Monday, January 12, 2015

Menyuarakan yang Tidak Bersuara

5:19 PM

[foto: wawan]
Oleh: Irham Thoriq

Dunia berjalan begitu cepat. Di era Jurnalisme dot com, portal berita berlomba menjadi yang tercepat dalam menyajikan fakta. Akurasi dan kelengkapan berita menjadi hal penting kesekian yang dikesampingkan.

Di era ini, ucapan para pesohor tentang apapun bisa dengan mudah menjadi berita. Hanya dengan tiga paragraf tulisan, gumaman para tokoh seringkali nangkring di headline portal berita. Kelengkapan serta kedalaman semakin ditinggalkan oleh sebagian penganut jurnalisme dot com. Meski, media cetak juga bisa saja meninggalkan dua hal ini.

Di tengah yang cepat itu, kita membutuhkan oase. Karena saya yakin, di tengah kesibukan masyarakat modern dan kelas pekerja, masih banyak orang yang mau menghabiskan waktunya bermenit-menit untuk membaca laporan jurnalisme yang panjang dan mendalam.

Di sinilah, jurnalisme tentang cerita manusia dan kemanusiaan menjadi penting di tengah hujan informasi yang sepotong-potong. Kita membutuhkan informasi tentang manusia yang menginspirasi. Yang bangkit dari kejatuhan, atau yang jatuh dari kesuksesan. Bukan jurnalisme “katanya”, yang saat ini kian digandrungi.

Biasanya, model tulisan seperti ini disebut dengan features yang banyak membahas tentang manusia atau kemanusiaan. Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan tentang perjuangan Christie Damayanti, seseorang yang terkena stroke di umurmya yang kurang dari 40 tahun.

Christie bisa kembali bangkit setelah dia menuliskan cerita tentang penyakit yang dia alami. Melalui Kompasiana, perempuan yang berprofesi sebagai arsitek ini menceritakan suka dukanya. Sudah ada ribuan cerita yang dia tuliskan dan mendapat apresiasi dari pemilik akun kompasiana.

Dalam suatu kesempatan, Christie mengatakan kalau dengan menulis, harapan untuk hidup selalu muncul. Karena, dari tulisannya itu, banyak sahabat yang belum pernah dia kenal sebelumnya memberi semangat. Karena tulisan-tuliasannya juga, Cristie permah diganjar penghargaan oleh kompasiana.

Tentu saja, menulis dengan keadaan stroke bukan hal mudah bagi Christie. Hanya untuk mengetik, tangannya sulit digerakkan. Tiga hari penuh harus Cristie habiskan untuk merampungkan satu artikel. Empat hari setelah itu, Cristie menimbang tulisannya layak dibaca orang atau tidak.

Dan ternyata, dengan menulis, Cristie bisa berbagi tentang apa yang dialami, komentar pun mengalir deras. Dan yang terpenting lagi, Cristie menjadi tahu banyak orang yang senasib dengan dirinya.”Menulis membuat saya sadar bahwa saya memang cacat. Lalu kenapa? Saya tetap ingin berguna sebagai manusia,” kata dia sebagaimana ditulis Panajournal.com. “Kenyataan menjadi jelas setelah dituliskan karena tidak ada lagi yang ditutup-tutupi,”.   

Begitulah cerita tentang manusia bisa memberi inspirasi di tengah semakin tak manusiawinya kehidupan. Mengutip istilah jurnalis senior, Farid Gaban, jurnalisme harus menyuarakan yang tidak bersuara.

Yang tidak bersuara ini bisa datang dari mana saja. Bisa seperti Christie yang di tengah keterbatasannya masih bisa berbuat sesuatu. Atau bisa dari petani, nelayan, pedagang dan yang lain.

Pada akhirnya, menyuarakan yang tidak bersuara adalah perjuangan agar wacana tidak didomonasi oleh satu pihak. Tidak didominasi oleh konglomerat, pejabat dan wakil rakyat. Dari orang-orang itu, kita kerapkali hanya diberi janji dan miskin inspirasi.

Harapan bisa datang dari mana saja, termasuk dari yang selama ini suaranya jarang kita dengar.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

1 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top