Tuesday, February 9, 2016

Pasang-Surut Islam di Indonesia

4:47 PM


Oleh: Ahmad Nilam

Musim Semi Itu
Indonesia merupakan bangsa besar dengan penduduk. ± 125 juta jiwa, bangsa yang memiliki ratusan suku sebagai cagar budaya, bangsa dengan seribu kepulauan yang subur, bangsa yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia. Sampai hari ini 90% penduduk bangsa ini pemeluk agama Islam sejak terlepas dari kekuasaan agama Hindu dan Budha pada 7 abad yang silam. Dengan tertatih-tatih rakyat bangsa ini melepaskan diri dari kekafiran melalui bimbingan para sunan pulau Jawa—manusia yang mendapat ilham untuk berdakwah di pulau Jawa. Dengan kelemahlembutan, mereka membawa manusia dari millah jahiliyah menuju cahaya Islam yang mahligai. Berbagai episode perjuangan dan peperangan silih berganti mereka hadapi untuk mengakarkan millah Ibrahim ini.

Sejarah mencatat tentang perjuangan dan keberanian mereka memberangus penghambaan pada berhala-berhala setan, seperti Raden Patah, Sunan Giri dan mereka yang berprinsip Islam secara murni. Dan kelelahan, ketabahan serta kesabaran mereka ini pada akhirnya membentuk kebijaksanaan mereka dalam menjalani hidup di dunia sekaligus begitu berhati-hati supaya tidak lengah sehingga melupakan kehidupan kekal (akhirat) di episode selanjutnya.

Bisa dibilang, pada zaman itu Islam Nusantara seperti taman bunga memasuki musim semi—berjaya dan gemilang—di bumi nusantara, terlebih di pulau jawa.

Kemandulan Islam
Seperti halnya di Timur Tengah, Turki, Spanyol dan lain sebagainya, Islam di Nusantara juga mengalami kemunduran sejak imprialisme ketamakan Belanda menyelinap memasuki kedamain bangsa ini selama 3 abad lebih. Terlalu lama untuk disebut penjajahan. Terlalu sakit untuk dikenang.

Mereka yang barbaris, hedonis, tamak dan biadab telah menginvasi rakyat, mulai dari mental, kemerdekaan mereka sebagai manusia, politik, kekayaan alam serta kembali memupuk berhala-berhala yang telah lama mati. Bersama cukong-cukong yang berhati busuk dan bermental penakut, biadab dan seluruh tabiat bangsat di jiwa mereka—misalnya Danurejo IV—kolonial Belanda memeras keringat rakyat sampai tidak tersisa, kerja paksa serta kebiadaban lainnya telah memadamkan semangat keagamaan mereka dan menanamkan keputusasaan untuk berharap di hari esok. Krisis kepedulian sosial di berbagai elemen tumpah-ruah membanjiri semua kalangan, sehingga tercipta yang kaya akan semakin kaya dan simiskin kian tercekik oleh zaman penjajahan. Akibatnya kejahatan dan kebiadaban seperti perampokan, pencurian, pembunuhan dan pemerkosaan serta kebodohan tumbuh subur di zaman itu. Hanya segelintir dari mereka yang selamat dari kebiadaban zaman pada waktu itu meskipun mereka yang mempertahankan akidahnya harus memiliki kesabaran dan kekuatan seperti orang yang memegang bara api.

Jepang dengan kaisar bodohnya juga ingin memadamkan api tauhid Islam yang sudah kritis di bangsa ini, dengan cara membungkuk kepada kaisar sebagai penghormatan yang terkenal denga upacara Seikerei. Namun Tuhan masih tetap membela millah Ibrahim dan memberi pertolongan pada bangsa ini untuk mempertahankan eksistentensi ketuhanan yang absolut.
Tercatat, bangsa penyembah matahari ini menjajah bumi nusantara selama ± 3 tahun (1942-1945), namun tingkat kesadisan dan kebiadaban mereka sangat patut untuk dikatakan "kebiadaban manusia yang lahir dari rahim penyembah setan", yang lazimnya sikap penyembah setan itu tamak, angkuh, biadap dan bangsat.

Singkatnya, pada zaman itu Islam seperti bunga memasuki akhir musim semi, layu. Bahkan tak jarang, para kiai sebagai pemimpin spritual rakyat yang berupaya untuk bangkit atau paling tidak mempertahankan akidah diserang dan dihukum atau malah dibunuh dengan cara ditembak dengan biadab.

Kebangkitan Islam
Memasuki abad ke 19 M. Islam kembali menampakkan sinar keberaniannya, cahaya harapan yang sempat redup telah terbit di ufuk timur, banyak putra bangsa yang bangun dari tidur yang berkepanjangan, bangkit dan mempelajari Islam dari satu pintu ke pintu yang lain bahkan sampai ke Mekah untuk memperdalam dan menemukan ruh hakikat keberanian Islam yang bisa membuat mereka bersemangat dan memberi semangat untuk bangkit pada manusia lainnya. Misalnya Syaikhana Khalil, Kiai Shaleh Darat, Kiai Muhammad Dahlan dan Rais Akbar Kiai Hasyim As'ari. Kiai yang disebut terakhir adalah salah satu ujung tombak kemerdekaan bangsa dari penjajah serta pendiri organisasi keagamaan yang terkuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Dari segala kesederhanaan sikap kiai ini, lahir pejuang-pejuang bangsa yang gagah berani dan pasukan berani mati, setelah beliau menfatwakan wajib jihad membela agama Islam dan bangsa saat negara sekutu mencoba kembali menginjakkan kaki untuk menjajah pada tahun 1945, beberapa bulan setelah bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya pada tgl 17 Agustus 1945.

