Monday, February 22, 2016

Mensyukuri Anugerah

12:44 PM


Oleh: Muhammad Madarik

Hakikatnya menit, jam, hari dan bulan adalah nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita yang begitu besar dan setiap nikmat itu harus disyukuri. Dalam persekian detik, sudah bermilyar-milyar udara yang telah dihirup.

Merujuk kepada ilmu pengetahuan, udara merupakan campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara tidak tampak mata, bukan hal yang berbau, dan tak terdapat rasa di dalamnya. Kehadiran udara hanya dapat dilihat dari adanya angin yang menggerakan benda. Udara termasuk salah satu jenis sumber daya alam karena memiliki banyak fungsi bagi makhluk hidup.

Kemampuan menghirup sekaligus menghembuskan udara dari lubang hidung serta rongga mulut adalah nikmat Sang Ilahi yang diberikan kepada anak adam yang tiada tara. Andai sekejap saja Tuhan memenggal sistem pernafasan manusia, maka sedetik itu pula ia tidak memiliki kemampuan untuk melawan-Nya. Sudah banyak contoh nyata di sekeliling kita yang bisa dijadikan saksi bagaimana ujung kehidupan jelas-jelas berada di dalam genggaman takdir-Nya, kendati manusia mengulurnya dengan seluruh  daya dan segenap ikhtiar. Betapa tak terhitung, seorang bocah nyawanya melayang begitu mudah gara-gara seekor nyamuk; makhluk kecil yang seringkali mati hanya sekali tepukan telapak tangan. Kita juga kerap kali melihat seorang kakek dengan nafas terengah, raga membungkuk, hampir seluruh pancaindera tak berfungsi normal dan sudah keluar-masuk rumah sakit, ternyata masih menghirup udara segar dalam jangka sekian tahun. Cermatilah, anak-anak yang begitu disayang oleh ayah bundanya dengan seribu asa masa depan buat buah hati itu, tidak dapat diperpanjang ruang hidupnya. Sementara sosok renta yang cenderung terpinggirkan dari komunitas anak muda, rupanya sejarah hidup tak bisa dihentikan. Sebetulnya dalam hal ini Allah SWT telah menandaskan dengan firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
[QS.30:40]

Sejatinya, semua aspek kehidupan ini merupakan pemberian Sang Maha Pemurah yang tak pernah berbatas pada manusia. Sangat jelas Allah SWT mengingatkan kita tentang sekian nikmat-nikmat yang telah diwujudkan sebagaimana firman-Nya:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
[QS.16:18]

Kita cermati saja, seperti yang sering diuraikan para ahli kesehatan, bagaimana sistem saraf yang merupakan pusat keputusan dan komunikasi tubuh. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang dan sistem saraf perifer yang terbuat dari serabut saraf. Bersama-sama SSP itu mengontrol setiap bagian dari kehidupan sehari-hari kita, dari bernafas, berkedip hingga membantu mengingat informasi.

Belum lagi kalau kita baca kembali soal jasad manusia yang terdiri dari sel-sel, otot (muscle), tulang (anatomy), saraf (nerve), darah (blood) dan lain-lain. Jasad manusia pula diibaratkan sebagai sebuah jentera automatik yang senantiasa bertugas siang dan malam sepanjang waktu secara terus menerus tanpa henti sehinga akhir hayat.

Sistem saraf bagi kebutuhan kesehatan manusia merupakan poin proses penyelarasan kerja-kerja dalam organ tubuh, seperti pengaliran darah, pernafasan dan sebagainya. Segala tugas ini dikawal oleh sistem saraf agar dapat berfungsi dengan sempurna. Organisasi badan manusia terdiri dari beribu-ribu urat saraf, baik kecil maupun besar.

Dari uraian di atas bisa dipahami bahwa tidak terdapat selobang jarum pun yang luput dari kekuasaan-Nya. Oleh sebab itu, bagi orang yang mengaku beriman mengungkapkan terimakasih atas nikmak-Nya merupakan keharusan yang wajib untuk disadari. Jika tidak, maka anugerah itu akan lenyap dan berbalik menjadi ancaman sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

ْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
[QS.14:07]

Tentu dari teks ayat ini kita dapat menangkap bahwa Allah SWT lebih mengedepankan ke-maha kasih sayang-Nya ketimbang kebengisan-Nya. Lihatlah bagaimana syukur dibalas oleh Sang Maha Kuasa dengan "tambahan" tanpa setitikpun perlu diragukan. Dari sisi pendekatan kaidah bahasa Arab, kalimat َأَزِيدْ dibubuhi huruf "lam jawab dan ziyadah" dalam taukid (pengukuhan) untuk qasam (sumpah) yang terletak sebelumnya.

