di sebuah pos penjagaan, di situ ada empat kursi panjang. Pas sekali dengan jumlah kami. Terasa sekali perut ini kekenyangan. Luar biasa. Godaan ikan bakar lezat membuyarkan konsep kami tentang kenyang, sehingga takaran santapan melebihi batas wajar. Sembari menghisap sigaret, kami duduk di situ, juga mendengarkan kesiur angin kencang menghantam rintik hujan.

Kami lupa, ada dua ikan bakar yang masih tertinggal di tempat semula, kehujanan.

***

Hujan berhenti ketika hari sudah terang. Sehabis membereskan barang yang masih tertinggal di atas pasir ke dalam mobil, kami bermain di bibir pantai. Ini juga momen yang tak kalah kudus.

Bibir pantai di waktu pagi mempertontonkan suasana yang berbeda. Bila tadi malam bibir pantai adalah tempat yang menakutkan dan berperawakan sangar, pagi ini bibir pantai adalah keindahan yang menggoda untuk didekati.

Saat itu sepi pengunjung, hanya terlihat dua kelompok orang melakukan swafoto dan berpose bersama. Sisanya hanya kami berempat. Di depan bibir pantai tampak sebuah batu karang besar berdiri kokoh menantang ombak besar. Di atas batu karang itu, terlihat sebuah pelangi seolah sedang menunduk meminum air laut. Pemandangan alami itu sangat bagus.

Pasir di sana sangat putih, membentang sepanjang bibir pantai, diapit dua batu karang besar di dua ujungnya. Anda bisa berlari-lari, mengambil foto, pose bersama, tidur-tiduran di bawah mentari pagi, menulis nama pujaan hati di atas pasir atau berenang.


Namun, sama seperti kebanyakan pantai yang pernah saya kunjungi, sampah adalah perusak utama keindahan kudus itu.[]

Sunday, December 27, 2015

Novel Ayah dan Realisme-Magis yang Tak Tuntas


Oleh: Muhammad Hilal
 
Di bawah kolong langit ini, ada dua orang bernama John Austin yang lumayan saya kenal. Yang pertama adalah seorang filsuf kenamaan berkebangsaan Inggris. Saya mengenalnya melalui bukunya, How to do Things with Words. yang amat legendaris dan menjadi bacaan wajib bagi mereka yang mengambil konsentrasi Filsafat Bahasa. 

Lalu, yang kedua adalah seorang mahasiswa yang mengaku dirinya gila. Namun kegilaan tampaknya dia maknai secara positif, bahkan dalam kadar tertentu mengungguli kewarasan itu sendiri. Bisa jadi, kegilaan yang dia maksud mirip seperti yang dipahami oleh Ibn al-Husain an-Naisabûrî melalui bukunya, ‘Uqalâ’ al-Majânîn. Perhatikan judul itu, sangat kontradiktif. Orang-orang gila (al-majânîn) dia sifati sebagai waras (‘uqalâ’). Bukankah kegilaan itu sendiri adalah nihilnya kewarasan? Tidak, kata Ibn al-Husain an-Naisabûrî. Ada satu tingkat yang melebihi keduanya: orang-orang gila yang waras. Dia menyebut sederet contoh ‘Uqalâ’ al-Majânîn yang sangat banyak, di antaranya Uwais al-Qarnî, Rabî‘ah al-‘Adawiyyah, Majnûn Banî ‘Âmir.

Nah, kepada John Austin si gila inilah saya meminjam novel Andrea Hirata terbaru, Ayah. Saya meminjamnya tepat sehari sebelum berangkat ke Yogyakarta melalui kereta api yang harga tiket kelas ekonominya amatlah mahal bagi makhluk bumi berkantong pas-pasan macam saya ini. Dan Andrea Hirata memang pencerita yang menghipnotis. 7,5 jam perjalanan Malang-Yogyakarta saya habiskan membaca separuh novel ini hampir tanpa henti, kecuali saat menyapa penumpang lain, ke kamar kecil, atau beranjak ke gerbong resto untuk menikmati nasi goreng yang harganya juga semena-mena.

Novel Ayah juga berperan sebagai penyelamat di kereta api. Bagaimana tidak, para penumpang sibuk dengan gawainya sendiri-sendiri. Mereka mendengar musik pakai headset, bermain game, berkirim pesan entah kepada siapa, membuka media sosial, lalu ada yang cekikikan sendiri. Di mata saya mereka seolah sedang pamer gawai. Sedangkan gawai saya hampir tak berfungsi di atas kereta api. Saya tak bawa headset, tak memasang program game, dan tak ada koneksi internet. Tidak ada yang bisa saya pamerkan dari gawai saya. Jadilah novel Ayah di tangan saya sebagai kesenangan menghabiskan waktu tujuh jam setengah.

Omong-omong soal novel Ayah, sebetulnya Andera Hirata sedang bercerita tentang orang-orang gila. Tokoh utamanya, Sabari, adalah lelaki super lugu namun dirundung kesedihan tiada terkira, sebab ditinggal anak semata wayangnya. Dua teman karibnya, Ukun dan Tamat, tampil sebagai orang-orang bodoh yang sok pintar, namun setia kawan mengharukan. Istri Sabari, Marlena, adalah perempuan pemberontak, mudah bosan hingga pendiriannya kerap dia sesali, dan suka bertualang ke segala penjuru Sumatra, namun sebagai seorang ibu dia tampaknya tidak pernah menyesal dan mau menanggung konsekuensi hidup yang satu ini.

Singkat kata, semua tokoh yang tampil dalam novel ini adalah orang-orang dengan perangai yang ganjil, janggal, tak lumrah, bahkan bisa dibilang tidak waras. Hanya saja, keunggulan Andrea Hirata dalam bercerita adalah kemampuannya membuat alur dan plot yang sulit ditebak, seringkali kegilaan itu berwajah konyol mengundang tawa, kadang mengharukan menyesakkan dada, tak jarang malah menjengkelkan bikin gemas.

Yang istimewa dari Andrea Hirata adalah caranya bercerita: sarat humor. Berkat caranya inilah tujuh setengah jam perjalanan saya di atas kereta api seolah perjalanan yang singkat semata.

Humor yang Andrea Hirata lontarkan bukanlah humor ecek-ecek kelas begundal yang tak tahu tata krama. Semua manusia ganjil yang dia ceritakan dalam novelnya adalah orang-orang sekampung halamannya: Belitong. Pulau itu pernah berjaya dengan tambang timahnya, tapi penduduknya tak merasakan kejayaan itu. Mereka tetap saja miskin, pendidikan tak terurus, pemerintah lokal tak berdaya. Dan makhluk miskin tak berdaya itu oleh Andrea Hirata digambarkan sebagai orang-orang sinting pula. Rupanya, Andrea Hirata sedang mengolah seni menghargai hal-hal kecil: menertawakan kesusahan.

Humor tertinggi adalah menertawakan diri sendiri, kata Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Bisa dibilang, hampir keseluruhan novel ini adalah tindakan “menertawakan diri sendiri” itu. Andrea Hirata adalah kelahiran Belitong dan dia dikenal di mana-mana sebagai orang Belitong, namun penghinaannya terhadap Belitong tergolong tanpa ampun. Sekali-sekali, Andrea Hirata melontarkan sumpah serapah. Jarang sekali dia berkata sarkas, namun sekali terucap rasanya pas sekali untuk ditertawakan.

Hingga sampailah di halaman 140 dia menyebut nama Florentino Ariza dan Fermina Daza. Dua nama ini tentu saya kenal! Keduanya adalah tokoh utama dalam novel Gabriel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera. 

Sontak, saya merasa Andrea Hirata seperti sedang berusaha menjadi Gabo—sapaan akrab Gabriel Garcia Marquez—dengan novelnya. Dalam hal tertentu ada kemiripan yang tak terelakkan antara keduanya. Apa yang saya maksud dengan “kemiripan tak terelakkan” bukanlah sebentuk jiplakan murahan, melainkan semacam upaya memasuki gaya menulis Realisme-Magis.

