Wednesday, November 23, 2016

Lorong Bahagia

11:48 PM

happiness

Oleh: Samara

Angin berhembus menyibak fatamorgana di pagi hari. Bisikan pohon rindu terdengar halus di telinga. Kulalui jalan setapak, melewati kelas-kelas yang masih kosong. Langkahku terhenti di depan TU MAN Gondanglegi yang sedang terbuka, kulihat tumpukan kardus yang berisi majalah OASE. Hmmm, ini kan nanti pembagian majalah. Kenapa majalah masih disini semua, gumamku dalam hati. Pucuk dicinta ulam pun tiba, aku melihat Aziza salah satu redaktur majalah.

“Za, mindahin majalah yuk, biar ntar enak kalo pas pembagian majalah.”

“Boleh. Yakin nih cuma berdua?

Yakiinnnnnn....” Jawabku.

Kami mulai memindahkan majalah ke ruang jurnalis yang tak jauh dari ruang TU, hanya terpisah oleh musalla saja. Sedikit cerita, ruang jurnalis yang kami tempati tidak lebih luas dari ruang kelas yang ada di sekolah kami. Namun, ruangan inilah yang mampu memberikan warna-warni dalam kehidupanku, khususnya di bidang jurnalisme. Dalam ruangan ini saya belajar banyak hal, mulai dari cara bersosialisasi, cara menyatukan perbedaan dan masih banyak lainnya. Aku terus menata majalah sesuai dengan jumlah kelas yang ada. Seiring berjalannya waktu semakin banyak yang berdatangan ke ruang jurnalis. Entah itu redaktur yang datang untuk membantu atau perwakilan kelas yang datang untuk mengambil majalah.

Biasanya mereka datang berdua atau bertiga, tapi kali ini lain. Aku dikagetkan dengan segerombolan siswa-siswi yang berjalan menghampiri ruang jurnalis. Sepertinya kalau dilihat dari badge yang berwarna kuning mereka kelas XI sama denganku. Ah, rupanya benar dugaanku, mereka personil XI Agama yang melakukan pembelajaran di musalla. Memang ketika pelajaran Ushul Fiqh mereka sering di musalla untuk mempermudah proses pembelajaran. Anehnya mereka tidak segera masuk ke dalam musalla, mungkin karena guru belum datang. Yah, beginilah memang anak SMA. Bukan segera masuk ke musalla mereka malah memenuhi ruang jurnalis.

“Ra, Ga capek apa tiap hari mengurus majalah melulu?” Iqbal, teman kelasku, melontarkan pertanyaan ini padaku.

“Enggak lah, kalau sudah hobi pasti asyik.

Ra ini ya, Ra itu yaa. Dan masih banyak lagi obrolan yang kami lakukan di sana.

Selang beberapa menit, pak Lukman sudah datang menuju musalla. Seketika itu juga ruangan jurnalis serasa sepi dari pendemo.

“Ra....” Sapa beliau padaku ketika melintasi ruang jurnalis saat hendak menuju musalla.

“Iya, Pak.” Aku menjawab sambil tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai tanda rasa takzim kepada beliau.

Setelah sapaan itu dan beliau berlalu menuju musalla, aku merasakan sebuah perasaan yang tak nyaman. Bagaimana tidak, aku ada di ruang jurnalis tepat di teras, sedangkan pelajaran kelasku sudah dimulai di dalam musholla. Jelas terlihat aku sedang ada di luar. Saat ini aku benar-benar memutar otak antara melanjutkan aktivitas di ruang jurnalis atau meninggalkan ruangan dan menuju musalla mengikuti pelajaran yang berlangsung. Ah, benar-benar pilihan yang sulit. Sebenarnya kalau aku menuruti kemauanku yang malas ada di dalam ruangan kelas, aku akan lebih memilih tetap tinggal di ruang jurnalis dan melakukan hobiku. Yah, aku rasa ini lebih menyenangkan. Tapi tunggu, pikiranku berubah.

“Za, di kelasku pelajaran deh tuh kayaknya. Aku kekelas ya.”

Oke. Gak masalah. Lagian ini sudah mau selesai kok.”

