Monday, September 19, 2016

(Mereka) Gila

12:56 PM

into_the_sea

Oleh: Muhammad Madarik

Tatkala aku lunglai dihempas gelombang, kakiku terseok di pantai berpasir ini. Angin dingin menembus pori-pori kulit hitamku, menambah raga kian tak berdaya. Dalam sejenak aku terdiam. Lalu kembali kedua kaki ini kulangkahkan. Serasa berat mengayunkan. Jejak kaki menggambarkan telapak kaki terseret.

Baju yang melekat di tubuh ini benar-benar lusuh. Dari pakaianku aroma tak enak menyebar. Bau. Rambut gondrong tak pernah tersisir. Gimbal.

Sekian langkah, aku terhenyak menyaksikan dua sejoli sedang bercinta di bibir pantai. Suasana temaram, hanya secercah mentari yang akan masuk ke peraduan ufuk barat manambah syahdu dua insan yang sedang kasmaran. Bebatuan menjadi penyangga duduk mereka berdua yang berhimpitan.

Aku berdiri menghentikan ayunan kaki seberapa depa dari mereka berdua. Aku tahu, mereka berdua hanyalah sebagian dari sekian orang yang menganggapku gila. Mereka berdua cuma menyempatkan sedetik untuk memndangku, kemudian kembali masuk ke dalam dunianya. Mereka berdua tak lagi peduli sekelilingnya, apalagi hanya sekadar sosok yang dianggap tak waras.

Aku tersenyum melihat orang-orang yang menganggapku hilang ingatan. Padahal, bagiku merekalah orang-orang tak sehat akal. Aku redam kemarahan setelah aku teringat masa lalu.

***

Sejak kecil, aku tak asing dengan kemiskinan. Orang tuaku rakyat jelata yang tak mampu mewarisi harta dan kemewahan. Aku terdorong untuk membantu orang tua meringankan beban berat yang dipikul ayah-ibu. Kami hidup di pinggir kota besar. Di atas sepetak tanah, bangunan sederhana menjadi rumah berlindung keluargaku. Rumah-rumah serupa berjajar saling berhimpitan menjadikan kampung ini begitu padat.  Lingkunganku dihuni jelata yang berpenghasilan di bawah rata-rata.  Selama ini ayah bekerja sebagai tukang kayuh becak, sedangkan ibuku menjual gorengan di gang depan rumah.

Sejak kecil, lingkungan telah menempa diri ini menjadi pemuda kuat, mandiri dan pengalaman. Aku kenal alam bebas dan aku akrab dengan dunia malam. Di sela aku menghabiskan waktu bersama kawan-kawan, nasibku cukup beruntung karena kenal ragam orang dari semua kelompok pergaulan. Ternyata hidup bebas tanpa sekat "sekolah formal" mendidik lebih banyak pengetahuan dengan pengalaman langsung. Tetapi karena bapak, aku disadarkan agar mencari pekerjaan yang pasti. Aku turuti setelah menyaksikan ada tetesan air mata meleleh di pipi ibuku. Aku tak kuasa melihatnya. Jiwa ini bergetar. Dua adik kecil yang sedang makan dengan lauk seadanya, mengilhami pikiranku untuk segera mencari tambahan beaya hidup bagi keluargaku.

Kini, aku berada di rumah besar. Tuan Gani adalah seorang pengusaha sukses di kota metropolitan. Ia mempunyai tiga orang anak. Lila merupakan putri pertamanya, Nadia adiknya dan Tridermawan satu-satunya anak laki-lakinya. Bapak dan ibu merupakan orang baik, ramah dan memperlakukan semua pembantunya layaknya manusia merdeka tanpa sekat strata sosial. Aku senang ikut membantu rumah ini. Dalam waktu luang, bapak seringkali mengajakku berbincang banyak hal di joglo halaman belakang. Tempat favorit bapak saat berada di rumah.

Datang cobaan bagi bapak. Perusahaan yang dipimpinnya mulai goyah. Beberapa aset perusahaan terpaksa dilepas demi melanjutkan perusahaan agar tidak semakin runtuh. Faktor kesulitan finansial disinyalir menjadi anasir terkuat mulai ambruknya bisnis keluarga itu. Pelemahan ekonomi dunia ikut mempengaruhi investasi usaha milik bapak. Hal ini dirasakan cukup menyulitkan perusahaannya.

Bapak sering berpikir keras di tempat yang disenanginya. Acapkali aku menjadi teman bicaranya, dan kadang-kadang saling beradu argumen di antara kita. Tidak jarang, beberapa ide yang kulontarkan masuk di dalam pikirannya. Kayaknya bapak menerima dan melaksanakan usulan-usulan yang kusampaikan. Secara perlahan, kondisi perusahaan bapak semakin sehat.

Kini, hampir setiap berada di rumah, bapak selalu mengajakku bertukar pikiran dan mengobrol. Mulai dari tema-tema ringan sampai topik-topik berat. Seperti biasa, kopi panas dan rokok yang senantiasa menyertai pembicaraan kita memperpanjang obrolan hingga larut malam. Kendatipun keakrabanku dengan bapak tanpa dinding penghalang, aku berupaya memosisikan diri sebagai pembantu keluarga ini. Sikapku terhadap semua anggota, khususnya bapak dan ibu, tetap tak berubah seperti sedia kala ketika awal aku datang ke rumah ini.

Kebersamaanku dengan bapak, perilaku yang kutampakkan, kepiawaianku dalam berbicara, tingkat analisisku yang tajam dan kejujuranku membuat bapak-ibu menjadikan mereka berdua mulai ditumbuhi rasa tertarik padaku. Konon menurut Bibik Tonah, pembantu tua yang sudah bertahun-tahun ikut keluarga ini, dulu pernah ada seseorang yang dekat dengan bapak. Tetapi karena sikapnya yang merasa setara dengan anggota keluarga dan hampir setiap hari mencuri, ia diusir dari tempat ini. 

