Thursday, April 10, 2014

Alin yang Tak Kembali

4:36 PM

Oleh: Doel Rohim

Alin. Ketika sang surya belum beranjak dari peraduannya. Suaramu yang renyah telah menyapaku, bergetar halus di gendang telingaku sebelum mataku terbuka. Dan tanganmu yang halus membelai rambutku yang kusut. Lalu bibirmu yang hangat mengecup keningku seraya berbisik, “Mas, sudah shubuh. Mari kita salat.Aku menggeliat mesra. Kupeluk tubuhmu. Percintaan kita semalam menyisakan keringat yang berbaur dengan aroma tubuhmu semerbak menusuk ke dalam hidungku.

Dan ini adalah pagi ke 1704 saat aku bangun tidur harus kuhadapi kenyataan bahwa bukan kau Alin, yang ada di sisiku, melainkan sosok mungil yang minggu depan akan merayakan ulang tahunnya yang ke 4. Dialah Jaka, anak kita yang ke dua.

Bibir itu, Alin, ya bibir itu. Bibir itu mirip dengan bibirmu. Oh, tidak. Bukan mirip. Jaka benar-benar memiliki bibirmu.

Alin. Kalau sudah subuh begini jangan pernah kau berusaha untuk membangunkan Novi. Anak perempuan pertama kita itu kalau tidur seperti mati. Andai saja kau tahu dia seperti apa sekarang tentu air matamu tak akan pernah berhenti untuk mengalir. Dulu, kita selalu gemas dengan tubuhnya yang gendut. Katamu, anak itu kalau besar akan jadi perempuan yang imut. Ternyata prediksimu itu salah, kian hari tubuh perempuan kita itu kian bengkak, ketika berjalan ia seperti drum besar yang digelindingkan di jalanan. Tentunya kau masih ingat ketika Novi berumur 4 tahun (seumuran dengan Jaka saat ini) dia tidak bisa bicara dengan sempurna seperti anak-anak pada umumnya. Malam itu, dengan wajah murung kau membicarakan kondisi Novi kepadaku. Dan esoknya, dengan berbekal 3KSM (Kartu Kesehatan untuk Keluarga yang Sangat Miskin) kita pergi ke PUSKESMAS yang ada di ujung desa. Kata dokter (entah, aku lupa istilahnya) intinya anak kita, Novi, tidak nomal dan tidak mungkin bisa disembuhkan. Dokter hanya bisa menyarankan agar Novi disekolahkan di SLB. Katanya di sekolah itu, anak-anak yang memiliki gangguan mental seperti Novi bisa diselamatkan dengan metode penggalian potensi yang dimiliki anak.

Mendengar keterangan dokter itu, air matamu mengalir lalu merembes pada hatiku yang membuatnya pedih. Dengan sedikit memaksa kau mendesakku untuk menyekolahkan Novi di SLB yang berada di kota. Ah, kota. Untuk orang desa sepertiku mendengar namanya saja sudah terbayang, apapun yang di dalamnya pasti mahal. Dengan halus dan berat hati aku menolaknya, bukannya aku tidak ingin Novi menjadi lebih baik (orang tua mana yang tidak ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya?), tapi aku tidak punya pilihan lagi. Untuk biaya sehari-hari saja kita kesulitan dan harus hutang ke sana-ke sini apalagi untuk membiayai pendidikan Novi. Berhari-hari kau murung dan terus menangis meratapi keadaan. Untung saja waktu itu aku ingat dengan Mbah Giman, orang pintar yang ada di desa kita. Konon, air semburan dari mulutnya bisa menyembuhkan apa saja.

Alin. Tentu kau masih mengingatnya, senja itu ketika kita di pantai Balekambang. Aku memelukmu dari belakang. Bau rambutmu yang khas bercampur dengan bau asin laut menari-nari di hidungku. Bibir ombak menciumi kaki kita. Di atas sana, Beberapa burung camar beterbangan, menatap iri pada kemesraan yang kita miliki.

