Friday, August 14, 2015

Mendamba Payung Surga

12:40 PM

[photo credit: here]

Oleh: Madarik Yahya

Awa tak sanggup menahan perasaan, saat Bang Aji meminangnya. Seluruh keadaan yang dialami kini dirasa membuat perasaan dan pikirannya gundah. Tak disangka, dia mengajukan diri dengan keberanian total menghadap orang tuanya. Tutur kata dan sikap yang santun membuat bapak-emak Awa harus mengangguk mengiyakan permintaan Bang Aji.

Bang Aji memang pandai menata huruf hingga kalimat demi kalimat tersusun begitu rapi membuat hampir semua pendengarnya terhipnotis. Ungkapan Bang Aji benar-benar telah menyihir kedua orang tua Awa, membuat akhir keputusan yang diterima Bang Aji begitu membahagiakan, tetapi menjadi sambaran petir yang mengagetkan bagi pribadi Awa.

Sebetulnya Awa menyadari bahwa laki-laki yang menjatuhkan pilihan kepadanya itu benar-benar pandai bersilat lidah. Hal ini pula yang sangat dimaklumi Awa atas potensi Bang Aji yang selama ini ia kenal. Tetapi soal kedua orangnya yang tidak segan-segan membukakan pintu untuk menerima Bang Aji sungguh di luar dugaan. Bagi Awa yang selama ini dipahami, bapak-emaknya cukup selektif untuk mempersilahkan pinangan seseorang sekalipun disertai orang tua atau dihantar oleh wakil keluarganya. Sudah banyak kaum adam yang mundur teratur karena pinangan ditolak dengan ragam cara. Bahkan kasus yang masih membayang di pikiran Awa saat pria ganteng dari tetangga kampung harus berbalik pulang dengan tangan terkepal dan ucapan kata-kata yang tidak senonoh disampaikan begitu vulgar seakan hendak menantang akibat penolakan ini. Untunglah kondisinya bisa dinetralisir oleh tetangga dan kerabat yang tidak tersulut oleh pertengkaran yang kian memanas. Kemarahan bapaknya Awa yang sempat terpancing emosi menjadi reda setelah orang-orang dekatnya merayu sekuat tenaga agar sosok yang temperamental itu tidak meladeni tamunya. Namun, ketika Bang Aji mengetuk pintu hati kedua orang tua Awa, seakan-akan lubang masuk kalbu keduanya tak lagi berdaun pintu. Tangan terbuka menandai pinangan Bang Aji bak gaung bersambut. Permintaan memadu kasih dengan putrinya tak menemukan halangan sama sekali. Lega rasa Bang Aji melingkupi seluruh relung-relung nurani yang paling dalam. Bahagia kini tengah memeluk pria gagah ini.

Bagi Awa, keadaan ini merupakan kondisi yang sulit untuk digambarkan. Kenapa bapak-emak menerima tanpa prasyarat apapun yang diajukan. Seakan keduanya begitu lugunya mendengarkan penjelasan Bang Aji yang memang terdengar mantap berisi. Awa merasa berada di puncak kebimbangan yang tak berujung. Rasa tidak percaya menyaksikan sikap bapak-emaknya terkadang menghantarkan gadis berkulit langsat ini pada perasaan syakwasangka yang berlebihan kepada keduanya. Mengapa Anda berdua begitu cepat memberi ruang jawaban di mana hanya aku yang harus mengisi jawabannya, pikir Awa seakan-akan mengajukan 'gugatan' keharibaan orang tuanya. Kalaulah bukan karena takut dosa, Awa akan memilih sikap menantang keduanya dengan segala macam argumentasi yang ia kuasai.

Masa penjajakan sebetulnya sudah dijalani oleh Bang Aji dan Awa dengan memulai perkenalan, perbincangan santai sehingga masuk pada topik yang serius persoalan langkah mengarungi bahtera kehidupan bersama. Cafe, alun-alun kota, di bawah pohon rindang atau kadang-kadang pantai telah menjadi saksi atas kebersamaan mereka berdua. Banyak hal yang telah mereka bicarakan dengan segala ragam tema dan judul. Gelak tawa maupun raut serius merupakan bagian dari pernak-pernik yang menghias pertemuan mereka. Awa memandang Bang Aji sebagai lelaki yang penuh tanggungjawab. Apa yang ia ucapkan hampir-hampir dapat dipastikan merupakan gambaran dari kelakuannya setiap hari. Jika saja ada seseorang yang bertanya Bang Aji, maka Awa hanya cukup mengarahkan agar ia meneliti perilaku dan ucapannya. Tingkah laku Bang Aji seakan menjadi makna ungkapan-ungkapannya. Selama ini, Awa memperhatikan bahwa kejujuran di setiap rangkai ujaran Bang Aji bisa ditilik dari potongan-potongan kelakuannya.

Dari sisi ekonomi, Bang Aji termasuk orang biasa yang sudah sukses. Usahanya dia tapaki mulai dari bawah dengan segala perjuangan yang begitu dahsyat dan memerlukan banyak pengorbanan tanpa batas. Kehilangan modal akibat penipuan mitra dan kawan kerja, perpindahan lokasi dan tempat, merupakan lika-liku perjalanan dagangannya yang ia upayakan. Tetapi kesengsaraan mengail harta karun bagai pil pahit yang menyehatkan di kemudian hari. Ulet dan kesabaran yang selama ini dipertahankan dengan tabah membuahkan hasil gemilang. Bang Aji benar-benar menjelma menjadi hartawan yang diperhitungkan bagi pelaku bisnis asal kotanya. Pada segi ini sebetulnya Awa tidak merasa was-was menjalani hidup bersamanya. Ia akan mencicipi gaya hidup layak dengan hanya memainkan telunjuk untuk mendapatkan yang dikehendaki bakal nyata. Hidup glamor tentu akan berada dalam genggaman andai saja Awa mau memutuskan untuk memilih.

"Aaah…" serunya pelan.

Tetapi kadang perasaan yang selama ini selalu ia jaga agar tidak menuduh bapak-emaknya, kini tercampuri oleh praduga yang menempatkan kedua orang tuanya pada posisi "mengincar" rupiah. Awa menganggap bahwa prinsip yang selama ini diyakini oleh anggota keluarganya sangat teguh. Prinsip itu bahwa dunia fana hanyalah merupakan perantara untuk menggapai alam baka. Akankah gemilau duniawi sanggup melunturkan prinsip yang begitu kuat dipedomani?

"Tentu bapak-emak takkan sedangkal ini. Uuh…" pikir Awa.

Wanita lembut ini memang berada dalam puncak keraguan. Meronta di tengah tembok tradisi penghormatan yang sangat kental jelas tidak mungkin. Lebih-lebih bapak-emaknya, selaku sosok yang wajib diagungkan, sudah mengetok palu bagi nasib anaknya. 

Kini, Awa pasrah sepenuh hati untuk meletakkan masa depan hidupnya di atas pundak bapak-emaknya. Ia meyakini di dalam cengkeraman tangan mereka berdua, kunci sorga berada. Ia juga menerima dirinya sebagai separo cinta Bang Aji, meskipun kenyataan ini cukup perih untuk dijalani. Harapan bahwa kelak di alam makhsyar akan dianugerahi payung emas merupakan embun yang menyejukkan kalbu Awa.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top