Bukan rahasia lagi, Gabo adalah penulis Realis-Magis kawakan. Gaya penulisannya amat terkenal hingga menjadikannya sebagai ikon tak terpisahkan darinya dan dia menjadi sangat berpengaruh dalam jagad sastra terkini. Apa yang khas dari Realisme-Magis ini adalah absurditasnya dalam bergambarkan dunia dan seisi makhluk-makhluknya.

Dalam novelnya yang lain, One Hundred Years of Solitude, Gabo menggambarkan Kolumbia, Negara asalnya, dengan absurditas yang tak tanggung-tanggung. Tokoh-tokohnya memiliki perangai yang membingungkan, sering bikin keputusan ganjil, dan dalam kadar tentu tergolong sinting. 

Namun, Gabo tidak sedang main-main dengan cara penggambaran begitu terhadap negaranya. Dia sebetulnya ingin keluar dari penggambaran yang tampaknya rasional dan  normal, namun sebetulnya dipaksakan oleh bangsa-bangsa luar—terutama negara-negara Barat. Tak ayal, gaya Realisme-Magis sebetulnya adalah suatu dobrakan, perlawanan terhadap definisi yang dibikin oleh bangsa penjajah.

Novel Ayah saya lihat membawa semangat ini, dengan metode yang sama pula. Namun, Realisme-Magis yang Andrea Hirata bawa seolah tidak tuntas. Andrea Hirata tampaknya ingin menjadikan cerita Marlena sebagai “perempuan khas Realisme-Magis”—para perempuan gila yang terlunta diterpa nasib serba malang, namun mampu menghadapinya dengan tegar dan dengan cara yang sangat terhormat, jauh lebih bermartabat ketimbang para lelaki. Coba bandingkan bagaimana Marlena menyikapi kehidupannya dengan karakter lain dalam novel Ayah ini, meski sama-sama bertubi diterpa kemalangan namun Marlena tampak lebih tegar, bermartabat, dan memancarkan Elan Vital. 

Dalam novel Realisme-Magis, sosok perempuan seperti ini seakan menjadi salah satu bumbu wajib. Di One Hundred Years of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez, Big Breasts and Wide Hips-nya Mo Yan atau My Name is Red-nya Orkhan Pamuk, misalnya, tampil para perempuan yang memiliki karakter demikian dan mampu menjadi penyeimbang dari cerita para lelaki yang sangat lemah dan tak bisa diandalkan. Perempuan-perempuan ini terkadang mengambil keputusan yang sangat menentukan. Namun cerita Marlena dalam novel Ayah seolah terhenti di tengah jalan, tak tamat dia berperan sebagai perempuan Realis-Magis.

Dalam novel Realisme-Magis juga akan ditemukan beberapa bocah yang jiwanya lebih dewasa bahkan ketimbang orang tuanya sendiri. Andrea Hirata seolah ingin menampilkan sosok Zorro, anak semata wayang Sabari, sebagai karakter ini. Zorro digambarkan sebagai bocah yang mampu menyesuaikan diri dan bersikap waras di tengah kegilaan orang-orang dewasa sekitarnya. Dia tidak pernah mengeluh, tapi sangat handal mengarungi hidupnya.

Di Indonesia, terdapat seorang novelis lain yang juga menulis dengan gaya Realisme-Magis. Namanya Eka Kurniawan. Novelnya berjudul Cantik Itu Luka. Sayangnya, hingga kini belum saya baca. Barangkali, membandingkannya dengan novel Ayah akan menarik, semacam membandingkan kegilaanlah.[]

Saturday, July 18, 2015

Mercon VS Meriam Bambu

[photo credit: here]
Oleh: Muhammad Hilal

Sudah hari keberapa setelah lebaran, suara mercon masih bertalu-talu. Yang satu berlomba paling nyaring melebihi yang lain. Luar biasa industri polusi suara ini.

Namanya saja perayaan, tentu suasananya tidak boleh senyap-senyapan. Setidaknya begitu gaya berpikir kita di Nusantara. Kita sudah kadung terbiasa mengelola hari raya seperti suatu pesta, menonjolkan bebunyian di dalamnya. Dan di hari lebaran, cara itu berlangsung secara sangat massif. Ragam bebunyian kita temui di mana-mana.

Baiklah, tidak semua orang suka merayakan lebaran dengan cara pesta seperti itu. Termasuk saya. Dan berkat ajang sosialisasi dan silaturahim di hari ini, saya juga bisa mendengar komentar orang yang juga tidak suka dengan cara pamer bebunyian keras di hari raya lebaran. Di kesempatan bertamu dan dikunjungi tamu, tema mercon dan musik keras menjadi salah satu tema hangat dalam obrolan.

Dari beberapa obrolan dan sudut pandang, yang menarik perhatian saya adalah cerita orang-orang tua. Pembaca tentu bisa menduga isi obrolan orang-orang tua itu. Ya, mereka bercerita pengalaman mereka di masa lalu.

Rupanya, cara merayakan lebaran dengan bunyi-bunyian kencang adalah warisan para tetua juga. Mereka di masa mudanya juga melakukannya. Hanya saja, teknologinya berbeda.

Orang-orang dahulu menciptakan suara meledak-ledak bukan melalui petasan. Mereka membuat alat dari pohon bambu dan karbit (CaC2). Alat ini dikenal dengan sebutan Meriam Bambu.


Meriam Bambu bisa dibikin dengan mudah, tapi efek ledakannya luar biasa. Kita hanya perlu membuat lobang kecil di sisi lingkaran bambu, mengisinya dengan air dan sebongkah kecil karbit ke dalamnya. Saat lobang itu berinteraksi dengan api, terciptalah suara ledakan kencang bak suara meriam betulan.

Kenapa muncul ledakan yang sangat kuat dari alat ini? Baiklah, kita main-main dengan ilmu Kimia dan Fisika sedikit. Saat karbit dan air dicampur, terjadi reaksi kimia yang melahirkan gas Asetilena (C2H2). Gas ini sangat sensitif terhadap api. Saat terbakar, gas ini bisa menghasilkan ledakan. Oleh sebab gas itu menggumpal dan terjebak di dalam liang bambu yang dilobangi tadi, saat berinteraksi dengan api, terjadi ledakan yang sangat kuat.

Karbit—juga disebut Kalsium Karbida—mudah ditemui di sekitar kita. Benda ini kadang kita gunakan untuk mematangkan buah mentah. Kadang kita temui bengkel yang memanfaatkan karbit untuk bahan mengelas. Di jagad industri, gas Asetilena yang dihasilkan dari karbit digunakan untuk memotong baja. Manfaat karbit sebetulnya masih banyak lagi. Tapi kita kembali ke cerita awal tadi saja.

Yang membuat cerita bapak tua itu makin menarik, kesan kenangan yang dikandungnya sangat padat. Bapak tua itu bercerita, bahwa pelaku ledakan Meriam Bambu adalah anak-anak nakal—seolah bapak itu ingin menyusupkan kesan bahwa dulu ia tergolong anak nakal juga. Para orang tua akan melarang anak-anaknya bermain Meriam Bambu, sebab mainan ini membawa risiko tidak ringan. Tapi anak nakal mana yang serba patuh orang tua dan tidak mau ambil risiko?

Setelah Meriam diledakkan melalui pembakaran gas Asetilena, api yang di dalam bambu masih tersisa. Agar bisa berfungsi lagi, api itu harus dipadamkan dengan cara ditiup kencang-kencang. Karena produksi gas Asetilena masih berlangsung di dalam bambu, terkadang muncul semburan api melalui lobang itu. Nah, anak yang kurang hati-hati akan kehilangan kedua alis dalam proses itu.


Itu masih tergolong risiko ringan. Bahaya lebih besar lagi adalah saat ledakan yang dihasilkan tidak mampu dibendung oleh bambu. Tidak hanya menimbulkan bunyi semata, bambu itu malah benar-benar meledak. Pada saat seperti itu, cedera bakar bisa diderita oleh pengguna Meriam Bambu.

Oleh karena itu wajar kalau para orang tua dahulu melarang anak-anaknya bermain alat ini. Risikonya mengkhawatirkan, sama mengkhawatirkannya seperti petasan sekarang.

Namun yang terbayang dibenak saya, sejauh sebagai penghasil polusi suara, Meriam Bambu jauh lebih baik ketimbang petasan. Ia lebih baik sebab untuk menikmatinya, kita dituntut untuk membuatnya sendiri. Jadi tidak instan dan tidak konsumtif.

