Saturday, November 26, 2016

Sepucuk Surat Untuk Luqman al-Hakim

5:54 AM

important letter

Oleh: Muhammad Zamzami

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Salam kenal dariku, wahai orang yang telah dikaruniai Hikmah dari sisiNya, yang belum pernah sama sekali Ia berikan kepada hamba-hambaNya yang lain, sehingga Ia mengabadikan pemberian itu dalam salah satu firman suciNya, Luqman al-Hakim.

Memang jarak waktu antara kau dan aku terlampau sangat jauh sekali. Ada yang bilang kau hidup pada masa Nabi Ibrahim AS., ada yang bilang pada zaman Nabi Dawud, dan ada juga yang bilang kau semasa dengan nabi Ayub AS. Tak hanya itu, orang-orang bilang kau berprofesi sebagai seorang hakim yang amat adil di kalangan Bani Israel, ada yang bilang sebagai tukang kayu, tukang jahit, bahkan ada juga versi lain bahwa kau adalah seorang budak yang dibeli dari Habsyah.

Betapa pun banyak versi tentang profesi dan kedudukanmu sebagai manusia, seperti yang mereka katakan tentangmu, aku sama sekali tidak peduli. Yah, diakui atau tidak kau memang hanya seorang manusia biasa, tak lebih sama denganku dan orang-orang di sekitarku ini. Namun ada hal dari dirimu yang tak bisa kudapatkan dari mereka. Yaitu wasiat-wasiatmu kepada anakmu, Taran. Entah berapa wasiat yeng telah dicatat oleh para penggemarmu, yang kau ucapkan kepada anakmu itu.

Mohon maaf jika aku lancang mengirimkan surat ini padamu. Aku hanya bingung dengan wasiatmu yang berbunyi:

يا بني، جالس العلماء وزاحمهم بركبتيك، فإن الله يحي القلوب بنور الحكمة كما يحي الأرض الميتة بوابل السماء

Bukankah itu adalah wasiatmu kepada anakmu? Tentu saja kau tidak main-main dengan ucapanmu itu, kan? Juga tak hanya anakmu yang kau inginkan untuk mengamalkannya, tapi juga generasi-generasi setelahnya, kan? Jika memang iya, lantas kenapa sekarang situasinya terbalik?

Hanya sekadar klarifikasi. Di sekitarku saat ini, kalau saja kau tahu, banyak sekali ulama. Mereka adalah orang-orang yang tak diragukan lagi akan kefakihannya, mereka juga orang-orang yang amat sangat terpandang di kalangan masyarakat. Tidak hanya itu, mereka bahkan memilki banyak penganut (bahasa kami menyebutkannya dengan santri), termasuk juga aku.

Dalam wasiatmu kau mengatakan: “dekatilah para ulama sedekat-dekatnya, agar hatimu hidup dengan siraman hikmah dari mereka layaknya tanah yang tandus menjadi subur dengan turunnya hujan”. Kami sangat setuju sekali dengan wasiatmu itu dan sama sekali tidak meragukan akan kebenarannya. Namun, apakah kau tahu bahwa sekarang situasinya sudah tak seperti zamanmu dulu? Ketika kami hendak mendekati mereka (Ulama), malah bukannya kami mendapat setetes hikmah pun dari mereka, tapi malah mereka yang tak mau untuk kami dekati. Mereka menjauh dari kami dan mereka enggan bersahabat dengan kami.

Aku tak tahu yang mana yang salah, apakah mereka bukan Ulama yang kau maksud, apakah ulama yang kau katakan dalam wasiatmu itu sudah tak ada lagi saat ini, di zamanku ini? Ataukah ucapanmu yang meleset, alias sudah tak berlaku lagi sekarang? Ataukah mungkin secara diam-diam kau mengatakan kepada mereka: “Aku sudah berwasiat seperti ini pada anakku agar dia sebarkan kepada generasi-generasi setelahnya, kalau kalian didekati oleh mereka, jangan mau. Jauhi saja mereka yang tak sopan, hindari mereka yang bukan dari golonganmu, dan jangan hiraukan mereka biar mereka kebingungan. Untuk apa kalian mau didekati oleh orang-orang yang tak pantas mendapat hikmah?”

Tentu saja kami yakin bahwa kau bukan orang yang seperti itu. Toh, mana mungkin orang sepertimu, yang telah dimuliakan dalam firmanNya, melakukan hal yang sedemikian hinanya kepada kami? Sebab yang kami tahu, kau adalah orang yang sangat istimewa, orang yang memang memiliki kelebihan berupa anugerah Hikmah yang amat agung dariNya, dan orang yang senantiasa memberi nasehat kepada keadilan dan condong kepada keridaanNya. Meski pun banyak versi cerita tentangmu yang mengatakan bahwa kau itu adalah orang yang berprofesi sebgai tukang kayu lah, tukang jahit lah, budak lah, atau apapun itu aku sama sekali tak perduli akan kebenaran hal itu. Yang aku tahu kau adalah orang pilihan yang dekat denganNya. Dan aku hanya ingin mengklarifikasi wasiatmu tadi, kok situasinya bisa kebalik saat ini, yakni masa di mana kami para generasi ini hidup.

Mungkin hanya itu saja yang ingin aku sampaikan padamu. Sekali lagi jika kau menganggap aku kurang sopan mengirimkan surat ini, entah itu kata-katanya, sikap yang tercermin dari bentuk tulisannya, atau bahkan pikiranku ini yang mungkin kau anggap tak layak melintas di otakku, aku benar-benar minta maaf. sebab mau bagaimana lagi, aku sudah tak tahan dengan perilaku mereka.

Aku tunggu balasan surat ini darimu, Luqman al-Hakim.


Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

sumber gambar: Slim Teller

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top