Sunday, June 15, 2014

Pendidikan Karakter untuk Masyarakat Marginal

9:44 AM

credit photo: here.

Oleh: Muhammad Ilyas

Pada tanggal 07 Juni 2014 HIMA DIPSOS (Himpunan Mahasiswa Pendidikan) IPS UNY mengadakan acara talk show yang bekerjasama dengan IIWC (Indonesia International Work Camp) dan IYHPS (Indonesian Young Health Proffesional Society). IIWC adalah organisasi di bawah UNICEF yang bergerak  di bidang pendidikan untuk anak-anak. Konsentrasi IIWC ini adalah mengadvokasi anak-anak yang berada di wilayah prostitusi. Anggota IIWC ini terdiri dari beberapa mahasiswa di seluruh dunia, di antaranya  dari Jepang, Polandia, Jerman, Slovakia, Malaysia, Amerika Serikat, dan negara lainya.

IYHPS adalah organisasi para dokter atau petugas medis muda yang ada di Indonesia. Anggota IYHPS ini terdiri dari lulusan Universitas ternama di Indonesia, seperti UI (Universitas Indonesia), UGM (Universitas Gadjah Mada) dan Poltekes ternama di Nusantara.

Kerjasama ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan teman-teman UNY ketika melihat masyarakat yang terpinggirkan, terutama mereka yang tinggal di wilayah prostitusi. Banyak stigma masyarakat yang menurut penulis bersifat subyektif sehingga perlu adanya penjelasan terhadap masalah ini. Mereka adalah saudara kita yang harus dikasihani, bukan untuk dipukuli dan diintimidasi. Sebenarnya kami tidak terlalu fokus terhadap keadaan sosial dan budayanya,  tetapi yang kami soroti adalah masalah pendidikan anak-anak yang berada di wilayah itu. Kita ingin mendapatkan informasi yang jelas dan tidak memihak.

Pembicara Talk Show ini di antaranya berasal dari Jepang, yaitu Kayo Sugiyama. Dia menuturkan bahwa kehidupan anak-anak yang tinggal di wilayah prostitusi tersebut sangat memprihatinkan. Mulai dari cara bicaranya, tingkah lakunya, bergaulnya, dan lain-lain. Kebanyakan mereka yang berusia antara 5 tahun sampai 7 tahun sudah tahu cara untuk melakukan hubungan seksual. Mereka sering berbicara kata-kata kotor, melawan pada yang lebih tua dan lain sebagainya.

Anak-anak yang ada di daerah itu berbeda dengan anak pada umumnya. Ketika anak biasanya tidur jam delapan malam, maka yang terjadi sebaliknya. Mereka tidur jam dua belas malam, paling cepat mereka tidur jam sepuluh malam. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi pada anak-anak tersebut. Seharusnya mereka mendapatkan kasih sayang yang lebih dari kedua orang tuanya. Mereka adalah anak yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa. Mereka adalah anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang salah, sehingga mereka bisa berbuat seperti itu. Tetapi bukan berarti kita diam saja dan acuh tak acuh terhadap keadaan yang ada. Kita harus menanamkan nilai-nilai dan budaya terhadap mereka. Mereka berhak untuk menjadi orang baik, dan meneruskan perjuangan bangsa dan negara.

Anggota IIWC yang berada di Tegal Rejo, Yogyakarta, menuturkan bahwa sebenarnya mereka mau berubah, bahkan banyak anak-anak yang ingin belajar mengaji ketika para relawan ini  mengajaknya. Bahkan lebih dari separuh anak-anak yang berada di kawasan tersebut mau belajar mengaji Alquran. Ada salah satu anak PSK yang mengaji di kampung sebelah yang jaraknya 30 menit berjalan kaki.

Kebetulan penulis adalah ketua panitia pada acara talk show ini sehingga ketika acara sudah usai penulis berbincang-bincang dengan relawan IIWC tersebut. Tetapi karena kemampuan bahasa Inggris penulis lemah maka informasi yang didapat sedikit. Ketika Kayo Sugiyama dari Jepang, Micha dari Jerman, Hellen dari Polandia dan yang lainya berkumpul, saya menanyakan kenapa mereka mau menjadi relawan di Negara orang, padahal mereka adalah sarjana dari lulusan terkenal, seperti Universitas Ohio, Universitas Harvard, dan Universitas terkenal lainya. Jawabannya adalah karena mereka peduli terhadap isu kemanusiaan, bagaimanapun mereka butuh diperhatikan, apalagi mereka adalah anak-anak yang tidak berdosa. Seharusnya mereka mendapatkan pendidikan yang lebih intensif dan mendapatkan perhatian yang khusus dari pemerintah serta, yang paling penting, harus bisa meluruskan pandangan terhadap masyarakat tentang kepedulian terhadap sesama.

Saya sempat tertegun dengan pernyataan orang asing tersebut. Kita sebagai umat Islam yang harus bisa saling tolong-menolong antar sesama, tetapi apa yang sudah kita perbuat? Ketika banyak orang yang menghina, mencaci, memukuli, mengintimidasi, sadarkah kita bahwa mereka adalah saudara kita. Anak-anak yang hidup di sana juga memiliki hak yang sama. Terlepas dari mereka hasil hubungan gelap ataukah tidak. Bukankah dalam Hadis disebutkan bahwa “setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci”?

Menurut hemat penulis, yang perlu untuk diajarkan di kawasan prostitusi adalah pendidikan karakter karena dengan memperbaiki karakter mereka bisa mengubah dirinya dan bisa  berbuat lebih baik. “Karakter adalah fondasi peradaban,”  begitulah yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi. Beliau merupakan bapak bangsa India yang terkenal dengan pencetus gerakan ahimsa satyagraha (gerakan anti kekerasan dan kebijaksanaan). Untuk mengatasi masalah tersebut bukan dengan kekerasan, bukan hanya dengan cemoohan, bukan hanya dengan berkata ini halal ini tidak, melainkan ada tindakan nyata kita terhadap realitas yang ada. sehingga permasalahan tersebut bisa teratasi.[]

Muhammad Ilyas
adalah Mahasiswa Pendidikan IPS
Fakultas Ilmu Sosial, UNY 

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

4 komentar:

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top