Berbeda dengan mercon. Benda ini sudah terlalu dalam terjun ke dunia industri, sehingga cukup dengan membelinya kita sudah bisa menikmati. Mudah sekali, tak ada tuntutan kerja keras di situ.

Meriam Bambu tergolong mainan hand-made, hasil kerajinan. Dengan begitu, cita rasa kesenian juga masuk di situ. Bagaimana tidak? Untuk menghasilkan suara ledakan yang keras, kita juga kudu mempertimbangkan presisi dan keseimbangan komposisi. Air yang dimasukkan ke dalam bambu harus pas, tidak boleh kurang atau lebih. Karbit yang dipakai pun juga kudu pas, tergantung volume air yang pakai. Sekali kita gagal menyeimbangkan komposisi ini, suara yang dihasilkan tidak akan lebih kencang ketimbang kentut.

Selain itu, bahan yang digunakan juga alami: bambu dan air. Karbit pun sebetulnya alami. Benda ini cuma berbahaya kalau dikonsumsi, selebihnya masih bisa ditoleransi.

Menurut penuturan si bapak tua, meriam bikinan seperti itu juga bisa dibikin dari lobang di tanah yang digali. Dan cara ini katanya menghasilkan ledakan lebih dahsyat lagi. Entah seperti apa cara membuatnya, bapak itu tidak menjelaskannya lebih jauh. Namun nampaknya prinsip teknisnya tidak akan berbeda dari Meriam Bambu.

Singkat kata, bahan untuk membuat Meriam Bambu adalah bahan yang sehari-hari. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya.


Dengan demikian pula, Meriam Bambu juga bisa menjadi media pembelajaran di sekolah. Kita bisa mengenalkan secuil teori Fisika dan Kimia sederhana dengan Meriam Bambu sebagai alat peraganya. Sekolah kita jarang yang punya alat peraga, tapi tampaknya benda-benda alami di sekitar kita bisa kita manfaatkan juga, ketimbang harus beli dan mahal pula.

Dan, terakhir, Meriam Bambu adalah kita. Ia sungguh-sungguh bagian dari kebudayaan kita. Selain Meriam Bambu, di tanah Melayu alat ini disebut Meriam Suluh dan di daerah berbahasa Tagalog ia disebut Kanyong Kayawan.

Ini berarti Meriam Bambu betul-betul kebudayaan Asia Tenggara. Di tanah Melayu dan Jawa, Meriam Bambu diledakkan saat perayaan Idulfitri dan Iduladha. Sedang di Filipina yang mayoritas menganut agama Nasrani, Meriam Bambu digunakan saat perayaan Natal. Di negara ini bahkan ada Festival Meriam Bambu.

Barangkali di tiap negara yang tanahnya ditumbuhi bambu, Meriam Bambu adalah bagian dari mainan mereka. Bisa jadi.[]

Thursday, June 11, 2015

Laporan Akhir Periode Amanah Online

[sumber]

Oleh: Muhammad Hilal

Saya lupa, kapan tepatnya hari kelahiran blog Amanah Online ini. Ya sudah, itu tidak penting. Kapanpun itu, anggaplah tulisan ini sebagai laporan tahunan yang bertepatan dengan hari kelahirannya. Semacam kado ulang tahunlah.

Oleh sebab yang sedang ulang tahun adalah sebuah blog, maka kadonya berupa semacam laporan-laporan. Laporannya pun akan dikemas dengan sederhana, biar ada nuansanya.

Saya ingat, gagasan membikin blog ini tercetus saat kami sedang ngopi bareng. Saat itu, sepertinya pas buka puasa bareng, Gufron AM usul di hadapan kami untuk membuat terbitan majalah atau bulletin seperti waktu mereka di pondok dulu.

Saya berpikir, rasanya akan sulit kalau harus bikin majalah atau bulletin. Maksud saya, letak kesulitannya bukan di saat mau mencari tulisan, sebab saya yakin mereka semua adalah orang-orang yang jago menulis. Saya tidak ragu itu. Hanya saja, majalah atau bulletin yang akan diterbitkan nanti akan sulit bisa terbit secara berkala dan konsisten. Pikiran ini berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan.

Pengalaman yang dimaksud adalah saat saya menjadi Pemimpin Umum di sebuah majalah di kampus. Bukan main, menerbitkannya sulit minta ampun. Padahal biaya sudah ditanggung kampus, beberapa fasilitas seperti komputer, alat perekam, co-card, dll. juga sudah dikasih, tapi masih saja sulit mengorganisir beberapa orang untuk menerbitkan majalah.

Karena itu, saya menaruh rasa hormat sangat dalam pada mereka, terutama anak-anak muda, yang berusaha menerbitkan majalah atau bulletin. Meskipun bulletin yang mereka terbitkan terlihat menggunakan standar minimal, baik dari segi isi tulisan maupun tata letak, tapi saya sadar bahwa itu adalah hasil kerja ekstra mereka. Menghadapi anak muda yang seperti itu, saya selalu angkat topi secara imajiner.

Saya juga melihat di tempat lain orang-orang yang berusaha menerbitkan majalah. Persoalan yang dialami juga mirip. Persoalan yang dihadapi bukan ketersediaan fasilitas, tapi SDM yang memangku tugas penerbitan itu tidak memadai, entah dari segi pengalaman, wawasan, keterampilan, jaringan, visi-misi, semuanya atau sebagiannya minim. Akhirnya, majalah yang mereka terbitkan tidak bertahan lama.

Nah, secara objektif, kondisi teman-teman yang ngopi saat itu tidak jauh berbeda. Jadi, saya tidak langsung mengiyakan usulan Gufron waktu itu.

Di sisi lain, juga harus saya akui bahwa usulan itu bagus sekali. Usulan Gufron itu revolusioner. Jadi sayang rasanya kalau usulan itu harus saya tolak.

Karena itu saya usulkan agar medianya jangan berbentuk majalah atau bulletin. Alasannya jelas, majalah atau buletin cetak itu butuh biaya. Selain itu, media cetak juga harus didistribusikan secara manual. Jadi kita perlu manajemen lain selain keredaksian. Padahal, pada saat yang sama, kita masih perlu memperbaharui (upgrade) pengalaman, wawasan, keterampilan juga jaringan. Jadi terlalu menguras energi. Belum lagi kita harus mengurusi kesibukan kita masing-masing sebagai mahasiswa.

Saya usulkan waktu itu, medianya berupa majalah atau bulletin elektronik saja. Keuntungannya banyak sekali. Hal-hal yang terasa sulit di media cetak, bisa menjadi sangat mudah di media elektronik. Teman-teman waktu itu setuju. Maka, lahirlah blog Amanah Online ini.

Rohim Warisi yang multitalented langsung ambil alih pengolahan tata letaknya. Kita tak pernah tahu, kapan dan dari mana dia punya kemampuan itu. Tapi, mau dipercayakan ke siapa lagi?

Beda-beda Karakter.
Blog ini punya kontributor yang lumayan banyak lho. Jumlah ini, berikut kemampuan masing-masing, sudah lebih dari cukup untuk bisa dibilang keren. Modal blog ini memadai untuk bersikap optimis bahwa blog ini akan bertahan hingga entah kapan.

Dari semua tulisan yang ada di blog ini, kebanyakan kontributor rupanya lebih suka menulis di rubrik opini. Jumlahnya 84 buah. Selanjutnya, tentu saja, banyak yang suka sastra (35 buah). 9 buah tulisan berupa resensi.

Yang mengejutkan, dari tiga rubrik sastra, kebanyakan kontributor blog ini lebih suka menulis cerpen ketimbang yang lainnya. Cerpen di blog ini berjumlah 29 buah, puisi 14 buah, dan belum ada yang mau menulis dialog drama.

Di antara semua kontributor, yang paling rajin menulis di blog ini adalah Irham Thoriq. Wartawan Radar Malang ini telah menyumbangkan tulisan sebanyak 18 tulisan. Semuanya berupa esai. Style-nya adalah reflektif. Tampaknya, kekagumannya kepada GM mempengaruhi gaya tulisannya. Kita tentu berharap agar tulisannnya terus terbit di blog ini.

