Tuesday, February 23, 2016

Rahasia Dari Bilik Santri Putri

7:08 PM



Oleh: Halimah Garnasih
Pertama kali saya menemukan tanda akil-baligh untuk  perempuan, saya tengah nyantri di Pesantren Raudlatul Ulum (PPRU) I Ganjaran Gondanglegi Malang. Hal itu saya dapati tepatnya di tahun pertama saya nyantri.Waktu itu, saya cemas, bingung dan ingin menangis menghadapi pengalaman pertama ini tanpa Ibu. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, ditambah rasa sakit di perut bagian bawah dan tubuh yang terasa lemas. Perasaan semakin tergulung-gulung antara senang, takut, juga malu. Namun beruntung sekali bahwa rupanya mbak-mbak santri sekamar peka atas apa yang sedang saya alami. Waktu itu saya paling kecil di kamar, dan tentu saja mbak-mbak yang lebih dewasa telah berpengalaman tentang hal ini. Mereka serempak memberi selamat dengan rona wajah bahagia yang menyurutkan rasa cemas dan takut saya tadi.Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada perasaan aneh menyusup, semacam bangga karena telah benar-benar menjadi perempuan.
Mbak-mbak yang sekolah di Madrasah Aliyah memberi bimbingan kepada saya terkait perempuan dan menstruasi, apa yang dianjurkan dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan selama kedatangan “tamu” ini. Mbak-mbak yang sekolah di Madrasah Diniyah juga berbagi pengetahuan menstruasi dari sudut pandang agama Islam, lebih spesifiknya Fikih. Bahkan sampai tentang resep alami ala Madura yang dibagikan oleh seorang mbak asli Desa Ganjaran.Saya melihat bahwa teman-teman sekamar merasa senang dengan keakil-balighan saya.Sepulang sekolah, ada yang berinisiatif menelponkan Bapak-Ibu saya untuk menyampaikan kabar menggembirakan ini, juga agar supaya dilaksanakan selametan di rumah saya. Katanya, itu sudah menjadi bagian tradisi yang baik. Saya terharu, melihat dan merasakan bahwa jauh dari Bapak-Ibu bukan berarti saya hidup tanpa keluarga.Waktu itu juga, saya mulai paham maksud dan tujuan Bapak-Ibu mengirim saya ke Pesantren di mana mulanya saya merasa tidak ikhlas dikirim jauh dari mereka berdua. Apalagi, mengingat apa yang disampaikan Guru SD saya terkait nilai saya yang tinggi dan bisa masuk ke salah-satu SMP bergengsi di kota Malang. Jangan sampai berujung diasingkan ke sebuah Pesantren salaf di tengah desa, katanya. Pada akhirnya, di samping pelajaran-pelajaran di Madrasah, banyak nilai-nilai yang saya dapatkan dari Pesantren sederhana di tengah desa ini. Terutama nilai-nilai yang terpahami dan terbangun itu lebih banyak melewati jalan kultural yang sifatnya sehari-hari. Saya temukan dan hayati mulai dari kamar saya, salah satu bilik di Pesantren ini, bilik PPRU I Putri. 

Keragaman Bagian Dari Khazanah Bilik RU
Umumnya, masa liburan setiap pesantren tidaklah sama sehingga saat saya libur, saya bisa berkunjung ke pesantren-pesantren saudara yang secara bangunan lebih besar dari pesantren saya yang di desa. Beberapa pesantren yang saya jumpai itu, setiap kamarnya tidak dihuni oleh santri dari jenjang umur dan jenjang sekolah yang beragam seperti di pesantren saya. Di pesantren-pesantren yang saya maksudkan, setiap kamar atau setiap kompleks dihuni oleh para santri dari satu jenjang madrasah saja. Madrasah Ibtidayah saja, Madrasah Tsanawiyah saja, dan Madrasah Aliyah saja. Pendeknya, tidak beragam.


Menurut saya, sistem semacam itu barangkali bagus untuk efektifitas belajar santri.Tapi masalahnya, di pesantren, santri tidak hanya memiliki tanggungjawab mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran di sekolah saja, banyak beberapa kelas atau kelompok musyawaroh yang merupakan kegiatan Pesantren. Apalagi, menurut saya, yang membedakan santri dengan para pelajar di sekolah-sekolah pada umumnya adalah pendidikan sosial antar teman yang dibangun mulai dari bilik masing-masing. Semakin banyak keragaman yang ada di sebuah kompleks (atau khos sebagaimana khazanah PPRU I menyebutnya) dan bilik pada khususnya, akan menempa dan membentuk kemampuan santri dalam menanggapi keragaman itu sendiri. Hal ini sangat membantu santri saat kelak ketika boyong, mereka telah siap menghadapi realitas yang sangat beragam dan majemuk. Mereka akan terselamatkan dari yang namanya “gagap realitas”. Terutama, mereka para santri yang berasal dari daerah yang majemuk atau mereka para santri yang memiliki kesempatan merantau baik untuk bekerja, berdakwah di daerah asing, dan melanjutkan menimba ilmu di daerah yang lain.

