Monday, April 15, 2013

Terkutuk Menjadi Senior

10:06 PM

Oleh: Muhammad Hilal

Untuk beberapa tahun mendatang, tampaknya teman-teman alumni PPRU I yang sedang kuliah di Yogyakarta bisa tersenyum lega, sebab ada kemungkinan besar tahun ini dan beberapa tahun berikutnya tidak akan ada lagi mahasiswa Yogyakarta yang alumnus PPRU I. Tak mungkin saya lupa jika pada tahun-tahun sebelumnya, saya selalu mendapat pertanyaan bernada kurang senang dari mereka, apakah akan ada lagi alumnus PPRU 1 yang melanjutkan studi ke Yogyakarta. Setiap kali saya jawab ada, respon mereka selalu raut tampang kecewa.

Ya, teman-teman kita itu boleh senang tahun 2013 ini sebab PPRU I membuat kebijakan baru terkait lulusan sekolah MA/SMK di Desa Ganjaran. Kebijakan itu bisa diringkas menjadi kira-kira sebagai berikut: (1) tidak mengutus Guru Tugas untuk tahun ini; (2) mengabdi di pesantren selama 1 tahun; (3) harus melanjutkan sekolah Madrasah Diniyah, dianjurkan hingga tuntas jenjang takhassus; (4) tidak diperkenankan kuliah kecuali di STAI Al-Qolam; dan (5) diperkenankan melanjutkan kuliah di selain STAI Al-Qolam jika mendapat beasiswa. Rasa senang teman-teman itu akan mekar berkat kebijakan nomor 4 dan 5 ini.

Latar belakang kemunculan kebijakan ini barangkali perlu dijelaskan barang selintas kilas. Pertama, tentu saja minimnya jumlah pengurus pesantren. Kondisi ini telah membuat para pengurus yang tersisa agak kewalahan, meski perlu disyukuri bahwa semua kegiatan yang diperlukan tetap terlaksana sebagaimana seharusnya, bahkan terdapat beberapa kegiatan yang terbilang baru dan kreatif. Sungguhpun dengan sumber daya yang terbatas, penanganan kegiatan pesantren tetap bisa terkendali. Dengan kebijakan di atas, dalam beberapa tahun mendatang keadaan minimnya sumber daya ini diharapkan bisa diatasi.

Kedua, kecenderungan santri yang studi di pesantren secara kilat. Hanya selama 3 tahun mereka menikmati semilir angin kehidupan pesantren, mereka sudah boyong dan terjun di masyarakat yang lebih luas. Durasi 3 tahun ini tampaknya tidak memadai bagi standar sistem pendidikan pesantren untuk menanamkan nilai, memperluas cakrawala pengetahuan dan membentuk karakter yang mapan sebagaimana yang pesantren idealkan. Keputusan untuk mengeluarkan kebijakan di atas adalah sebentuk ikhtiar dari para pemangku jabatan PPRU I untuk mengambil langkah strategis ke arah tujuan yang dimaksudkan.

Selain dua hal di atas barangkali masih ada lagi latar belakang kemunculan kebijakan tersebut, namun saya melihat bahwa dua ini saja yang paling penting dan strategis.

Nah, dari kebijakan nomor 4 dan 5-lah para alumni PPRU I yang sedang kuliah di Yogyakarta menikmati kebahagiaan yang sentosa. Apa pasal? Sebetulnya, ini berkaitan dengan status mereka yang berubah menjadi senior apabila terdapat alumnus sealmamater menjadi mahasiswa baru di Yogyakarta. Hanya saja, pada awalnya saya agak heran kenapa mereka merasa keberatan menjadi senior di Yogyakarta, padahal sewaktu di PPRU I kebanyakan mereka pernah menjadi senior dan menjalani status itu dalam waktu yang tidak sebentar.

Kurang lebih, justru karena pengalaman pernah menjadi senior itulah kenapa mereka enggan mengulanginya lagi di Yogyakarta. Dalam benak mereka, hanya orang-orang yang tertutup hatinya yang bisa menikmati status sebagai senior. Bukan apa-apa, menjadi senior itu dituntut menjadi teladan dan panutan bagi adik-adiknya. Tuntutan macam begini ini tentu membawa beban psikologis. Selama mereka menjadi senior di pesantren dulu, selama itu pula mereka memikul beban psikologis siang-malam. Menjadi senior sama saja dengan menanggung derita. Tepat ketika mereka melanjutkan studi ke Yogyakarta, untuk pertama kalinya beban itu jatuh dari punggung mereka dan untuk pertama kali pula mereka bisa menghirup udara lega.

Pada saat mereka mendengar akan ada adik-adik mereka di pesantren dulu mau melanjutkan studi ke Yogyakarta, sontak ingatan mengenai pengalaman traumatik itu muncul kembali dengan sangat jelas seperti sebuah gambar televisi di depan mata mereka. Tidak, tidak, tidak! Ini tidak boleh terjadi! Tidak boleh ada yang merampas rasa lapang di dada ini. Mereka langsung mengelak sejak dalam pikiran, langsung protes sejak di alam bawah sadar.

Itu di satu sisi. Di sisi yang lain, sebetulnya masih ada sisa-sisa senioritas dalam jiwa mereka setelah lama menyandang status itu di pesantren dulu. Sisa-sisa itu tampak di kala terbersit ekspresi tidak rela jika adik-adik mereka tercebur ke alam Yogyakarta yang serba ra nggenah.  Bukannya melanjutkan studi baik-baik, ntar adik-adik santri calon mahasiswa baru itu malah berubah wujud menjadi begundal. Sebagai mantan senior di pesantren dan calon senior lagi di Yogyakarta, teman-teman itu amat menyayangkan jika kekhawatiran itu menjadi nyata.

Memori traumatik dan rasa khawatir itu tak daya mereka bendung. Nasi sudah jadi bubur, tetap saja mereka akan menjadi senior bagi calon mahasiswa baru sesama lulusan PPRU I, sebab saya mendengar kabar bahwa akan ada lagi beberapa calon mahasiswa baru di Yogyakarta tahun 2013 ini. Kebijakan baru di atas berlaku untuk lulusan tahun ini, sementara yang lulusan tahun-tahun sebelumnya masih banyak berseliweran di luar sana. Bisa dibilang, adik-adik calon mahasiswa baru ini telah mengutuk angkatan sebelum-sebelumnya menjadi senior lagi.

Lagian, kekhawatiran bahwa calon mahasiswa baru akan menjadi begundal itu kurang didukung alasan kuat jika kita memperhatikan bagaimana mahasiswa-mahasiswa Yogyakarta alumni PPRU I ini menjalani kehidupan sehari-hari. Tepat sekali, keseharian mereka adalah para begundal yang meresahkan. Mereka adalah para siborokokok modern yang lebih berbahaya ketimbang jaman Si Kabayan. Merekalah para kurawa modern yang layak dibasmi persis seperti di jaman Pandawa. Calon mahasiswa baru menjadi begundal baru hanya tinggal menunggu waktu. Fantadzir as-sâ‘ah![]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

2 komentar:

  1. wah , perlu dijelaskan nh keseharian begundal dan borokokok sperti apa ..
    xD

    ReplyDelete
  2. wah, susah arep jelasine, cak :p

    ReplyDelete

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top