Friday, November 18, 2016

Juminten Mengintip Santri

3:58 PM

rain, stream and speed

Oleh: Halimah Garnasih

“Ah, rata-rata semua pesantren itu sama. Selalu saja mengambil santrinya yang berparas cantik untuk diambil mantu,” katamu. Aku tentu saja tidak tahu menahu soal itu. Masuk pesantren saja hanya sekali waktu, saat mengikuti program sepuluh hari penuh makna bersamamu, interfaith pilgrimage.

Bersama para pemuda-pemudi Kristen, Katolik, Buddhist, Hindu, dan teman-teman non Muslim lainnya aku berkesempatan mengenal lebih dekat umat muslim dan pesantren khususnya. Malam itu juga, kita berpisah. Kamu dan teman-teman muslim lain dalam program ini diantar menuju salah-satu GKJ, kompleks umat kristiani di Salatiga.

Malam itu, saat baru saja aku akan mengatupkan mata, tidur berdempetan dengan para santri dalam satu kamar sempit dan hanya beralas tikar, mendapati pesan darimu: “Aku senang sekali, Jum. Senang sekali. Aku mendapat induk semang yang rumahnya pas di samping Gereja. Rumah keluarga pendeta. Dari bangunannnya, tampak khas rumah bekas kolonial yang jendelanya tinggi-tinggi dan penuh dengan kelambu putih di mana-mana.”

Aku memintamu mengatakan ada gambar apa saja di dinding kamar semalammu. “Uh, nyeni dan lawas banget, Jum. Ada salib, lukisan bunda Maria besar sekali, beberapa Al-kitab di atas meja, dan ranjangku Jum…. Ranjang antik dengan kelambu berenda putih yang lembut!” Aku membayangkan kamar semalammu hangat, lembut, dan nyaman sekali. Sementara aku mulanya sedikit merasa tak nyaman tidur beramai-ramai dalam satu kamar kecil. Sempit, gerah, dan bau keringat.

Tapi entahlah, sikap keakraban dan kesederhanaan para santri semenjak aku tiba, membuatku terkaget-kaget. Padahal ini adalah pertemuan pertamaku dengan mereka, tapi sikap mereka jauh dari kesan itu. Mereka membuatku nyaman dan tidak sebagai orang baru. Sebaliknya, aku merasa menjadi spesial berada di tengah-tengah mereka.

“Tinggal di rumah keluarga pendeta, artinya aku akan mendapatkan data-data langsung dari sumber primer, Jum, hehehe. Oh ya, betewe, bagaimana pengalaman pertamamu tidur di pesantren, Sayang? Hihihi” pesanmu kembali masuk. “Dinikmati ya…. Setidaknya dalam semalam kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan selama delapan tahun lalu sayang. Wkwkwk!”

Pesanmu hanya kubalas dengan emoticon, makhluk lucu walaupun digambarkan sambil melet-melet. Tapi diam-diam aku merasa mulai memahami mengapa dari pesantrenlah orang-orang hebat itu lahir. Banyak pemikiran tokoh-tokoh Islam yang aku sepakati. Sangat humanis dan mengandung kehatian-hatian, sarat pertimbangan. Dan aku temukan, muaranya adalah kedamaian. Bagaimana keheningan sejati akan kami dapatkan tanpa kedamaian bukan?

Rupanya, semua itu lahir dari tempat ini, di mana kehidupan para santri dijalani dengan beriringan dan kebersamaan. Sebagaimana salah-satu tujuh kewajiban suci yang aku imani: Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih. Bukan seperti hidup yang selama ini aku tahu: Sendiri-sendiri, dan untuk diri sendiri. Juga Islam yang keras dan merusak seperti yang sering aku dan keluargaku temukan di televisi.

“Resapi, Jum. Resapi semua keterbatasan yang ada di duniaku itu, sungguh kau akan bertemu Tuhanmu juga berada di sana. Tuhan ada di segala keterbatasan, Jum. Biarkan keterbatasan menjamah ragawimu, maka Tuhan akan menyentuh sukmamu, jiwamu…”

“Kau mencari hening, Jum? Di sana hening juga bersemayam, Jum. Bahkan, saat para santri mulai riuh mengaji, membaca nazam-nazam, atau saling melempar canda, hening dengan terang-terangan ada di antara itu semua, Jum. Dia berdiri, bersiap kau peluk, Jum…”

Pesan terakhirmu ini seakan membawa desir angin ke dalam jantungku, aliran darahku. Dan pagi hari aku terbangun dengan suara para santri yang tengah melantunkan kitab suci Alquran dengan suara sama-sama lirih. Ada yang bergetar dalam diriku.

***

“Mengapa kamu bisa berpikir bahwa pesantren selalu mengambil santrinya yang cantik untuk diambil mantu?” aku mengejarmu yang tengah naik menuju Vihara cepat sekali.

“Ini melampaui berpikir, Jum. Ini menyatakan sebuah kenyataan. Kebanyakan. Hampir semua… khususnya di Jawa Timur.” Katamu berhenti sebentar menoleh padaku, lalu kembali mengamati patung Dewi Kwan Im yang berada di ujung tangga ini. Kita memang sengaja mampir di Vihara Solo setelah menyelesaikan keperluan risetku tentang perempuan-perempuan Tionghoa di kota ini.