Itu di rubrik opini. Beda lagi kalau di rubrik sastra. Halimah Garnasih merupakan penyumbang terbanyak untuk genre tulisan ini. Dari 14 tulisan yang sudah  terbit, 11 di antaranya adalah sastra, baik cerpen maupun puisi. Kebanyakan tulisannya mengangkat isu gender dan relasi lintas iman. Tidak diragukan lagi, Halimah memang aktivis di dua bidang itu.

Kontributor lain yang layak diapresiasi karena sumbangan tulisannya yang banyak di blog ini adalah Muhammad Madarik. Kiai muda ini telah menerbitkan 9 tulisannya di sini. Dua di antaranya berupa opini, sisanya adalah cerpen. Yang menarik, konsistensinya untuk menulis cerpen menunjukkan bahwa sastra telah menjadi medianya untuk menyampaikan suatu pesan. Tampaknya, sudah lama tulisannya tidak terbit lagi. Kita layak menunggu cerpen barunya akan terbit nanti.

Lalu Rohim Warisi, si cerpenis absurd dan surrealis. Pada awalnya, Rohim menulis cerpen realis nan melankolis, namun semakin ke belakang cerpennya makin absurd. Gaya bertuturnya liris. Jelas, kekagumannya kepada penulis novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu memengaruhinya sangat mendalam. Sudah lama dia tidak nongol di blog ini. Semoga absurditas masih menjadi gaya tulisan dan gaya hidupnya. Semoga tulisannya bisa terlihat lagi dalam waktu dekat.

Muhammad Mahrus dan Gufron AM adalah penggagas utama lahirnya blog ini. Dwitunggal ini tentu punya tanggung jawab moral untuk berkontribusi di blog ini. Dengan demikian, kita bisa melihat Gufron AM telah menyumbangkan tulisan sebanyak 4 buah dan Muhammad Mahrus sebanyak 7 buah. Tanggung jawab moral itu akan terus mereka pikul selama blog ini masih ada di dunia.

Taufik dan Dhofir juga kontributor yang tidak bisa diabaikan. Yang pertama telah menyumbangkan 3 buah tulisan yang bagus, semuanya tentang tafsir Alquran; kita tahu, dia memang spesialis di bidang satu ini. Adapun Dhofir telah menerbitkan 4 buah tulisan. Beberapa di antaranya adalah tentang linguistik, sebuah bidang yang sedang dia geluti saat ini.

Abdul Rahman Wahid punya perkembangan yang sangat pesat di bidang kepenulisan. Tampaknya itu berkat komunitasnya yang kondusif untuk mengembangkannya. Di blog ini, kontribusinya sebanyak 9 buah; jumlah yang amat sedikit dibandingkan produktivitasnya menulis di media-media lain.

Yang istimewa adalah Imron Hakiki, salah satu kontributor kita yang beda dari yang lain. Dia punya keahlian bikin sketsa—saking jagonya bahkan bisa membikin gadis-gadis kesemsem padanya. Blog ini beruntung karena beberapa karyanya dia izinkan untuk terbit di sini.

Kita tentu tidak bisa melupakan Muhammad Ilyas. Tulisan-tulisannya menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Minat kajiannya pun beragam. Seiring perjalanan waktu, tidak diragukan lagi bahwa Ilyas akan menemukan gayanya yang khas. Singkat kata, dia berada di jalur yang tepat, on the right track.

Kontributor lainnya masih banyak. Rasanya, laporannya cukup di sini saja. Capek kalau harus mengurai satu per satu.

Baru Memulai.
Sudah berapa lama blog ini bertahan? Sudah tiga tahun. Sudah berapa tulisan yang sudah terbit? Cuma 146 tulisan. Rasio jumlah tulisan dan umur blog jomplang sekali. Reratanya cuma 3 tulisan per bulan. Bisa dibilang, kita ini pemalas sekali untuk menulis.

Maksud saya, kita malas menulis di blog ini, tapi tidak di media lain. Saya yakin itu.

Sejauh amatan saya, para kontributor blog ini tak bisa direduksi hanya pada blog ini saja tingkat kreativitasnya. Saya tahu, mereka bergiat dan berkreasi di banyak sekali media. Jangan dihitung di Facebook dan di Twitter. Tulisan mereka di media sosial sudah melebihi buku super tebal dan multi disipliner pula tulisannya.

Dengan kata lain, tujuan dilahirkannya blog ini sebetulnya sudah terpenuhi. Dalam benak saya, tujuannya sederhana sekali: para kontributor menggunakannya untuk tujuan yang paling permulaan. Paling permulaan, dalam benak saya, dimaksudkan sebagai tujuan yang paling sederhana dan remeh-temeh dari sebuah media. Bisa jadi untuk belajar dan membiasakan menulis. Bisa pula sebagai alat penyimpan arsip karya pribadi—semacam buku harian. Tidak ada salahnya juga blog ini dibikin sekadar alat curahan hati. Sesederhana itu sebetulnya.

Singkat kata, sebetulnya blog ini belum beranjak terlalu jauh sebagai sebuah media. kita masih berdiri di level yang paling bawah dalam hierarki sepak terjang sebuah media. Ibarat pertandingan final Liga Champions baru-baru ini, kita adalah Barcelona FC di babak pertama yang belum mengerahkan permainan yang sebetulnya.

Tapi ini bukan ekspresi berkecil hati. Kekuatannya sebagai sebuah media sebetulnya sangat besar. Kita bisa naik level. Dan itu bisa dimulai dari sekarang. Amanah Online ini bisa kita jadikan apapun semau kita, asalkan naik level.

Namanya saja media, kita bisa menjadikannya sebagai alat untuk mempromosikan gagasan-gagasan. Semacam alat propagandalah. Di semua kelompok kepentingan, selalu ada alat yang demikian. Dan itu wajar saja. Bahkan bisa jadi mulia. Nah, blog ini berpotensi bertransformasi demikian.

Blog ini juga bisa menjadi alat pengeruk pundi-pundi harta karun melalui iklan. Persyaratannya pun sederhana: tinggal menyulapnya agar sesuai standar SEO yang tidak begitu ribet itu. Apalagi kita punya modal sosial yang memadai. Modal sosial itu maksudnya ya kita-kita, para kontributor yang sudah ada ini.

Sembari naik level, kita harus menjaring orang-orang yang lebih banyak agar menjadi bagian dari kita. Itu mutlak diperlukan. Dan ini pun tidak sulit-sulit amat.[]

Friday, February 6, 2015

Himura Kenshin dan Proyeksi Manusia

[sumber]

Oleh: Muhammad Hilal

Untuk bisa menikmati film Rurouni Kenshin seri the movie (3 sekuel) ini, penonton perlu tahu barang sedikit sejarah jepang pra kekaisaran Meiji. Saya merasa beruntung sudah membaca novelnya Eiji Yoshikawa, Taiko, beberapa tahun lalu. Meski Taiko bercerita soal peristiwa sejarah jauh sebelum Restorasi Meiji, yakni ketika Jepang dikuasai oleh para samurai, namun dari novel itu saya tahu bahwa masa keemasana samurai berakhir pada masa Kaisar Meiji beberapa abad kemudian.

Berbekal sedikit pengetahuan tersebut, saya menonton film ini dengan sedikit gambaran yang cukup gamblang tentang latar ceritanya. Biar bagaimana, Era Meiji adalah sejarah yang menentukan dalam sejarah Jepang. Membikin cerita kepahlawanan Samurai di Era Meiji adalah gagasan cerdas, sebab masa samurai berakhir justru di masa kekaisaran Meiji ini. Sebuah kontradiksi yang sangat memukau!

Selain latar cerita yang menarik, film ini juga mengangkat tokoh-tokoh yang digambarkan punya peran dan terlibat langsung dalam proses sejarah penting itu. Era Meiji adalah transisi menuju Era Baru—begitu mereka menyebutnya. Sebuah fase sejarah yang menghantarkan negara itu menjadi seperti sekarang ini, diperhitungkan di mana-mana, dalam hampir segala aspeknya.

