Friday, May 30, 2014

Sauda

6:48 AM

credit photo: here

Oleh: Siti A'isyah

Kereta yang ku tumpangi semakin mendekati kota kelahiranku. Kenangan-kenangan pahit segera menyergapku. Jika bukan karena keinginan kuatku untuk segera mengetahui alasan Sauda mau menerima kembali mantan suaminya, Rowo, tidak ingin rasanya aku kembali menginjakkan kaki ke kota ini. Tapi Sauda bersikeras tidak mau memberitahukan alasannya itu lewat telepon ataupun lewat media sosial lain. Dia harus menyampaikannya langsung kepadaku. Dan satu-satunya jalan adalah aku harus datang ke rumahnya, di kota kelahiranku.

Melewati tiga stasiun lagi, kereta ini akan berjalan di rel kota J.

Ingatanku melayang pada suatu hari ketika kakiku melangkah masuk ke rumah Sauda, seorang perempuan beranak tiga, yang tertua berumur 7 tahun dan yang bungsu berumur 23 bulan, yang menjadi korban kekerasan suaminya. Kekerasan fisik, psikologis, dan ekonomi, semua dialaminya. Saat melihatnya, rasa iba dan marah segera memenuhi dadaku. Badan kurusnya lebam membiru. Anak-anaknya juga kurus tidak terawat. Rumahnya, yang sebenarnya cukup besar, nyaris kosong tanpa perabotan, hanya satu set meja kursi lusuh di ruang depan dan tempat tidur dan sebuah lemari pakaian yang tersisa di kamar.

sebagai volunteer dari sebuah LSM pendampingan korban KDRT, aku bertugas mendampinginya secara psikologis. Selama proses pendampingan, dia tak banyak bicara. Ia hanya menjawab pendek pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan secara sangat hati-hati. Selebihnya, ia menuruti semua saran yang diberikan oleh tim kami. Karena suaminya tidak bisa lagi diajak berdialog, pendamping hukum mendampinginya dalam pengajuan perceraian ke pengadilan, sementara ia dan anak-anaknya kami ungsikan sementara di shelter.

Selama di shelter inilah kedekatan kami tercipta. Sikap tertutupnya langsung mencair saat aku menceritakan pengalaman masa laluku. Aku juga mantan korban KDRT yang, sebagaimana dirinya, memutuskan berpisah dari suamiku. Bedanya aku belum memiliki keturunan saat itu. Setelah berpisah aku menjadi volunteer di LSM yang mendampingiku dalam proses pembebasanku yang panjang dari cengkeraman hari-hari mencekamku bersama mantan pacarku. Mantan pacar yang berubah menjadi sosok drakula setelah resmi menjadi suamiku.

Penderitaanku dalam rumah tanggaku seolah menghajarku untuk kali kedua setelah tragedi yang kualami sebelumnya saat orang terdekatku justru menghancurkanku dengan total. Merampas kepercayaanku dan menjadikanku sebagai pemuas nafsu binatangnya. Aku benar-benar terpuruk saat itu. Namun waktu memang diciptakan memiliki kekuatan magis untuk menumbuhkan benih cintaku pada sosok dengan penampilan simpatik yang kutemui di kampus kuliahku. Satu kesalahan lagi karena ternyata ia sama sekali tidak sesimpatik penampilannya.

Perih dari luka yang tercabik dua kali itu akhirnya memaksaku pindah ke kota M. Aku tetap tidak bisa berdamai dengan masa laluku, meskipun telah memiliki kesibukan sebagai pendamping psikologis para korban kekerasan. Aku ingat betul air mataku dan Sauda berlomba mengaliri pipi kami saat kedekatan kami harus terpisahkan rasa lelahku berupaya melupakan masa laluku.

***

Kereta akhirnya tiba di stasiun tujuanku. Kenangan-kenangan kembali menyergap. Aku segera mengalihkannya dengan segera mencari angkot yang menuju rumah Sauda. Dan di angkot aku berusaha mengobrol dengan orang sekelilingku untuk menghindari lamunan-lamunan yang mengungkit luka lama.
Saat tiba di rumahnya, obrolan kami serta merta tertuju pada pilihan sikapnya.

Kalau tidak kupaksa ke sini mungkin aku tidak akan pernah bertemu kau lagi. Aku tahu kau sangat ingin melupakan masa lalumu. Tapi kurasa kau harus mendengar alasanku langsung dari mulutku.” Dia membuka pembicaraan. “Aku tidak bisa lagi menyisakan cintaku pada Rowo. Anak-anakku juga sebenarnya tidak terlalu membutuhkan kehadirannya.” Ucapnya.

“Lalu Kenapa....?” aku tidak dapat meneruskan pertanyaanku. Dan akupun yakin dia tahu ke mana arah pertanyaanku.

“Karena dia membutuhkan aku.”

Aku sudah akan menimpali ucapannya bahwa itu alasan klise para pelaku kekerasan terhadap istri agar istrinya mau memaafkan perbuatannya.

“Dia tidak pernah mengatakan itu padaku, juga pada orang lain. Tapi aku tahu dia tidak bisa menjalani sisa hidupnya tanpa aku.”

Sungguh sebuah alasan yang naif, demikian pikiranku.

“Kau tidak perlu khawatir, karena aku sebenarnya tidak membutuhkan dia. Aku sudah mandiri secara psikis maupun ekonomi.” Aku mengiyakan ucapannya. Dia memang sudah terlihat sangat makmur sekarang. Caranya bicara juga sangat berubah. Ucapan-ucapan dan sorot matanya memancarkan keteguhan hati. Karang yang sudah terasah oleh hantaman ombak.

“Bagiku, melayani Rowo sebagai suamiku sekarang adalah manusia yang melayani sesama manusia karena kasih. Bukan karena cinta ataupun karena kewajiban sebagai istri.” Seulas senyum menutup ucapannya.


Hingga aku duduk di kereta api untuk pulang keesokan harinya. Kata-katanya seolah selalu diputar ulang di kepalaku. Mungkinkah maaf dan berdamai dengan masa lalu lebih memberi kedamaian?[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top