Dari sekian ribu pahlawan bangsa Indonesia yang lahir dari kewibawaan Islam, yang termashur adalah Bung Tomo. Pekikan "Allahu Akbar!"-nya memberi semangat yang meggelora dan harapan merdeka di hari esok atau kerinduan syahid di jihad fisabilillah. Catatan sejarah menjadikan tanggal 10 November Tahun 1945 itu sebagai Hari Pahlawan yang selalu dikenang oleh bangsa—merekalah kaum bersarung murni didikan Islam. Dan masih banyak lagi sejarah keberanian dan keperwiraan Islam yang gagah berani mengusir kebiadaban dan mempertahankan bangsa ini dari ketamakan, barbarisme kolonial Belanda dan Jepang, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, yang keduanya merupakan Presiden dan wakil President pertama di bumi Indonesia. Di zaman ini, cukup sulit menemukan kemampuan memimpin bangsa seperti yang beliau lakukan, dari sebab itu As-Sayyidi al-Habib Muhammad Luthfi mengajak bangsa Indonesia untuk menghormati beliau bahkan terhadap foto beliau yang ada di lembaran Rp 100.000—sekedar penghormatan.

Islam dan pemeluknya telah menyelamatkan bangsa ini dari pengafiran, ketamakan, kebiadaban dan kelicikan kolonial Belanda dan Jepang. Menyitir perkataan Muhammad Massad: "Bukanlah umat Islam yang telah membuat Islam itu besar; Islamlah yang telah membuat umat Islam itu menjadi besar."

Era Jahiliyah Di Abad Ini
Sayangnya, millah jahiliyah di abad milenium ini kembali mengepak sayap cacatnya, Banjir kebejatan moral telah melanda semua kalangan bangsa Indonesia. Pemuasan hawa nafsu menjadi patokan utama sebagai tujuan menjalani hidup, pemimpin beserta rakyatnya sama-sama berlomba dalam mewujudkan kesenangan diri, kemewahan dan keroyalan sampai pada tahap pantas untuk dituding sebagai sahabat setan—mubadzir.

Kita bisa melihat dan mendengar bahwa sebagian besar harga jam tangan anggota dewan cukup untuk memberi makan orang miskin sekampung, artis yang memamerkan keindahan fashion-nya dengan harga yang tidak memungkinkan kalau melihat kemiskinan yang membludak di bangsa ini. Mereka yang terbudak oleh hawa nafsu tampaknya sangat lihai menontonkan cara kesombongan ala setan—Fun, Fashion dan Food.

Paham hedonisme, telah mengakar kuat di bangsa ini, membusuk di semua sendi otak, meniru masyarakat Barat yang materialistis sehingga semua harus bersifat uang dan materi. Itulah sebabnya kebobrokan negeri ini semakin tak terbendung. Politik kotor semakin menjadi, dan puncaknya panggung orang-orang berdasi ini menjadi tempat favorit mangkalnya penyamum. Sudah tak terhitung berapa banyaknya rangkaian tayangan televisi yang menayangkan kasus maling negara ini seraya tersenyum dan berdada di depan kamera. Belum lagi persekongkolan mereka dengan masyarakat barat untuk menggerus kekayaan alam Bangsa Indonesia.

Aduhai, Indonesia sudah sekarat!

Moral bangsa dipertaruhkan, martabat bangsa tergadaikan, oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab dan karena mereka inilah banyak orang yang melacur, merampok, menipu dan seluruh bentuk keputusasaan yang lain karena terjepit kemelaratan yang tak kunjung usai.

Sementara umat Islam masih sibuk dengan mementingkan kubu-kubu mereka dan melakukan pembelaan yang berlebihan sehingga lalai pada tugas yang paling penting peranannya di dunia—khalifah.

Para cendekiawan Islam yang seharusnya memperhatikan sekaligus membenahi arus biadabnya jahiliyah yang semakin mencemaskan, lebih mementingkan pengkafiran pada saudaranya yang tidak sepaham, lebih suka memupuk dengki-dendam daripada berangkulan tangan demi maslahat umat.