Banyak sekali corak keragaman yang saya temui dari bilik santri PPRU I, mulai dari suku, bahasa, adat-sitiadat, umur, jenjang pendidikan, pola pikir, watak, dan kelas sosial. 

Keragaman Suku
Jawa, Madura, Betawi, Sunda dan Melayu. Lima suku itu setidaknya yang saya temui saat saya masuk pesantren RU I pada tahun 2002 silam. Suku Jawa datang dari daerah Malang kota seperti kelurahan Muharto, kelurahan Mergosono, kelurahan Gadang, dan kelurahan Bumiayu. Beberapa dari mereka merupakan santri peranakan Madura-Jawa. Semakin keselatan, mereka datang dari kecamatan Bululawang, Wajak, Ampelgading, Dampit, Turen, Pagak, Donomulyo, Kalipare, Bantur, Gedangan, Tajinan, dan Sumber Manjing Wetan. Beberapa juga merupakan peranakan Madura-Jawa. Sebagaimana pula para santri yang berasal dari Lumajang.


Santri yang berasal dari Suku Madura murni terbilang banyak. Mulai dari Kabupaten Sumenep sampai Kabupaten Bangkalan hampir semuanya ada. Hanya pulau-pulau timur Madura seperti Kangean dan Sapeken yang belum saya temui di RU I, karena saya amati, masyarakat kepulauan itu lebih banyak nyantri ke daerah Probolinggo dan Situbondo.

Suku Betawi berasal dari Jakarta. Suku Sunda yang berasal dari Bandung dan suku Melayu yang berasal dari Pontianak ternyata rata-rata adalah peranakan Madura. Ada pula yang campuran suku setempat, dan adapula yang memang asli peranakan satu suku seperti suku Melayu yang pernah saya temui. Meskipun, rata-rata yang berasal dari Pontianak adalah asli suku Madura. Nah, hal ini setidaknya saya temui di PPRU I sejak 2002-2009, tepatnya saat saya masih di Pesantren. Bagaimana perkembangan asal santri selama enam tahun ke belakang ini saya tidak tahu.

Mengapa saya bersusah mengingat-ngingat kembali suku-suku dan daerah asal para santri PPRU? Karena suku, daerah, adat-istiadat turut membentuk watak dan pola pikir setiap orang. Sehingga kita bisa membayangkan bagaimana saat orang dengan suku, watak, dan pola pikir itu hidup dalam satu bilik dan menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai santri. Manusia sebagai hukum dasarnya adalah makhluk sosial yang mau tidak mau mereka akan saling membutuhkan satu sama lain. Apalagi, hidup yang penuh dengan keterbatasan sebagaimana di pesantren. Mau tidak mau, para santri akan saling berinteraksi dengan santri lain dengan suku, watak, dan pola pikir mereka yang berbeda. Ada gesekan, tentu saja. Itu sebuah keniscayaan. Dan di titik inilah paling sejatinya para santri itu belajar. Sebuah ruang belajar yang tak kasat mata namun sarat nilai. Dan karena tak kasat mata, barangkali tidak semua pertimbangan sampai pada titik ini. 

Bahasa
Suku dan daerah yang beragam sekaligus unik (karena para santri sudah membawa keunikan bahasa tersendiri dari daerah asalnya, yaitu mereka yang merupakan blasteran Madura dan suku setempat) tadi membentuk fenomena bahasa PPRU I sangat khas. Kita bisa membayangkan seorang peneliti bahasa akan puas dengan temuan barunya saat tenggelam dalam fenomena bahasa PPRU I.


Namun, untuk kali ini saya tidak akan membahas fenomena bahasa RU I dari sisi fonem, morfem, sintaksis, semantik, dialek, atau bahkan munculnya kosakata baru khas anak PPRU yang memang sering terjadi. Hal itu akan panjang dan lebih baik ada dalam satu judul tulisan tersendiri.

Dalam sebuah bilik yang beragam baik dari sisi suku, daerah, maupun jenjang umur, sangat mempengaruhi edukasi bahasa setiap santri. Misalnya, santri Jawa akan teredukasi secara implisit kapan dan kepada siapa ia menggunakan bahasa Jawa Ngoko, Madyo, Kromo, Kromo Inggil dan seterusnya-dan seterusnya. Begitupula santri yang berkomunikasi dengan bahasa Madura dan lainnya. Hal ini terkait keragaman umur dalam sebuah bilik santri.