Umumnya berkumpul bersama antara lam qasam dan kalimat setelahnya berupa fi'il mudharik. Contoh firman Allah:


لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
[QS.19:46]

Lam yang pertama pada لئن untuk qasam (sumpah). Sedangkan lam yang kedua pada لَأرجمنّك sebagai jawab bagi qosam.

Dibagian lain kalimat َأَزِيدْ juga diakhiri dengan "nun taukid". Sebagaimana kita tahu bahwa "nun taukid" yangg berfungsi memperkuat (ta'kid) makna kalimah fi’il itu ada dua bentuk : Pertama, "nun taukid tsaqilah" (berat karena bertasydid) dengan bacaan mabni fathah. Kedua, "nun taukid khafifah" (ringan karena sukun) dengan bacaan mabni sukun.

Penaukidan dengan "nun taukid" menimbulkan konsekuensi secara makna pengkhususkan fi’il mudhari’ pada zaman mustaqbal (akan datang). Sedangkan makna faidah taukid, bahwa penguatan makna dalam "nun taukid tsaqilah" lebih kuat  dari pada "nun taukid khafifah".

Suatu hal yang menarik untuk disimak dari redaksi ayat di atas adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi tegas dan bersumber dari-Nya langsung (cermati, QS.14:7) Tetapi ayat yang sama, akibat kekufuran, Allah SWT hanya isyarat tentang siksa; itu pun tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak bersyukur.

Memperhatikan pendekatan gramatika Arab dan makna ayat sebagaimana diuraikan dapat disimpulkan bahwa betapa anugerah Allah SWT begitu tak terbilang, dan belas kasih-Nya terasa sangat besar bagi mereka yang memahami wujud-Nya.

Nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia sangat berlimpah dan bentuknya bermacam-macam. Setiap detik yang dilalui manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Dialah Tuhan yang mewujudkan kita, membuat pendengaran, penglihatan dan sanubari, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۖ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
[QS.67:23]

Jika dirunut hanya pada ketiga anugerah tersebut saja, pasti manusia tidak sanggup mengeja sebagaimana pernyataan yang ditegaskan Tuhan sendiri (Rujuk kembali QS.16:18).

Segelintir nikmat di dalam mata, bakal ditemukan berjuta-juta anugerah yang mencengankan. Persoalan tidur misalnya, sebagaimana diungkapkan para ahli kesehatan, ternyata tidur mempunyai manfaat yang banyak sekali, dari mulai meningkatkan kekebalan tubuh manusia sampai membuat diri kita menjadi seseorang dengan kepribadian yang lebih baik. Stres mental yang diakibatkan kurang tidur membuat pembuluh darah mengerut, sehingga darah yang dipompakan ke seluruh tubuh menjadi berkurang, begitu menurut sebuah studi baru dalam Circulation: The Journal of The American Heart Association. 

Manusia tiap hari butuh tidur dalam 24 jam. Bayangkan bagaimana jika Allah berkehendak tidak menghilangkan rasa tidur kita? Jawabannya pasti kita akan merasa tersiksa. Atau setidaknya dicoba saja melakukan "melek" terus selama tiga hari - kalau bisa - dan bagaimana rasanya ? Hasilnya apa yang dikerjakan membuahkan lara yang menyakitkan anggota tubuh. Tentu seluruh fakta hidup disertai faktor sebagai bagian dari sunnah yang ditetapkan Tuhan dalam kehidupan ini. Hal ini diperjelas dalam firman Allah SWT:

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا فَأَتْبَعَ سَبَبًا
[QS.18:84-85]

Sikap melawan takdir merupakan kekonyolan yang cuma dlakukan oleh orang-orang dungu. Apalagi jika rasa kantuk dilenyapkan oleh Sang Maha Hidup dengan serta merta tanpa sebab, maka manusia tidak sanggup mencegahnya. Oleh karena itu, hanya pada tema "tidur" saja kita sudah menjumpai sekian nikmat yang terdapat dalam mata.

