Sunday, September 18, 2016

Mempersiapkan Diri Dalam Problematika Kehidupan

1:36 PM

aircraft_050519-N-0226M-012

Oleh: Muhammad Zamzami

Semacam gambaran pemulaan, suasana pagi yang sejuk di tengah keramaian kota ini semakin mengantarkanku dalam sebuah situasi psikologis yang bisa dikatakan menjadi harapan setiap orang. Meskipun hanya sebuah situasi kejiwaan yang sifatnya abstrak alias tak tampak, namun keberadaannya menentukan timbulnya ekspresi tubuh yang bergerak ke arah positif atau negatif. Apalagi secangkir kopi hangat turut serta mewarnainya dan menambah sensasi kenikmatan yang olehnyalah tercipta sebuah reaksi positif, yakni hadirnya suasana ketenangan. Ya, ketenangan yang bercokol jiwa. Sehingga, indikasi yang datang darinya adalah kemampuan lebih untuk berpikir jernih tentang segala hal yang dituntut untuk segera diselesaikan. Untuk menyelesaikan sebuah permasalahan memang tak mungkin akan berjalan seperti yang diharapkan jika tidak ditangani dengan ketenangan hati dan kejernihan pikiran. Hal itu hanya akan terjadi jika jiwa sang aktor dalam kondisi yang tenang dan murni, serta tidak terkontaminasi oleh emosi atau tendensi-tendensi lainnya.

Banyak sekali problematika yang selalu mewarnai kehidupan kita, dari permasalahan terkecil seperti rumah tangga dan lainnya, pendidikan, sosial, dan bahkan permasalahan yang saat ini lagi tren di kalangan anak muda, yakni asmara, yang selalu menghalang-halangi kita untuk meraih keinginan kita dan cita-cita kita. Disadari atau tidak, permasalahan itu hakikatnya hanyalah sebuah ujian dan cobaan dalam kehidupan yang mau tidak mau harus kita jalani dan kita selesaikan dengan bijak. Sudah barang tentu proses penyelesaian ini tidak hanya sekadar melewatinya saja tanpa adanya kesiapan untuk menjawab tantangan dalam ujian itu. Ya, mempersiapkan jawaban, layaknya menghadapi ujian UTS atau UAS di perkuliahan, dengan belajar dan mengulangi dengan membaca kembali materi perkuliahan yang kita dapatkan sebelumnya. Dengan begitu, kita akan mudah menjawab materi-materi ujian yang dihadapkan pada kita.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian atau cobaan dalam kehidupan ini? Materi perkuliahan apa yang harus dibaca kembali agar kita mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tantangan-tantangan yang dihadapkan kepada kita? Tentu bukan materi-materi perkuliahan, bukan juga pelajaran-pelajaran yang kita terima di sekolah. Akan tetapi dengan muhasabah. Ya, dengan evaluasi dirilah kita akan mampu menjawab setiap tantangan, cobaan, dan ujian yang akan kita terima. Bukankah setiap cobaan dan ujian tidak akan melampaui kemampuan yang kita miliki? Artinya, sebelumnya kita sudah mendapatkan materi-materi seputar kehidupan, atau bisa dikatakan dengan pengalaman, baik itu pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain, yang dapat kita ambil pelajaran darinya dan kita baca kembali untuk kita persiapkan dalam rangka menjawab sekian tantangan, uijan, dan cobaan dalam kehidupan yang akan kita terima nantinya.

Dengan begitu, tanpa disadari kita telah menambah pengalaman kita. Pengalaman itu dapat kita jadikan sebagai bahan persiapan untuk dibaca kembali dan dijadikan persiapan untuk menjawab permasalahan-permasalahan lain yang akan datang di sana nanti serta dan akan menjadi penghambat kita dalam meraih harapan dan cita-cita. Toh sebenarnya permasalahan-permasalahan itu bukan musuh yang harus kita waspadai, tapi ia adalah sahabat kita yang akan mengantarkan kita ke sebuah ruang kehidupan yang lebih berwarna dan lebih baik tentunya. Karena memang kehidupan ini tak ubahnya sekadar ruang kelas di sekolahan. Kita akan naik kelas jika kita mendapatkan nilai yang sesuai dengan standar penilaian untuk naik kelas.

Kita harus menerima memang jika kita tidak naik kelas lantaran nilai yang kita dapatkan tidak sampai ke level baik atau layak untuk mendapatkan mata pelajaran yang akan kita terima di kelas yang lebih tinggi, sebab kita memang kurang persiapan, atau dalam hal ini kita kurang, atau bahkan enggan, untuk muhasabah atau evaluasi diri.

Sebenarnya, yang menjadi permasalahan bukan di situ. Bukan tentang keharusan menyikapi setiap cobaan dan ujian hidup dengan bijak atau kurang persiapan dan tidaknya, tapi apa sebenarnya yang menprovokasi diri kita untuk enggan ber-muhasabah atau evaluasi diri sehingga kita tidak mampu menjawab problematika kehidupan dengan baik seperti yang diinginkan? Memang tidak mudah untuk menjawab tertanyaan tersebut. karena kecenderungan setiap individu diakibatkan oleh karakter masing-masing, yang indikasinya adalah berbedanya setiap perorangan dalam mengambil sikap terhadap permasalahan kehidupan. Ada yang lahir dan dibesarkan dari lingkungan yang materialistis, ada yang dari lingkungan yang agamis, yang yang primitif, atau yang lainnya, yang hal itu sudah pasti mempengaruhi watak dan cara berpikir seseorang.

Kalau ia berasal dari lingkungan yang mengajarkan ketidakdewasaan dalam bersikap, ia akan cenderung acuh untuk muhasabah dan menjawab ujian dan cobaan hidup dengan tanpa adanya persiapan. Hasilnya pun akan hanya terkungkung dalam problematika yang stagnan, alias tidak naik kelas.

Sebaliknya jika sang aktor tadi dari lingkungan yang baik dan mengajarkan kedewasaan dalam bertindak, mengambil sikap, dan bahkan selalu muhasabah atau selalu evaluasi diri, maka hasilnya akan berbeda. Ia dipertemukan dengan warna baru dan materi baru yang nantinya ujian dan cobaannya pun akan baru pula, dan begitulah seterusnya, di samping  ia akan naik ke kelas yang lebih tinggi lantaran ia telah lulus dan mendapat nilai yang memuaskan sesuai standar nilai kelulusan.

Terakhir, anggap saja ini hanya sekadar tulisan yang tertuang dari sebuah pikiran yang sedang lelah lantaran tak mampu lagi membendung banyaknya luapan hasrat dan keinginan untuk diungkapkan. Selanjutnya, hanya harapan kepada para pembaca agar sudi untuk mengoreksi kekurangan dan kekeliruan, yang dipastikan menjadi noda hitam dan mengeruhkan kejernihan pembahasan yang tertuang dalam tulisan ini. Sebab, ia hanya sekadar penyaluaran atas luapan gagasan yang timbul dari pemikiran yang belum jelas betul kejernihannya.[]

Jogja, 18 September 2016.
Sumber gambar: 050519-N-0226M-012

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top