Sunday, May 4, 2014

Ketika di Ujung Dua Hati

12:48 PM




Oleh: Muhammad Madarik

Di malam yang sesunyi ini aku sendiri, tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari dia telah pergi, tinggalkan diriku
Adakah semua ‘kan terulang, hanya dirimu yang kucinta dan kukenang di dalam hatiku
Tak pernah hilang bayangan dirimu untuk selamanya
Mengapa terjadi pada diriku, aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah kupergi tinggalkan dunia agar aku dapat berjumpa denganmu.

Aku menghela nafas panjang, tatkala jemari ini tak lagi mampu menari di atas keyboard komputer. Makalah yang ditugaskan kepadaku sebagai ketua kelompok masih dapat satu halaman. Pikiran yang biasanya jernih dan fokus menyusun kata-kata seakan sirna, ketika mendayu-dayu bait lagu itu terngiyang-ngiyang di gendang telinga ini. Suara sendu seorang Chrisye dari radio ini mengantarkan aku untuk menggali kenangan satu tahun silam yang kuusahakan sedapat mungkin terkubur. Saat aku duduk diawal semester dua, seperti biasa sebelum sang mentari meninggi, aku duduk di pojok deretan panjang meja kantin milik kampus untuk sekedar mengganjal perut dengan gorengan dan kopi.

Seakan hapal dengan istiadatku, ibu kantin yang biasa dipanggil Bu Jah itu langsung menyeduh kopi hitam manis kesukaanku. Tak lama wanita paruh baya itu mengantarkan kopi panas ke hadapanku sembari mempersilahkan, “monggo, Gus !” Katanya. Sapaan dengan logat Jawa begitu kental ini, bagiku sekarang sudah tidak asing lagi, meskipun pertama kali aku dengar membuat aku kaget.Tetapi setelah tahu semua mahasiswa yang berada di warungnya akan dipanggil “Gus”, menjadikan aku paham bahwa tindakan tersebut bagian dari tatakramanya.

Tanpa bersuara aku mengangguk sambil mengeluarkan sebatang rokok Bentoel untuk kemudian aku sedot dalam-dalam. Hisapan demi hisapan begitu nikmat saat aku memakan tempe goreng hangat dan sesekali kopi panas aku sruput. Pemandangan rumput hijau dan teduhnya dahan pepohonan di halaman kantin ini menambah kian damai hatiku tanpa beban menghinggap, sesejuk suasana surgawi yang konon katanya tidak ada rasa gerah sedetik pun. Angin sepoi di tengah iklim sejuk Kota Apel ini semakin menyempurnakan suasana kalbu yang begitu tenang di pagi ini.

Pandanganku yang sejak tadi mengarah kepada para mahasiswa yang lalu-lalang menuju tujuan masing-masing, kini mulai terfokus pada sosok wanita tinggi semampai di antara sekelompok mahasiswa yang akan ke kantin ini. Kaca mata yang menghias wajah ovalnya dan kuning langsat warna kulit yang dibalut dengan kaos putih bertuliskan “Aku Mencintaimu Sedalam Nafasku” pada tubuh langsing itu, membuat gadis ini semakin menarik pandanganku. Ia duduk sebelah kiri berjarak dua meja dari aku duduk. Posisi yang berlawanan, meski agak menyamping, menjadikan aku bisa leluasa mencuri pandangan untuk sekadar manatap wajahnya. Sekali-kali tatapan kami bertemu untuk selanjutnya saling membuang muka seakan-akan masing-masing memang tak ingin saling mengenal, kendatipun hal itu kemunafikan yang disadari. Tanpa terasa rokok yang aku hisap sejak tadi mulai menghangat diujung dua jemari ini.

“Heh, rokokmu itu, mau wafat…!” Bentak seseorang dari belakang sambil memukul pundakku.

“Hei, Dzif. Sudah pesan apa?” Tanyaku seraya berusaha menghilangkan kekagetanku.

Nadzif, sahabatku ketika di SMA dulu ini, duduk disampingku sambil membawa piring berisi nasi pecel pedas kesukaannya. “Fis, kayaknya kamu menoleh tok ke cewek itu ya. Naksir ya?” Tanya dia sambil mulutnya tidak berhenti mengunyah nasi pecel-nya.

“Enggak kok.” Jawabku mengelak.