Di sinilah rasa syukur perlu selalu dipanjatkan kepada-Nya. Menurut Imam al-Ghazali, syukur merupakan salah satu makam (stage) yang paling tinggi dari maqam sabar, khauf atau zuhud. Adapun panjatan tasyakur itu merupakan makam yang mulia dan pangkat yang tinggi sebagaimana firman Allah SWT:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
[QS.16:114]

Syukur termasuk maqam yang tinggi diantara makam sabar, khauf, zuhud dan maqam-maqam lainnya. Sebab, proyeksi maqam-maqam tersebut diperuntukkan bagi hal lain. Sabar misalnya, ditujukan untuk menaklukkan hawa nafsu, khauf merupakan tonggak perasaan untuk takut kepada Allah SWT, dan zuhud merupakan sikap membebaskan diri dari sesuatu yang mengkerangkeng hati. Tetapi syukur tidak dimaksudkan untuk apapun selain ungkapan suka-cita hanya semat-mata kepada Tuhan atas berbagai anugerah yang dikaruniakan. Oleh karenanya, maqam syukur akan tetap lestari hingga di dalam surga sekalipun. Itulah sebabnya gambaran tentang penutup doa ahli surga seperti firman Allah SWT diwarnai dengan pujian:

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
[QS.10:10]


Secara umum terdapat dua indikasi bersyukur yang dilakukan setiap orang, yaitu: (1) Menyadari dengan sepenuh hati bahwa pemberi nikmat adalah Allah SWT. Oleh karena itu, seluruh anugerah yang telah atau tengah dinikmati selalu dinisbatkan kepada Sang Pemberi nikmat walaupun nikmat yang sampai padanya melalui pihak lain. Bagi orang yang bersyukur, pihak lain tersebut diyakini sebagai perantara yang sengaja diciptakan Tuhan. (2) Menunjukkan dalam bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Bukti rasa syukur itu diimplementasikan dalam bentuk kebajikan, baik penggunaan, penyaluran maupun bentuk peribadatan.

Sebetulnya landasan persoalan bersyukur kepada Allah SWT banyak sekali terdalam Al-Qur'an ataupun hadits yang dapat dijadikan pijakan agar manusia selalu memanjatkan tasyakur kepada-Nya. Diantara ayat-ayat yang dipaparkan dalam kitab suci firman Allah SWT.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون
[QS.02:152]

Ekspresi bentuk syukur yang bisa dilakukan diklasifikasikan oleh ulama dalam  tiga bentuk, yaitu: (1) Syukur dengan hati. Yakni menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. (2) Syukur dengan lisan. Cara syukur ini dilakukan dengan ucapan yang mengarah pada  kalimat yang bermakna pujian kepada Allah SWT. Redaksi yang diujarkan merupakan pengakuan bahwa sumber nikmat adalah Allah SWT. Tetapi pada langkah ini, seseorang perlu jeli menempatkan "rasa suka cita" antara hakikat dan syariat. Soal rasa yang terangkum di dalam diri seseorang harus dipilah dan diolah agar mampu membedakan siapa pemberi dan siapa perantara. Secara hakiki, hanyalah Allah SWT Sang Pemberi, dari siapapun anugerah berasal. Tetapi secara syariat, Allah SWT menganugerahkan sesuatu melalui ragam cara. Misalnya, Allah SWT memberikan kita rezeki melewati tangan orang lain, maka seharusnya keyakinan bahwa pemberi rezeki itu adalah Allah SWT, sedangkan seseorang tersebut hanya merupakan diperankan sebagai penyalur belaka. Pada tahap ini, bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan sesuatu, sementara berterima kasih pada orang itu yang sudah menjadi penyambungnya. (3) Syukur dengan perbuatan. Wujud syukur kepada Allah SWT ini dinyatakan dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT. Potensi yang diberikan, baik yang melekat pada tubuh maupun yang bersifat hal di luar jasad harus semaksimal mungkin diarahkan kepada dua aspek perintah dan larangan. Oleh karenanya, aktifitas kerja sekalipun bisa menjadi panjatan syukur seperti digambarkan Allah SWT dalam firman-Nya:

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
[QS.34:13]

Semoga kita menjadi orang pandai mensyukuri karunia Tuhan, sekecil apapun bentuknya.[]




Bahan Bacaan: 
1- https://systembiosaraf.wordpress.com.
2- http://warisansunankalijaga.blogspot.co.id.
3- http://www.alkhoirot.net/huruf-lam-dalam-bahasa-arab.html.
4- https://nahwusharaf.wordpress.com/pengertian-dua-nun-taukid-dan-penggunaan-nya.
5- http://mahad-aly.sukorejo.com/dimensi-syukur-sebagai-nilai-moral-islam.
6- http://nurfaidah-iedha.blogspot.co.id/manfaat-tidur.
7- http://www.dokumenpemudatqn.com/mengenai-syukur-menurut-imam-al-ghazali.

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top