Aku mengambil tasku di ruang jurnalis dan menuju musalla untuk mengikuti pelajaran Ushul Fiqh. Aku ada di barisan paling belakang di sebelah jendela. Menurut banyak argumen, posisi ini memang posisi favorit bagi semua kalangan. Aku menghayal memikirkan banyak hal hingga tak terasa aku tidur selama pelajaran berlangsung. Setengah jam lebih aku tidur, aku terbangun karena aku mendengar suara yang tak jauh dariku. Rupanya itu pak Lukman yang sedang menelapon seseorang, entah siapa yang beliau telepon hingga berdiri tepat di depanku.

“Ayo berangkat! Mana temanmu, Wahidah sama Ahmad?”

“Oh, iya, Pak. Saya cari dulu.”

Rasanya aku seperti sedang ada dalam dunia mimpi. Aku berkhayal untuk keluar dari kelas beberapa menit yang lalu dan akhirnya itupun terjadi dalam sekejap. Aku tahu sekarang, Pak Lukman sedang menelepon informan yang ada di Sitiarjo. Ketika beliau bilang berangkat aku sudah paham bahwa yang beliau maksud adalah berangkat menuju desa Sitiarjo yang ada di kecamatan Sumbermanjing untuk mengujungi salah satu informan penelitian yang kita butuhkan. Saat ini aku dan kedua temanku, Wahidah dan Ahmad, memang sedang mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah dalam pekan Kompetisi Sains Madrasah. Kami bertiga dibimbing oleh bapak Lukman. Kami menghabiskan banyak waktu bersama di dalam dan di luar jam sekolah untuk menyelesaikan penelitian ini. Bagi peneliti yang notabene masih SMA suasana hati yang baik sangat menentukan bagi kelangsungan penelitian yang kami garap. Oleh sebab itu, tak jarang di sela-sela proses penyelesaian kami berbagi cerita dan saling memberikan solusi.

Suasana kali ini berbeda. Dengan mengendarai Elf sekolah kami bisa mengajak beberapa orang yang dibutuhkan untuk membantu kelangsungan proses. Biasanya mobil hanya terisi oleh kami berempat, sekarang berisi 7 orang. Ada Arif teman kelasku yang kita mintai tolong untuk mengambil gambar saat proses wawancara, ada Pak Wahyu yang menyetir mobil Elf dan juga Aurel putri dari pak Wahyu yang masih kecil. Berapapun isi mobil ini dan siapapun yang ikut aku tak peduli, karena yang saya rasakan sekarang adalah kebahagiaan yang tak bisa kuluapkan hanya sekadar dengan kata-kata. Sekarang kami menuju kantor Kepala Desa Sitiarjo, tidak seperti biasanya Pak Lukman hanya turun seorang diri dan membiarkan kami tetap di dalam mobil. Dari dalam kaca mobil aku melihat Pak Lukman sedang berbincang-bincang dengan kepala desa dan kemudian menuju Elf kembali.

“Lurus terus Pak, nanti kita berhenti di rumah yang ada di sebelah lapangan.” Begitu yang diucapkan Pak Lukman ketika masuk kembali ke dalam mobil.

“Kita sekarang ke rumah salah satu tokoh kristen yang ada di desa ini. Jangan lupa instrumen wawancaranya ya.” Pak Lukman melanjutkan ucapannya.

Setelah mendengar ucapan beliau, sontak kami bertiga saling bertatap muka. Tidak perlu ada kata-kata yang keluar dari mulut kami. Cukup ekspresi ini yang mewakili sebuah pertanyaan, “Siapa yang akan mulai wawancara?”

“Ayolah, Mad. Ini bagianmu,” pintaku kepada Ahmad

“Ah, mana bisa?! Gantian lah. Kemarin aku sudah, kalian kan belum.

Lagi-lagi ini keputusan berat. Memang benar yang Ahmad bilang, sekarang giliranku dan Wahidah. Aku menyayangkan jika harus Wahidah yang mengambil bagian ini karena dia cukup baik dalam menulis hasil wawancara. Jika dia yang ambil bagian ini otomatis aku yang akan menulis hasilnya.

“Okelah. Aku yang wawancara sekarang.”

Kami turun dari mobil dan menuju rumah Pak Woesgyanto namanya.

“Silakan masuk. Bapak masih di belakang,seorang wanita separuh baya mempersilakan kami masuk.

Kami semua menunggu kedatangan beliau. Sambil menunggu aku tak punya keinginan untuk mematangkan apa yang akan aku tanyakan kepada beliau. Bukannya mengobrol yang bermanfaat, kami malah mengobrol ngalor-ngidul tidak jelas.

