Sunday, February 24, 2013

Tipologi Pembaca Alquran Menurut Farid Esack

7:57 AM


Oleh: Muhammad Adib*

(1)
Farid Esack (lahir pada tahun 1959 di Wynberg, sebuah kota bagian dari Cape Town, ibu kota Afrika Selatan) adalah seorang intelektual Muslim, penulis dan aktivis politik yang terkenal karena perlawanannnya yang gigih bersama Nelson Mandela terhadap rezim Apartheid. Dia juga dikenal sebagai aktivis kesetaraan gender (gender equity) dan dialog antaragama (inter-religious dialogue). Pada tanggal 31 Oktober 2012 yang lalu, guru besar pada University of Johannesburg Afrika Selatan ini menjadi salah satu pembicara pada konferensi bertajuk “The Boundaries of Religious Pluralism & Freedom: The Devil is in the Detail” yang diselenggarakan oleh Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding (ACMCU) Georgetown University Washington DC Amerika Serikat sebagai respon lanjutan dari “A Common Word”.

Pendidikan dasar dan menengahnya dimulai dari Bonteheuvel, sebuah daerah pemukiman yang diplot oleh rezim Apartheid khusus warga kulit hitam. Pada tahun 1974, dia pergi ke Pakistan melanjutkan studi di Seminari (Islamic College) atas dana beasiswa hingga meraih gelar sarjana bidang teologi Islam dan sosisologi pada tahun 1982. Tahun 1990, Esack kembali ke Pakistan, melanjutkan studi di Jami‘ah Abi Bakr Karachi dan pada tahun 1994 meraih gelar magister pada bidang studi al-Qur’an (Qur’anicStudies). Pada tahun itu juga, dia menempuh program doktor pada Pusat Studi Islam dan Hubungan Kristen-Muslim (Centre for the Study of Islam and Christian-Muslim Relations/CSIC) di University of Birmingham (UK) Inggris. Puncaknya, tahun 1996, dia berhasil meraih gelar doktor di bidang Qur’anic Studies dengan desertasi berjudul Qur’an, Liberation and Pluralism: an Islamic Perspective of Inter-religious Solidarity against Oppression yang setahun kemudian diterbitkan menjadi buku.

Pemikiran Esack sangat dipengaruhi oleh kehidupan masa lalunya yang getir dan berliku. Dia berasal dari keluarga yang sangat miskin dan teraniaya oleh sistem politik rezim Apartheid. Selain itu, di Afrika Selatan dia menyaksikan ketertindasan umat Islam yang minoritas, baik dalam hal ras, agama maupun gender. Hal yang sebaliknya dia saksikan di Pakistan (1974-1982), di mana umat Islam yang mayoritas—terutama kalangan elit—justru melakukan penindasan terhadap umat Hindu dan Kristen yang minoritas. Seluruh pengalaman hidup itu membentuk Esack sebagai seorang sosok yang sangat sensitif terhadap penindasan.

Di antara karya-karya Esack adalah:

1.    The Struggle (1988).
2.    But Musa Went to Fir’aun! A Compilation of Questions and Answers about the Role of Muslims in the South African Struggle for Liberation (1989).
3.    Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression (1997).
4.    Islam and Politics (1998).
5.    On Being a Muslim: Finding a Religious Path in the World Today (1999).
6.    The Qur’an: A Short Introduction (2002).
7.    The Qur’an: A User's Guide (2005).[1]

(2)
Pada bagian pendahuluan dari bukunya, The Qur’an: A User's Guide (2005), Farid Esack membuat tipologi bagaimana pembaca teks al-Qur’an, baik dari kalangan Muslim maupun non-Mulsim, berinteraksi dengan al-Qur’an. Menurut Esack, pembaca al-Qur’an bisa dipilah menjadi enam tipe, tiga tipe dari kalangan Muslim dan tiga tipe dari kalangan non-Muslim. Enam tipe tersebut adalah:

     Dari kalangan Muslim (insiders):
1.    Pencinta yang tidak kritis (the uncritical lover), yakni kebanyakan umat Islam yang memperlakukan al-Qur’an sebagai “emas dan permata” tanpa pernah tahu apa makna dan kegunaannya. Mereka tenggelam dalam kedamaian di saat berinteraksi dengan al-Qur’an, tanpa merasa perlu mempertanyakan apapun.[2]

2.    Pencinta yang kreatif (the scholarly lover), yaitu para pemerhati kajian al-Qur’an dengan berbagai pendekatan yang memperkaya pemahaman tentang al-Qur’an. Masuk dalam kelompok ini kebanyakan para ulama ahli ilmu al-Qur’an dan tafsirnya, semisal Jalāl al-Dīn al-Suyūthī (1445-1505), Abū al-‘Alā Mawdūdī (1903-1979), Muhammad Husayn al-Thabāthabā‘ī (1904-1981), ‘Ā’isyah ‘Abd al-Rahmān atau Bint al-Syāthi‘ (1913-1998) dan Muhammad Asad (1900-1992).[3]

3.    Pencinta yang kritis (the critical lover), yaitu para pemerhati kajian al-Qur’an yang berusaha melakukan interpretasi sekaligus dekonstruksi secara kritis. Masuk dalam kelompok ini beberapa tokoh berpikiran kritis, semisal Fazlur Rahman (1919-1988), Mohammed Arkoun (1928–2010), Nashr Hāmid Abū Zayd (1943-2010) dan Fuat Sezgin (1924-....).[4]