Namun sejarah selalu memakan korban. Perubahan selalu memerlukan tumbal agar ia bisa melunasi tujuannya. Tak terkecuali perubahan yang dicita-citakan oleh Kaisar Meiji ini. Nah, para tokoh utama dalam film ini adalah mereka yang merasakan pahitnya perjuangan menuju perubahan itu.

Himura Kenshin dulu adalah seorang samurai pro perubahan. Perannya adalah memburu para samurai yang menentang kebijakan Kaisar Meiji tersebut. Saking banyaknya dia membunuh para samurai, dia merasa sangat kesepian, terkucil dan sendirian. Setiap kali dia melihat korbannya ditangisi oleh keluarganya, perasaan-perasaan itu menggerogotinya. Akhirnya dia memutuskan uzlah, menghilang dari keramaian, dan berhenti membunuh untuk selamanya.

Shishio Makoto juga pemburu. Dia menggantikan peran Himura Kenshin setelah orang itu menghilang. Sepak terjangnya tak kalah ganas ketimbang pendahulunya. Namun, peran pentingnya sebagai pendukung Era Baru tak dianggap. Dia malah hendak dibunuh dan dibakar. Beruntung, dia berhasil bertahan hidup meski sekujur tubuhnya menderita luka bakar berkepanjangan. Di kemudian hari, dia berencana menghancurkan pemerintah yang dulu dia bela dan menjadi lawan Himura Kenshin.

Saito Hajime, polisi yang selalu menghisap sigaret itu, adalah aparat yang dulunya adalah anggota Shinsengumi, sebuah kesatuan polisi yang bertugas menjaga penguasa Shogun. Dalam beberapa kesempatan dia berduel dengan Himura Kenshin. Belakangan, peran asli Saito ketahuan. Dia adalah agen mata-mata yang mengabdi kepada pemerintahan Meiji. Sejak itu, dia kerap membantu Himura Kenshin dalam aksi-aksinya.

Kamiya Kaoru, perempuan yang kelak menikah dengan Himura Kenshin, adalah juga korban dari sejarah masanya. Ayahnya, yang memimpin sebuah sanggar Hojo, meninggal terbunuh oleh seseorang yang mengaku sebagai Hitokiri Battosai, julukan lawas Himura Kenshin.

Sagara Sanosuke, sahabat Himura Kenshin, dulu adalah anggota Tentara Sekiho. Kelompok tentara ini dihancurkan oleh pemerintah Meiji. Akibatnya, dia putus asa dan kemudian menjadi petarung jalanan untuk mendapatkan uang. Sejak bersahabat dengan Himura Kenshin, dia mulai mendapatkan semangat hidupnya dan bertarung untuk membela orang-orang kecil.

Nah, begitulah keterkaian tokoh-tokoh di film ini dengan jaman di mana mereka hidup. Bisa dibilang, mereka adalah para korban dari peristiwa besar Restorasi itu. Mereka menjalani sebuah lakon hidup sembari menanggung beban masa lalu yang tidak ringan.

Hanya saja, yang membuat film ini semakin menarik ditonton: pertarungan yang terjadi di antara para jagoan samurai adalah orang-orang yang memilih jalan hidup yang berbeda. Jalan hidup itu harus mereka pilih terkait masa lalu mereka di masa transisi menuju Jepang modern.

Di satu sisi, terdapat beberapa korban yang telah mengalami transformasi diri semacam Himura Kenshin yang tetap mempertahankan Era Baru sembari yang mengupayakan pencegahan korban lebih banyak lagi. Orang-orang ini memilih bertahan dalam duka dan nestapanya di gempur Era Baru. Vitalitas dan Kehendak Hidupnya tetap mereka jaga agar upaya meminimalisir korban bisa dilakukan.

Di sisi yang berlawanan, terdapat orang-orang semacam Shishio yang mampu bertahan dari gempuran Era Baru, namun memilih jalan hidup menentangnya habis-habisan. Bahkan dia berupaya menghentikan jalan Era Baru dengan berencana mengambil alih pemerintahan Kaisar. Jalan ini harus dia ambil karena masa depan yang dijanjikan oleh rezim pemerintahan tak bisa dia harapkan akan terwujud. Bagaimana mungkin dia bisa berharap pada pemerintahan yang telah mencampakkannya padahal dulu dia membelanya habis-habisan?

Pergulatan antara tokoh yang menyambut perubahan meski menanggung beban masa lalu dengan para tokoh penentang rezim pengusung Era Baru menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Kita tak bisa membayangkan bahwa tokoh semacam Himura Kenshin, Shishio, atau lain-lainnya pernah ada dalam sejarah. Namun, pada saat yang sama, kita tak bisa mengelak dari kenyataan sejarah bahwa peristiwa Restorasi Meiji adalah nyata. Itulah menariknya cerita film ini, fiksi dan fakta bergumul menjadi cerita yang sangat menarik.
Kita juga disajikan cerita di mana para tokohnya orang-orang yang mengalami sendiri pedihnya sebuah perubahan besar. Seolah-olah, kita dikasih sebuah kenyataan bahwa Bangsa Jepang di Era Restorasi itu sedang mengalami keterbelahan batin. Beban psikologis yang harus ditanggung Bangsa Jepang tidaklah ringan. Building the New Era is much harder work than destroying the old one, demikian dikutip dalam film itu.

Saya percaya, sebuah film tidak sekadar sajian realitas imajitif terhadap penonton semata, namun lebih dari itu merupakan proyeksi terhadap realitas yang dibayangkan akan terwujud. Secara lamat-lamat saya juga menangkap hal ini dalam film ini. Himura Kenshin adalah manusia imajinatif yang diharapkan menjadi manusia Jepang masa depan. Dia memiliki segalanya. Dia hanya tidak beruntung berhadapan dengan sebuah jaman yang memporak-porandakan masyarakatnya.

Namun yang membedakan Himura Kenshin dari lainnya adalah semangatnya untuk bertahan hidup. Sesakit apapun luka batin yang diderita, sedalam berat apapun beban psikologis yang harus dipikul, kehendak untuk tetap hidup harus tetap dijaga. Sebab hanya dengan semangat itulah masa depan bisa diraih. Itulah yang dilakukan Himura Kenshin.
Kebalikan dari Himura Kenshin berarti adalah mereka yang diproyeksikan tidak mewujud. Masa depan tidak mungkin diserahkan kepada mereka yang pandangan dan sikap hidupnya seperti Shishio. Sosok-sosok seperti itu adalah—meminjam istilahnya Metallica—unforgiven.[]

Saturday, January 17, 2015

Antara Filsafat dan Sastra: Sebuah Pertanggungan Jawab

[sumber: sini]

Oleh: Muhammad Hilal

Tulisan ini dibuat untuk menegaskan bahwa ketika saya meminta mahasiswa membuat puisi untuk tugas UAS mata kuliah Studi Filsafat, saya tidak sedang main-main. Sungguh mati, saya tidak sedang berkelakar.

Beberapa orang bertanya, yang lainnya bahkan ada yang mencibir: apa hubungan filsafat dengan puisi? Kenapa tugas UAS-nya membuat puisi dan bukan membuat makalah filsafat? Anda sedang main-main ya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul karena beberapa sebab, tentu saja. Pertama, karena gagal melihat hubungan antara sastra dengan filsafat. Kedua, karena dalam benak penanya masih terdapat pengotak-kotakan ilmu, seolah satu ilmu dengan ilmu lain tidak ada hubungan apapun. Ketiga, itu adalah pertanyaan iseng (saya tak pernah menafikan satu sifat dasar manusia ini) yang terlontar bukan karena secara jujur ingin tahu.

