Thursday, August 11, 2016

Solusi Pendidikan Melalui Inbox

8:55 AM


Oleh: Muhammad Ilyas

Beberapa hari yang lalu saya disibukkan dengan hal yang sangat membosankan. Bagaimana tidak saya dipaksa untuk membuat seabrek administrasi guru, setiap hari saya bergelut dengan bagaimana membuat RPP (Rencana Proses Pembelajaran) yang bagus, membuat silabus,  mempersiapkan Promes (Program Semester), Prota (Program Tahunan), agenda harian guru selama setahun, jadual harian, jadual libur nasional, membuat soal-soal yang sudah terstandar sekaligus dengan kisi-kisinya, membuat ranah kognisinya bloom yang terdiri dari C1, C2, C3, C4, C5, serta C6 dan banyak lagi administrasi yang harus diselesaikan. Maklum sekolah yang saya tempati sedang bersiap-siap untuk akreditasi. Mungkin sekolah ini tetap ingin mempertahankan gengsinya sebagai sekolah terfavorit di lingkungan Kota Gudeg. Maklumlah, di era ini sekolah yang bagus adalah sekolah yang terakreditasi A, sekolah yang mempunyai gedung yang megah, dan tentunya mempunyai kelengkapan administrasi jika tidak memenuhi kriteria di atas, maka sekolah tersebut tidak akan laku.

Begitulah pendidikan, semua serba terstandar. Ah, lupakan saja masalah pendidikan. Pendidikan  memang menjadi masalah klise yang jalan di tempat. Toh sekolah yang bagus dinilai berdasarkan dokumen yang mereka punya. Persoalan sudah selesai ketika kita menerapkan apa yang telah menjadi titah. Sabda pandita mentri….

Lah. membahas pendidikan merupakan hal tak begitu penting lagi. Masih lebih penting masalah politik, penguasa, artis, karena banyak yang beranggapan jalan itu yang bisa membawa kepada jalan perubahan lebih baik. Pendidikan hanyalah sebagai beban negara yang harus diciutkan. Bagaimana tidak, UU telah mengamanatkan minimal anggaran untuk pendidikan sebesar 20%. Wah, ini jelas membuang-buang biaya saja. Belum tentu semua akan selesai hanya dengan cara memperbaiki pendidikan. Hal ini terbukti yang digadang-gadang menerapkan sistem pendidikan terbaik adalah negara-negara Skandinavia. Pendidikan di sana sudah diakui seluruh dunia bahwa menerapkan sistem yang sangat inovatif, memanusiakan dan seabrek pujian. Yah mungkin tak bakalan habis pujian yang diberikan sampai tujuh turunan.

Sulit memang untuk didefinisikan. Sang legenda terkenal, mas Aristoles, mendifinisikan pedagogi itu sebagai ngemong. Lah itu kan dulu. Masak kita melihat masa lalu. Kan kalau zamannnya mas Aris beda dengan sekarang. Dulu enggak ada Google, enggak ada Youtobe, enggak ada acara Inbox, Dahsyat, dan seabreg acara televisi yang layak. Sekarang anak sekolah belajar enggak melulu di bangku sekolah, mendengarkan guru, lalu pulang. Sekarang zamannya adalah belajar di luar ruangan, belajar berinteraksi dengan masyarakat luas, agar tahu kehidupan masyarakat itu seperti apa. Nah, alasan inilah yang membuat sekolah di Trenggalek diliburkan hanya untuk memobilisasi acara Inbox. Keren sekali! Yang diajarkan oleh sekolah di Skandinavia adalah belajar dengan masyarakat. Berhubungan langsung dengan masyarakat. Memobilisasi terhadap acara tersebut merupakan metode pembelajaran terbaru, yang disebut dengan jreng-jreng model education. Tentulah ini nantinya menjadi modal untuk menyumbangkan teori yang sejajar dengan konsep teori Barat seperti, Licona, John Dewey, (bukan John Rame-rame), Bloom, AS Neil, atau selevel Poulo Freire.

Pembelajaran dengan musik di acara Inbox, menurut penelitian dari Arumi Harum (bukan Bachin, soalnya kalau bachin bahasa Jawanya “bau”), menunjukan meningkatkan kecerdasan yang sangat luar biasa, bahkan bisa mengalahkan kecerdasan Einsten. Tak terbayang bagaimana orang Trenggalek cerdas semua karena inovasi dari pemangku kebijakan. Yah, lagi-lagi politik. Maaf, saudara, bukan bermaksud untuk mempolitisasi atau untuk menggiring hal tersebut ke ranah politis (baca: kepentingan penguasa), melainkan kita fokus ke ranah yang lebih rendah lagi, yaitu memperbaiki moral generasi muda.