Dari tiga tipe di atas, Esack memposisikan dirinya pada tipe ketiga, yaitu the critical lover. Hal ini nampak sekali dari pernyataannya berikut ini:
I am a critical and progressive Muslim, a student of the Qur’an with a respect for all serious scholarly endeavor. I have thus calmly described and critiqued various positions without impugning the motives of any particular group of scholars.[5]

     Dari kalangan non-Muslim (outsiders):
1. Sahabat sang pencinta (the friend of lover), yakni peneliti outsider yang mengkritisi al-Qur’an dengan ragam pendekatan serta memberikan kontribusi yang berharga bagi umat Islam. Masuk dalam kelompok ini sejumlah sarjana non-Muslim yang memiliki pandangan yang simpatik, meskipun kritis, terhadap al-Qur’an pada khususnya dan Islam pada umumnya, semisal Wilfred C. Smith (1916-2000), Montgomery Watt (1909-2006), William A. Graham (1933-....) dan Kenneth Cragg (1913-2012).[6]

2. Mata-mata atau pengintai (the voyeur), yakni peneliti outsider yang mengkritisi al-Qur’an dan melemahkan al-Qur’an—kadangkala secara membabi-buta. Namun, di saat lain, dia tetap mengakui hal-hal yang positif dari al-Qur’an sejauh diungkapkan dengan argumentasi yang meyakinkannya. Masuk dalam kelompok ini adalah, misalnya, John Wansbrough (1928-2002), Michael Cook (1940-....), Patricia Crone (1945-....) dan Andrew Rippin (1950-....).[7]

3. Peneliti anti-Islam (the polemicist), yakni peneliti outsider yang pandangannya tentang al-Qur’an selalu negatif. Menurut Esack, kelompok mata-mata “the voyeur pada saat tertentu bisa berubah menjadi kelompok ini.[8] Namun, sebenarnya ada sejumlah nama yang secara permanen masuk dalam kelompok terakhir ini, yakni orang-orang yang memang sangat membenci Islam. Sebut saja, misalnya, Ibn Warraq yang menulis The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book (1998) dan What the Koran Really Says: Language, Text, and Commentary (2002).[9]

Keenam tipe interaksi tersebut bisa dipetakan sebagai berikut:[10]




(3)
Meskipun berkenaan dengan pembacaan al-Qur’an, tipologi yang dibuat oleh Farid Esack itu sebenarnya bisa dibawa kepada berbagai bidang lain dari studi Islam (Islamic studies), baik yang dilakukan oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim. Artinya, para pengkaji Islam bisa dipilah-pilah ke dalam enam tipe di atas, sesuai dengan motivasi, materi dan kecenderungan yang terkandung dalam pemikiran yang dilontarkannya. Pada saat tertentu, tipologi versi Esack tersebut, terlepas dari kekurangan yang bisa jadi muncul, cukup membantu dalam memahami pemikiran tertentu tentang Islam, bahkan yang dikemukakan oleh seorang pembenci Islam (anti-Islam) sekalipun.[]

Yogyakarta, 17 Januari 2013.

 Muhammad Adib
adalah Dosen STAI Al-Qolam Gondanglegi Malang, sekarang sedang melanjutkan studi di Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Sumber:
1.    A. Khudori Soleh, “Kerjasama antarumat Beragama dalam al-Qur’an: Perspektif Hermeneutika Farid Esack”, http://www.scribd.com (akses tanggal 15 Januari 2013).
2.    Bennett, Clinton. 2005. Muslims and Modernity An Introduction to the Issues and Debates. London dan New York: Continuum.
3.    Esack, Farid. 2007. The Qur'an: A User’s Guide. Cetakan II. Oxford: Oneworld Publications.
4.    “Farid Esack”, http://en.wikipedia.com (akses tanggal 13 Januari 2013).
5.    “Major 'A Common Word' Events”, http://www.acommonword.com (akses tanggal 14 Januari 2013).
6.    Musaji, Sheila. 2013. “A Who’s Who of the Anti-Muslim/Anti-Arab/Islamophobia Industry”, http://theamericanmuslim.org (akses tanggal 16 Januari 2013).



[1] Intisari dari: “Farid Esack”, http://en.wikipedia.com (akses tanggal 13 Januari 2013); “Major 'A Common Word' Events”, http://www.acommonword.com (akses tanggal 14 Januari 2013); dan A. Khudori Soleh, “Kerjasama antarumat Beragama dalam al-Qur’an: Perspektif Hermeneutika Farid Esack”, http://www.scribd.com (akses tanggal 15 Januari 2013).
[2] Esack, The Qur’an., halaman 2.
[3] Ibid., halaman 3-4.
[4] Ibid., halaman 5-6.
[5] Ibid., halaman 10.
[6] Ibid., halaman 6-7.
[7] Ibid., halaman 8-9.
[8] Ibid., halaman .
[9] Sheila Musaji, “A Who’s Who of the Anti-Muslim/Anti-Arab/Islamophobia Industry”, http://theamericanmuslim.org (akses tanggal 16 Januari 2013).
[10] Clinton Bennett, Muslims and Modernity An Introduction to the Issues and Debates (London dan New York: Continuum, 2005), halaman 105. Gambar ini sedikit berbeda, meskipun berkesimpulan sama, dengan yang termuat dalam: Esack, The Qur’an., halaman 3.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top