Di samping, santri bisa belajar berbagai pengetahuan tentang bahasa, hal ini adalah hal primer yang dilihat oleh wali santri dan masyarakat luar saat santri yang bersangkutan pulang ke rumah. Pengalaman saya, banyak wali santri yang merasa terharu saat mendapati anaknya yang sebelumnya kasar, sepulang untuk liburan dari PPRU telah berbahasa halus kepada kedua orangtua dan lingkungan sekitarnya.Tidak hanya skill berbahasa yang tepat kepada yang lebih tua, tapi kepada yang sepantaran dan yang lebih muda.Ya, karena bilik PPRU I sarat dengan keragaman.

Satu hal penting dan yang pertama dipandang oleh masyarakat kepada santri adalah akhlak (dan dalam dunia pendidikan sendiri, pendidikan karakter memang diutamakan terlebih dulu. Belum lagi jika melihat kenapa Nabi akhir zaman diutus). Dan bahasa, menjadi bagian dari akhlak. Marilah kita bersepakat, bahwa di Pesantren, di PPRU I setidaknya tahun 2001-2009 yang saya ketahui, tidak ada wadah yang memang sengaja dibuat untuk mengedukasi kemampuan berbahasa tersebut. Dan hal itu memang tidak perlu, karena PPRU I memiliki satu ruang yang sarat dengan edukasi praktis, solutif, dan tepat sasaran yaitu bilik-biliknya.Yaitu setiap kamar santrinya.

Sebuah kamar santri yang beragam adalah miniatur keluarga, di mana pendidikan karakter pertama adalah dimulai dari keluarga atau rumah. Dan di mana rumah setiap santri RU I? Di bilik mereka masing-masing. Saat penat dan lelah karena kegiatan sekolah atau pesantren, mereka kembali pulang ke bilik, ke rumah, untuk mengayomi dan diayomi. Nah, mengayomi? Satu edukasi tambahan dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Sungguh tak habis-habis nilai-nilai itu tumbuh dan tergali dari bilik santri. Bilik santri yang beragam. 

Umur dan Jenjang Pendidikan
Bermula dari pengalaman saya di Yogyakarta saat saya satu kamar kost dengan seorang teman yang belum pernah mengenal dunia Pesantren. Waktu itu, saya sedang mengetik di depan laptop dengan duduk bersila. Demikian pula teman saya itu, hanya saja dia duduk selonjor di samping lemari. Dia beberapa bulan lebih muda dari saya. Seorang teman lagi, di atas kasur sedang menyulam. Dia anak Pesantren yang memiliki khazanah kemajemukan di biliknya sebagaimana PPRU I.


“Mbak, tolong ambilkan itu dong,” kata teman saya yang mengetik tadi sambil menunjuk ke lemari di sampingnya, yang sesungguhnya sangat dekat dengannya dan sangat jauh dari tempat saya duduk. Dan sebagaimana dirinya, saya juga tengah fokus di depan laptop. 

Deg! Entah mengapa saya merasa tidak nyaman dengan ini. Ada perasaan asing yang menyusup. Tapi saya memilih berhenti sejenak dari pekerjaan saya, berdiri dan mengambilkannya, tetap dengan perasaan tidak nyaman. Namun belum dapat saya urai mengapa, sebelum teman saya yang menyulam itu menyahut.

“Kenapa gak diambil sendiri?”

“Enggak bisa. Kakiku ini lho susah.”

“Halah, wong tinggal berdiri saja. Tinggal ngambil. Wong lebih dekat dari kamu. Itu namanya bukan minta tolong tapi merintah!” Sungut teman saya.Tapi teman saya yang mengetik masih saja kuat berdalih.

Dari situlah pikiran saya akhirnya mengelana ke sebuah kamar, kamar C3, salah satu bilik di PPRU I. Saya ingat betapa tempat itu sekaligus penghuni yang terdiri dari ragam umur dan jenjang pendidikan sangat menempa saya dalam nilai saling menghargai dan saling menghormati. Seorang yang muda menghargai yang tua dengan tidak memerintah. Bahkan, meski sesungguhnya yang muda bisa minta tolong kepada yang tua (misalnya karena jarak barang yang dimaksud sangat dekat dengan yang lebih tua), tidak jarang mereka lebih memilih melakukannya sendiri. Seorang yang tua menghargai kepada yang lebih muda dengan menyematkan kalimat “boleh minta tolong?”, “saya minta tolong” dan kalimat-kalimat santun lainnya di setiap minta bantuan kepada yng lebih muda. Begitupula kepada yang sepantaran. Hal seperti ini adalah sikap praktis yang tidak cukup dengan hanya menghayati mata pelajaran PKN atau Kitab Akhlaq. Sikap praktis semacam ini butuh ditempa di kehidupan nyata. Salah-satunya seperti sudah lama diterapkan oleh Pesantren. Karena inilah Pesantren merupakan wadah pendidikan yang unik dibanding wadah pendidikan yang lainnya. Nilai dasarnya adalah kemajemukan, keragaman. 