Nah, untuk membuktikan bahwa saya tidak sedang main-main, akan saya paparkan dengan singkat apa dan bagaimana hubungan filsafat dengan puisi atau dengan sastra secara umum, atau bahkan dengan seni sekaligus. Paparan ini nanti akan berkisar pada filsafat Barat semata, sedangkan dalam filsafat Timur akan saya lewatkan sebab nanti akan membutuhkan ruang yang jauh lebih banyak, meskipun perlu disadari bahwa sebetulnya hubungan antara filsafat dengan puisi itu justru sangat intens di dalam filsafat Timur.
***
Untuk melihat hubungan itu, setidaknya kita bisa menyelidikinya dalam tiga hal. Pertama, seni sebagai objek filsafat. Hal ini telah menjadi perhatian filsafat sejak masa-masa permulaan, yaitu sejak filsafat mulai bermekaran di Yunani Kuno. Salah satu filsuf yang dikenal memiliki pandangan mapan mengenai seni adalah Aristoteles (384-322 SM). Dalam bukunya, Poetics, Aristeles telah menggambarkan bahwa seni adalah imitasi dari realitas. Bagi Aristoteles, puisi adalah sesuatu yang lebih filosofis ketimbang sejarah karena pernyataan-pernyataan puisi adalah tentang alam semesta, sedangkan sejarah adalah tentang benda-benda singular. Fungsi sastrawan bukanlah membicarakan sesuatu yang telah terjadi, melainkan sesuatu yang mungkin terjadi, yakni membicarakan sesuatu yang mungkin (probable) sebagai yang mungkin (probable) atau niscaya (necessary).

Apa yang perlu dipahami dari teori Aristoteles di atas adalah bahwa dia membagi kebijaksanaan (wisdom, hikmah) menjadi tiga: theoria (ilmu teoritis), praxis (ilmu praktis), dan poiesis (seni). Dalam bukunya, physics, Aristoteles membagi seni menjadi:

(a)    Seni yang bertujuan untuk melengkapi fungsi alam semesta, seperti menciptakan alat-alat atau teknologi-teknologi, karena alam itu sendiri memberikan manusia hanya dua tangan.

(b)   Seni yang bertujuan meng-“imitasi” alam semesta. Pandangan kedua ini—mirip seperti pandangan Plato—menyatakan bahwa dalam seni alam imajiner diciptakan yang merupakan imitasi alam real. Inilah yang dalam bahasa inggris diistilahkan dengan Fine Art. Puisi termasuk di dalamnya.

Dengan pandangannya ini, Aristoteles—bersama dengan Plato (427-347 SM)—memiliki pandangan khas mengenai puisi dan seni pada umumnya, yakni bahwa poiesis menduduki posisi yang lebih rendah ketimbang theoria, karena bagi dua filsuf itu poiesis merupakan imitasi dari realitas, sedangkan theoria adalah representasi persis dari realitas itu sendiri. Dengan kata lain, puisi dan semua bentuk kesenian lain kurang asli ketimbang ilmu-ilmu teoretis.

Pandangan yang lebih apresiatif terhadap seni dan puisi muncul di kemudian hari, di tangan seorang filsuf kelahiran Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860). Bagi Schopenhauer, terdapat dua jenis realitas yang ciri-cirinya sangat berbeda: pertama, dunia sebagai representasi (world as representation), yakni dunia yang bisa dipahami dan dicerap melalui kategori-kategori rasional. Realitas ini mirip seperti alam fenomenal dalam istilah Immanuel Kant. Kedua, dunia sebagai Kehendak (world as will), yaitu dunia yang sama sekali berbeda dengan jenis pertama dan cara mengaksesnya tidak bisa dilakukan melalui kategori-kategori rasional, melainkan melalui mawas-diri (self-consciousness), pengekangan diri dan pencerahan batin. Inilah dunia yang hakiki bagi Schopenhauer, sebab dunia sebagai representasi adalah manifestasi dari dunia Kehendak.

Lantas, di mana posisi seni bagi Schopenhauer? Di sinilah letak apresiasi Schopenhauer terhadap seni. Bagi filsuf Jerman ini, seni adalah akses lain terhadap dunia Kehendak, jalan alternatif untuk bisa sampai kepadanya. Hal ini karena seni bisa mengondisikan manusia untuk mengekang hasrat-hasrat materialnya, sedangkan akses kepada dunai Kehendak itu tidak lain adalah melalui pengekangan diri dari hasrat-hasrat material.

Demikianlah, seni adalah media yang ampuh untuk mencapai yang hakiki, untuk mengakses dunia Kehendak. Bagi Schopenhauer, seni pun terpilah-pilah secara hierarkis, semakin tinggi tingkat imitatifnya, semakin rendah kemampuannya untuk menjadi penengah antara manusia dengan dunia Kehendak. Hierarki itu dia jadikan seperti ini:

Pertama, seni visual. Dengan demikian, lukisan, patung, arsitektur, taman, air mancur, dan lain-lain seni visual merupakan akses terendah dari bentuk seni lain dalam keampuhannya menjadi medium mengakses dunia Kehendak. Kedua, puisi. Puisi menempati posisi yang lebih tinggi ketimbang yang pertama sebab puisi lebih memiliki ciri objektivikasi Kehendak ketimbang seni visual. Puisi merepresentasikan sesuatu yang kurang material ketimbang seni visual. Ketiga, tentu saja musik (Schopenhauer tidak bermaksud sembarang musik, melainkan hanya musik orkestra hasil gubahan para maestro). Kenapa musik? Sebab dalam musiklah objektivikasi Kehendak mendapat tempat yang paling penuh. Musik adalah akses terbaik untuk mencapat dunia sebagai Kehendak.

Dua filsuf di atas telah menjadikan puisi—dan sastra pada umumnya—sebagai perhatiannya dan objek dari filsafatnya yang canggih. Saya rasa, dua filsuf ini saja sudah memadai untuk menggambarkan bahwa puisi adalah salah satu objek filsafat yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Melihat ini saja, kita sudah bisa mempertimbangkan bahwa hubungan antara filsafat dengan puisi tidaklah main-main. Dengan penjelasan berikutnya ini, hubungan itu akan semakin terlihat keseriusannya.

Pandangan para filsuf mengenai puisi—dan sastra serta kesenian pada umumnya—kemudian bahkan menjadi cabang tersendiri dalam filsafat, yakni Estetika. Estetika adalah cabang filsafat yang menyelidiki ‘nilai keindahan’. Kenapa ‘nilai keindahan’ harus menjadi objek penyelidikan tersendiri dalam filsafat? Sebab, sebagaimana dimaklumi bersama, filsafat adalah sebuah disiplin ilmu. Sebuah disiplin ilmu tentunya tidak bisa dipisahkan dari problematikan kehidupan manusia. Dari semua problematika yang dihadapi oleh manusia, siapa yang bisa mengabaikan aspek keindahan? Manusia mana yang bisa tidak mengindahkan aspek keindahan dalam hidupnya? Justru karena keindahan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, filsafat menjadi absah untuk menyelidiki dan menyelaminya secara mendalam. Setidaknya, dari pertimbangan inilah Estetika hadir sebagai sebagai cabang filsafat.
***
Kedua, kita bisa melihat hubungan antara filsafat dengan sastra atau puisi dalam kenyataan bahwa banyak para filsuf yang menuliskan dan mengekspresikan gagasan-gagasan filosofisnya dalam bentuk sastra atau puisi. Siapa yang tak kenal Frederich Nietzsche (1844-1900)? Bukunya yang terkenal, Thus Spoke Zarathustra, bukanlah sekumpulan tulisan yang runtut dan sistematis seperti buku-buku filsafat pada umumnya. Memang, orang-orang menyebutkan bahwa buku itu berisi kumpulan aforisme-aforisme, bukan sekumpulan puisi. Namun, tidak tepat pula jika buku itu tidak memuat kandungan sastra sama sekali. Bahkan sebelum Martin Heidegger mengeksplisitkan pemikiran filosofisnya, Nietzsche dianggap oleh para akademisi Inggris sebagai seorang sastrawan ketimbang filsuf.

Tak bisa dilupakan pula Martin Buber (1878-1965). Filsuf keturunan Yahudi menulis bukunya, I-Thou, dengan cara yang sama: kumpulam aforisme. Pandangan-pandangan filosofisnya tidak dia sampaikan bukannya dalam rentetan-rentetan argumen yang ketat, melainkan dalam fragmen-fragmen aforisme yang puitis.

