Thursday, October 27, 2016

Tentang Rohim, Tentang Keabsurdannya

11:28 PM

the ice chapel

Oleh: Abdurrahman Wahid

Setelah sekian purnama tak muncul, Rohim Warisi datang dengan sorotan mata yang tajam. Gelak tawanya yang penuh intrik menanggapi ucapan selamat datang. Ya, sosok lelaki absurd nan fiktif itu masih sama seperti perjumpaan seribu hari yang lalu.

Sehari sebelumnya, ia mengirim selarik pesan singkat pada saya. Tak ada tanda-tanda ia bercanda dalam pesannya. Melalui kata-kata itu ia menyampaikan hendak berkunjung ke Jogja. Namun, saat itu, saya tetap tidak langsung percaya dengan apa yang disampaikannya.

Mungkin tidak hanya saya, semua orang yang pernah mengenalnya juga akan berpikir selayaknya saya. Ya, lelaki pengagum penulis Cinta Tak Pernah Tepat Waktu itu memang sulit diterka ucapannya. Bahkan, kalau boleh jujur, ia adalah orang yang dalam berbicara sering tidak apa adanya.  Wajar, jika semua teman-temanya menganugerahkan dia sebagai sosok yang fiktif. Apa yang ia katakan hanyalah rangkaian yang dibuat seindah mungkin untuk membohongi orang sekitarnya.

Maaf, bukan tanpa alasan saya berkata demikian. Terlampau banyak sudah yang bisa saya sajikan. Tapi, biarlah, toh ndak penting membicarakan Rohim dengan serius. Ya, terlalu berharga waktu ini jika kita gunakan untuk membicarakan dia yang dalam kesehariannya dipenuhi dengan ketidakseriusan.

Saya sengaja menuliskan pertemuan ini. Rohim, jangan kepedean dulu ya, jangan berpikir bahwa dirimu adalah orang penting. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dirimu tidak banyak berubah. Dirimu masih seperti dulu. Semoga saja istirmu tidak seperti saya dalam memahamimu. Bagaimanapun, dia adalah orang yang ikhlas karena sudah mau menjadi makmum dari lelaki absurd macam kamu.

Tapi, harus saya akui juga, seabsurd apapun dirimu, sefiktif apapun ucapanmu, saya tetap menganggap dirimu sebagai teman yang baik sekaligus unik. Bahkan, dalam hal-hal tertentu, dirimu sudah saya anggap sebagai suhu. Ya, menurut saya, dirimu layak disebut sebagai pertapa yang memiliki pengikut tak terhitung jumlahnya.

Tentu kamu masih ingat, jamaah semut yang pernah kau pimpin. Atau segerombolan orang yang telah kau ajari bagaimana indahnya mem-bully orang lain, eh. Mungkin sekarang, dirimu sudah punya jamaah baru dalam duniamu. Kabarnya, dirimu sudah terlibat dalam pertempuran klan-klan. Sebagai teman, saya berharap dirimu menjadi energi positif di klan barumu itu.

Beberapa Obrolan Itu
Meski tidak lama, kunjungan Rohim ke Jogja telah membekas dan tentunya masih fiktif seperti dahulu kala. Oh iya, waktu rohim sampai, Jogja langsung diguyur hujan deras. Him, lihat Jogja bersedih karena kamu kunjungi lagi. Terlalu banyak sudah persolaan fiktif di kota ini, masih saja kau bebani dengan kefiktifan lama dengan bingkai baru.

Perbincangan awal, kita bernostalgia saat masih bersama-sama di Jogja. Mulai dari bahagia, hingga duka yang teramat sangat. Saya masih ingat betul, saat pertama kali ke Jogja dengan hanya berbekal bonek. Saat itu, melalui uang pinjaman dari temannya, Rohim berusaha menjadi bos kecil dari usaha bersama.