Kelas Sosial
Di Pesantren, pada umumnya para santri berasal dari semua kalangan kelas sosial. Bawah, menengah, dan atas. Termasuk fenomena kelas sosial di PPRU I. Semboyan pertama yang saya dengar saat saya masih menjadi santri baru adalah: Kalau di Pesantren, semua sama. Tidak ada miskin tidak ada kaya. Kalau si kaya dan si miskin melanggar, sama-sama kena takzir. Tidak ada ceritanya si kaya disayang Ibu Nyai dan si miskin tidak, kalau mau disayang Ibu Nyai ya harus berprestasi. Jadi santri yang baik.


Di ranah yang lebih sempit, yaitu di kamar saat ragam kelas sosial itu berinteraksi secara intensif, ada dua hal yang setidaknya saya amati, yaitu kekeliruan dan pencapaian. Kekeliruan adalah saat si kaya semakin menonjolkan kekayaannya, misalnya (dan memang banyaknya) lewat fashion dan make up, yang seperti sengaja ingin mengatakan perbedaan kelas sosial antara “aku” yang kaya dan “kamu” yang biasa saja apalagi yang miskin. Kekeliruan juga tidak jarang dilakukan oleh santri kelas menengah atau bawah. Mereka berlomba-lomba dengan cara apapun agar sampai pada level yang dimaksud. Termasuk dengan cara ‘memeras’ orangtua sampai pada mencuri. Ini realitas, karena Pesantren bukanlah surga. Dan saya yakin, kita telah maklum. Namun dalam pandangan saya, ketiga kelas di atas sedang menjalani masa prosesnya masing-masing. Bagaimana si kaya mencapai kesadaran menekan egonya, bagaimana si biasa dan si miskin memiliki rasa nriman. Terutama, bagaimana kelas ketiganya mencapai kesadaran tiga nilai-nilai santri yaitu kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian.

Entah proses itu akan bermuara kemana. Apakah sampai pada muara tiga nilai santri di atas, yang berarti ketiganya sampai pada muara pencapaian? Hal tersebut tergantung empat aspek: Sistem Pesantren, kebijakan pengurus, edukasi di tiap-tiap kelas, dan figur atau teladan. Menurut saya, aspek keempatlah yang memiliki peran paling tinggi. Mengapa? Karena di Pesantren, khususnya di PPRU I yang saya ketahui sendiri, berlaku sebuah pop culture yang khas, yaitu idola dan fans, dan ada yang sampai tingkatnya fanatik. Ada santri yang mengidolakan sesama santri, ada yang mengidolakan pengurus, ada yang mengidolakan Gus-gus dan Ning-ningnya, apalagi mengidolakan Kiai dan Bu Nyainya. Dan realitas membuktikan, para fans akan meng-copy-paste alias meniru idolanya, bahkan habis-habisan dan bagaimanapun caranya.

Fenomena unik ini, jika disikapi dengan lebih cerdas, akan sangat membantu dan mendorong progres santri, terarah kepada hal-hal yang positif. Misalnya, karena melihat figur idolanya, mereka berlomba-lomba untuk menjadi sosok yang sederhana dan rendah hati, berlomba-lomba suka berbagi dengan sesama, berlomba-lomba suka membaca, berlomba-lomba belajar menulis, berlomba-lomba hafal Alfiyah, berlomba-lomba mampu membaca kitab, dan seterusnya. Apakah mungkin? Mungkin saja. Anda sekalian tahu, kan, bahkan cara melampahnya seorang Gus saja banyak yang meniru? Setidaknya saya pernah menanyakan pada seorang santri putra mengapa dirinya getol menghafal Alfiyah. Ingin pintar membaca kitab kayak Gus Nasih, katanya. Nah kan! 

Lantas, siapakah figur itu? Semua masyarakat pesantren adalah figur. Dari sesama santri, pengurus, guru, dan terlebih adalah para Kiai dan Bu Nyai (yang lebih akrab disebut Pengasuh di PPRU I), karena mereka adalah idola hampir semua santri. Menurut saya, istilah “Pengasuh” memiliki makna yang sangat komprehensif dan dalam terutama saat disandingkan dengan dunia pendidikan seperti Pesantren. ‘Pengasuh’ yang kata dasarnya adalah ‘asuh’ merupakan satu dari tiga sistem among daripada metode pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hajdar Dewantara yaitu “asih-asah-asuh”. Apa itu? Ah, ini sudah berat. Dalam tulisan ini saja, saya merasa terlalu banyak menggurui. Mengakhiri tulisan ini, saya hanya ingin sekadar bernostalgia. Kembali kepada kenangan pembentukan karakter saya di tengah kemajemukan kamar C3, salah satu bilik PPRU I Putri. Merasa beruntung, nyantri di masa itu.[]

sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top