Saturday, October 31, 2015

Mahasiswa Tanpa Identitas

5:32 PM


Oleh: Muhammad Madarik

Tetapi kini,
ia melangkah di gang sempit rumah-rumah kumuh.
Saat matahari mulai menyiratkan sinar jingganya, ia menghela nafas panjang.
Kepala mulai tertunduk.
Fikiran kian kalut dan badannya tampak lusuh.
Di penghujung jalan panjang ini dia merasa bimbang.
Entah kemana kaki ini diayunkan.

Penggalan puisi ini adalah bagian dari bait-bait sebelum akhir dalam karya yang dibuat oleh penulis sendiri. Susunan kalimat-kalimat di atas menggambarkan sesosok mahasiswa yang mengalami kondisi terbalik dari sejuta angan yang memenuhi alam pikirannya saat benar-benar berbaju aktivis. Setumpuk rencana, program dan kegiatan seakan melengkapi tampilannya yang disebut "pemuda idealis". Keterlibatannya di dalam berbagai peran dan keikutsertaan, seperti mematri pribadinya tampil sebagai generasi pegiat. Gelora darah muda mengalir begitu kencang di dalam dirinya, sehingga tak sedikit kegiatan diikuti dan bahkan seringkali menjadi bagian penyelenggaranya. Kalimat-kalimat yang diungkapkan selalu saja dihiasi dengan kata-kata populer lagaknya kaum terpelajar yang ilmiah dan cendikia. Belum cukup buku-buku tebal dengan judul keren selalu diapit, tas melingkar pun di tubuhnya menambah prestise dia sebagai mahasiswa.

Pandai bersilat lidah ketika muncul di forum kelas, diskusi komunitas atau di manapun debat-debat terjadi merupakan ajang ekspresi diri. Dominasinya di atas rata-rata audiens kentara sekali menjadi sebuah bukti bahwa ia mahasiswa yang suka melontarkan wacana. Referensi dari para ahli menjadi cara kreatif di tengah-tengah sekian pendengar, walau terkadang ia sendiri tak begitu paham sumber aslinya. Alih-alih membuat mengerti sejawat, diri sendiri saja acapkali berulang memaknai apa yang dilontarkan dari mulutnya.

Demam panggung terlihat juga dalam dirinya ketika berada di mimbar bebas. Berkoar-koar di depan gedung lembaga negara, instansi, turun ke jalan atau malah di halaman kampusnya dengan mengusung dan menyuarakan aspirasi semua lapisan serta berdalih demi kepentingan umum.

Tentu terdapat hikmah di balik segala sesuatu. Profil mahasiswa demikian itu, dengan mudah membuat banyak dosen mengenal pribadinya bahkan namanya seringkali disebut di berbagai kesempatan, meskipun terkadang sosoknya menjadi "korban" sasaran tudingan dari segala macam peristiwa dan kejadian yang meletup walau sejatinya sama sekali ia bukan tokoh di belakang layar apalagi tampil sebagai korlap (koordinator lapangan). Bagi tipe mahasiswa yang seperti dia, disadari betul bahwa kondisi itu merupakan risiko pergerakan yang harus terima, suka ataupun tidak.

Dalam hal finansial, perilaku dari mahasiswa model ini yang paling lumrah ialah ia akan tampil sebagai pribadi yang royal; menyuguhkan dan memberi hal-hal yang ia memiliki tanpa berpikir panjang, tetapi ia gampang menganggap nalar dan prinsip pertemanan dalam keuangan para sahabat tidak jauh berbeda dengan dirinya, yaitu milikku adalah kepunyaanmu juga, sebagaimana kau jangan enggan memberi seperti aku tidak segan-segan menampik permintaanmu. Pada titik ini, pelajar pergurun tinggi semacam ini supel berdekatan dengan siapapun, jaringan pergaulannya tanpa batas dan sekat, dan biasanya tak pernah kehabisan amunisi di manapun berada.

Belum lagi soal pencarian dana untuk membiayai penyelenggaraan sebuah kegiatan, anak muda ini cukup jago bila dipasrahi mengais rupiah. Proposal akan dia buat dengan segala macam administrasi yang diperlukan; mulai dari seluruh kebutuhan tanda tangan, nama-nama dalam struktur kepanitiaan, mengetahui siapa-siapa saja sampai stempel yang akan dijadikan cap dalam surat permohonan beserta lampirannya. Walhasil, aktivis ini sangat piawai menyusun lembaran proposal, menyebarkan sekaligus menagihnya. Ia memang lihai melakoni peran "mengemis terhormat".

Meskipun mahasiswa tipe ini cukup gesit di dalam dinamika dan aktinitas kegiatan di berbagai organisasi, bukan berarti ia tidak cukup lincah memancing tangan cewek untuk digandeng. Memang, pada soal percintaan, gelagat agresif tidak begitu tampak dalam dirinya tak seperti gaya mahasiswa yang kehidupannya hanya melingkar di antara ruang kelas dan kamar kos belaka. Cuma sebab mobilitas yang begitu tinggi di dalam berbagai kegiatan saja yang menyebabkan urusan asmara tak terlalu dihiraukan.

Entah kemana kaki ini diayunkan.

Sekelumit potongan puisi ini menutup tulisan penulis. Sepenggal puisi ini mengabstrakkan sejuta rasa yang berkecamuk dalam diri seorang mahasiswa yang digambarkan dalam puisi tersebut. Kebimbangan, keresahan, kegelisahan, kegamangan dan beragam perasaan menumpuk di dalam pikirannya. Upacara wisuda yang dia ikuti membuka aliran rasa galau semakin deras dalam kalbunya. Satu pertanyaan yang meluap: "Kemanakah diri ini?" tak mampu untuk dijawab oleh dirinya sendiri.

Rupanya problematika dan tantangan yang mencuat di tengah lingkungan masyarakat belum pernah dibayangkan sebelumnya. Orang-orang desa asalnya hanya menagih dia agar tahlilan, dan yasinan di jam'iyah kampung, selametan tujuh, empat puluh hari serta acara haul dia pimpin, khotmil quran dia fatihah, salat lima waktu diimami, dan pada khutbah Jumat ia turut mengisi. Cukup sederhana tuntutan mereka, tetapi jebolan perguruan tinggi itu menjadi kelimpungan karena bekal ke arah itu kurang memadai. Ternyata segudang pengalaman berorganisasi tak bisa lagi dibuat kebanggaan diri, gelar sarjana hanya menjelma sebagai imbuhan nama asli, dan selembar ijasah cuma berguna sebagai kertas penghias di lemari. Kini, pemuda yang konon katanya kaum terpelajar, mahasiswa idealis, dan aktivis organisasi itu benar-benar menjadi sosok genarasi yang belum temukan jati diri.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

3 komentar:

  1. Jadi muncul pertanyaan "kalo gt, apa yg saya perjuangkan? Saya harus jadi mahasiswa yg kaya gmn?"
    btw, tulisannya bagus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah pencarian identitas. Asalkan tidak berhenti belajar, saya rasa akan selalu ada perbaikan diri. Trims banyak sudah berkunjung... :)

      Delete
  2. Jadi muncul pertanyaan "kalo gt, apa yg saya perjuangkan? Saya harus jadi mahasiswa yg kaya gmn?"
    btw, tulisannya bagus :)

    ReplyDelete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top