Saturday, April 30, 2016

Aku Akan Pergi

9:23 AM


Oleh: Fawaid Azman

Sejak pagi tadi orang-orang sibuk mempersiapkan perayaan resepsi pernikahan antara Mas Panji Darman dan Mbak Puji Lestari yang akan dilaksanakan malam nanti. Aku tergolong orang yang diberikan satu lembar berisikan gambar beserta nama mereka dibawahnya, dan tulisan  “Mohon Doa & Restu” adalah paling besar berwarna hitam berada paling atas, pertanda paling penting. Dan, namaku terlihat jelas di bagian kertas paling bawah dengan kolom putih yang disediakan untuk nama orang yang diharapkan hadir dalam acara itu. Memberikan kesimpulan: kehadiranku mereka harapkan! Ya, kehadiran seorang yang tidak pernah percaya pernikahan itu akan terjadi. Bahkan: Menentang!

Aku yang sejak tadi pagi juga tidak beranjak dari tempat tidurku, tempat istimewa bagi ratapan tangis yang tak dapat kuhindar, masih saja melihat selembar undangan itu yang ada di genggaman tanganku. Genggaman erat dengan nafas tersengat-sengat yang tanpa kusadari telah membuat lembaran itu antara empat sudutnya berkumpul menjadi satu sampai menjadi surat undangan yang tak berguna lagi. Hanya bisa dijadikan pengisi tong sampah depan kamarku. Bagiku, juga bagi tong sampah, mungkin juga tidak ada artinya!Dan membuatku mengambil korek didalam saku bajuku diikuti oleh bungkus rokok yang tak berisi penuh. Kuambil dan kubakar satu batang dibagian ujungnya. Seketika, udara yang kata para medis sangat berbahaya bagi kesehatan paru-paru dan jantung itu kuhisap. Hisapan pertama mengepulkan asap tak seberapa. Kulanjutkan dengan hisapan kedua. Lebih banyak dari yang pertama. Kulihat kembali kertas yang sedari tadi sudah tak berbentuk dengan layak. Tanganku menghampiri. Mencoba untuk mengembalikannya dengan bentuk semula. Berhasil! Meski tak nampak sempurna seperti awal kuterima.

Sepasang mataku kutitik beratkan kepada gambar kedua mempelai. Rasanya ada gendang bermain dalam jantungku. Anganku bertindak nakal dan wajah Mas Panji Darman berubah menjadi cerminan kaca ketika aku berada di depannya. Senyum kebahagiaan begitu tampak,perpaduan antara madura dan jawa, bermata orang india yang kehitam-hitamannya terlalu ke atas. Diam-diam tangan kirikuku bergerak mencari korek yang kuletakkan diatas bungkus rokok tadi. Kuhidupkan pelan-pelan. Api membara. Kudekatkan kertas ditangan kananku kepada api itu. Semakin dekat, semakin membuat gambar Mbak Puji Lestari seolah memancarkan wajah suram, kecantikannya hilang, seolah melarang perbuatanku, berkata dengan lembutnya dan hati-hati.

“Tidakkah kau ingat dengan perkataanmu sendiri, “Hidup ini bukanlah tentang memiliki yang kau cintai. Tapi mencintai yang kau miliki” Kau tega mengubah gambarku menjadi debu? Kau sedih? Asal kau tahu, Musa,aku tidak ingin ada kesedihan. Sudahlah, hapus air matamu itu!”. Diam-diam aku mendengarkan, tidak mengiakan juga tidak membantah. Sedikit kuindahkan larangan itu dengan memadamkan api. Akibat dari kata-kata lembut dan hanya terdengar olehku yang sekaligus memberikanku kehidupan agarmenghadiri pernikahannya malam nanti. Pernikahan yang tak kuingunkan! Tapi, sudahlah. Akan kuberikan restu kepada janur kuning itu. Meskiberada di pundak penderitaan seorang yang oleh orang-orang biasa dipanggil Musa. Namaku sendiri ..... Sementara ini tak perlu kusebutkan. Bukan karena gila misteri. Telah aku timbang: belum perlu benar tampilkan diri dihadapan mata orang lain.

Aku yang menerima kertas tanda diundangdan berencana tak akan menampakkan hidung kepada siapapun yang ikut serta dalam resepsi itu, berencana lain untuk membeli pakaian baru ke toko baju terdekat dan tidak menghindari malam bersejarah Mbak Puji Lestari bersama Mas Panji Darman. Pakaian batik dengan setelan celana kain berwarna silver kuanggap pantas dijadikan seragam untuk menghadiri undangan itu dan kutukar dengan dua lembar uang berwarna merah, berlambang Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama.

****

Malam beserta kegelepannya sudah tiba sejak dua jam yang lalu. Kamar mandi sudah aku pergunakan sebelum itu. Hari besar orang yang pada sebelumnya mengajariku Bahasa Jawa: Bahasa yang digunakan kerajaan Maja Pahit, dan orang yang sudah membuatku menjadi hanya bertepuk sebelah tangan itu baru saja dimulai. Para tamu kabarnya juga sudah berdatangan.Aku yang tetap termenung antara datang atau tidak masih sibuk dengan urusan diriku sendiri: menghabiskan tembakau yang aku beli dan secangkir kopi buatanku sendiri. Kulihat baju dan celanaku yang tergantung dilemari. Kalau saja baju dan celana itu bermulut, mungkin saja tak segan-segan berujar: Kasihan sekali kau, Musa. Orang yang kau cintai, kau sebut-sebut namanya saat kedua tanganmu terangkat, sekarang ini, malam ini, kau hanya bisa menangisinya. Tak lebih! Sungguh beruntung orang yang sekarang sudah ada di dekapan wanita itu. Sedangkan kau, Musa, hanya bermimpi. Lalu, bagaimana mungkin aku sudi menutupi tubuh kekarmu, sedangkan kau tak segera bangun dari tidurmu. Sudahlah, bangun! Pakailah aku dengan keegoisanmu! Jika tidak, maka jangan!
Baiklah. Aku akan pergi.

Membutuhkan waktu dua kali satu jam dengan mengendarai sepeda motor melewati jalan licin berjuranguntuk sampai ke tujuan. Juga tikungan tajam yang berkali-kali membuatku bertanya-tanya:Mengapa bekas jalannya ular raksasa itu orang-orang menjadikannya jalan raya? Jalan yang dulunya sering kulewatitanpa tolah-toleh. Fokus. Lengah sedikit saja akan berakibattanahberbatu itu menghantam tubuh. Braakk! Nyawa terancam hilang. Ah, alangkahtak terhitung korban kecelakaan.



Dan, sekali lagi: Baiklah. Aku akan pergi. Itu saja![]

Sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top