“Ayok,” katanya sembari menyambar tanganku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengambil piring, wadah makanannya, lalu  menarikku seraya membawaku ke meja gadis itu.

“Vit, ini mau kenalan. Nafis namanya, anak Humaniora,” kata Nadzif sambil duduk dan meneruskan makannya.

Kami sama-sama terdiam, menahan kecamuk seribu perasaan setelah tingkah Nadzif ini berjalan begitu cepat.

“Heh, salaman! Kok bengong semua,” bentak anak Psikologi itu. Aku menjulurkan tangan untuk bersalaman. Sejenak  aku tertegun, saat tangan kami bersentuhan. Tangan gadis ini begitu lembut selaras dengan parasnya yang cantik menawan.

***

Semenjak perkenalan itu, aku tahu gadis itu bernama Vita Dini Aningsih, anak Psikologi. Aku baru sadar tatkala aku melihat pertama kali di kantin itu, Nadzif berada dalam kelompok itu. Setelah pertemuan itu, aku dan gadis asal Kota Tahu itu sering kali bertemu di berbagai tempat dan kesempatan.

Aku mengambil tempat duduk di sebelah pojok dengan dua kursi satu meja di Virgo Café  pada malam minggu ini. Seperti biasa rokok kesukaanku yang menjadi teman abadi sebelum Vita, selalu menjadi pembuka awal setiap kali aku mengobrol dengan siapapun. Seusai semua pesanan dihidangkan oleh petugas Virgo Café, tanganku mulai menyentuh jemari Vita setelah sebelumnya kami hanya guyon dan mengobrol ngalor-ngidul. Suasana hati kami terasa gemuruh dengan sejuta rasa yang kian berkecamuk. Lagu-lagu Padi yang terdengar lirih seakan menciptakan situasi yang terselimuti kesyahduan bagi dua insan yang sedang di mabuk kasmaran. Lampu redup yang berjejer di sepanjang dinding kafe sepertinya turut menginspirasi setiap dua anak manusia untuk membingkai lambang-lambang cinta di lubuk hati mereka.

Tanpa kata dan kalimat, perlahan kutarik tangan Vita agar aku dapat meremas tangan lembutnya. Elusan tangan ini, bagiku, telah lebih dari cukup untuk mewakili selaksa ucapan yang harus aku susun sebagai ungkapan perasaan kalbu kepadanya.

“Vit, aku sangat mencintaimu,” suaraku begitu sangat samar di antara alunan lagu yang merdu.

“Yang, jangan pernah tinggalkan Vita,” balasnya dengan sangat mendayu, mulutnya serasa mendesah kudengar di kuping ini.

Virgo Café selalu menjadi saksi bisu untuk kesekian kali saat kedekatanku dengan Vita seakan tak pernah terhalang oleh apapun. Hembusan angin malam dari jendela-jendela kecil cafe ini bagai melengkapi perasaan bahwa dunia ini hanya milik kami berdua.

***

“Mas, kenapa kau lakukan ini kepadaku? Kenapa, Mas?” Suara Vita menghentak ruang rapat yang semula hening, karena sebagian besar pengurus HJM Humaniora sudah meninggalkan tempat.

Aku sendiri sedang merapikan segala berkas rapat dan mulai bergegas keluar ruangan, tiba-tiba Vita masuk menuju ke arahku dan suaranya memecah keheningan teman-teman yang tengah bersiap pulang.

“Ada apa, Vit?” Tanyaku dengan suara parau sembari aku berusaha menahan agar situasi tidak menjadi gaduh.

”Mas, kau jangan berlagak tidak tahu. Aku sudah mengerti apa yang kau lakukan di belakangku.” Kembali ucapan Vita menyeruak ke seluruh sudut ruangan, sebagian mahasiswa yang berada ditempat terperangah dibuatnya.

“Vit, tenang dulu! Ada apa ini? Ayo kita keluar saja!” Ajakku sambil menarik tangannya agar meninggalkan ruangan seraya kusambar tas dan berkas yang sejak tadi aku tata.

“Ada apa denganku? Jangan keburu marah-marah begitu !” Aku menenangkan suasana setelah berada di depan ruang rapat HJM.

