Saturday, April 13, 2013

Manusia dalam Cengkraman Teknologi

6:41 PM



[Judul: Dunia Pasca-Manusia; Menjelajahi Tema-Tema Kontemporer Filsafat Teknologi | Penulis: Budi Hartanto | Penerbit: Kepik, Depok | Cetakan: Pertama Februari, 2013 | Tebal: xx + 140 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN: 978-602-99608-9-1]

 | Oleh: Abdul Rahman Wahid*

Teknologi dan cara berpikir, tata nilai, serta perilaku manusia saling membentuk dan saling menentukan secara timbal balik. 

Dewasa ini, ketergantungan manusia akan teknologi sangat melekat. Hampir seluruh aktivitas manusia berdampingan dengan teknologi. Teknologi telah membantu pekerjaan-pekerjaan manusia menjadi mudah. Kebutuhan-kebutahan tersaji serba instan. Meskipun telah memberi nilai positif terhadap kehidupan manusia, bukan berarti teknologi ini tidak ada nilai negatifnya bagi kehidupan. Sejak pertengahan abad ke-19 hingga kini, beberapa pemikir mulai Baudellaire, Tolstoy, Sorokin, hingga Heidegger, Adorno, dan Virilio telah membentangkan berbagai gambaran suram sains dan teknologi.

Teknologi merupakan sebentuk akumulasi pengalaman manusia dari masa ke masa; Kemampuan nalar dan imajinasi yang digunakan manusia dalam mencapai tujuan hingga terbentuknya peradaban virtual saat ini.
Berbeda dengan realitas atau fakta kehidupan khususnya di Indonesia saat ini. Di balik posisinya sebagai alat bantu untuk pekerjaan manusia dalam segala hal, teknologi menjadi hal yang menakutkan bagi kehidupan, kelunturan akan budaya, dekadensi moral bahkan perilaku manusia mulai keluar dari norma-norma yang ada. Tak lain karena google dan wikipedia telah menjawab sesuai dengan yang diinginkan.

Sains modern yang sejak awal perkembangannya memang selalu mengacu pada materialisme serta sains modern telah dijadikan tolok ukur dalam mentukan kebenaran. Inilah yang membentuk gagasan “manusia telah dikloning” (pencipta dijadikan budak oleh ciptaannya). Sangat ironis, memang.

Berangkat dari fakta-fakta di atas, Budi Hartanto menulis dalam buku kumpulan esai-esai dan opininya yang berjudul ”Dunia Pasca-Manusia” yang terbagi dalam tiga bagian. Di dalamnya dikumpulkan tulisan-tulisan analisis perspektif filsafat terhadap sains dan teknologi, yang merupakan bunga rampai pemikiran Don Ihde tentang filsafat teknologi dengan pemakaian istilah posfenomenologi.

Pertama, instrumen mentransformasikan pengalaman perseptual atau kesadaran, ketika kemampuan indrawi secara intensional dan hermeneutis berekstensi melalui instrumen teknologis. Sains dan teknologi sebagai ilmu objektif yang hak memiliki kriteria yang akurat mengenai cara yang harus ditempuh kapan suatu informasi bisa disebut ilmiah dan bisa diberi validitas sebagai suatu ilmiah. Kemudian dikatakan secara subjektif dengan kebenaran yang kita cari.

Dalam filsafat don Ihde pikiran dan pengetahuan dijelaskan sebagai bersifat eksternal. Oleh karena itu, dalam filsafatnya tidak ada entitas metafisis jiwa (internalisasi) yang dipahami sebagai sumber pengetahuan. Eksistensi dunia nonfisik hanyalah konstruksi pengalaman perseptual (makropersepsi) yang terakumulasi yang kemudian membentuk ide tentang kesadaran. (halaman 38) 

Dengan demikian sains dan teknologi tidak dijadikan alat utama untuk membenarkan sesuatu, sehingga manusia tidak menganggap kebenaran sains dan teknologi berada di dalamnya. Akan tetapi, kebenaran sains dan teknologi berada di luar sains dan teknologi. 

Kedua, keahlian etis yang tumbuh dan terbentuk lewat pengalaman, seperti dalam fase-fase pemerolehan keahlian lainnya, melampaui keputusan moral yang bernilai logis dan rasional mengandaikan bahwa bisa dikonseptualisasikan. Faktanya, pada dasarnya manusia adalah makhluk irasional. Inilah yang jadi pembeda manusia dengan mesin yang merupakan ciptaan manusia. Kodrat manusia adalah berfikir irasional (menggunakan perasaan-perasaannya atau purbasangka, sifat egoistis, dan intuisi moralnya yang kadang saling bertentangan dengan yang lain), sehingga ia dapat merasakan kualitas-kualitas hati (cinta, amarah, iri hati, dan lain sebagainya). Untuk itu, apabila ingin terhindar dari kehancuran akibat irasional dan kebodohan, akal dan pikiran tentunya harus dibebaskan dari kepentingan-kepentingan atau keinginan-keinginan manusiawi yang sifatnya irasional. Rasionalitas mesin terkesan rigid, pucat, dan kaku. Manusia telah menjadi robot atau mesin atas mesin ciptaannya sendiri (teknologi telah menjadi berhala bagi manusia). Selagi sains dan teknologi digunakan secara instrumental, rasionalitas dalam hal ini tetaplah berguna.

Ketiga, teknologi bergerak secara masif mengontrol dan menguasai dunia kehidupan. Dengan kata lain teknik adalah kekuatan utama, tidak ada kekuatan selain teknik itu sendiri, karena teknik merupakan syarat bagi kehidupan. Bisa diistilahkan, orang yang tidak menggunakan teknik dengan sendirinya akan tersingkir atau tereleminasi dari dunia kehidupan. Asumsi seperti inilah yang mulai mengakar di benak manusia modern saat ini. Tak pelak, degradasi moral manusia dewasa ini menyebar hampir menyeluruh.

Teknologi telah mencipta dunia yang telah melampaui kodrat kemanusiaan. Akibatnya, banyak persoalan moral yang muncul yang tidak hanya melibatkan manusia tapi juga artefak teknologi (halaman 95). Maka, etika dalam teknologi menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dalam peradaban yang serba mesin ini. Relasi manusia dan teknologi serta integrasi agama dan teknologi dalam hal ini tidak bisa ditawar lagi, karena pemisahan antara keduanya hanya akan membawa terhadap kehancuran dan dekadensi moral bagi manusia itu sendiri.[]

Diterbitkan oleh

Buletin Amanaha Online. Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I. Ganjaran Gondanglegi Malang Jawa Timur. Menulis.

0 komentar:

Post a Comment

 

© 2016 Amanah Online. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top