Ombak itu tidak pernah berhenti berdebur ya, sayang.Katamu.

“iya Alin, seperti cintaku padamu,” ucapku menggombal. Kau berbalik, kau memandangku. Kau tersenyum. Dan kau mencium bibirku.

Kuusap perutmu yang buncit, lalu kutempelkan telingaku. Ada yang bergerak-gerak di sana, menendang halus pipiku. “Kelak, Kalau dia lahir sebagai laki-laki, akan kuberi nama Jaka samudera.”

Di pantai kita bertemu dan di pantai pula kita memutuskan untuk berpisah.

Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan di pinggir pantai, aku melihat seekor putri duyung yang terdampar. Meskipun bagian bawahnya adalah ikan, kecantikannya tidak bisa diselamatkan. Dengan sigap aku menolongnya, menggendongnya, membawanya ke bawah pohon yang rindang. Dia tak sadarkan diri, aku memberinya pertolongan pertama yaitu dengan memberinya nafas buatan. Tak lama kemudian dia siuman. Lalu kutanya, bagaimana bisa dia berada di daratan padahal hidupnya adalah di lautan.  Dia menjawab kalau dia diusir karena menentang permintaan ayahnya. Ayahnya ingin dia kuliah sementara dia kebelet untuk menikah.

Itulah cerita yang kubacakan untukmu pada pertemuan kita yang pertama. Kau tertawa mendengar cerita yang kubacakan. Kau manis sekali ketika tertawa dan pada detik itulah aku melihat Tuhan pada dirimu.

Alin, Di senja yang lain, di pantai yang sama. Kau ingat?

Tampak Jaka tertidur pulas dalam gendonganmu. Damai sekali melihat Jaka menetek pada ibunya.

Tapi Jaka belum waktunya untuk disape.* Umurnya masih beberapa bulan, Alin!” Ucapku sedikit berat.

Sayang, hutang kita sudah di luar kemampuan kita. Kalau aku tidak pergi keluar negeri bagaimana kita akan membayarnya?Pipimu basah dengan air mata.Maafkan aku, Jaka. Aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri.

Aku memeluk kalian. Ada bagian yang pedih pada tubuh ini.

Alin. Di sini, di pantai ini. Di tempat kita bertemu dan berpisah. Aku berteriak keras pada pemilik lautan dan segala isinya. Tapi sepertinya dia tuli, Alin. Sampai suaraku habis dia tidak pernah menjawab teriakanku.

Semenjak HP ini mengantarkan kabarmu yang sedang di penjara karena kasus pembunuhan, aku sudah tidak percaya dengan keberadaannya. Orang selembut kamu tidak mungkin membunuh. Pada lalat sekalipun kau segan untuk menghabisinya, apalagi pada pada manusia. Kau pasti difitnah orang-orang biadab yang ada di sana. Kalau dia memang ada harusnya dia menolongmu Alin.

Kring... kring.. kring... HPku berbunyi.

Halo, ayah. Jaka sekarang mau jadi macan. Soalnya Jaka mau makan biskuat.

Wah, Jaka hebat dong. Kalau mau makan biskuat jangan lupa baca bismillah ya.

***

Sayup-sayup suara azan subuh mulai menggema. Kuciumi kedua pipi Jaka. Lantas aku beranjak dari ranjang tempatku tidur bersamanya. Aku menuju kamar Novi. Tampak sosok seukuran kerbau sedang menggeliat ketika lampu kunyalakan. Sedetik kemudian dengan nafas yang teratur dia kembali berada pada posisi seperti sebelumnya. Oh tidak! Ada bercak-bercak merah pada celana anakku, Novi. Jangan-jangan itu adalah haid dia yang pertama.

Oh, Alin bagaimana ini, aku harus berbuat macam apa pada tubuh perempuan yang besar dan berdarah? Andai kau di sini tentunya kau tahu apa yang harus dilakukan.


* disape: tidak memberi ASI pada bayi karena alasan tertentu.

April, 2014

Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top