“Sudah lama menunggu?” Dari dalam terdengar suara seorang laki-laki. Orang tersebut berbicara sembari menghampiri kami di ruang tamu dan berjabat tangan.

Dalam benakku aku mengatakan bahwa beliau ini yang namanya pak Wusgyanto, salah satu tokoh Kristen desa Sitiarjo. Dari fisiknya dan caranya berbicara terlihat bahwa beliau tokoh agama yang tegas dan disiplin.

“Ra, ini kayaknya mirip sama orang yang pernah kamu ceritain itu deh.” Wahidah membuka pembicaraan denganku.

“Asli mirip banget dah. Aku meerasa benar-benar ada di masa lalu lagi dah.”

Wahidah tertawa cekikikan. Siapkan mental ya. Aku berdoa semoga trauma di masa lalu enggak terulang lagi.

Memang ketika beliau datang rasanya seperti de javu alias sebuah peristiwa yang seakan pernah terjadi di masa lalu dan sekarang terulang kembali. Aku memang pernah menceritakan peristiwa di masa kecilku kepada Wahidah dan Ahmad. Di saat masih kecil ada satu tetangga yang sangat aku takuti karena dia selalu menakutiku ketika aku bersikap tidak baik. Peristiwa itu masih sangat membekas dalam ingatanku. Dan sekarang aku harus berhadapan kembali dengan rasa takut itu.

“Silakan dimulai.” Pak Lukman langsung memberi perintah kepadaku ketika Pak Lukman sudah selesai menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami.

Ah, ini ketiga kalinya aku harus berpikir keras dalam satu hari ini. Kesalahanku yang tidak mempersiapkan instrumen dengan jelas membuatku bingung, ditambah lagi Pak Lukman yang terus menatapku memberikan sinyal perintah untuk segera dimulai. Aku kebingungan, haruskah aku mulai menanyakan nama dalam wawancara ini secara formal seperti yang biasa aku lihat dalam acara TV, tapi diawal tadi beliau sudah menyebutkan nama. Aku bingung dengan diriku sendiri. Tidak biasanya aku bersikap kaku begini. Apa karena rasa takut yang berlebihan?

Belum sampai aku menanyakan satu hal tiba-tiba orang di sekitarku menghilang satu persatu. Aku melihat pak Lukman perlahan menghilang dari pandanganku, Wahidah yang semula ada di sampingku kini entah kemana. Semuanya menghilang, termasuk suguhan makanan dan minuman yang ada di depanku. Aku sendiri di dalam rumah ini, penglihatanku terus mencari-cari sesuatu yang dapat kutemukan di sekitarku. Tapi nihil karena aku tak menemukan apa yang semula ada. Rasanya aku ingin menangis, aku ingin menjerit sekuat mungkin agar mereka mendengarku dan kembali. Apa yang sedang terjadi pada diriku? Aku merasakan suhu tubuhku meningkat dan kepalaku terasa berat sekali. Selanjutnya bobotku sangat ringan kurasakan bahkan lebih ringan dari angin sehingga tanpa terasa aku melayang-melayang.

Tapi tunggu, aku dapat tersenyum sekarang. Aku melihat lorong yang tak pernah aku lihat, lorong itu sangat indah sekali. Lorong itu memancarkan sebuah cahaya terang. Aku semakin bingung, kenapa di rumah ini ada lorong rahasia yang penuh dengan cahaya terang. Aku terus memandangi lorong itu semakin dekat semakin indah sekali. Aku tersenyum dan terus melangkahkan kaki. Subhanallah, gumamku dalam hati. Tidak hanya cahaya yang berkilauan, setelah aku mendekat lorong itu semakin menampakkan keindahannya. Tanaman hijau dan bunga-bunga yang harum semerbak mewangi.

“Ra! Ra! Zahra!”

Jelas sekali aku mendengar ada yang memanggilku. panggilan itu diulang-ulang. Aku terus mencari sumber suara itu. Sekarang tubuhku seperti digoncang dengan kuat.

“Zahra sudah sadar, zahra sudah bangun!Teriak Wahidah.


Suara Wahidah jelas sekali di telingaku. Aku perlahan membuka mata dan aku melihat pemandangan yang semula aku lihat. Ah, rupanya aku sedang jatuh pingsan. Tak apalah, aku sudah merasakan lorong kebahagiaan.[]

Sumber gambar: Le bonheur, c'est quoi?

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

2 komentar:

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top