Monday, December 14, 2015

Dunia Dalam Gelembung Balon

11:10 AM


Oleh: Muhammad Zeini
 
Secara tidak sadar kita hidup di dunia dalam gelembung balon. Kita menggelembunkan segala yang ada, sehingga hampir semuanya kehilangan akar realitasnya, dan tampak berlebihan. Pada akhirnya, kita pun kehilangan pegangan pada realitas yang sesungguhnya, dan hidup dalam kebohongan. Bagi mereka yang kritis tentu akan bertanya, apakah mungkin, kita mengetahui realitas yang sebenarnya? Bagi mereka, setiap pengamatan dan setiap pendapat selalu berbalut satu teori dan sudut pandang tertentu, sehingga tak pernah bisa sungguh mutlak, dan tak pernah bisa sungguh menangkap, apa yang sesungguhnya terjadi.

Bahkan ada berpendapat, bahwa apa yang dapat kita ketahui hanyalah jejak dari relitas, dan bukan realitas itu sendiri. Maka dari itu, kepastian pengetahuan pun hanya ilusi. Orang yang merasa pasti, bahwa ia mengetahui sesuatu, berarti ia hidup dalam ilusi, karena ia tidak bisa membedakan antara jejak dari realitas, dan realitas itu sendiri. Argumen ini memang masuk akal, dan memiliki kebenarannya sendiri. Akan tetapi, pada hemat saya, kita dapat mengetahui realitas yang sebenarnya, walaupun pengetahuan itu tidaklah mutlak, karena realitas itu berubah, maka pengetahuan manusia pun juga harus berubah.

Di dalam filsafat pengetahuan, dinyatakan dengan jelas, bahwa syarat pertama kebenaran adalah kesesuaian antara kata, pikir, dan kenyataan. Syarat ini, menurut hemat saya, bisa digunakan untuk menanggapi argumen di atas, bahwa pengetahuan kita itu relatif, dan kita hanya dapat mengetahui jejak dari realitas, dan bukan realitas itu sendiri. Sampai titik tertentu, manusia mampu menciptakan kesesuaian antara kata, pikir, dan kenyataan. Pada titik ini, gelembung balon adalah elemen yang membuat kita tak mampu melihat realitas, tetapi hanya bentuk hiperbolis (berlebihan) dari realitas yang ada. Tidak ada kesesuaian antara kata, pikir, dan kenyataan, karena kenyataan tertutup oleh gelembung balon, yang membuatnya seolah lebih, dari kenyataannya. Dalam bahasa gaul, gelembung balon ini bisa juga dibilang sebagai lebay. 

Gelembung informasi dan citra. 
Gelembung informasi, contohnya setiap hari pikiran kita diserang oleh jutaan informasi, mulai dari iklan, berita di koran, sampai dengan dengan gosip terbaru artis ternama. Pemberitaan di TV dan koran pun seringkali berat sebelah, yakni fokus pada satu area tertentu dengan sudut pandang tertentu, tetapi tidak meliput area lainnya, dan dari sudut pandang lainnya. Akibatnya, yang kita peroleh adalah gelembung balon informasi, yakni informasi berlebihan tentang satu area, dan informasi berlebihan dengan menggunakan satu sudut pandang tertentu. Kita mengalami gelembung informasi di satu sisi, sekaligus krisis informasi di sisi lain, karena kita menjadi buta dengan apa yang terjadi di negara lain, dan rabun, karena tak mampu melihat dari sudut pandang lain.

Gelembung informasi berujung pada gelembung balon citra. Gelembung balon citra membuat sesuatu atau seseorang tampak lebih dari aslinya. Balon citra menghasilkan kesalahpahaman, karena orang menghormati dan menghargai gelembung balon tersebut, dan bukan realitas sejatinya, yang amat mungkin tidak seperti balon yang tampak. 

Gelembung balon harapan dan kekecewaan. 
Dengan citra yang menggelembung di dalam balon, orang pun memiliki harapan yang menggelembung pula. Namun, karena gelembung balon bukanlah realitas, bahkan seringkali menipu, maka orang pun akan terjebak dalam kekecewaan. Harapan yang menggelembung pada akhirnya akan bermuara pada kekecewaan yang besar, karena harapan tersebut jauh dari kenyataan yang ada.

Di sisi lain, jika kita memperhatikan berita-berita di media massa, akan terasa sekali adanya gelembung balon negativitas, yakni pemberitaan berlebihan tentang apa yang negatif. Gelembung balon negativitas ini, jika tidak disikapi secara kritis, akan membuat kita melihat dunia juga dengan sikap sinis dan negatif. Cara berpikir negatif adalah awal dari tindakan negatif. Artinya, balon negativitas pemberitaan dunia akan juga menghasilkan balon negativitas cara pandang, yang amat mungkin akan mendorong tindakan-tindakan negatif, atau ketidakpedulian. Balon negativitas juga akan menghasilkan balon kekecewaan, yang pada akhirnya membuat orang tak lagi tergerak untuk memperbaiki keadaan. 

Gelembung balon budaya dan pendidikan. 
Dunia akademik kita juga hidup menggelembung. Kampus-kampus di Indonesia beusaha menggelembungkan dirinya menjadi kampus internasional, tetapi jauh dari jangkar dunia, dan nyaris tercerabut dari persoalan-persoalan mendesak realitas. Penelitian sibuk dengan gelembung balon teknis dan hibah, serta lupa memahami, apa yang sesungguhnya terjadi di dalam dunia.

Beragam negara berusaha meggelembungkan balon budayanya, sehingga berusaha menutupi borok perilaku politiknya. Data statistik dan analisis dipelitintir sedemikian rupa, sehingga menghasilkan citra balon yang nyaris tak ada kaitannya dengan realitas sebenarnya. Gelembung balon politik adalah kebohongan yang dipelintir seolah menjadi kebenaran.

Gelembung balon di dunia sosial juga mempengaruhi cara orang melihat dirinya sendiri. Pada akhirnya, orang juga akan mengalami gelembung balon diri, yakni melihat dirinya lebih dari yang sesungguhnya ada. Narsisme adalah gelembung balon diri, dan kalau melihat kasus narsisme adalah gejala manusia modern, yakni melihat dirinya lebih dari aslinya.

Gelembung balon adalah dunia semu yang menyelimuti realitas yang sebenarnya. Gelembung balon adalah simbol kemegahan dan kebesaran, tetapi sebenarnya di dalam kosong dan rapuh. Maka dari itu, kita tidak bisa begitu saja percaya pada gelembung-gelembung balon sosial di sekitar kita. Di dalam hidup, kita harus berusaha melihat apa yang melampaui indera. Bukan supernatural, melainkan apa yang tak tampak, yang ada di balik setiap gelembung balon di sekitar kita. Dunia dalam gelembung balon adalah dunia yang penuh pencitraan, yang seringkali juga berubah menjadi dunia yang penuh kebohongan.[]

sumber gambar: redrosela.wordpress.com

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top