Thursday, December 20, 2012

Aku Bukan dan Tak Ingin Menjadi Kartini!

12:59 PM


Oleh: Halimah Sa'diyah*

Namaku Kartini, tapi aku tidak ingin menjadi Kartini, Mak!

Tak ada cahaya dalam kehidupanku, semuanya terselubung kegelapan. Sejak kecil sampai  dewasa aku tidak pernah boleh melakukan apa yang sebenarnya ingin sekali aku lakukan, memilih yang sebenarnya ingin sekali aku pilih. Selalu saja aku melakukan yang tak kusuka. Sepertinya aku lahir bukan untuk bertemu pilihan-pilihan tapi sebaliknya,  yang dipilihkan!

Setelah puas menangis sesenggukan di kamar, dari jendela kamar ini aku seolah melihat diriku kembali di masa silam. Kartini kecil di bawah pohon jambu bersama dua kakak lelakinya yang girang berlarian memainkan pistol-pistolan yang sengaja dibuatkan bapak dari batang pohon pisang untuk bang Ali dan bang Haji. Kedua abangku ini berlarian begitu gembira memainkan pistol mainan itu. Bersembunyi di balik pohon-pohon mangga, pohon jati, pohon bambu, dan kadang menyembulkan kepala, mengangkat pistolnya seolah tentara atau polisi yang menemukan orang jahat dan akan meringkusnya. Keren sekali. Aku juga ingin seperti bang Ali dan Bang Haji bermain polisi-polisian dan menangkap orang jahat. Siapa tahu ketika besar nanti aku juga bisa berbuat baik seperti itu. Seperti kata ustaz Ansori sewaktu mengaji di langgar, bahwa menjadi orang baik itu disayang Allah dan akan bersama-Nya nanti di Surga. Tapi bapak dan mamak selalu saja melarangku untuk ikut bermain bersama bang Ali dan bang Haji.  Bapak selalu saja mendelikkan matanya saat aku juga minta dibuatkan pistol mainan dari batang pohon pisang itu, seperti pistol yang telah dibuatkan bapak pada bang Ali dan bang Haji.

Saat itu aku berlari ke dapur, mencari mamak, berniat untuk mengadu. Menyedekapkan tubuhku pada daster yang dipakainya. Aroma bawang menyeruak ke hidungku, tidak seperti bapak yang selalu wangi sabun kodok. Dengan tangannya yang tidak bersih karena bersentuhan dengan pantat tungku, mamak membelaiku, mencium pipiku dengan kasih. Tapi aku tidak suka jawaban mamak yang seakan membela dan membenarkan bapak. Saat kutanyakan kenapa, mamak selalu bilang "karena Kartini perempuan". Aku tidak mengerti. Saat kutanya lagi kenapa kalau perempuan? Lagi-lagi aku semakin tidak mengerti maksud jawaban mamak, "perempuan cantik tidak boleh banyak bertanya". Akh! Aku tidak suka disebut cantik kalau memang harus seperti itu. Sejak saat itu, aku jadi mulai malas bertanya. Aku sedih. Seolah semuanya tidak ada yang berpihak padaku. Aku iri melihat bang Ali dan bang Haji yang bisa berlari-larian memainkan pistol mainan yang dibuatkan bapak. Sambil sesekali memandangi mereka bermain, dari jendela kamarku ini aku melampiaskan kemarahan dengan mencongkeli mata  boneka jelek ini.

Aku menoleh ke ranjangku di samping kiri jendela ini, boneka itu sudah tak bermata dan bagian hidungnya sudah berlubang. Di luar sana beberapa daun jambu yang sudah kering berguguran digoyang angin.

Sampai umur 22 tahun ini pun aku tidak bisa bertanya kenapa besok aku harus menikah dengan lelaki kenalan bapak. Cepat sekali. Aneh sekali. Kenapa aku harus menikah dengan orang yang tak kukenal?! Kenapa aku harus menikah dengan seseorang karena dia hanya kenalan bapak? Kenapa bapak dan mamak tidak pernah bertanya padaku? Kenapa bapak dan mamak justru datang kepadaku seolah hanya memberi tahu keputusan yang bukan keputusanku?! Beberapa daun pohon jambu berguguran lagi digoyang angin seakan hidupku yang gugur satu  demi satu. Besok pagi, adalah awal kegelapan. Kuhabiskan senja ini di atas ranjang bersama air mata.

Fajar memang mengusir gelap. Fajar memang menjemput cahaya. Fajar pun yang menjelma isyarat pada ayam jantan agar segera berkokok menembus langit. Menembus kegelisahan semua perempuan mayapada. Menembus sukma-sukma perempuan yang menjadi sisa kepemilikannya. Sukma yang tak bisa dirajah oleh siapa pun termasuk sukmaku yang yang terbungkus wadag yang masih saja terbaring di atas ranjang. Telah kuputuskan kejadian hari ini sebagai kejadian yang kubuat sendiri, atas kehendakku!.

"Ayu tenan", aku tahu Mak Sam yang dimintai mamak untuk mengurusi padusanku sebelum dirias, berusaha merayuku, seperti yang diminta mamak. Agar aku tersenyum dan pura-pura berbahagia. Sambil mengguyurkan air yang diambil dari genthong yang ditaburi kembang, Mak Sam terus saja memuji-mujiku. Oh tidak, tubuhku!

Soal merias, Mak Sam memang dikenal sebagai perempuan terampil di kampung ini. Di depan cermin besar di kamarku ini aku melihat diriku telah disulapnya. Wajahku, pakaianku, dan konde yang berdiri sejajar ditusukkannya pada rambutku yang lebat. "Cah ayu, ayu tenan", katanya sambil mesam-mesem, puas pada pekerjaannya sendiri.

Mamak sudah berdiri di depan pintu kayu kamarku yang berukir indah, tersenyum melihatku. Aku benci pada mamak. Dia mendekatiku yang masih duduk mematung di depan cermin, membelai pipiku. Gumpalan di hati yang sudah lama beronggok menyesakkan dada seakan mencuat. Menjalari peredaran darah sampai ke tangan. Tanganku bergetar, dan tak kusangka tangan ini mengibas tangan mamak yang membelai pipiku. Mamak tersentak aku pun juga. Mata kami saling memandang. Aku tahu tahu mamak pasti melihat bintang merah menyala di mataku. Kucopoti kondeku dan berkata lirih tapi tajam tepat di depan muka mamak. "Namaku Kartini, Mak, tapi aku tidak ingin menjadi Kartini." Mamak kembali tersentak begitu pula Mak Sam. Kulemparkan konde sampai terpelanting ke depan pintu. Kuangkat jarekku tinggi-tinggi dan melompat keluar lewat jendela. Aku berlari melewati pohon-pohon. Pohon jambu, pohon bambu, pohon mangga dengan pistol mainan dari batang pisang. Berlari seperti bang Ali dan bang Haji. Tidak! Lebih dari itu aku berlari menjauhi kegelapan. Masih kudengar mamak berteriak-teriak memanggil namaku. Kartini!

*Halimah Sa'diyah 
adalah mahasiswa di Fakultas Adab 
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top