Karena itulah kebejatan moral semakin menggerus pewaris tahta bangsa, belum lagi cahaya Islam yang meredup oleh karena banyaknya organisasi keislaman yang tak bertanggung jawab. Kebodohan mereka yang hendak membela Islam malah menghancurkan Islam, hendak memuliakan Islam malah menghina Islam, hendak menampakkan kewibawaan Islam malah memberi kesan bahwa Islam agama teroris yang biadab, kotor dan puritan. Ruh Islam yang rahmatan lil alamin tertutupi oleh kepentingan-kepentingan pribadi, bahkan tak jarang ketulusan Islam dijadikan sebagai tunggangan untuk mencapai tujuan nafsunya yang buas.
Singkatnya, di zaman ini bangsa Indonesia yang berpenduduk muslim terbanyak tak mampu menjadikan Islam sebagai acuan hukum dan sandaran bangsa.

Padahal, seperti yang dikatakan Muhammad Massad di depan, jika bangsa ini ingin besar, dihormati, berwibawa di hadapan kawan, ditakuti oleh lawan rakyatnya harus bermental Islam yang gagah berani.

Penghancur Peradaban Islam
Setelah mencoba merenungi alasan demi alasan peristiwa ini, penulis menemukan tiga golongan terpenting yang menyebabkan bangsa ini bobrok dengan teramat sangat memilukan.

1. Pemimpin. Sebagian besar pemimpin bangsa ini sudah tidak lagi beragama (ateis), dan lebih memilih aturan atau gaya hidup barat yang bejat, boros dan tamak. Bagaimana mungkin mereka kita bela mempunyai agama? Padahal sudah jelas sabda Rasulullah SAW bahwa "tidak beragama orang yang tidak menunaikan amanah". Kita bisa melihat dewasa ini, bagaimana sikap mereka terhadap amanah bangsa yang dibuang ketempat sampah dengan cara yang paling mengerikan. Mereka lebih mementingkan nafsu duniawi, keserakahan sampai pada tahap tidak tahu malu, dan kepuasan birahi hewani, daripada menulis sejarah yang baik untuk dirinya. Apabila mereka ditanya kapan bangsa ini akan bangkit, jawaban mereka "sabar, sabar dan tunggu" geram menggelutuk saat mendengar mereka memberi jawaban ini sambil nyengir.

2. Ulama. Sebagian besar dari golongan mereka sudah acuh dalam urusan amar makruf nahi mungkar. Mereka lebih suka berdebat dan mengafirkan satu sama lain demi membenarkan pendapatnya sendiri daripada fokus maslahat umat, mereka lebih suka memberikan lelucon daripada menceritakan sejarah keemasan Islam, mereka lebih suka dipuji daripada menahan rasa sakit demi amar makruf nahi mungkar, mereka lebih suka mempertontonkan hal-hal yang tidak sewajarnya daripada menjaga marwah, bahkan dari sebagian mereka, mau menjadi budak iklan produk murahan. Keengganan mereka untuk tulus mendidik bangsa persis kaum Yahudi sebagaimana yang didawuhkan KH. Maimun Zubair "Wong Yahudi iku biyen gelem mulang angger dibayar, tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar." (Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang).

Dan yang aneh, ancaman Allah swt. kepada orang yang berilmu namun tidak mengamalkan, menyuruh tapi tidak melakukan, memerintah tapi malah melakukan lebih dulu dengan ancaman yang lebih dahsyat daripada penyembah berhala, mereka anggap sebagai hal yang lumrah dan disikapi dengan senyum. Golongan yang kedua ini, apabila ditanya kemandulan Islam dibumi pertiwi hanya bisa menjawab dengan menuduh bangsa Yahudi dan Nasrani sebagai biang keladinya. Mereka tidak sadar, bahwa panglima pasukan kelompok musuh Islam itu adalah (kebodohan) mereka.

3. Rakyat. Kebodohan mereka terlampau teramat sangat. Mereka tidak mengidahkan sabda Rasulullah SAW yang melarang memberikan (memilih) kepemimpinan kepada orang yang memintanya atau yang berusaha memperolehnya. Alih-alih mereka ikut, malah mereka membuat semboyan "ada uang, ada suara" yang menunjukkan betapa bodoh dan primitifnya otak mereka, terbelakang dan telah menjadi kaum matrealistis. Mereka ibarat anak domba yang memilih ikut serigala daripada ikut induknya.

Golongon terbodoh ini akan melakukan demo besar-besaran dan mengamuk dengan membabi buta seraya berselogan "kami rakyat negara yang bebas berdemokrasi".

Dan ketiga golongan diatas satu sama lain sudah tidak mau lagi menjaga aib sesama, yang satu membuka aib yang lain dan seterusnya. Padahal As-Sayyid al-Habib Muhammad luthfi telah mengingatkan dengan dawuhnya "Begitu juga dalam kehidupan berbangsa. Kalau kita menutupi aib saudara kita sebangsa, atau pejabat kita, atau Negara kita, maka bangsa lain pun tidak berani memojokkan bangsa kita. Bangsa lain memojokkan bangsa kita, tidak menghormati bangsa kita karena kita sendiri yang membuka aib bangsa kita".

Ketiga-tiganya di atas disebabkan keengganan dan kemalasan mereka untuk mempelajari dan memasuki (mengamalkan) Islam secara kaffah.[]

04-01-16, Bengkulu.

sumber gambar: The Heart of Bukhara, by Sergei Golyshey

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top