Program interfaith pilgrimage yang mengantarkan pertemuan kita memang sudah selesai. Tapi pertemanan kita menjadi jalinan sahabat, bahkan seperti saudara. Kamu tidak hanya dengan brengsek tidur di ranjangku saban akhir pekan, menghabiskan masakanku yang belum kusentuh, tapi juga sering mengajakku turut menyampaikan materi ‘Perempuan dan Sejarah Agama-agama’ dalam programmu bersama Organisasi Fatayat saat roadshow ke Pesantren-pesantren se-Jawa.

“Kamu itu mantan santri yang brengsek kepada teman, untung saja kamu memiliki kepedulian sosial yang tinggi hingga aku mau berbaikan denganmu.” Dan kamu hanya tertawa lepas setiap aku mengumpatmu. Tak sekali pun, aku mendengarmu berbalik mengumpatku. Padahal aku ingin tahu, bagaimana seni mengumpat oleh santri.

“Tapi bukankah santri, pesantren, dan ulama itu identik dengan kesederhanaan ya?” tiba-tiba meluncur begitu saja pertanyaan itu dari mulutku. Dan kamu menoleh dengan wajah brengsek seperti biasa ke arahku. Seolah pertanyaan yang muncul dari alam pikirku ini kurang berkualitas

“Lalu?” sikap cuekmu memuakkan meningkahi pertanyaanku dengan mencomot chocolate cake yang tampak sangat legit, selegit ide-idemu tentang perempuan dan masa depan bangsa. Iya, yang diam-diam kukagumi itu.

“Kemarin, saat kita roadshow di Pesantren-pesantren Jawa Timur, aku tidak melihat kesederhanaan yang biasa aku temukan di pesantren-pesantren Jawa Tengah misalnya. Rata-rata, penampilan santri di sana sangat glamour. Kita-kita yang di depan saja kalah, Non!” jelasku yang langsung disambut tawa ngakakmu, salah-satu sikap brengsekmu.

Bergaya membenahi kerudungmu yang mencong sana-sini, kamu menghadapkan tubuhmu padaku, dengan wajah yang sok dimanis-maniskan kamu berkata, “Oh, sang pemateri Nona Juminten, itu adalah salah-satu akibat yang pernah saya katakan padamu. Saat bukan santri cerdas nan penuh prestasi yang diambil mantu oleh pesantren, melainkan santri yang cuantik-cuantik, otomatis…..”

“Oke, stop, stop. Aku ngerti. Tapi masa iya, hanya itu?”

“Oh, tentu tidak! Banyak faktor yang saling kelindan tentu saja. Selain bentukan budaya tentang bagaimana perempuan cantik itu, menurutmu apa lagi?”

“Gaya hidup? Hedonisme yang arusnya kuat itu sudah sampai ke pesantren, sebuah lembaga pendidikan di mana menurutmu semestinya menjadi alat terbesar bangsa ini yang bisa mendorong paham terkutuk itu ke luar dari tubuh bangsa ini?”   

“Cerdas! Itu masyuk, Nona Juminten yang manis…”

“Aku masih tidak mengerti. Lalu, kaitannya dengan tradisi pesantren dalam mengambil mantu santri yang cantik?”

“Andaikan, Jum. Andaikan. Santri mendapati kesadaran bahwa pesantren mengambil mantu yang cerdas dan sederhana, alam sadar mereka tidak akan disibukkan dengan hal-hal yang bersifat fisik, materil. Mereka akan melampaui hal materil itu, dan dapat menjangkau hal-hal yang lebih bernilai dan lebih luhur dari itu,”

“Mereka akan dihantarkan pada sebuah titik bernama ‘kesadaran hidup’. Bila sudah sampai pada titik ini, jangankan monster hedonisme, monster Nazi sekalipun para santri siap meghadapi!”

“Wuih…mantap nian temanku yang mantan santri satu ini.”

“Iya dong. Aisyah, seperti Ummul mukminin yang bahkan para lelaki takluk dengan kecerdasan dan keberaniannya!”

“Wuih!!! Hebat-hebat! Eh, tapi apa benar, analisismu tadi itu murni muncul objektif dari pemikiranmu?”

“Maksudnya?”

“Ya … maksudnya, apa iya pemikiran itu berdiri sendiri? Tidak berkelindan dengan alasan lain?”

Matamu menatapku tajam, jelas sekali mulai berpikir. Ini pertama kali kamu meresponku dengan tidak celele’an. “heh! Misalnya?”

“Misalnya … karena kamu masih sakit hati sama Ilyas, mantan pacarmu yang menikah dengan perempuan yang dijodohkan oleh abahnya? Yang kiai pesantren di Jombang itu? Yang lebih cantik darimu itu?” kataku sambil mengangkat alis dan tersenyum tipis menggodanya. Eh, lebih pas, meledeknya.

Sejenak Aisyah terbelalak menatapku, lalu dengan kecepatan yang tak dapat kuhindari, kedua tangannya melemparkan bantal beruang ke mukaku sambil berteriak sekencang-kencangnya, “Assseeemmmm…. Jumintennnnnnnn…. Kamprreeeetttt!!!!!!!!’

Perpustakaan Kota Malang

             18 November 2016

Sumber gambar: JMW Turner

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top