Monday, October 10, 2016

MUSA DAN KHIDIR

10:09 PM


MUSA DAN KHIDIR
Em Yasin Arief
*Untuk memperingati haul ke-13 KH. Dimyathi Bukhori

I
Seketika melesat sosok bayangmu ada
Berkilauan dalam lubuk ingatan
Memecah sunyi sepertiga malam
Barangkali kau sedang duduk di sampingku
Rebahkan punggung
Sembari menaruh tangan di pundakku

Kita memang lama tak duduk bersama
Bertukar pikiran membincang makna
Sejak kau pamit berangkat ke tepian sorga
Meninggalkan pusaka jejak langkah
Mewariskan selaksa tanda tanya
Belasan tahun
Kau tak pernah enyah dari ingatanku
Meski kau terlalu cepat berangkat
Ketika diriku masih naif dan belia

II
Masih ingatkah kala itu?
Kau adalah Khidir dan aku Musa
Tatkala kita menyusuri jalan-jalan bebatuan
Isi kepalaku padat rasa heran
Seraya mengekori runut langkah kakimu
Dari belakangmu aku menikam tanya:
"Mengapa kau rajin mengunjungi gubuk orang-orang miskin?"
Dalam kikuk bimbangmu
Kau lontar beberapa patah jawab:
"Mereka yang tak banyak harta
Tak punya sifat angkuh di dadanya
Alangkah berungtung manusia
Yang hatinya tak terjangkit penyakit jumawa
Bukankah ternyata mereka tuan-tuan kita
Bila yang kita emis hati yang kaya raya?"

Aku masih terlampau ingin bertanya:
"Mengapa kau berteman dengan orang yang meninggalkan shalat dan berbuat maksiat?"
Dalam bingung ragumu
Kau menyambiti pertanyaan keduaku:
"Kegelapan tidak bisa menerangi kegelapan
Hanya cahaya yang bisa menerangi
Mengutuk kegelapan, kegelapan itu sendiri
Yang aku tahu
Sebaik-baik manusia
Adalah yang saling menyinari sesama
Saling mengarak cahaya menuju samudera cahaya Sang Maha Cahaya
Cukup Tuhan yang maha benar dan bijaksana
Dialah hakim atas segala tindakan manusia
Bukan manusia."

Laksana Musa yang ceriwis
Sekali lagi kurajami dirimu dengan kata-kata tanya:
"Kau ini Ulama, kan?
Mengapa kau enggan bila orang menaruh takzim kepadamu?
Kau tak mau orang menciumi tanganmu
Kau tak senang bila ada yang membungkuk-bungkuk di depanmu
Mengapa kau tak ingin dirajakan?
Bukankah itu hakmu?
Bukankan di sana orang berlomba-lomba menginginkan derajat itu?"
Dalam kelimpungan buncahmu
Kau mendindingi raut wajah yang gelagapan dengan tawa yang canggung
"Ha Ha Ha
Kau ini pandai sekali berkelakar
Aku, Ulama katamu?
Yang benar saja!
Gelar itu hanya untuk para pewaris Nabi
Tentu Nabi tak mewariskan apa-apa
Melainkan Iman dan keteladanan sifatnya
Aku mengaku umat Nabi saja belum merasa pantas
Apalagi menganggap diriku Ulama."

Mulutku bungkam
Dalam hatiku bergumam
"Bukankah orang baik memang yang tak pernah merasa dirinya baik?
Justru yang membusungkan dada
Seraya berkata "aku ini orang paling baik"
Sejatinya dia bukan orang baik."

III
Tak bisakah sekali saja
Kita mengulang hari itu?
Akan kuminum bening mata air sufimu
Akan kuarungi luasnya laut rendah hatimu
Akan kujelajahi belantara hutan keikhlasanmu
Bila memang tak bisa
Akan kusimpan baik-baik warisan jejak langkahmu


- Malang 08 Oktober 2016

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top