Saturday, August 29, 2015

Manfaat Karya Sastra Dan Sastra Sebagai Pengalaman

9:58 AM

[sumber] 

Oleh: Ahmad Darik

Manfaat Karya Sastra
1.    Karya sastra member kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini.

2.    Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual.

3.    Karya sastra itu abadi. Karya sastra seperti Mahabarata yang ditulis 2500 tahun yang lampau tetap aktual dibaca saat ini. Tapi majalah dan surat kabar hari ini akan terasa basi di minggu berikutnya.

4.    Karya sastra tidak mengenal batas kebangsaan. Meskipun karya sastra ditulis berdasarkan keadaan setempat dan sezaman, namun ia selalu berhasil menunjukkan hakikat kebenaran manusia dan keadaannya.

5.    Karya sastra adalah karya seni; indah dan memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri keindahannhya. Kebutuhan terhadap keindahan adalah kodrat manusia. Seni umumnya dan sastra khususnya merupakan karya kebudayaan yang diciptakan dan diperlukan manusia.

6.    Karya sastra memberikan kita penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui. Pengetahuan yang kita peroleh bersifat penalaran, tetapi pengetahuan itu dapat menjadi hidup dalam karya sastra.

7.    Membaca karya sastra juga dapat menolong pembacanya menjadi manusia berbudaya. Manusia berbudaya adalah manusia yang responsip terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia demikian itu selalu mencari nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan.

Sastra Sebagai Pengalaman
Yang dimaksud dengan pengalaman di sini adalah jawaban (response) yang utuh dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan. Disebut utuh karena tidak hanya meliputi kegiatan pikiran atau nalar, akan tetapi juga kegiatan perasaan dan khayal (imajinasi). Yang dimaksud dengan kegiatan kenyataan ialah sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia, baik itu yang berada di dalam dirinya maupun yang di luar dirinya.

Dalam peristiwa sastra, pengalaman itu diungkapkan dengan bahasa. Yang dimaksud dengan peristiwa sastra adalah peristiwa yang terdiri dari kegiatan membaca atau mendengar karya-karya sastra, mencipta karya-karya sastra, dan memberikan kritik terhadap karya-karya sastra. Tanpa ada bahasa tidaklah ada yang disebut peristiwa sastra.

Karena bahasa adalah alat komunikasi maka pendengar atau pembaca mempunyai peluang untuk mengalami kembali apa yang dialami sastrawan sebelumnya ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan (realita). Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan piranti yang dapat menyimpan dan meneruskan pikiran, perasaan, dan penghayalan yang pernah terjadi pada kesadaran seseorang.

Pengalaman yang terjadi di dalam kesadarn pendengar atau pembaca tidaklah sama dengan pengalaman yang terjadi di dalam kesadaran sastrawan. Hal seperti itu tidak dapat dihindarkan karena setiap orang memiliki watak dan latar belakan kehidupan yang berlain-lainan. Karena watak dan latar belakang yang berlainan itu, maka jawaban atas kenyataan dan kehidupan umumnya akan berlainan pula.

Sastra Sebagai Pengalaman Seni
Sebagai makhluk social, manusia butuh berkomunikasi dengan manusia yang lain. Kebutuhan ini tampak dalam kecendrungan orang untuk berkumpul, bercakap-cakap, bersurat-suratan, menulis buku, dan lain sebagainya.

Seperti juga kebutuhan yang lain, kebutuhan akan komunikasi ini menimbulkan kepuasan jika terpenuhi. Pada dasarnya, peristiwa sastra merupakan peristiwa komunikasi juga, walaupun merupakan jenis komunikasi yang khas. Di dalam peristiwa sastra, pembaca atau pendengar menemukan kepuasan jika ia menyadari bahwa ia telah dapat memahami dan merasakan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan sastrawan. Demikian pula sebaliknya, seorang sastrawan akan mendapatkan kepuasan jika ia tahu bahwa pikiran-pikirannya dan perasaan-perasaannya yang disampaikan melalui karyanya telah dapat diterima dengan baik oleh pembaca dan pendengarnya.

Sebagai bentuk komunikasi, sastra tidak hanya memberikan kepuasan melalui nilai-nilai pengalaman biasa (experiental) yaitu dalam bentuk gagasan-gagasan dan perasaan-perasaan, akan tetapi juga nilai-nilai seni, yaitu dalam bentuk kepuasan karena pendengar atau pembaca dapat memahami dan mengagumi penguasaan sastrawan atas berbagai cara hingga ia dapat menyampaikan isi hatinya dengan sempurna.

Sastra Sebagai Karya Seni
Ada tiga hal yang membedakan antara karya sastra dengan karya-karya tulis lain yang bukan sastra, yaitu sifat khayali, adanya nilai-nilai seni, dan adanya cara penggunaan bahasa yang khas.

Sifat khayali karya sastra merupakan akibat dari kenyataan bahwa karya sastra dicipta dengan daya khayal; dan walaupun karya sastra berbicara tentang kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah kehidupan nyang nyata, karya sastra itu terlebih dahulu menciptakan dunia khayali sebagai latar belakang tempat kenyataan-kenyataan dan masalah-masalah itu dapat direnungkan dan dihayati oleh pembaca.

Adanya nilai-nilai seni (estetik) bukan saja merupakan persyaratan yang membedakan antara karya sastra dan yang bukan sastra, namun justru dengan bantuan nilai-nilai itulah sastrawan dapat mengungkapkan isi hatinya sejelas-jelasnya, sedalam-dalamnya, dan sekaya-kayanya. Adapun nilai-nilai seni itu meliputi: keutuhan (unity), atau kesatuan dalam keragaman (unity in variety), keseimbangan (balance), keselarasan (harmony), dan tekanan yang tepat (right emphasis).

Yang dimaksud dengan keutuhan ialah suatu karya sastra harus utuh; artinya, setiap bagian atau unsure yang ada padanya harus menunjang kepada usaha pengungkapan isi hati sastrawan. Dengan kata lain, di dalam karya sastra tidak ada unsure yang kebetulan. Semuanya direncanakan dan ada dalam karya sastra itu sebagai hasil pemilihan dan pertimbangan yang seksama.

Yang dimaksud dengan keseimbangan ialah unsur-unsur atau bagian-bagian yang ada dalam karya sastra, baik dalam ukuran atau bobotnya, harus sesuai atau seimbang dengan fungsinya.

Keselarasan berkenaan dengan hubungan satu unsur atau bagian karya sastra dengan unsur atau bagian lain; artinya, unsur atau bagian itu harus menunjang unsur atau bagian yang lain, dan bukan mengganggu atau mengaburkannya.

Tekanan yang tepat artinya unsur atau bagian yang penting harus mendapat penekanan yang lebih daripada unsur atau bagian yang kurang penting. Unsur yang penting itu akan dikerjakan sastrawan dengan lebih seksama, sedang yang kurang penting mungkin hanya berupa garis besar dan bersifat skematik saja.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

1 komentar:

  1. sangat bermanfaat, mampir ke blogku ya https://syaimabahfein.blogspot.co.id/2017/10/mirisnya-kota-tangsel.html?showComment=1509199559433#c4113732349732351550

    ReplyDelete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top