Saturday, June 13, 2015

Bayang-bayang Negeri Belanda

1:56 PM

[sumber]


Oleh: Abdul Rahman Wahid

Bersamaan dengan senja yang memerah. Terdengar suara laki-laki mengucapkan salam. Segera kutaruh piring, dan kuletakkan di meja makan. Ya, saat itu aku hendak makan. Setelah lupa melakukan sarapan dan makan siang. Semua itu terjadi karena bayang-bayang masa depan.

Lalu kubuka pintu rumah. "Hallo kawan," suara itu terdengar bersama terbukanya daun pintu rumah bagian depan, ternyata tamu yang mengagetkan itu adalah Krisna. Teman yang beberapa hari sebelumnya berbagi cerita denganku.

"Kamu to, silahkan masuk," aku mempersilahkannya sambil menujuk ke kursi warna coklat, memberi isyarat agar dia langsung mengambil tempat duduk.

Seperti biasa, hanya secangkir kopi hitam dan rokok yang bisa aku hidangkan untuk seorang teman. Terkadang kalau pas lagi ada uang, aku sempatkan ke warung untuk membeli camilan. Kalau lagi ada orang di rumah, bermacam hidangan sederhana bisalah disajikan. Karena orang rumah pada keluar dan aku tidak memegang uang. Praktis, hanya rokok dan kopi hitam yang menjadi hidangan.

Sambil tersenyum agak menyindir, tangan kanan Krisna mengangkat bungkus rokok yang kusajikan. Kulihat dengan jelas, hanya ada sebatang rokok yang berdiri tegap di dalam bungkus yang masih mapan tersebut. Akupun tersenyum memberikan jawaban. Bagi kami ini hal yang biasa, dengan refleks tanganku merogoh saku celana tapi tak ada selembar kertaspun yang melekat saat tangan kuangkat. Melihat itu, kami berdua tertawa terbahak-bahak. Lalu, dengan sisa-sisa tawanya Krisna mengambil selembar uang disaku baju bagian depannya dan menyodorkannya kepadaku. Seketika langsung aku beranjak ke warung sebelah rumah.

Membeli sebungkus rokok dengan uang yang disodorkan Krisna. Tanpa waktu yang lama, aku sudah sampai di rumah kembali. Kemudian, obrolan tentang masa depan itu kami mulai lagi.

"Oh, ya kawan. Saya diterima di Perguruan Tinggi di Belanda," dengan ekspresi gembiranya Krisna menyampaikan kabar baik yang didapatinya. Seketika aku terkaget mendengarnya. Bagaimana tidak, teman karibku itu sebentar lagi akan meninggalkanku. Melanjutkan studi di Kincir Angin. Negeri yang selalu kuimpikan itu.

"Oh ya, selamat ya," dengan menyembunyikan nada sedih, aku ucapkan selamat atas kebahagiaan temanku itu.

"Kamu gak pengen ke Belanda juga ta?" Tawaran bernada pertanyaan Krisna itu memberi harapan, bahwa aku juga berkesempatan ke Belanda menimpa ilmu bersama-sama.

"Bagaimana bisa?" Tampang pesimis kulontarkan sebagai bentuk jawaban atas pertanyaannya.

"Kalau kamu mau, tinggal daftar aja. Masih ada kesempatan kok. Siapa tahu diterima," Krisna menegaskan kembali, Bahwa aku dan dia masih bisa berkesempatan belajar bersama di Belanda. Bersama detak jantungku yang tak beraturan, aku menaruh harapan bahwa aku bisa sampai ke Belanda. Pada saat itu pikiranku dihantui oleh dua pilihan. Ke Belanda belajar bersama Krisna atau di rumah saja membantu orang tua. Sedangkan kesempatan itu hanya tingga dua hari saja.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar," terdengar gemuruh suara adzan dari corong musala kecil berwarna lumut (karena sudah lama tidak dicat). Krisna berpamitan untuk pulang. Seperti biasa kami berdua berjabat tangan sambil menitipkan salam kepada keluarga masing-masing. 

~00o00~

Karena sudah berwudu sedari Ashar, aku hanya pergi ke kamar mengambil songkok warna hitam lalu bertandang ke musala yang tak jauh dari rumah. Sepanjang salat yang kutunaikan, aku masih dibayang-bayangi akan impianku belajar ke negeri pencetak pemain sepak bola dunia. Saat yang lain khusyu' berzikir, aku membayangkan bahwa diriku saat itu sedang berjabat tangan dengan Ratu Wilhelmina. Sungguh bayangan masa depan itu mengusik sampai pada hubunganku dengan Tuhan. Dalam perjalan dari Musala ke rumah, hal serupa masih terbayang.

