Sunday, July 22, 2012

Awan Yang Menutupi Matahari

10:53 PM



Oleh: Abd Rohim*

Malam itu tiba-tiba Arman terbangun dari tidurnya.

“Ya Allah, inikah petunjuk-Mu?” Ia bergumam dalam hati. Tak lama kemudian ia turun dari ranjangnya menuju kamar mandi, ia mengambil wudu untuk melaksanakan salat malam.

Tiga malam berturut-turut Arman mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpinya ia seolah-olah melihat matahari yang tertutupi oleh awan. “Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu anakku?” Kata ayah Arman beberapa hari yang lalu.

“Iya, Abah. Aku yakin dia adalah bidadari yang selalu kusebut dalam do'aku”.

“Sudahkah kamu diberi petunjuk oleh-Nya, Anakku?”

“Maksud abah?”

“Ingat, Anakku, mencari jodoh jangan hanya mengandalkan cinta saja. Cinta pada makhluk itu kosong. Cinta itu sejatinya hanya milik Dia. Semua yang ada di dunia ini ujungnya adalah Dia.”

“Maaf, Abah. Saya tidak paham.”

“Masih ingatkah kamu dengan Rabi'ah Al-'Adawiyah saat ia membawa obor untuk membakar surga karena manusia menyembah Allah hanya mangharapkan surga, dan saat ia membawa ember air untuk menyiram api neraka karena manusia menyembah Allah karena takut pada neraka? Aku tahu, Anakku, kamu memang sangat mencintai gadis itu, tapi ingat, Anakku, cintamu itu harus tetap berlandaskan pada-Nya.”

“Tapi bukankah cinta itu anugerah dari-Nya, Abah?.

”Betul sekali, Anakku, tapi terkadang kita terjebak pada cinta yang semu padahal cinta itu abadi yang tak terjamah oleh ruang dan waktu. Cinta anak, cinta istri atau suami, cinta pangkat atau jabatan, cinta diri, cinta dunia, cinta, cinta, cinta, semuanya semu dan menipu dan semuanya akan mati, Anakku”.

“Iya, Abah, saya mengerti. Kemudian apa yang harus aku lakukan dengan rasa ini?”

“Mohon petunjuk pada-Nya. Istikharah-lah kamu dan mantapkanlah hatimu dan serahkan semuanya pada-Nya. Jika kamu sudah mendapatkan jawabannya Abah sendiri yang akan meminangnya untukmu.”

“Terima kasih, Abah. Insya Allah nanti malam saya akan mulai salat istikharah."

Mimpi yang telah mengunjunginya selama tiga hari itu membuat Arman menarik kesimpulan bahwa itu adalah sebuah petunjuk dari-Nya. Awan yang menutupi sinar matahari membuat Arman tak lagi bisa merasakan hangat yang diberikan matahari.

“Mungkin memang bukan aku yang bisa menikmati kehangatan matahari itu. Mungkin aku akan menikmati kehangatan dari matahari-matahari yang lain.” Itulah kata-kata yang keluar dari hati kecil arman.

“Aku akan mencari gadis yang lain saja.” Mungkin itulah jawaban yang akan diberikan pada abahnya esok pagi.

“..............Akan tetapi, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini lebih berbahaya bagiku, agamaku, kehidupanku, dan akibatnya kepada diriku, maka jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian ridhoilah aku dengannya............ Arman mengakhiri do'anya malam itu.
(Yogyakarta, 23-08-2010)

*Abd Rohim  adalah mahasiswa Perbandingan Madzhab dan Hukum  Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

2 komentar:

  1. cerpen yang sulit aku berempati

    ReplyDelete
  2. Ini memang cerpen gaya realisme magis, sulit dicerna akal sehat :p

    ReplyDelete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top