Tapi sulit sekali jika yang kita bahas di sini hanya spaneng terhadap masalah pendidikan. Mbok yo dibumbui dengan humor politik, biar agak sedap sedikit. Yah, maklumlah isu yang paling disukai itu ketika bersinggungan dengan hal-hal politis. Yah, walaupun Mas Pram pernah bersabda dalam kitabnya kalau seseorang tidak akan lepas dari  politik, bahkan berdua dengan orang lain itu merupakan politik (berdua?). Yah, mungkin politik bagaikan dewa. Dewa agung yang bisa mengubah apapun dengan abracadabra. Yah, pendidikan sebagai tumbal dan digunakan oleh para politisi busuk demi apalah-apalah.

Saya fokuskan lagi terhadap masalah Inbox yang sudah menyumbangkan para intelektual yang nantinya akan berkiprah di dunia international. Akademi Inbox, mungkin itulah yang terbesit dalam benak artis papan lapuk (maksudku papan atas). Artis-artis tersebut menjadi daya pikat tersendiri, menjadi figuran, dan menjadi panutan generasi sekarang. Banyak generasi yang tersugesti oleh kehebatan artis. Bagaimana bisa generasi muda tidak terkesima oleh artis papan Jakarta, lhawong duta Pancasila yang menjadi dasar negara kita saja dari artis. Menurut sang duta, lambang Indonesia adalah bebek nungging. Yah itulah realitas. Itu tak lain adalah—mengutip salah satu tulisan di Amanah RU—humor ala begundal yang tak tahu tata krama. Iyalah, masa lambang negara digituin. Lhawong Bung Hatta saja pernah bersumpah, beliau tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. Ngeri sedap! Beliau tidak main-main dengan nasib bangsanya. Tapi walaupun begitu, para pendiri bangsa tidak pernah menjadi duta Pancasila. Hal itu hanya menjadi penghargaan yang besar terhadap artis Inbox. Jadi sangat wajarlah jika sekolah diliburkan hanya demi mobilisasi acara tersebut.

Acara ini juga sebagai solusi kebangsaan yang kian hari kian tak tentu. Yah, daripada mendengarkan dagelannya Senayan, lebih baik mendengarkan dagelan acara Inbox dan Dahsyat. Toh mereka jujur menjelaskan keadaan bangsanya, mereka jujur kalau keadaan bangsa ini sangat kritis, selera humor orang kan berbeda. Siapa yang berhak untuk menghakimi selera orang? Anggaplah ikhtilaf. Mungkin samalah dengan aliran Realisme Magisnya  masa kini. Atau acara tersebut disebut sebagai Magisme Realis? Wah, tak tahulah itu. Pokoknya yang terpenting pahlawan untuk selalu dikenang itu adalah artis Inbox dan Dahsyat.

Mobilisasi siswa untuk mengikuti acara Inbox bukanlah salah. Hal ini dikarenakan para siswa merasa begitu dekat dengan artis-artis bintang Inbox tersebut. Mereka lebih merasa nyaman dan merasa cita-citanya tercapai jika bertemu dengan idolanya. Mereka tak kenal siapa Pak Syahrir, Pak Tan, Pak Cokro, Pak Karno, Pak Hatta. Mereka merasa asing dengan nama-nama tersebut, mereka lebih peduli terhadap apa yang dipakai artis Inbox. Sedang apa, makan apa, dan hal-hal yang sangat penting untuk keperluan artis Inbox. Menurut saya itu wajar, karena duta Pancasila ada di serentetan artis Inbox tersebut.


Kita berharaplah kepada acara Inbox ini agar bisa mengubah dunia, mengubah aspek ekonomi yang sangat membebani rakyat. Dan rakyat pun senang dengan apa yang mereka perbuat. Yah, mungkin ini adalah titik jenuh masyarakat kita terhadap dagelan yang dibuat oleh para badut-badut senayan, atau badut-badut di tempat lain. Jadi sangat maklum dan sangat lumrah jika memperbaiki pendidikan, memperbaiki bangsa dengan karakter Inbox dan Dahsyat.[]

Sumber gambar:

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top