"Sungguh kasihan pemuda dengan sejuta cita-cita itu." Gumanku merasa iba pada diriku sendiri.

Sesampainya di rumah, aku langsung menyantap hidangan makan malam bersama keluarga sambil menyaksikan tayangan televisi di ruang depan. Di televisi itu diberitakan seorang Pejabat Negara mengunjungi Belanda, tempat dia belajar dulu. Menyaksikan berita itu, aku semakin tak menentu, makan pun aku sudah tak bernafsu. Ya, bayangan masa depan itu muncul kembali dan menyiksa pikiranku.

Tanpa berpikir panjang, kusudahi makan malam lalu kutaruh piring di meja makan. Kuciduk air untuk mencuci tangan. Kulangkahkan kaki menuju ruang peristirahatan. Sambil berharap, dengan kubawa tidur bayang-bayang masa depan itu akan hilang. Bayang-bayang itu akan menjadi kunang-kunang yang berkeliaran menerangi malam. Ketika semua orang terbangun, kunang-kunang itu sudah hilang membawa bayang-bayang masa depan. Pikirku saat itu ingin sejenak melupakan bayangan negeri Belanda dengan segenap janji masa depannya.

Tapi apa, aku hanya bisa memejamkan mata namun tidak dengan raga. Meskipun mataku terpejam, alam pikiranku masih sibuk memikirkan bayang-bayang masa depan itu. Bukan karena suara detak jarum jam yang berputar atau suara cicak yang melahap nyamuk di dinding dan atap kamar. Tapi bayangan negeri Belanda itu yang tak bisa menidurkan aku. Semakin memaksakan mata untuk terpejam, bayangan Belanda semakin menampakannya padaku. Malam itu, aku benar-benar tersiksa.

Dengan segala upaya aku mencoba menenangkan diriku. Hingga akhirnya, akupun tak tahu jam berapa aku tertidur dan sejenak bisa lari dari bayangan masa depan itu. Malam itu pun begitu hening, jarum jam bergerak begitu hati-hati. Cicakpun tak ada yang berani mengeluarkan suara. Semuanya seakan menjadi penjaga di sebuah istana. Menjaga Sang Baginda Raja agar tidak terganggu istirahatnya. 

~00o00~

Saat mataku terbuka, aku mulai menyadarinya. Kalau pertemuanku dengan Krisna tidaklah nyata. Semua itu terjadi di alam mimpi. Aku terbangun dan aku masih di Indonesia, bukan Belanda. Ah, tak apalah saat ini itu mimpi. Mungkin suatu saat akan nyata. Aku akan merasakan betapa indahnya belajar di negeri Kincir Angin tersebut. Negeri yang dulu pernah merampas semua hak bangsaku ini. Suatu saat, kelak kalau aku sudah di sana. Akan aku rampas semua pengetahuannya. Lalu kubawa pulang ke negeriku tercinta, Indonesia. Kupersembahkan pada dua pahlawanku, orang tua. Kupersembahkan pada seseorang yang telah menjadi supporter dalam perjalananku, dia.

"Mimpi itu adalah bagian dari apa yang kita pikirkan." Begitu temanku pernah berkata kepadaku. Teringat perkataan temanku itu, aku menyadarinya. Sehari sebelum mimpi itu terjadi, aku menelepon orang tua dan akan pulang kampung sebelum bulan puasa tiba. Sepertinya rasa rindu ini tidak bisa berdusta. Karena ada beberapa agenda, rindu itupun tertunda. Mungkin lebaran bisa kuluapkan. Ibu, aku harus menunda merasakan hangat tanganmu.

Beberapa hari ini aku juga selalu menyebut dia. Entah berapa kali dalam sehari, aku tak mampu mengingatnya dalam hitungan. Hingga dia hadir dengan sosok yang begitu istimewa. Ya, dia datang sebagai Ratu Wilhelmina. Ratu Belanda yang tak bisa dilupakan dalam sejarah Indonesia karena politik balas budinya.

Ah, sudahlah. Biarkan mimpi itu tetap menjadi mimpi. Tak perlu kurisaukan keberadaannya. Kalaupun nyata, anggap saja itu cita-cita yang selalu kusebut dalam doa. Karena usaha lalu Tuhan menunjukkan jalan-Nya. Dan kalaupun suatu suatu saat mimpi itu tidak nyata, aku tak perlu kecewa.

Catatan mimpiku semalam. (12-06-2015)

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top