Monday, August 4, 2014

Bercermin dari Orang Desa

7:32 PM


sumber foto: di sini




Oleh: Irham Thoriq

Saat tulisan ini diketik, lebaran sudah masuk hari kelima. Di desa saya, tak ada tanda-tanda keriuhan lebaran tahun ini sudah berakhir. Orang desa, masih hilir mudik mengunjungi sanak saudara serta para tetangga. Bunyi petasan masih terdengar dari berbagai sudut kampung.

Di hari yang sama, puluhan kilometer dari desa, jantung Kota Malang sudah mulai hidup, ditandai dengan macetnya sejumlah ruas jalan. Dari desa saya ke Kota Malang, yang jarak tempuh di hari biasa hanya satu jam dengan bersepeda motor. Saat itu, harus saya lalui hampir dua jam. Rupanya, di hari kelima orang-orang sudah kembali dari kampung halaman mereka. Para masyarakat urban ini sudah mulai bersiap untuk bekerja dan menjalani kepenatan Kota.

Masih terasanya denyut lebaran di Desa tidak terlalu mengejutkan. Ya, begitulah orang desa selalu punya waktu luang lebih panjang dari orang kota untuk merayakan apa yang pantas mereka rayakan. Orang kota yang identik dengan masyarakat industri, kebanyakan hidupnya selalu dikejar waktu. Bahkan, bagi sebagian orang, hanya untuk bertemu orang tua, mereka harus menunggu cuti panjang atau libur lebaran.

Soal desa, selama Ramadan lalu saya mendapat pengalaman mengunjungi 12 desa di Kabupaten Malang. Waktu itu saya ditugasi liputan soal kerukunan antar umat beragama di 12 desa yang pemeluk agamanya majemuk. Selain soal kerukunan, banyak hal yang saya dapat dari dua belas desa itu. Salah satunya soal bagaimana orang-orang desa menjalani dan merayakan hidup mereka.

Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, misalnya, saya menemui penduduk suku tengger yang ramah-ramah. Meskipun mayoritas Budha, mereka menyambut kita yang Muslim dengan penuh keramahan. Saat kami mampir ke rumah warga untuk wawancara, sepersekian menit si tuan rumah sudah menyuguhkan kopi hangat. Sederhana memang, tapi fenomena ini langka kita temukan di perkotaan.

Sore keesokan harinya, saat kami berkeliling di Desa Ngadas, matahari sore sudah mau beranjak pergi. Ketika itu, kami banyak menemui orang-orang Ngadas sedang berada di dapur. Tidak untuk memasak, mereka sengaja berlama-lama menghadap tungku di dapur untuk menghilangkan hawa dingin yang menyengat.

Tri Wiratmo, Salah seorang tokoh masyarakat mengatakan, memang dalam menjalani hidup masyarakat Ngadas dan suku Tengger tidaklah neko-neko. Bagi mereka, selepas berkebun dan berlama-lama di dekat tungku sudah merupakan kemewahan."Kurang enak rasanya kalau tungku di rumah tidak menyala terus menerus," katanya.

Ya begitulah suku tengger merayakan hidup mereka dengan sederhana. Saking sederhanannya, jika pemuda desa jamaknya memilih merantau ke kota untuk mengejar rupiah, pemuda suku tengger jarang ada yang mau merantau. Kebanyakan, mereka meneruskan menggarap lahan pertanian warisan orang tua. Mungkin karena ini pula, ada hukum adat di suku Tengger yang mereka pegang kekeh yakni melarang tanah milik suku Tengger dijual ke orang luar. Karenanya, lahan pertanian masyarakat suku Tengger tetap digarap generasi mereka dan menjadi musabab para anak mudanya tidak mau merantau.

Di desa lain, kami juga banyak merasakan keramahan masyarakat desa. Selama perjalanan, kami selalu ditawari untuk tidur di rumah penduduk, bahkan si tuan rumah repot-repot menyediakan makanan untuk buka puasa dan sahur. Sederhana memang, tapi sekali lagi, hal itu amat jarang kita temui diperkotaan.

Ya, mungkin itulah yang membedakan antara penduduk kota dan desa. Meskipun tidak bisa digeneralisir kalau orang desa selalu baik dan orang kota cenderung culas, tapi, bagaimanapun, menurut ilmu psikologi, situasi lingkungan kita hidup sangat menentukan watak dan karakter kita.

Jika kita hidup di perkotaan yang sangat individualis, selalu dipacu dengan waktu, bukan tak mungkin kening kita akan selalu mengkerut, minim humor, dan bahkan tidak humanis. Karena, ya begitulah lingkungan kita.

Tidak heran jika di sebuah jalan di Kota, saat kita kecelakaan dan terjatuh, orang sekeliling kita hanya melihat dan melongo, tanpa ada inisiatif untuk menolong. Ini pulalah yang pernah saya rasakan di suatu sore saat mengalami kecelakaan ringan. sekali lagi, memang amat sederhana, tapi inilah yang membedakan antara orang kota dan orang desa dalam merayakan hidup.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top