Monday, November 2, 2015

Menapaki Jejak Keterbatasan

4:19 PM




Oleh: Syari'ati Masyithoh

Otvai adalah Desa yang pernah saya tempati untuk mengabdikan diri selama satu tahun dalam program SM-3T angkatan IV di Kabupaten Alor, Provinsi NTT. SM-3T adalah program pengabdian sarjana pendidikan untuk berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan pendidikan, percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) dan penyiapan pendidik profesional yang berlangsung selama satu tahun (Kemendikbud Dikti, 2014: 2).  

Di tempat terluar dari bagian NKRI itulah, saya diberikan kepercayaan untuk mendidik anak-anak PAUD Gemsana yang merupakan satu-satunya PAUD yang ada di Desa Otvai. PAUD yang sudah berdiri sejak tahun 2009 belum memiliki gedung, sehingga proses belajar mengajar dilakukan di salah satu sudut ruangan Kantor Desa. Ruangan yang sempit dengan jumlah siswa 40 anak membuat kegiatan belajar mengajar kurang kondusif. Ketika duduk saja anak-anak harus “berdempet-dempetan”, sehingga sering dijumpai anak-anak “baku marah dan baku pukul” yang artinya saling marah dan memukul karena ruang geraknya terbatas.

Pertama kali saya masuk kelas, hanya saya jumpai satu lembar karpet yang sudah lusuh, kepingan puzzle yang tidak lengkap, satu meja guru yang mulai lapuk, atap yang berlubang dan jendela kelas yang tidak bisa terbuka karena rusak. Tak dijumpai satupun buku cerita yang bisa dibaca anak-anak bahkan buku bacaan untuk guru. Anak-anak hanya datang untuk menyanyi kemudian dipulangkan kembali tanpa diberikan kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif, fisik motorik, sosial-emosional, dll.   

Tidak hanya tak memiliki gedung, sekolah itu pun tidak memiliki guru lulusan dari S1 PG PAUD. Semua guru merupakan ibu rumah tangga yang memiliki panggilan secara sukarela untuk mendidik anak-anak yang ada di Desanya. Karena sukarela dan tidak dibayar,  tak jarang mereka tidak datang untuk mengajar. Pengetahuan guru mengenai pengelolaan PAUD masih sangat minim, bahkan ketika saya tanyakan tentang kurikulum yang dipakai, mereka bingung, “kurikulum itu apa?” katanya. Jarangnya mengikuti pelatihan atau diklat mengenai PAUD membuat guru kurang memahami bagaimana menyusun silabus seperti Rencana Kegiatan Harian (RKH). Padahal menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) merupakan suatu keharusan yang wajib disusun oleh seorang guru. Kegiatan di Kelas hanya menyanyi dan kurang variatif. Tidak hanya membuat anak bosan, bahkan orang tua yang menunggui anaknya pun bosan, sehingga banyak  orang tua yang lebih memilih anaknya diajak ke Kebun daripada mengantarnya ke Sekolah.

Banyak saya jumpai ketika di Sekolah ingus anak-anak memenuhi pipinya, sehingga wajahnya “kamomos” alias banyak debu yang menempel di wajah, bahkan ada yang sampai kering memenuhi hidungnya. Budaya bersih masih rendah, salah satu faktornya adalah kurangnya ketersediaan air di daerah tersebut. Untuk menuju sumber mata air saja harus berjalan kaki sejauh ± 2 km. Selain itu, sikap kasar terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua masih sering dijumpai. Bahkan mereka tidak segan-segan memukul, muncubit, bahkan mengeluarkan kata-kata kasar kepada anaknya di hadapan umum. Melihat kejadian tersebut membuat saya kaget. Seperti memahami apa kekagetan saya, salah seorang masyarakat berkata kepada saya, “Kebiasaan Orang-orang Timur memang kasar-kasar, Ibu”. Akan tetapi saya melihat kejadian tersebut sebagai salah satu bentuk kekerasan kepada anak usia dini. Karena suatu hal yang dianggap “kebiasaan” tadi membuat anak yang seharusnya dididik dengan penuh kasih sayang tidak mendapatkan haknya. Hal tersebut sangat disayangkan, karena orang tua merupakan sebuah cermin kehidupan bagi anaknya.

Ibarat pepatah mengatakan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, begitu pula dengan mendidik anak. Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki; jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri; namun jika anak dibesarkan dengan toleransi maka ia belajar menahan diri; jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia belajar menghargai; dan jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, maka anak belajar keadilan. Kebiasaan yang telah dilakukan secara terus menerus memang sulit untuk dihilangkan. Akan tetapi dengan diberikan arahan, contoh, pengetahuan mengenai pola asuh sedikit demi sedikit orang tua mulai memahami bagaimana mendidik anak dengan baik dan menjadi orang tua yang diidolakan anak. 

Dukungan orang tua terhadap anak untuk bersekolah secara langsung juga memengaruhi upaya guru untuk meningkatkan kualitas Sekolah. Banyak halangan dan rintangan yang harus dilewati guru agar Sekolah tetap berjalan meski minim fasilitas, sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Memanfaatkan lingkungan sekitar Sekolah sebagai sumber belajar menjadi salah satu solusinya. Bunga, daun, batu, pasir, barang-barang bekas, arang, dll. digunakan sebagai media pembelajaran. Agar anak-anak tidak bosan, saya dan guru lainnya mengajak anak-anak untuk belajar di luar kelas sehingga ruang gerak anak menjadi lebih luas. Bahkan karena tidak ada lem, kami membuat lem sendiri dari endapan parutan singkong yang direbus. Lem tersebut digunakan ketika anak-anak melakukan kegiatan menempel. Ketika ingin mewarnai namun belum memiliki krayon atau pensil warna, kunyit, daun “bonak” atau daun pandan, dan daun jati pun menjadi pilihan untuk menggantikan alat mewarnai tersebut.

Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Mulai dari masyarakat, Pemerintah Desa, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Pusat. Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Pusat ialah adanya program SM-3T. Banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa saya peroleh dengan mengikuti dan terlibat langsung dalam program SM-3T, satu di antaranya adalah bahwa setiap keterbatasan tidak menjadikannya sebagai penghalang kepada kita untuk berkreasi dan maju bersama mencerdaskan Indonesia.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

2 komentar:

  1. Nice story.. maju terus guru indonesia bawa pendidikan indonesia lebih baik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, Sarwindah Asyifa :)

      Delete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top