“Mas, kau jangan bergaya bodohlah. Siapa Muziya itu? Aku dengar sendiri Mas, kau telah menduakanku dengan dia. Cobalah kau terus terang saja. Jangan berkelit dengan seribu alasan,” dia mencercaku dengan nada mulai serak.

Tak lama air mata menetes di pipinya yang kian memerah menahan emosi yang terpendam. “Mas, kenapa kau tidak ingat betapa aku selalu merindukan kehadiranmu. Aku selalu mengharapkan kebersamaan kita tak pernah terpisahkan oleh tingginya gunung dan luas samudera. Aku tahu kau paham itu. Aku yang selalu mengingatkan dan memperhatikan keadaan, agar beraktivitas dan selalu menjaga kesehatan. Tapi, kini SMS-ku tak pernah kau jawab, teleponku tak satupun yang kau angkat,” katanya dengan nada lirih menyimpan perih kekecewaan.

“Vit, kau tahu sendiri kan, aku sekarang sibuk. Kau lihat sendiri aku habis mengikuti rapat HMJ, bahkan menjadi sekretaris rapat. Mengertilah bagaimana aktivitasku sekarang ini!” Tukasku berupaya menepis isu yang di dengarnya tentang diriku.

“Mas, kau jangan selalu berkelit dari kenyataan. Aku sudah tahu semuanya. Faktanya kau telah berpindah ke lain hati,” paksanya seraya mengusap butiran bening yang mengalir di antara lekuk pinggir hidungnya. “Sudahlah Mas, kau jangan selalu menghindar dari segalanya yang kutahu tentang dirimu,” sekali lagi ucapan Vita tanpa dapat kusela.

“Vita, Muziya itu hanya teman biasa. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Hanya dia sering berkonsultasi, sharing persoalan-persoalan kuliahnya. Itu saja, Vit!” Seruku menanggapi berita yang sampai kepadanya.

“Sudahlah Mas, aku sudah tidak percaya lagi padamu. Sebaiknya kita kembali kepada kondisi semula,” intonasinya merendah sambil menunduk lesu.

”Maksudmu, Vit?” Ucapku penuh tanda-tanya.
“Sudahlah Mas, antara aku dan kamu seakan tidak pernah mengenal,” suaranya seakan menghilang sesaat ia bergegas berlalu dari hadapanku.

“Vit…. Vita!” Panggilku sedetik setelah aku tertegun mendengar ucapannya. “Vita, tunggu dulu! Dengarkan penjelasanku!” Aku memanggilnya kembali setelah aku terbangun dari rasa kagetku betapa cepatnya keputusan itu ditegaskan.

Aku tetap berdiri di tempat ini dan aku menyadari bahwa aku dalam posisi bersalah. Tetapi yang membuat aku terperanjak sebegitu singkat Vita mengambil kata akhir di luar perkiraanku sebelumnya.

***

Mas, kenapa kau lakukan ini? Sungguh tega dirimu mendustakan aku. Aku tidak mengira kau perlakukan aku begini setelah perasaanku betul-betul menyayangimu. Kenapa begitu mudahnya kau hancurkan seorang perempuan? Kini aku mulai sadar bahwa kau bukan laki-laki yang mengasihi wanita. Buktinya, sangat mudah kau lukai perasaan kaum Hawa, seakan mereka kau anggap piaraan yang gampang untuk dikelabuhi. Kau anggap apa aku ini? Seperti tanpa berpikir panjang dan tak mempertimbangkan akibat dari tingkahmu, kau begitu gampang mengumbar kata-kata manis. Kau mengaku masih sendiri. Cinta, jiwa dan ragamu hanya untuk diriku, padahal kau telah menjadi milik orang. Mengakulah Mas! Siapa Vita Dini Aningsih itu Mas? Mas Nafis, mulai saat ini sebaiknya aku menjauh darimu. Demi masa depan yang ingin aku gapai. Lebih baik aku tidak mengenalmu lagi, seperti sebelum perjumpaan itu.” Tanpa aku dapat menjawab segenap pernyataan dan pertanyaan yang mencerca diriku, suara parau Muziya lewat telepon itu sudah ditutup begitu cepat.

Sejenak aku menghela napas panjang tidak tahu aku harus berbuat apa, terlebih setelah aku mencoba menghubungi kembali berulang kali tetapi tidak pernah diangkat. SMS yang memuat penjelasan dan permohonan maaf, tak satupun yang terbalas.