Lalu Jean Paul Sartre (1905-1980) dan Albert Camus (1913-1960), sama-sama dikenal sebagai filsuf eksistensialis brilian asal Prancis, juga sama-sama menulis berbagai tulisan sastra. J. P. Sartre menulis banyak sekali cerita pendek dan novel. Naskah dramanya dilakonkan dengan sangat spektakuler, ditonton oleh banyak sekali orang. Novel-novel Camus juga menakjubkan. Pandangan-pandangan filosofis dalam novel-novel: The Myth of Sisyphus, The Plague, The Rebel, dan banyak lagi.
***
Cara ketiga untuk melihat hubungan erat antara puisi dan filsafat itu bisa dilihat dari ragam pemikiran filosofis pos-modernisme. Ragam pemikiran bermula dalam suatu fase historis dalam filsafat yang disebut sebagai “language turn”, titik balik kepada bahasa. Pada fase sejarah ini (yang tetap berlangsung hingga sekarang), filsafat tiba-tiba menyelidiki bahasa, tapi bukan untuk memahami bahasa itu sendiri, melainkan untuk memahami objek abadi filsafat, yakni alam semesta dan kehidupan manusia.

Dalam fenomena “titik balik kepada bahasa ini”, filsafat terbelah kepada dua kecenderungan, persis seperti dua watak bahasa. Di satu sisi, terdapat beberapa filsuf yang mempertahankan watak logis dari bahasa, yakni kecenderungan bahasa untuk merepresentasikan realitas di luar dirinya. Yang dilakukan filsafat adalah klarifikasi bahasa, entah melalui verifikasi, atom bahasa, teori cermin, atau lainnya. Positivisme Logis dan Filsafat Analitis adalah dua  aliran utama dalam kecenderungan filsafat ini.

Di sisi lain, terdapat beberapa filsuf lain yang memilih untuk menyelediki bahasa yang cenderung ‘transformatif’ sifatnya. Artinya, selain berfungsi untuk merepresentasikan realitas, bahasa juga fungsi lain yang tak kalah pentingnya ketimbang fungsi tadi, yaitu fungsi menciptakan realitas. Itulah yang dimaksud fungsi transformatif bahasa.

Nah, demi mengerti hubungan bahasa dan sastra, kecenderungan kedua ini akan dijabarkan dengan agak panjang-lebar. Hal ini tidak lain karena fungsi transformatif bahasa justru bekerja penuh dalam bahasa sastra.

Ciri-ciri bahasa sastra adalah metafor. Dengan metafor, bahasa mampu menggambarkan sesuatu yang tersembunyi, “tak-terkatakan”, misterius, atau bahkan yang tak terjangkau oleh penalaran konvensional. Metafor adalah semacam jalur alternatif agar bahasa mampu berbicara ketika cara denotatif tidak mampu melakukannya.

Apa yang tak terelakkan dari metafor adalah tafsir. Metafor adalah gambaran tak langsung mengenai objek yang diacunya. Ia menggambarkannya tidak langsung karena dalam melakukannya ia masih meminjam objek perantara yang menjadi penghubung antara metafor dengan objeknya. Oleh karena itu, untuk menemukan hubungan antara perantara dengan objek metafor, seorang penulis dan/atau pembaca harus mengandalkan imajinasinya. Di satu sisi, seorang penulis harus mengandalkan imajinasinya untuk memahami objek yang akan dia gambarkan agar metafor yang dia buat bisa terjalin kuat dan elegan, sedangkan pembaca pun harus mengandalkan imajinasinya pula untuk menafsirkan metafor yang sedang dia baca agar dengan tafsir dia bisa mengerti hubungan-hubungan dalam metafor tersebut. Tafsir, dengan demikian, menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam setiap tindakan metafor.

Beberapa filsuf kontemporer bahkan meradikalkan pandangan ini dan menganggap bahwa tafsir merupakan cara yang tak terelakkan dalam memahami alam semesta. Tafsir adalah cara manusia berada, kata Martin Heidegger. Tidak hanya dalam bidang-bidang kehidupan sosial, bahkan setiap upaya untuk memahami dunia fisik pun tafsir tidak bisa diabaikan. Ketika terdapat deskripsi mengenai alam fisik, misalnya ‘planet adalah benda langit yang mengelilingi sebuah bintang’, sebetulnya di dalamnya tersirat sebentuk metafor. Jadi, deskripsi planet di atas tidak betul-betul definitif, melainkan tersirat pengertian bahwa ‘planet sama seperti benda langit yang mengelilingi sebuah bintang.’

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa filsafat pos-modern tidak hanya telah bersinggungan sastra, melainkan telah menjadikan sastra sebagai paradigma berpikirnya. Bahasa sastra adalah tren pemikiran terkini yang digunakan oleh pemikiran filsafat pos-modern.

Tren pemikiran filosofis yang mengambil jalur ini ada banyak, di antaranya hermeneutika (terutama sejak Hans Georg Gadamer), Semiotika (terutama di karya-karya Roland Barthes yang belakangan), Dekonstruksionisme, Genealogi, dan beberapa lagi.
***
Muhammad Iqbal (1877-1938), filsuf Muslim Modern berkebangsaan India, pernah berkata dalam sebuah bukunya:Filsafat penjelasan hidup, kesusastraan nyanyian hidup, kesenian perhiasan hidup, tasawuf intisari hidup, dan ibadah pegangan hidup!

Kata-kata Iqbal ini menggambarkan tren keilmuan masa kini yang menekankan integrasi. Pandangan bahwa ilmu yang satu dengan yang lain terpisah-pisah, terkotak-kotak atau tak berhubungan sudah menjadi kuno, diganti dengan pandangan baru yang cenderung menggabungkan, menyilang-sengkarutkan, dan mengaitkan satu sama lain. Ibarat sebuah jaring, ilmu adalah benang-benang yang satu sama lain terikat erat, tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk jaring yang sempurna. Tanpa mengindahkan pertalian itu, kita hanya akan melihat benang satu per satu dan gagal mendapatkan hubungannya. Begitu pula ilmu, kegagalan menemukan hubungan satu sama lain hanya akan menghasilkan kesimpulan yang parsial, sepihak, atau terpotong-potong. Realitas yang digambarkan oleh ilmu hanyalah realitas yang tak lengkap.

Demikian pula halnya dengan filsafat dan sastra, tidak akan terlihat hubungannya bila yang dicermati hanyalah masing-masing. Filsafat dan sastra adalah dua wilayah keilmuan yang dalam sejarah telah bergelut satu sama lain.[]

Monday, December 1, 2014

Romansa Ujung Senja


Oleh: Muhammad Hilal 

Abah Nyut sedang jatuh cinta, untuk ketiga kalinya, di usianya jelang kepala lima.

Cinta pertamanya adalah kepada istri pertamanya yang ia nikahi saat dia masih muda. Dengan perempuan ini, Abah Nyut mendapat dua anak lelaki. Pernikahannya bertahan hingga saat ini.
Cintanya yang kedua mekar bertahun-tahun kemudian, kepada istrinya yang kedua. Perempuan ini jauh  lebih muda. Entah karena apa, mereka keburu terpisah sebelum istrinya melahirkan seorang anak.

Adapun cinta ketiga berlabuh pada seorang janda beranak satu, tapi bukan istrinya, melainkan semacam kekasih gelap. Hingga kini, janda ini menjadi topik pembicaraan Abah Nyut di mana-mana, kecuali di rumahnya tentu saja. Tak ubahnya seperti seorang remaja sedang mengalami cinta monyet, Abah Nyut menceritakan cinta ketiganya dengan wajah berseri-seri.

Berhubung ini adalah kisah cinta, tentu Abah Nyut harus kencan. Saat dia mau berangkat, dia berbusana apa adanya tanpa kesan rapi dan parlente. Kepada istrinya, dia pamit pergi dengan alasan mau bantu bangun rumah temannya. Kadang dengan alasan lain yang menurutnya tak akan dipersoalkan istrinya.

Kencan itu berlangsung di sekitar pasar kecamatan, di sebuah warung bakso atau nasi rawon. Apalagi di masa penghujan seperti sekarang—Abah Nyut menambahkan kesan suasana dalam ceritanya—semangkok  bakso atau sepiring rawon tak kalah romantis dibanding cahaya lilin dan segelas anggur.

Dengan ponsel Nokia seri 623i-nya yang kuno, Abah Nyut memotret kekasihnya secara sembunyi-sembunyi. Ini harus sembunyi-sembunyi, sebab biar bagaimanapun hubungan mereka adalah hubungan rahasia. Kekasih Abah Nyut tak pernah mau dipotret, khawatir ketahuan orang lain. Malu, katanya. Ponsel jadul begitu, gambar yang dihasilkan tentu tidak begitu bagus. Tapi itu sudah cukup bagi Abah Nyut, itu cukup untuk menawar rindu yang kerap datang tanpa mau menunggu.