Dengan modal seadanya, akhirnya kita putuskan untuk menjual gorengan. Nanti, hasilnya dibagi dua. Dengan kegembiraan dan bayangan keuntungan yang luar biasa, saya beber lapak gorengan itu di depan fakultas. Lalu-lalang mahasiswa saya jadikan tempat strategis untuk menawarkan gorengan dari usaha kita. Lumayan, meski tak terjual habis, tapi cukup banyak yang terjual.

Tapi, satu hal yang perlu diketahui dari bisnis gorengan ini. Setelah pulang kuliah, kala sore hari, kita kumpul dan mencoba menghitung hasil dari penjualan gorengan. Terkejut, hasil yang didapat tidak sesuai dengan gorengan yang habis terjual. Sepertinya, teman-teman pada ramai mengambil namun lupa membayar. Karena saya yakin, mereka tak ada niat untuk mengambil gorengan yang saya jual.

Begitu seterusnya, entah berlanjut sampai berapa hari. Seingat saya, usaha itu tidak sampai satu minggu. Dan kami memutuskan untuk mengakhirinya. Ya, “usaha ini tidak cocok dengan kita,ucapnya kala itu.

Akhirnya, setelah gagal berbisnis gorengan. Kami putuskan untuk menjadi marbot di masjid. Tidak banyak alasan penting kenapa harus berdiam di masjid, kecuali untuk mendapat fasilitas gubuk gratis dan seperengkat lainnya. Setidaknya, di Jogja kami tidak tidur di pinggir jalan. Begitulah kira-kira.

Permasalahan hidup di Jogja, sedikit telah teratasi. Meski harus menempuh jarak 53 menit jalan kaki untuk sampai ke kampus, setidaknya ada tempat tinggal untuk sekadar melepas setiap keletihan. Singkat cerita, kira-kira sekitar sembilan bulan, kami kemudian memutuskan keluar dan menghadapi kehidupan yang tak kalah getirnya.

Jika mengingat kejadian bersejarah ini, tentu saja Rohim adalah suhu. Sebagaimana saya sebut di atas, dalam hal-hal tertentu.

Selepas membincangkan kisah masa lalu, saya tawarkan dia untuk berbaring di gubuk sederhana. Dengan gayanya, dia menolak. "Saya itu sewa hotel, dan sudah saya bayar." Saya rasa, semua sudah tahu bagaimana mimik Rohim kala memgucapkan kalimat semacam itu. Duh, Him, kamu memang tidak banyak berubah.

Oh, iya, sepanjang perjalanan kita mencari tempat makan, Garnasih menjadi tema obrolan utama. Banyak hal yang ia ceritakan tentang sosok aktivis perempuan tersebut. Dan, saya rasa, tidak perlu disampaikan apa yang kami bicarakan. Tak elok, dan sungguh akan mengundang ketegangan sosial sekitar.

Em, apalagi yang ia bicarakan persoalan cerita yang ia buat sendiri. Sebuah kejadian, entah nyata atau tidak, tentang Garnasih dan rupa warna kehidupannya. Begitulah, ia bercerita. Bahkan cerita itu berlanjut sampai malam hari, saat kami memutuskan untuk bertemu di warung kopi.

Selebihnya, ia bicara tentang bisnis yang hari ini digeluti. Tidak tanggung-tanggung, layaknya para pakar, ia sudah berbicara jauh ke depan, tentang puluhan tahun yang akan datang. Dengan bisnis barunya itu, ia sudah membaca segala kemungkinan yang akan terjadi. Dan sejauh pengamatan singkat saya, ia akan menjadi penguasa di daerahnya. Khususnya, di usaha yang tengah dikelolanya. Selamat, Him. Semoga ini menjadi langkah awal kesuksesanmu di masa depan.

Dan terakhir, keabsurdan dan kefiktifan Rohim kembali muncul. Tanpa kabar, dia tiba-tiba pulang. Padahal, katanya, di Jogja dia masih beberapa hari lagi. Begitulah, bukan Rohim kalau tidak menghadirkan ketidakmungkinan dan keabsurdan dalam setiap perjumpannya. []

Sumber gambar: Marie and Allstair knock

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top