Aku teringat kisah pertemuan pertama kali dengan Muziya, kala itu aku sedang asyik membaca buku di perpustakaan. Tak lama kemudian duduk seorang gadis di depan mejaku dengan membawa dua buku besar tentang kesehatan. Bukan buku itu yang membuat hatiku tertarik, namun paras wajah sendu penuh keibuan itu yang menjadikan aku menghentikan membaca buku ini.

“Maaf, Mbak, bisa pinjam pulpennya?” Kataku secara refleks berupaya membuka komunikasi dengan ragam alasan. Ternyata gadis itu merogoh tas dan sedetik kemudian menjulurkan pulpen yang aku pinta.

Betul saja, rupanya dugaanku tentang raut wajahnya mencerminkan kedewasaan tidak salah sama sekali. Parasnya memang tak secantik Vita, tetapi wajah malankolis dalam bingkai hitam manis itulah yang membuat aku jadi tertegun.

“Mas, apa sudah selesai?” Kata-katanya itu membuyarkan lamunan.

“Oh, ya sudah,” jawabku spontan seraya menyerahkan alat tulis itu padanya tanpa berpikir panjang. Gadis itu mengumbar senyum menawan seakan tahu bahwa aku belum menggunakan pulpennya.

Semenjak perjumpaan di perpustakaan itu, aku mengenal Muziya, seorang mahasiswi Jurusan Kedokteran yang duduk di semester seangkatan denganku. Hubunganku dengan anak Pulau Garam itu semakin dekat, setelah aku berhasil mengunjungi dan acapkali mengajaknya keluar dari tempat kosnya untuk sekadar bermalam panjang. Di ruang pojok itu aku duduk bersama Muziya. Kretek filter, gemerlap lampu, serpihan angin sejuk dan alunan nada slow menghantar kami berdua masuk ke dalam relung suasana mesra nan indah tak berhingga.

Lagi-lagi Virgo Café menjadi tempat merajut kasih, menyulam benang-benang hasrat dan membingkai pigura kemesraan. Dari sini tumbuhlah pepohonan cinta berbunga kerinduan yang merekah nan menyemburkan semerbak kenikmatan tak tertara.

***

“Heh, Fis!” Suara Nadzif yang menyeruak ke seluruh sudut ruang kamar kosku, menjadikan lamunanku sirna tak bersisa. “Fis, sudah! Selesaikan tugasmu itu! Jangan melamun terus !” Serunya sambil duduk di sampingku. Seperti biasa, anak asal kota Batik itu merogoh rokokku di atas meja tanpa permisi.

“Hei Fis, kenapa kamu ini? Kata teman-temanmu di kosanku, studimu sekarang mulai menurun. Dua makalah yang seharusnya dipresentasikan, ternyata sampai sekarang kamu tidak tampil. Nafis, Nafis! Bagaimana anak Gondanglegi kok loyo begini? Padahal, kata teman-temanmu, semester yang lalu kamu menguasai kelas, aktif dalam diskusi, dan makalahmu sering dipuji dosen. Nilaimu kemarin juga bagus. Tunjukkan bahwa Arema itu cerdas, pandai dan lincah !” Nadzif terus nyerocos seraya terus menyedot rokoknya.
Aku hanya menghela napas panjang sambil memperbaiki posisi duduk untuk kemudian menyeruput sisa kopi dan mengambil sebatang rokok Bentoel.

“Heeh, kenapa jadi begini?” Pikirku sambil menghisap kretek dalam-dalam seraya mengibaskan helaian rambutku yang menjulur di dahi.  

“Mana kunci sepedamu, Dzif?” Tanyaku sambil berdiri. Nadzif menyerahkan kunci itu, lalu aku ambil jaket, senoktah kemudian bergegas keluar.

“Heh, mau kemana kamu, Fis?” Tanya Nadzif agak menjerit. 

“Cari kopi dan rokok di warung sebelah. Mau menenangkan diri dulu,” jawabku sambil menaiki sepeda motor.

“Tunggu! Aku ikut, Fis,” Nadzif bergegas mengunci pintu kamarku dan membonceng di belakangku. Dan kami menerobos dinginnya kota Malang.[]

sumber gambar: mmt.li 

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

2 komentar:

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top