Akhirnya aku ditawari menjadi suami Lila oleh bapak. Rasa gembira bercampur tidak percaya menyelimuti jiwa ini. Hanyalah seorang pembantu rumah tangga bisa-bisanya ditawari untuk menjadi menantu oleh tuannya sendiri. Kebimbangan dalam perasaanku tak lagi bisa dibendung sekian hari menjalani hidup pada minggu-minggu ini.

Lamaran pun sesederhana mungkin dilakukan oleh pihak keluargaku seusai tawaran keluarga Lila dirembukkan bersama orang tuaku. Melalui proses yang alot dan melibatkan beberapa wakil familiku, tawaran itu diterima secara bulat.

Sekarang megister ekonomi itu telah menjadi Nyonya Lila Memet Junun.

Aku telah menempati rumah yang tak kalah besar dari kediaman bapak bersama istriku dengan fasilitas lengkap pemberian bapak. Rumahku berdampingan dengan mertua, sehingga hubungan dengan keluarga bapak tak begitu kesulitan. Apalagi bapak masih sering mengajakku untuk mengobrol berbagai hal. Lebih-lebih setelah aku ditunjuk sebagai Pimpinan Direksi, sementara bapak menduduki Dewan Komisaris. Adapun Lila dipercaya oleh bapak sebagai Sekretaris Direksi setelah berpengalaman sebagai Kepala Bagian.

Waktu berjalan, aku menikmati hidup ini dengan tenteram. Dalam ruang kerja yang selalu bersama istri semakin menyejukkan jiwa. Seorang pendamping cantik dan menggairahkan bagi siapapun yang memandangnya. Apalagi tingkat penghasilan ekonomi di atas rata-rata mendukungnya untuk bersolek diri ke berbagai tempat perawatan, membuat penampilan "cintaku" itu semakin menggoda.

Dan, terjadilah yang terjadi. Kecelakaan bermotor menimpaku. Aku tak bisa lagi beraktivitas seperti sediakala. Terbaring lama di rumah sakit, menjadikan bapak menggeser posisiku di kantor. Kini istriku menempati kedudukanku. Lambat laun, sikapnya kepadaku mulai berubah . Entah karena apa, tetapi persangkaanku akibat gaya hidup bersama komunitasnya, interaksi kolega yang semakin luas, dan fisikku yang kian melemah, menjadikan keluarga dinomorduakan.

Aku kini mulai terpinggirkan. Perlahan, bapak sekalipun agaknya menjauh dariku. Aku terus termenung dalam diam. Lingkungan keluarga ini tidak lagi mengakrabiku, bahkan hampir seisi rumah mencibir keadaanku. Tubuhku yang melemas akibat kecelakaan itu, mengunci mulutku untuk berbicara. Perasaan kalut dan merasa serba salah di tempat ini mencipta jiwa ini guncang. Hampir-hampir seluruhnya menuduh stres, kecuali Bibik Tonah yang masih menyisakan keyakinan bahwa aku berjiwa sehat. Tetapi bibik penyabar itu tak kuasa mengungkap hakikat keberaanku. Semua memercayai, aku sudah kehilangan akal.

Aku diusir dari rumahku sendiri. Bapak sudah kehilangan kedekatannya denganku, pada diri Lila telah habis kehangatannya padaku. Aku kini hanya mampu terseok di jalanan.

***

Aku beranjak dari tempat ini. Hembusan angin kencang di pinggir laut menyebabkan aku mulai merasa menggigil. Dua anak manusia yang sedang menganggap diri mereka berdua berlabuh di pulau cinta telah berlalu. Entah kemana mereka berdua memperpanjang kelakuan laknatnya.

Aku merasa mereka itu aneh sendiri. Aku tersenyum, mereka anggap aku gila. Padahal siapakah yang gila sebenarnya? Aku atau mereka?

Bapak yang tega menghempaskan diri ini dari kehidupannya, istriku yang telah berselingkuh saat aku tak berdaya, dua manusia yang mengumbar nafsu syahwat tanpa malu atau mereka yang merampok harta rakyat lewat tinta kekuasaan, anak yang mendurhakai orang tuanya, ayah-ibu yang menghardik putranya sendiri hanya gara-gara tak sekolah, guru yang mengajarkan kebaikan walaupun dirinya tak mampu baik, siswa yang melaporkan pendidiknya oleh sebab-sebab sepele, politisi yang menjual harga diri dan agama demi kekuasaan, ekonom yang menjajah negerinya sendiri, kasus polisi berekening gendut, kaum konglomerat yang menindih toko-toko kecil dengan supermarketnya, sekian stasiun televisi yang tiap hari menayangkan badut-badut tak mendidik, pendakwah agama yang nyaris tak berhenti saling  berorasi tema kebencian dan fitnahan, pengadilan yang mengetok palu terhadap nenek yang nekat mengambil beberapa utas singkong untuk mengganjal perutnya atau aku yang hanya tertimpa ketidakberdayaan.

Aku kembali tersenyum melangkah menyusuri jalan yang mulai sepi. Pulang? Tak lagi menjadi harapan bagiku. Semenjak Bapakku mangkat, aku mulai jarang mencium kedua telapak tangan ibu. Apalagi kali ini, mulutku tidak akan pernah mengabarkan pada beliau. Biarlah, adaku akan kutanggung sendiri.

Kecuali kepada keluargaku, aku bertanya dalam hati, siapakah yang gila, aku atau mereka?[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top