Kadang-kadang, kencan itu berlangsung bersama anak si janda. Abah Nyut tidak masalah dengan anak itu. Kesempatan itu justru dia gunakan untuk semakin memikat hati kekasihnya. Dia memperhatikan anak itu, membelikannya es krim atau mainan, agar dia senang kepadanya. Juga agar kekasihnya ikut senang. Asal perempuan itu senang, Abah Nyut sudah merasa berguna sebagai lelaki.

Saat fajar datang, menjelang subuh, rindu seringkali hinggap tanpa Abah Nyut bisa hentikan. Pada saat begitu, diam-diam dia mengirim pesan kepada kekasih hatinya. Dia bertanya tentang ini-itu: bagaimana tidurnya, nanti siang ada rencana apa, sudah wudu apa belum, atau apapun. Jika pesannya langsung dibalas, rindu itu seolah berbalas senyum manis dari seberang sana. Namun bila tak lekas dibalas, entah kenapa dadanya sesak dan berdebar-debar, seolah menghambat aliran darah di tubuhnya. Kasus seperti ini sering terhenti di siang harinya, setelah kekasihnya membalas pesannya. Balasan itu melegakan hatinya.

Romansa penghujung senja harus Abah Nyut jalani sebagai seorang lelaki, meski untuk kali ketiga, meskipun di luar sepengetahuan istrinya. Dia tak pernah merencanakan perasaan itu di hatinya, namun begitu rasa itu bercokol di hatinya dia tak bisa menyangkalnya.

Orang sekelilingnya bukannya diam dan acuh kepada Abah Nyut. Tak hanya sekali-dua kali mereka menasihati agar Abah Nyut lebih bisa mengendalikan diri. Hentikan main-main dan pikirkan anak dan istri, mereka bilang. Tapi pendirian Abah Nyut lain. Cinta itu tulus dari hatinya. Bahkan dia berencana akan mempersunting kekasihnya itu. Tak ada niat main-main sedikitpun, dia benar-benar serius jatuh cinta. Lagi pula, anak-istri Abah Nyut dia perlakukan dengan baik sebagaimana seharusnya. Cinta baru ini tidak akan menyisihkan anak-istrinya, begitu dia berkilah. Seperti halnya remaja yang sedang dirundung cinta, Abah Nyut punya seribu alasan untuk membenarkannya.
 
Cinta memang tak pernah tepat waktu, kata Puthut EA dalam Novelnya. Nampaknya, Puthut berkata benar kalau kita melihat tingkah polah Abah Nyut.[]

Saturday, October 11, 2014

Membaca Analitis

Oleh: Muhammad Hilal

Sekelompok orang itu terdiri dari 13 orang. Satu di antaranya adalah pembimbingnya. Masing-masing membawa Fath al-Qârib karangannya Syaikh Abî Syujâ' di tangannya, menekuni tulisan di dalamnya. Jelas sekali, mereka semua sedang belajar Ilmu Fikih melalui kitab itu.

Pada awalnya, salah satu orang di antara mereka membuka acara. Hingga sekumpulan orang ini bubar, si pembawa acara berfungsi menjadi moderator. Tugasnya adalah mengatur keberlangsungan diskusi mereka.

Kali ini, moderator meminta salah satu peserta membaca kitab itu, berikut arti dan pengertiannya. Arti (tarjamah) dan pengertian (murâd) harus dibedakan, sebab arti dilakukan dalam bahasa Jawa, sedangkan pengertian disampaikan dalam bahasa Indonesia.

Peserta yang bertugas membaca memulai tugasnya. Dia membaca bab 'Peradilan dan Persaksian' dari kitab itu. Dia baca kitab itu dengan hati-hati, sebab tulisannya tidak berharakat. Dia harus membaca tulisan bahasa Arab itu dengan benar, menentukan status kata per kata dengan teliti, apakah sebagai mubtadâ' atau khabar, fâ'il atau maf'ul, 'athf atau na't, atau lain-lain.

Setelah dibaca dan diartikan, peserta ini pun menjelaskan pengertian dan maksud dari apa dibacanya barusan. Adapun peserta lain musti menyimak dan mendengarkan, atau membuat catatan kecil dalam kitabnya. Begitulah proses diskusi itu berawal.

Setelah proses itu selesai, moderator mempersilakan semua peserta lain mengajukan pertanyaan. Pertanyaan berkisar pada pengertian yang lebih mendalam terkait bacaan tadi. Bisa pula mengajukan persoalan lain yang dianggap pelik dari penjelasan yang sudah dipaparkan tadi. Peserta yang membaca tadi ditugaskan menjawab mula-mula pertanyaan-pertanyaan tadi. Setelahnya, baru peserta lain dipersilakan menjawab pula agar perspektifnya makin luas.

Saling mengajukan jawaban dan perspektif ini bisa berlangsung seru. Satu jawaban bisa berbeda dengan jawaban temannya. Jika sudah begini, debat dan adu argumen tidak terelakkan. Moderator pun tak jarang akan kewalahan menghadapi perdebatan sengit begini.

Bila belum ada jawaban yang memuaskan, pembimbing diminta memberikan jawaban terakhir dengan perspektif yang lebih matang. Pembimbing adalah orang yang dianggap lebih paham isi dan kandungan kitab yang sedang dipelajari.

Begitulah diskusi itu berlangsung dengan sederhana. Tak ada gegap gempita, tak ada hiruk-pikuk publikasi. Meski begitu, jarang dari peserta itu yang mempertanyakan 'kenapa' cara mereka belajar harus seperti itu. Padahal, mereka sedang bersama-sama melakukan 'pembacaan analitis' terhadap suatu teks. 

Cara ini sudah berabad-abad dipraktekkan oleh para cendekiawan. Di Indonesia, cara ini bertahan dan marak dilakukan di pesantren. Jadi, memang tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren berdiri di barisan terdepan melestarikan dan menjaga tradisi.

***

Ada tiga cara membaca buku, kata Mortimer Adler dalam bukunya How To Read A Book. (1) Membaca Analitis, (2) Membaca Sintetis, dan (3) Membaca Kritis.

Membaca nomor 1 adalah merunut arti kata per kata. Tuntutan membaca ini adalah memahami isi buku secara rinci, dalam setiap seginya. Jika ada majaz, dijelaskan artinya. Bila ada kata asing, dilacak artinya. Pembacaan model ini menuntut ketekunan ekstra, sebab lamanya tergantung tebalnya buku. Makin tebal bukunya, makin lama waktu yang harus ditekuni.

Membaca model 2 berarti menangkap inti dari isi buku yang sedang dibaca. Pembaca berusaha menangkap alur penalaran penulis, meringkasnya menjadi premis-premis inti, hingga ia menyimpulkan sendiri sebagaimana pengarangnya berusaha menyimpulkan. Pembacaan ini menuntut kemampuan logika yang memadai, sebab yang harus ditangkap pembaca adalah alur logika penulis secara global. Mereka yang terbiasa meresensi buku dengan sendirinya akan terlatih kemampuan Membaca Sintetisnya.

Lain lagi dengan pembacaan ke-3. Membaca Kritis berarti sudah melewati dua tahap pembacaan di atas. Pembacaan Kritis adalah memberikan komentar terhadap buku yang dia baca, mengoreksi sesat pikir penulis jika memang ada, membandingkan dengan buku lain, dan memperbaiki kemungkinan-kemungkinan perbaikan yang mungkin dilakukan. Pembaca boleh tidak setuju dengan kesimpulan penulis bila terasa ada premis-premis yang dianggap tak layak diterima dengan berbagai pertimbangan yang pembaca miliki.

Hanya saja, perlu ditekankan lagi di sini, kritik layak dialamatkan kepada penulis jika dan hanya jika pembaca sudah tuntas membaca bukunya secara Analitis dan Sintetis. Kritikus yang buruk adalah pengkritik yang belum membaca bukunya. Pengkritik buku semacam ini tak layak diindahkan kecerebohannya.


Powered by Blogger.

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top